Memahami Licentia Poetica

oleh Malkan Junaidi

Licentia Poetica (lisensi puitik) bukanlah kartu gaib yang memberi penyair wewenang untuk menulis secara ngawur. Licentia poetica harus digunakan untuk mendapatkan efek artistik tertentu, untuk memperindah, memperkuat, dan memperkaya makna. Ia tidak bisa menjadi pembenar bagi eror aransemen dan penalaran.

Agar suatu susunan bisa dikatakan berdasarkan licentia poetica, tiga hal harus dipenuhi: penyimpangan, kelogisan, efek. Metafora pada dasarnya merupakan pengaplikasian dari licentia poetica. Ambil contoh milik Amir Hamzah:

Kaulah kandil kemerlap
Pelita jendela di malam gelap

Kandil atau pelita dalam diskursus teologis Islam (karena Amir Hamzah muslim) tentu bukanlah entitas Tuhan; Tuhan mustahil berwujud pelita atau kandil menurut prinsip mukhalafatuhu lil hawaditsi—berbeda dengan makhluk. Menyatakan Tuhan merupakan kandil karenanya merupakan penyimpangan. Bagaimana pun penyimpangan ini logis dalam wacana sastrawi dan menimbulkan efek nyata dalam proses signifikasi.

Baca Dulu: Penggunaan Preposisi dalam Puisi

Penyair mengidentifikasi dirinya berada dalam kegelapan di luar rumah, gambaran diri yang berkubang dosa dan berada dalam kesesatan atau jauh dari Tuhan. Dalam keadaan demikian, petunjuk Tuhan (hidayah, syariat, dan sebagainya) ibarat cahaya. Tuhan ibarat sumber cahaya itu, ibarat pelita di jendela yang terbuka di malam gelap. Kelogisan perbandingan ini berimbas mengonkretkan maksud penyair, menjelaskan sesuatu secara efek(tif) dan efisien.

Di Quran, metafora serupa bisa ditemukan. Allahu nuurus samawati wal ardli. Allah adalah cahaya langit dan bumi.Selain penyimpangan wacana, licentia poetica banyak terjadi dalam bentuk penyimpangan tata bahasa. Chairil Anwar adalah tokoh yang cukup identik dengan hal ini.

Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditinda

Lazimnya, “di atas” diikuti oleh kata benda dan menjadi keterangan tempat. Pada fragmen di atas, “di atas” diikuti oleh kata kerja, satu aktif satu pasif. Untuk membantu pemahaman, pembaca bisa menganggap ada kata “pilihan”, misalnya, terletak sebelum “menghamba”. Punah di atas pilihan menghamba berarti lebih memilih mati daripada memilih jadi begundal.

Dalam perpuisian tradisional, penghapusan huruf demi rima dan metrum sering ditemukan. Dalam perpuisian modern, meski tidak sedikit penyair sangat peduli ihwal efisiensi, jarang mereka melakukan penghapusan ini. Penghapusan huruf “s” pada kata “ditinda” di puisi Chairil karenanya tampak eksentrik terlebih “ditinda” (koreksi jika salah) bukanlah ragam cakapan, bentuk singkat dan tak resmi, semacam “Pa we ra ngerti?” (Apa kowe ora mangerti?—Apa kamu tidak mengerti?). Ia murni kreasi Chairil demi mempertahankan rima, yang karena itu bisa dimaklumi sebagaimana kita memakluminya dalam konteks perpuisian tradisional.

Dislokasi adalah gejala lain, di samping penghapusan huruf (dan penggantian harakat hidup jadi harakat mati pada puisi berbahasa Arab), yang merebaki perpuisian tradisional. Sebuah kata dipindah posisinya dari posisi lazim dalam kalimat untuk mendapatkan rima atau karena penyair ingin memberi tekanan pada kata/frasa tertentu. Di lanskap perpuisian modern, Chairil mengadopsi strategi ini.

Aku berpikir: Bulan inikah yang membikin dingin,
Jadi pucat rumah dan kaku pohonan?
Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin:
Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan!

Susunan lazim baris ketiga:

Sekali ini aku terlalu sangat kepingin dapat jawab:

Contoh pada Maulid Ad-Diba’i:

Mitsla husnik ma ra-aina
Qatthu ya wajhas sururi

(Sosok seindah dirimu tak pernah kami lihat
Sama sekali wahai pemilik wajah sumringah)

Bentuk lazim:

Ma ra-aina mitsla husnika
Qatthu ya wajhas sururi

Oleh sebab dislokasi demikian dilakukan demi estetika puisi, ia jelas termasuk tindakan berdasarkan licentia poetica. Tindakan lain misal adalah penghilangan pungtuasi, pengabaian penggunaan huruf kapital, enjambemen, dan mitifikasi (pengubahan jadi mitos) fakta historis, asal disengaja demi penguatan puisi.

Baca Juga: Cara Mengetahui Puisi Dangkal

Untuk memperjelas, saya katakan: adaptasi novel menjadi film, dengan pengurangan/penambahan karakter dan dialog, perubahan plot dan latar waktu—singkatnya berbagai utak-atik dengan pertimbangan sinematografis, sejatinya merupakan tindakan berdasarkan licentia poetica. Terlepas dari keberatan yang biasa muncul dari pembaca novel, penyimpangan demikian disengaja untuk efek artistik tertentu, bukan tindakan ngawur.

Demikianlah, saya tak dapat menginklusikan puisi Sapardi Djoko Damono, Aku Ingin, ke dalam wacana licentia poetica. Dengan argumen sebagaimana saya sampaikan di esai Problem Fundamental Puisi Aku Ingin, alih-alih saya menganggap trademark Sapardi tersebut sekadar merupakan eror penalaran.

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *