Ketika Semuanya Berantakan

Aku selalu ingat wejangan kepala seksiku yang dulu di Sumbawa. Dia berkata. “Kita bekerja buat siapa? Buat keluarga. Jadi, jangan sampai pekerjaan kita menghalangi kebersamaan kita dengan keluarga.”

Kalimat itu aku ingat, meski pernah akibat dinamika yang ada, tanpa sadar, dunia jadi terbalik. Di kantor jadi cerita tentang rumah dengan teman-teman. Di rumah malah nyeritain kantor.

Situasi yang ada juga kadang menghabiskan energi, sehingga sampai rumah, boro-boro bisa menghabiskan waktu bersama anak, langsung tidur juga ada. Tidak ada quality time sama sekali.

Kondisi itu menyebabkan kritik dialamatkan kepadaku sebagai kepala keluarga. Belum lagi depresi yang kurasakan membuat emosiku tidak stabil. Pertengkaran. Kerapuhan. Semua kurasakan.

Dari Hidup yang Indah, Semuanya Berantakan

Bersama atasan yang sebelumnya, kehidupan kantorku indah. Prinsipnya mirip denganku, bagaimana menyelesaikan pekerjaan dengan efektif dan efisien. Beliau kadang mengajak lembur, tapi nggak masalah karena memang frekuensinya teratur dan tidak berlebihan.

Yang membuatku respek, kalau mengobrol dengannya, dia tidak masuk campur ke kehidupan/pribadi orang lain. Dia paling senang mengajak diskusi soal keuangan publik. Aku sih semangat mendapat teman diskusi seorang Ph.D. Ilmuku bertambah dengan cepat.

Di sisi yang lain, aku punya pergaulan yang luas di luar kantor. Kehidupanku sebagai penulis membuatku dekat dengan penerbit sehingga sempat masuk dalam jajaran manajemen penerbit. Aku menyukai peranku di sana.

Atasanku kemudian ganti. Ya, rekam jejaknya sudah “terkenal”. Ya, aku sih nggak masalah awalnya dan malah baik-baik saja sampai dapat julukan Ranger Merah karena kerap menemaninya dari waktu ke waktu.

Pelan-pelan situasi itu berubah. Aku mulai mengambil jarak karena ada beberapa hal yang tidak enak. Detailnya, ah, alangkah panjang jika diceritakan dalam satu babak.

Entah kenapa aku kemudian sedemikian berubah. Malah kayak orang linglung. Terlalu dipendam sendiri. Menyendiri. Malah pernah mematikan komunikasi messenger berminggu-minggu. Jatuh sakit, sesak napas, ke UGD malam-malam. Di sana hanya ditemani beberapa teman. Di saat itulah, aku teringat ucapan kepala seksiku, “Aku kerja ini buat apa sih?”

Aku pun didepak dari manajemen penerbitan karena ya, salahku. Salahku yang punya cara lari dari masalah yang keliru. Mimpi panjang mengembangkan penerbitan itu hilang.

Hatiku Sudah Tidak di Jakarta

Ketika ada satu teman yang berhenti dari PNS karena depresi juga, aku makin tak betah di Jakarta.

Dua minggu sebelum menghilang, dia mengajakku bicara. “Pring, sebenarnya apa sih yang kamu inginkan? Jika mau melawan, lawan terang-terangan. Jangan dipendam saja. Kamu sama saja menyakiti dirimu sendiri. Kan kamu yang rugi kalau kamu seperti ini….”

Eh, dia kemudian menunjukkan perlawanannya dengan menghilang.

Hatiku sudah tidak di Jakarta. Aku ingin pindah. Mengajukan pindah lewat mekanisme ruislag ke kampung halaman.

Ingin membangun segala mimpi dari awal. Ingin memperbaiki kualitas hubungan keluarga yang kurang. Sangat ingin mengobati luka yang terlampau dalam. Ya, ingin menata ulang segalanya.

Andai bisa…

 

 

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

3 Comments

  1. semoga kisah ini berakhir indah pring…

  2. Semoga … aamiin

  3. Be strong kak!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *