Tari Kecak Uluwatu

Menonton Tari Kecak di Uluwatu

Tiba-tiba Sang Hanoman melompat ke sana kemari. Firasatku mengatakan ia akan menghampiri. Dan benar saja, Sang Hanoman datang dan duduk di sampingku, berupaya mengusiliku. Namun, bukan takut, spontan kukeluarkan ponsel, dan kulakukan wefie bersama Sang Hanoman saat menonton Tari Kecak di Uluwatu.

Hanoman di Uluwatu

Itulah salah satu kenangan paling berharga saat aku mengikuti Danone Blogger Academy 2019 sebagai perwakilan dari pemenang Danone Blogger Academy 2018. Kami berkegiatan banyak di Bali, mulai dari membersihkan sampah di Dreamland Beach hingga tanpa kami tahu, panitia mengajak kami ke Uluwatu. Di sana kami diajak menonton tari kecak.

Pemandangan UluwatuPamandangan Tebing dari pura uluwatu

Aku sudah pernah ke Uluwatu sekitar tahun 2013. Pemandangan tebing tinggi yang menghadang ombak sungguh fantastis. Namun, saat itu aku tidak menonton tari kecak. Kami hanya menikmati panorama, berkeliling melihat para kera yang katanya sangat usil karena suka mencuri benda-benda milik pengunjung. Terutama yang mengkilat. Sehingga disarankan ponsel, kacamata, dan aksesoris di kepala, sebaiknya disimpan saja kalau tidak mau dicuri oleh para kera. Uniknya, para kera itu pintar. Mereka menunggu agar bisa barter barang-barang yang mereka curi dengan makanan.

Tentang Puri Uluwatu

Pura Uluwatu terletak di Desa Pecatu, sebuah Desa yang terletak di kecamatan Kuta Selatan. Puri Uluwatu punya nilai sejarah yang sangat tinggi bagi perkembangan Agama Hindu di Bali. Pura Uluwatu juga memiliki keunikan tersendiri karena berada tepat di ujung kaki pulau Bali yang berdiri megah di atas batu karang setinggi kurang lebih 75 meter di atas permukaan laut, dihiasi oleh alas kekeran yang merupakan hutan lindung disepanjang kawasan ini sekaligus tempat bagi beberapa kelompok monyet yang sering berkeliaran di areal Pura Uluwatu.

Pura uluwatu dibangun oleh Mpu Kuturan atau Mpu Rajakreta pada masa pemerintahan suami-istri Sri Msula-Masuli pada sekitar abad XI. Namun, ada peninggalan kuno di pura ini berupa candi kurung atau kori gelung agung yang menjulang megah membatasi areal jaba tengah dengan jeroan pura yang diprediksi sudah ada sejak abad ke-8. Candi kuno itu menatahkan hitungan tahun Isaka dengan candrasangkala gana sawang gana yang berarti tahun Isaka 808 atau sekitar 886 Masehi. Jadi, sebelum datangnya Mpu Kuturan ke Bali.

Dikisahkan ketika pada suatu hari pada anggara kliwon wuku medangsia Dhangyang Dwijendra diberi wahyu dari Tuhan pada hari itu juga beliau harus pergi ke sorga. Pendeta Hindu asal Jawa Timur yang juga menjadi bhagawanta (pendeta kerajan) Gelgel pada masa keemasan Dalem Waturenggong sekitar 1460-1550, merasa bahagia karena saat yang dinanti-nantikannya telah tiba. Namun, pendeta yang juga memiliki nama Danghyang Nirartha itu masih menyimpan satu pusataka yang bakal diberikan kepada putranya. Di bawah ujung Pura Uluwatu, tampak seorang nelayan bernama Ki Pasek Nambangan. Danghyang Dwijendra meminta agar Ki Pasek Nambangan mau menyampikan kepada anaknya, Empus Mas di desa Mas bahwa Danghyang Dwijendra menaruh sebuah pustaka di Pura Luhur Uluwatu. Kemudian KiPasek Nambangan pun memberikan sebuah permintaan dari Dhangyang Nirarta. Kemudian KiPasek Nambangan akhirnya pergi, sementara Dhangyang Dwijendra melakukan tapa yoga semadi. Selanjutnya  Maha Resi pun akhirnya moksah (Pergi ke surga tanpa meninggalkan badan kasar) dengan cepat seperti sebuah kilat. KIPasek nambangan hanya melihat sebuah cahaya ke angkasa.

Sejarah Tari Kecak di Uluwatu

Melihat perkembangan kunjungan wisatawan yang semakin meningkat, pengurus Kelompok Dagang Uluwatu berpikir untuk menyediakan sebuah atraksi wisata bagi para wisatawan yang berkunjung. Selain dapat mengamati lebih Pura Uluwatu yang memiliki sejarah tinggi, dan menikmati panorama alam sekitar wisatawan juga akan disuguhi dengan sebuah atraksi budaya yang dapat menambah serunya liburan mereka di Bali.

Oleh kesepakatan para pedagang, maka dipilihlah tari kecak sebagai atraksi wisata yang akan disiapkan untuk menghibur para wisatawan yang datang, selain karena memiliki keunikan yang tersendiri tari kecak juga melibatkan banyak orang sehingga akan mampu menampung seluruh anggota pedagang yang ada. Kemudian berdirilah Sanggar Tari & Tabuh Karang Boma sebagai penyedia Tari Kecak di Pura Uluwatu atau yang dikenal sebagai Uluwatu Kecak Dance oleh para wisatawan mancanegara.

Jadwal Pentas : Setiap Hari (Kecuali Nyepi & Pengerupukan)
Jam Pentas  : 18:00 s/d 19:00 WITA
Durasi : 60 Menit
Tempat : Open Air Stage Pura Uluwatu, Bali

Cerita dalam Tari Kecak Uluwatu

Cerita Ramayana dipilih oleh Tari Kecak Uluwatu untuk menjadi lakon atau cerita pementasan, diceritakan seorang Raja yang begitu sangat bijaksana bernama Sang Rama Dewa sedang berusaha menyelamatan permaisurinya yang bernama Dewi Sita yang diculik oleh seorang raja raksasa yang sangat jahat bernama Rahwana. Perjalanan yang panjang dan sangat berbahaya kemudian ditempuh oleh Sang Rama Dewa dengan ditemani oleh adiknya yang bernama Laksamana.

Tari Kecak Uluwatu

Diceritakan pula ketika Raja Rahwana menculik Dewi Sita, didalam perjalanannya dilihat oleh Sang Jatayu, seekor burung Garuda yang merupakan sahabat dari Sang Rama Dewa. Ketika Jatayu mengetahui bahwa wanita yang sedang diculik oleh Rahwana adalah permaisuri dari sahabatny yaitu Sang Rama Dewa, maka burung Jatayu pun berusaha menyelamatkan sang permaisuri. Namun karena kesaktian Rahwana melebihi Jatayu, maka Jatayu dapat dikalahkan.

Tari Kecak UluwatuTari Kecak Uluwatu

Tari Kecak Uluwatu

Pada bagian selanjutnya diceritakan kembali perjalanan Sang Rama Dewa yang hanya ditemani oleh adiknya Laksamana kemudian bertemu dengan Sang hanoman, seorang panglima perang pasukan kera yang merupakan keponakan dari seorang raja kera bernama Sugriwa. Karena pernah merasa berhutang budi kepada sang Rama Dewa, pasukan kera yang dipimpin oleh panglima perang Hanoman dan Raja Sugriwa bersedia membantu Sang Rama Dewa untuk merebut kembali permaisurinya. Karena kesaktiannya kera putih Hanoman dapat menyusup kedalam istana Raja Rahwana dan kemudian menemui Dewi Sita. Bagimana kemudian dengan kesaktiannya, Kera Putih Hanoman kemudian membakar istana Raja Rahwana yang didalam pementasan kecak diilustrasikan dengan fire dance. Dimana Hanoman kemudian ditangkap dan dibakar oleh para prajurit Rahwana yang semuanya adalah para raksasa. Perjuangan Hanoman dalam membantu Rama Dewa untuk mendapatkan permaisurinya kembali, menjadi sebuah cerita dan tarian yang sangat menarik untuk anda nikmati. Didalam pementasan juga akan muncul beberapa karakter lain yang menarik untuk anda amati lebih dalam karena dibawakan oleh pemuda-pemudi masyarakat Pecatu yang begitu lemah gemulai dalam membawakan karakternya masing-masing.

Uniknya, dalam pementasannya, Tari Ketak Uluwatu menyisipkan banyak gimik humor yang membuat penonton tak bosan dan bahkan tertawa terbahak-bahak. Terutama aksi tak terduga dari Hanoman yang lincah menghampiri para penonton. Sungguh seru!

 

Sumber: http://www.uluwatukecakdance.com/

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

2 Comments

  1. Berapa ya biaya nonton acara itu? Pengen banget dari dulu nonton tari kecak, tapi untuk jalan-jalan mesti mikir budget. Hehehe

    1. 100 ribu kayaknya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *