Kisah Sukses Lovrinz Publishing | Menjaga Debar Pena

Ia masih ingat buku-buku yang tersusun rapi di rak. Tidak cukup banyak jumlahnya. Di kamarnya yang kecil, dengan cat yang tampak sudah mulai memudar, di sebuah desa kecil di Turen, Malang, ia menanamkan mimpi. Mimpi yang berawal dari debar pena yang tak berkesudahan, bahwa di luar sana ada banyak orang yang punya mimpi sama dengannya: menjadi seorang penulis.

Begitulah Rina Sulistiyoningsih, yang sekarang lebih akrab dengan nama Rina Rinz, sang pendiri Lovrinz Publishing, menceritakan kenangan pertamanya saat memantapkan diri membuat sebuah penerbit buku.

Rasanya ia masih tidak percaya mimpi yang ditanam itu kini telah membuahkan hasil. Omsetnya miliaran per bulan. Nama Lovrinz Publishing begitu dikenal di khalayak penulis yang memulai karirnya di dunia maya, lewat komunitas-komunitas di Facebook atau juga di berbagai platform menulis online. Kantor yang berisi alat kerja yang tadinya hanya berupa meja kecil dan sebuah laptop sederhana telah berubah menjadi 4 titik kantor. Kantor pertama adalah kantor redaksi yang berada di Cirebon, di bangunan 2,5 lantai. Selain redaksi, ada rumah produksi, rumah packing, dan rumah logistik dengan jumlah karyawan 26 orang. Kini sedang berupaya di bangun untuk memusatkan 4 titik kantor itu di atas lahan 1200 meter persegi sekaligus menjadi rumah tinggal bagi para pejuang Lovrinz (begitu ia menyebut karyawannya) agar bisa bersinergi lebih baik lagi.

Rina Rinz pada mulanya punya mimpi menjadi penulis. Jalan penanya dimulai melalui sebuah komunitas menulis online yang populer tahun 2007-2009 bernama Kemudian.com. Website itu banyak melahirkan penulis andal seperti Dadan Erlangga, Bernard Batubara, Bamby Cahyadi, Sungging Raga, dan Dewi Karisma Michella. Selain itu, sudah banyak penulis yang karyanya malang-melintang terbit di penerbit besar maupun dimuat di korang-koran yang juga bergabung di dalamnya.

Rina yang gelisah karena merasa begitu sulit untuk bisa diterima di penerbit besar, mulai memikirkan cara agar tetap menjaga debar penanya untuk terus berkarya. Apalagi, setelah ia tahu bahwa fakta royalti penulis Indonesia yang begitu rendah, hanya sekitar 10% dari harga penjualan (dan belum dipotong pajak penghasilan 15%), membuat dia ragu kalau harus terus berjuang untuk menembus penerbit-penerbit besar itu.

Di situlah ia mulai memberanikan diri untuk mencetak naskahnya sendiri dengan label ciptaannya sendiri. Ya, semua ia lakukan sendiri dari proses menulis hingga penjualannya.

Hal itu juga tidak terlepas dari manfaat internet. Setelah era Kemudian.com, datanglah era Facebook. Gebyar Facebook saat itu mempertemukan orang-orang yang suka menulis dan membaca. Para penulis senior dan yang amatir bisa saling bertemu, berdiskusi, saling membagi pengalaman. Di situ juga, terbuka tentang bagaimana cara menerbitkan buku.

Namun, hanya sedikit yang seperti Rina, yang membaca peluang menjadi produsen penerbitan buku. Terlebih, dengan cerdik Rina mengambil pasar yang tidak disangka sebelumnya, yakni pasar ibu-ibu dengan cerita yang lebih populer dan bermenu keseharian.

Dia ingat saat itu ada seorang sahabat menawarkan jasa untuk membuat CV, sebagai syarat untuk bisa mengajukan ISBN ke perpustakaan nasional. Rina yang waktu itu sudah berhenti bekerja kantoran dan berfokus jadi ibu rumah tangga, merayu suaminya untuk mengikhlaskan gajin sebesar 500 ribu untuk membuat sebuah CV.  Singkat cerita, ia bisa membuat CV dengan nama RinMedia dan membuka LovRinz Publishing. Logonya pun ia buat sendiri ala kadarnya.

Rina memulai dengan dirinya sendiri. Ia menulis banyak kisah rumah-tangga dengan segala tetek bengek permasalahannya. Selain sebagai penulis, ia pun membangun citranya sebagai seseorang yang tulus dalam membantu teman-temannya mencetak buku. Sekali lagi, saat itu hanya dari sebuah laptop di rumahnya, ia melayani setiap pesanan cetak ber-ISBN dalam jumlah terbatas. Bahkan 20 eksemplar saja ia terima!

Sosok yang juga kerap dipanggil “Bunda Rina” ini juga penuh inspirasi. Ia yang selalu tersenyum ini dikenal sangat sabar dan mampu menyikapi perbedaan. Hal itu mungkin tidak terlepas dari latar belakangnya. Ia lahir di Jayapura dalam keluarga Kristiani. Kemudian, dalam perjalanannya ia memeluk agama Islam. Kisahnya itulah yang ia tuangkan dalam buku terbarunya yang berjudul “Kutemukan Diriku”.

Sebagai info tambahan, Kutemukan Diriku ini akan beralih media dalam bentuk film lho!

Tahun 2014, Lovrinz yang baru berkembang berinovasi mengadakan kelas-kelas menulis secara daring. Beberapa pengajar yang sudah berpengalaman didatangkan. Ada kelas menulis cerpen, ada kelas menulis puisi, ada kelas menulis novel, ada juga kelas menulis cerita anak.

Dari kelas-kelas inilah kemudian Lovrinz memulai ide tentang menjaring penulis dari hulunya. Penulis-penulis dari yang mengikuti kelas-kelas tersebut kemudian menjadi mitra dari Lovrinz.

Kelas-kelas online ini alhamdulillah berjalan dengan lancar karena sekarang ketersediaan jaringan di berbagai daerah di Indonesia sudah lebih baik. IndiHome yang memang internetnya Indonesia mampu memungkinkan kelas-kelas ini terselenggara.

Lovrinz juga menggunakan IndiHome untuk mendukung kegiatan bisnisnya karena percaya dengan jaringannya yang stabil dan cepat. IndiHome dari Telkom Indonesia turut membantu perkembangan Lovrinz yang kemudian secara rutin menggelar berbagai event secara online.

Event-event inilah yang semakin menguatkan branding Lovrinz. Tak pernah sepi pesertanya.

Dengan tim yang semakin solid, Lovrinz merambah wilayah lain untuk meluaskan pasar mereka. Youtube mereka juga jalan dengan konten-konten mereka. Lagi-lagi Bunda Rina memulainya terlebih dahulu dengan menjelajahi berbagai platform online seperti Wattpad. Di sana ia berhasil mengenalkan diri dan meraih pertemanan dengan banyak orang yang akhirnya bermitra dengannya.

Sekarang, Rina mengemukakan bahwa ia juga sedang mencoba membuat platform menulis online sendiri berbasis aplikasi untuk memfasilitasi orang-orang menulis. Baginya, wadah bagi seseorang untuk mengembangkan minat dan bakat itu sangat penting.

Mitra Lovrinz ini juga sebenarnya sebuah frasa tersendiri. Setelah kini Lovrinz memiliki beberapa mesin cetak, ia memfasilitasi hubungan seperti induk-anak. Ia membuka jalan rezeki bagi orang-orang yang ingin menempuh jalan yang sama dengannya, yang belum punya modal untuk membuat sebuah penerbit Indie. Penerbit-penerbit baru yang masih belajar berdiri itu mencetak di Lovrinz dengan label mereka sendiri. Hal itu sesuai dengan visi LovRinz yang selalu ingin membahagiakan penulis dan mitra ini yang membuat penerbit tumbuh dengan cepat karena berusaha selalu menjadi penerbit nomor satu yang selalu memberikan solusi untuk semua persoalan penulis dan mitra bisnisnya.

“Saya tak ingin lupa pada niat awal saya dalam menjaga debar pena. Di luar sana banyak orang yang juga ingin menjaga debar penanya dengan alasan yang mungkin sangat penting buat mereka,” ujarnya.

Seperti kata Pipet Senja, menulis itu terapi jiwa. Bagi ibu-ibu rumah tangga, menulis itu juga bisa menjadi jalan pelepasan emosi atau bagian dari aktualisasi diri. Plus, jangan khawatir, menulis juga bisa menjadi jalan untuk penghasilan tambahan. Begitulah Rina menambahkan.

Bunda Rina tak henti-hentinya menyemangati orang-orang yang menulis untuk berani memulai jalan yang seperti ia tempuh. Intinya adalah keberanian untuk memulai dan menjaga niat untuk tetap tulus.

“Jalani apa yang kita suka. Tapi itu saja tak berhenti di sekadar suka. Kalau memikirkan kebahagiaan diri sendiri dan keluarga, rasanya cukup segitu. Namun, motivasi ingin membahagiakan banyak orang yang membuat kami terus berinovasi dalam pelayanan. Ada prinsip yang kami pegang banget dalam menjalankan bisnis penerbitan ini. Fokus pada pertumbuhan tanpa mempedulikan apa yang dilakukan penerbit lain. Namun, sesekali melihat perkembangan penerbit lain untuk melakukan inovasi-inovasi baru. Bisa dibilang LovRinz selalu berusaha dan berupaya menjadi pioner di kelasnya dalam melakukan perkembangan bisnis penerbitan. Bagi LovRinz kepuasan pelanggan nomor 1. Saya yakin sama seperti IndiHome yang selalu ingin melayani pelanggannya dengan pelayanan terbaik sehingga dapat mendukung apa saja yang sedang diupayakan pelanggannya,” tambah Rina dengan bersemangat.

Apa yang ia alami dalam kurang lebih 8 tahun ini jauh dari logika manusia. Ia percaya peran Tuhan sangat besar dalam hidupnya, dan karena itu, percayalah pada pemberi rezeki, jangan menunggu, ciptakan waktumu sendiri!

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

2 Comments

  1. MasyaAllah 😍😍😍😍

  2. Perjalanan LovRinz bisa jadi inspirasi di tengah gempuran update teknologi jaman sekarang mas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *