Onomatope

Onomatope dalam Bahasa Indonesia

Pernah dengar onomatope dalam bahasa Indonesia? Sederhananya, onomatope adalah kata yang lahir dari tiruan bunyi. Onomatope sendiri berasal dari bahasa Yunani ονοματοποιία yang berarti kata atau sekelompok kata yang menirukan bunyi-bunyi dari sumber yang digambarkannya. Konsep ini berupa sintesis dari kata Yunani όνομα (onoma = nama) dan ποιέω (poieō, = “saya buat” atau “saya lakukan”) sehingga artinya adalah “pembuatan nama” atau “menamai sebagaimana bunyinya”.

Makna suatu kata mempunyai arti dalam hubungan antara tanda berupa lambang bunyi ujaran dengan hal atau barang yang dimaksudkan. Semantik dalam onomatope terdapat pada salah satu peristiwa keunikan yang bersifat lingual biasanya diwujudkan dalam bentuk satuan lingual berupa kata dan silabel. Sebagai tiruan bunyi, bentuk onomatope biasanya terdiri atas satu atau dua perulangan silabel.

Yang paling umum kita ketahui adalah onomatope yang berasal dari suara hewan. Bagaimana bunyi suara kucing? Meong-Ngeong. Lalu lahirlah kata khusus yakni mengeong.

Selain kata tersebut, ada banyak onomatope lain lho, seperti:

  • Burung mencericip/berkicau
  • Babi menguik
  • Anjing menggonggong/mendengking
  • Serigala melolong
  • Sapi melenguh
  • Katak menguak
  • Ular mendesis
  • Kambing mengembik
  • Merpati berdekut
  • Ayam jantan berkokok
  • Ayam betina berkotek
  • Anak ayam menciap
  • Macan mengaum
  • Tikus mencicit
  • Kuda meringkik

Silakan ditambahkan jika teman-teman menemukan onomatope lain yang berasal dari suara hewan, ya.

Nah, selain dari suara hewan, onomatope ini juga lahir dari suara-suara lain seperti suara benda mati, juga suara yang berasal dari aktivitas tertentu. Misalnya saja kata jatuh. Ada beberapa variasi kata lho yang sama-sama menyatakan jatuh. Kalau jatuhnya ke air, jadinya cebur atau cemplung karena bunyi jatuh ke air itu byur atau plung. Termasuk juga kata ambruk karena berasal dari bunyi bruk.

Memahami onomatope ini membuat kita memahami sebuah kata agar ketika menggunakan diksi, terutama dalam puisi, akan sangat tepat arahnya (selain memahami makna leksikalnya juga). Nah,

Kata-kata yang dibentuk berdasarkan bunyi ini sebenarnya tidak sama persis, hanya mirip saja. Hal itu disebabkan oleh dua hal, pertama, karena benda atau binatang yang mengeluarkan atau menghasilkan bunyi itu tidak mempunyai fisiologis seperti manusia. Kedua, karena sistem fonologi setiap bahasa tidak sama.

Contoh onomatope dalam bahasa Indonesia yang berasal dari suara benda mati:

  • Meriam berdentam
  • Angin berkesiur/mendesau
  • Papan/kayu berderak
  • Bel/lonceng berdentang
  • Sendok berdenting
  • Air bergemericik
  • Pintu berderit
  • Gigi gelemetuk
  • Telepon berdering
  • Peluru berdesing
  • Daun bergemeresik
  • Jantung berdegup
  • Uang logam bergemerincing
  • Petir menggelegar
  • Kuda berderap.
  • Darah berdesir/menggelenyar.
  • Selendang berkibar.

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, bisa kita temukan kata-kata yang lain yang merupakan tiuran bunyi tersebut (yang mungkin jarang digunakan):

  • bang n tiruan bunyi spt bunyi – barang jatuh, meletup, dsb
  • bap n tiruan bunyi barang jatuh di tanah lembut dsb; debap
  • celebuk n tiruan bunyi spt batu dsb yg jatuh ke air
  • celepik n tiruan bunyi spt barang kecil (cecak, kertas, dsb) jatuh di lantai
  • celepuk n tiruan bunyi spt celepik tetapi lebih nyaring
  • celung n tiruan bunyi spt bunyi angklung dsb
  • ceter /cetér/ n tiruan bunyi cemeti (cambuk dsb) yg dicambukkan
  • cit n tiruan bunyi spt bunyi tikus atau anak burung
  • ciut n tiruan bunyi spt bunyi pohon ditempuh angin, pintu terbuka, dsb;
  • berciut-ciut (menciut-ciut) v berbunyi “ciut, ciut”
  • debak n bunyi spt bunyi orang meninju; debuk;
  • debak-debuk v berulang-ulang berbunyi ”bak-buk” (spt bunyi barang-barang berat berjatuhan, orang meninju berulang-ulang, dsb)
  • debam n tiruan bunyi spt bunyi benda berat jatuh ke lantai
  • debap n tiruan bunyi spt bunyi barang jatuh dsb
  • debar n, berdebar (berdebar-debar) v bergerak-gerak atau berdenyut-denyut keras atau lebih kencang
  • decup n tiruan bunyi spt bunyi ikan menangkap kelekatu;
  • berdecup(-decup) v berbunyi spt bunyi ikan menangkap kelekatu
  • decur n tiruan bunyi spt bunyi air memancar (memancur dsb); mendecur v 1 berbunyi spt bunyi air memancar; 2 memancar; memancur; bercucuran
  • decut n tiruan bunyi spt bunyi bayi menyusu; berdecut(-decut) v berbunyi seperti bunyi bayi menyusu
  • gar n tiruan bunyi spt bunyi guruh dsb; degar
  • gelebuk n tiruan bunyi spt, barang jatuh
  • gerdam n tiruan bunyi spt bunyi barang yg berat dan besar yg jatuh
  • gerentang n tiruan bunyi berdentam-dentam (berdentang-dentang)
  • koak (koak-koak) n tiruan bunyi spt bunyi burung gagak;
  • letang n tiruan bunyi spt bunyi besi dipalu
  • letik n tiruan bunyi spt bunyi gelas retak kena air panas; meletik v berbunyi
  • mung n tiruan bunyi canang
  • ning n tiruan bunyi sbg bunyi lonceng kecil
  • nung n tiruan bunyi spt bunyi kenung

Bagaimana, menarik bukan, onomatope ini?

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *