Pantai Menganti

Peran Ayah dalam Perkembangan Motorik Anak

Banyak laki-laki merasa tidak perlu belajar ilmu parenting. Mereka menyerahkan sepenuhnya urusan mengasuh anak pada istrinya. Padahal, peran ayah dalam tumbuh kembang anak sangatlah penting. Terutama dalam hal perkembangan motorik anak.

Sayangnya, budaya kita yang patriarkis (dan misoginis) cenderung menempatkan posisi laki-laki sebagai raja yang tak perlu diembani tugas rumah tangga. Tugas laki-laki hanyalah mencari nafkah di luar rumah, menghidupi kebutuhan biaya hidup semata. Sulit untuk mengatur hubungan kerjasama antara suami dan istri dalam tumbuh kembang anak. Padahal peran orang tua dalam tumbuh kembang anak membutuhkan kerjasama keduanya.

Secara struktur, peran ayah dalam tumbuh kembang anak seringkali hanya menempatkan diri sebagai sosok yang tegas. Sang pemilik aturan absolut yang harus dituruti oleh semua anggota keluarga.

Padahal, peran ayah lebih dari itu. Bahkan, tidak berjalannya peran ayah dalam tumbuh kembang anak dalam waktu-waktu/periode tertentu usia sang anak akan menyebabkan kelainan pada sang anak tersebut.

Lalu apa saja peran ayah dalam tumbuh kembang anak tersebut?

Perkembangan motorik anak

Peran Ayah Sebagai Teman Bermain Anak

Peran ayah sebagai teman bermain anak adalah peran yang paling penting. Terutama ketika sang anak masih berusia 0-2 tahun.

Biasanya ayah selalu jadi orang yang seru untuk diajak bermain. Apalagi, untuk permainan fisik yang membutuhkan energi. Permainan fisik bersama ayah tidak hanya melatih otot dan koordinasi namun juga mengajarkan soal aturan, seperti bermain secara bergantian dan fair play.

Ayah memiliki kecenderungan melakukan permainan one-on-one, keras dan “kasar”, karakter ini dapat mendukung perkembangan motorik anak dan memberi kesempatan pada anak mengeksplorasi hal-hal yang bisa dilakukan tubuh mereka dan membantu mereka mengatur emosi saat terlibat dalam interaksi fisik impulsif (Rosenberg & Wilcox, 2006). Secara tak langsung, peran ayah di sini akan meningkatkan perkembangan motorik anak.

Peran Ayah Sebagai Guru

Suara Ayah lebih dominan untuk mengajari anak soal perilaku yang baik, membantu anak membedakan benar atau salah. Seorang ayah harus berlaku seimbang ketika mengoreksi perbuatan yang tidak baik dan megapresiasi anak dengan pujian jika anak berperilaku baik.

Seorang ayah juga bisa mengajarkan anak cara mengambil keputusan sekaligus menghadapi konsekuensi dari tindakan dan keputusan yang dilakukan anak. Ayah harus menjabarkan konsekuensi dari tiap perbuatan yang akan diambil anak sehingga anak terbiasa mengambil keputusan yang tepat. Kalau ini dilakukan, sang anak akan tumbuh menjadi anak yang tidak agresif.

Sejumlah studi menunjukkan bahwa ayah yang terlibat, mengasuh, dan bercanda dengan bayi-bayi mereka memiliki anak-anak dengan IQ yang lebih tinggi, serta kapasitas bahasa dan kognitif yang lebih baik (Pruett, 2000). Di sinilah peran ayah meningkatkan perkembangan kecerdasan anak.

Peran Ayah Sebagai Pelindung

Seorang anak biasanya lebih merasa aman ketika ada ayahnya. Kalau di rumahku, misalnya, apabila ada petir dan geluduk, anakku akan memilih minta dipeluk olehku ketimbang ibunya.

Memang, laki-laki biasanya memiliki naluri yang melindungi. Secara naluriah, ayah akan memberi perlindungan pada keluarganya. Karakter inilah yang akan mengajarkan anak untuk kelak bisa bertindak melindungi dirinya sendiri. Melindungi anak tak melulu soal menjaga anak dari segala hal negatif di luar sana. Menjaga secara emosional melalui menjaga hubungan melalui interaksi dan komunikasi juga termasuk memberi perlindungan pada anak.

Termasuk dalam soal kontrol emosi ini penting sekali. Seorang ayah hanya di waktu-waktu genting saja diperbolehkan marah. Jangan sampai anak merasa diintimidasi oleh ayahnya.

Keterlibatan ayah sejak dini pada masa-masa penting perkembangan anak akan memberikan sumber keamanan emosional bagi anak. Keterlibatan ayah dalam kehidupan anak-anak sebelum usia 7 tahun dapat memberikan perlindungan psikologis terhadap ketidakmampuan menyesuaikan diri ketika mereka menjalani masa remaja (Flouri & Buchanan, 2002).


Pada intinya, ada empat unsur peran ayah, yaitu structure, warm, accessibility dan playing. Jika keempat unsur tersebut dipraktikkan, efeknya adalah anak kita akan menjadi lebih cerdas, lebih percaya diri, emosinya lebih stabil, tidak mudah terjerumus ke kebiasaan negatif seperti narkoba dan miras, lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan, lebih menghargai diri sendiri, dan lebih tahu caranya memperlakukan lawan jenis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *