Aku masih berada di Bali. Dalam perjalanan dinas. Sebuah email masuk. Isinya, jadwal tes beasiswa Bappenasku.
Tes tersebut dilakukan secara daring. Akhir pekan, aku harus memastikan koneksi di rumahku lancar agar dapat mengikuti Tes Potensi Akademik (TPA) selama kurang lebih 1,5 jam. Untunglah, untuk urusan itu, aku sudah tidak begitu khawatir. Sebab, koneksi IndiHome lumayan solid meski lokasi rumahku termasuk “pedesaan” di wilayah Kabupaten Bogor.
Aku cukup bersyukur, semenjak pandemi dan mayoritas kegiatan kantorku berubah menjadi dilakukan dari rumah (work from home), aku memasang IndiHome. Jika tidak ada kejadian khusus, seperti misalnya hujan besar yang mengakibatkan ada dahan pohon patah menimpa kabel fiber IndiHome, koneksi di rumah aman-aman saja.

TPA itu pun dapat kulalui dengan baik tanpa adanya gangguan jaringan. Aku pun lolos ke tahap selanjutnya, yaitu TOEFL yang juga dikerjakan secara daring. Alhamdulillah, nilai TOEFL-ku memenuhi syarat dan akhirnya saat pengumuman, aku dinyatakan lulus di Magister Administrasi Publik, Universitas Sriwijaya.
Dalam disiplin ilmuku yang lekat dengan hukum keuangan negara, IndiHome adalah anak perusahaan PT Telkom Indonesia yang merupakan BUMN. Menurut teori sumber, anak perusahaan BUMN adalah BUMN. Melihat begitu luasnya jangkauan jaringan IndiHome, aku jadi merasa tujuan utama pembentukan BUMN itu, dalam hal memberikan pelayanan publik, terejawantah.
Harus kita sadari bahwa sinyal merupakan barang publik yang sifatnya menjadi sedemikian primer. Keberadaan jaringan yang menghubungkan manusia Indonesia dari Sabang sampai Merauke itu adalah sebuah ikatan dan bentuk kedaulatan. Apa yang terjadi dalam jaringan itu adalah informasi dan data yang harus dirawat, dijaga, dan dilindungi. Coba bayangkan apabila semua hal itu “dikuasai” asing–apa yang tersisa dari makna menjadi seorang warga yang harus dilindungi oleh negara?
Uhuk… sudah terlihat seperti akademisi belum?
Keterhubungan manusia Indonesia dalam jaringan itu bukan gimik. Aku bersyukur sekali mengenal internet.
Teringat masa-masa menjadi manusia kalah. Saat itu aku baru saja minggat dari Institut Teknologi Bandung. Kuliahku berantakan. Aku kehilangan tujuan hidup.
Di saat itu aku berpikir, aku harus menemukan sesuatu yang baru yang membuatku bertahan. Aku teringat kebiasaanku menulis buku harian dan beberapa teman menyukai tulisanku, terutama puisiku.
Aku pun mengetikkan kata kunci di Google “tempat menulis puisi”. Dan muncullah sebuah situs bernama kemudian.com. Di sana, aku mulai berkarya dan mulai mengenal manusia dari berbagai penjuru Indonesia. Berhasil mencurahkan isi jiwa dan berinterkasi dengan mereka, aku menemukan semangat hidup baru. Aku pun belajar untuk ikut tes lagi dan alhamdulillah diterima di DIII Akuntansi Pemerintahan di STAN.
Itu adalah momentum pertamaku sebagai penulis. Bertumbuh bersama orang-orang yang rasanya tidak mungkin bisa dijumpai apabila tidak ada internet rasanya menyenangkan.
Aku mulai belajar bahwa di internet kita bisa melakukan aktivitas tanpa batas. Di sisi lain, di situ kita harus mulai mengerti tanggung jawab tentang apa yang kita lakukan di internet, punya karmanya masing-masing.
Dalam menulis, aku terus berproses, dan orang-orang yang dulu kupikir tak pernah akan kujumpai itu, satu per satu benar-benar kujumpai. Ke mana saja aku melangkah, aku bisa bertemu dengan teman-teman. Misalnya saat ke Aceh beberapa tahun lalu, aku ditemui seorang teman yang kukenal di media sosial. Dia mengantarku ke banyak tempat, bahkan hingga ke air terjun Suhoom Lhong di Aceh Besar. Begitu pula saat ke Gorontalo, aku bertemu kawan penulis yang mentraktirku sate tuna dan ikan kerapu bakar.
Hari-hari belakangan kita mengenal frasa bernama transformasi digital. Dalam transformasi digital ini, banyak hal terdigitalisasi. Digitalisasi yang dimaksud bukan hanya soal berubah media dari cetak ke digital melainkan nilai dan budaya digital itu juga berdiri sendiri.
Orang duduk di rumahnya bisa jadi jutawan tanpa harus menjadi semut pekerja di luar rumah. Trading menjadi sedemikian populer, termasuk kripto. Lebih dari 400 triliun sudah transaksi kripto di Indonesia sejak pandemi! Aku juga termasuk yang ikut belajar trading, hehe.
Dunia kepenulisan pun turut bertransformasi. Platform menulis berlahiran dan cara orang membaca berubah menjadi serba digital.
Bayangkan, kalau kita tidak punya akses internet di zaman yang sudah sedemikian digital ini bagaimana? Kita tentu akan ketinggalan, dan kembali lagi kedaulatan diri kita bisa terancam.
Namun, di sisi sebaliknya, keadaan ini juga bisa mengancam kedaulatan kita kalau kita tidak hati-hati. Baru-baru ini orang-orang kebablasan mengikuti tantangan Add Yours di Instagram. Ada saja orang yang mau-maunya membagikan data pribadinya yang bisa disalahgunakan oleh orang-orang tak bertanggung jawab.
Banyak sekali sebenarnya cerita yang bisa dikulik dari perjalanan hidup di internet ini.
Sejak lima bulan lalu aku pindah ke Banyuasin, Sumatra Selatan, untuk mengikuti perkuliahan. Ndilalah Covid-19 semakin parah pada Agustus dan perkuliahan diputuskan daring total. Aku masih menumpang di rumah orang tuaku dan berkuliah daring di sana. Alhamdulillah, sudah terpasang IndiHome juga di rumah ortu. Memang nggak salah kalau IndiHome dijuluki Internetnya Indonesia, karena sudah bisa menjangkau Banyuasin.
Dan baru dua minggu lalu, aku pindah ke hunian sendiri. Hal yang pertama kulakukan juga memasang IndiHome (https://www.indihome.co.id), 50 Mbps. Bukan hanya buat kuliah, tapi juga untuk menunjang aktivitasku sebagai kreator konten.
IndiHome ini juga internetnya untuk gamer, karena cepat tadi. Sayangnya aku bukan gamer. Aku lebih suka menjadi akademisi yang menghabiskan waktu untuk mencari dan membaca referensi ilmiah (selain sebagai konten kreator juga). Berkat kebiasaan membaca jurnal-jurnal ilmiah itu, belakangan aku bermimpi bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang S3 di luar negeri. Dan becermin dari aktivitas tanpa batas, apa yang tak mungkin bagi mimpi-mimpi, bukan?
(2021)

