NGANJUK Tanah kami menyimpan mata air dari air mata perempuan yang disekap tiga hari. Diperkosa. Disiksa. Mati di rimba. Tanah kami menyimpan mata air. Air tak kunjung surut dari kisah yang tergenang. Siap tumpah kapan saja, banjir di mana saja: wilangan, sidoarjo, jalanan, pabrik, atau kodam v brawijaya. Lebih ganas dari tsunami Tanah kami menyimpan…
Peran Ayah dalam Perkembangan Motorik Anak
Banyak laki-laki merasa tidak perlu belajar ilmu parenting. Mereka menyerahkan sepenuhnya urusan mengasuh anak pada istrinya. Padahal, peran ayah dalam tumbuh kembang anak sangatlah penting. Terutama dalam hal perkembangan motorik anak. Sayangnya, budaya kita yang patriarkis (dan misoginis) cenderung menempatkan posisi laki-laki sebagai raja yang tak perlu diembani tugas rumah tangga. Tugas laki-laki hanyalah mencari nafkah…
Puisi Pringadi Abdi Surya di Manifesco
Aku mengirimkan 5 puisi ke Manifesco, dan alhamdulillah, 3 puisi dimuat di sana. Berikut puisi Pringadi Abdi Surya di Manifesco pada 31 Januari 2020 (3 teratas yang dimuat, 2 puisi setelahnya tidak dimuat). Kura-Kura dalam Tubuhmu Malam-malam sekali ada ombak berjalan ke tubuhmu. Aku pikir itu laut yang tiba-tiba kalut dan takut kalau hujan tak lagi…
Asas-asas Umum Pengelolaan Keuangan Negara
Setelah membahas definisi keuangan negara, selanjutnya kita akan mengenal asas-asas umum pengelolaan keuangan negara. Dalam rangka mendukung terwujudnya good governance dalam penyelenggaraan negara, pengelolaan keuangan negara perlu diselenggarakan secara profesional, terbuka, dan bertanggung jawab sesuai dengan aturan pokok yang telah ditetapkan dalam Undang0Undang Dasar 1945. Aturan pokok Keuangan Negara telah dijabarkan ke dalam asas-asas umum, yang…
Dari Maurizio Cattelan Hingga Joko Pinurbo, Sebuah Catatan atas Perjamuan Khong Guan
Sebuah pisang dilakban laku seharga USD120 ribu, atau sekitar 1,7 Miliar. Itulah pisang termahal di bumi, karya seniman asal Italia, Maurizio Cattelan. Lucunya, “karya seni” tersebut berakhir di mulut seorang seniman panggung bernama David Datuna yang menamai aksinya dengan “Seniman Lapar”. Kalau bukan Maurizio Cattelan, apakah pisang dilakban akan berharga seperti itu? Apalagi pisang itu…