Kalah Jadi Abu, Menang Jadi Arang

Melayu punya pepatah. Kalah jadi abu, menang jadi arang. Pertempuran yang sia-sia. Kira-kira begitulah maknanya.

Kemarin, Zane bercerita. Suami temannya, sebaya dengan kami, meninggal dunia. Statusnya Pasien dalam Pengawasan (PDP). Meninggal, sebelum dilakukan tes. Setelah meninggal itu, barulah dilakukan rapid test buat anak dan istrinya.

Selumbari, berita mengenai seorang pegawai Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN), Kementerian Keuangan viral. Yang bersangkutan terlambat diketahui telah meninggal dunia di kamar kosnya. Senin, 18 Maret 2020, hari terakhir dia masuk kerja, sudah dalam keadaan demam. Kelahiran 1991. Belum genap 30 tahun.

Dalam keadaan seperti ini, semua orang bisa terjangkit. Dan yang berusia muda, tidak bisa santai-santai karena faktanya di Indonesia, ya, di Indonesia, usia 30-an banyak yang meninggal. Pun seperti ucapan Deddy Corbuzer, temannya, segar bugar, usia 20-an tanpa penyakit kronis, sekarang diventilator.

Aku pikir, setiap orang harus secara serius menyikapi Covid-19.

Sedikit yang tahu, aku punya bakat khusus. Intuisiku tajam dalam memprediksi sesuatu. Tidak melulu benar memang.

Sejak awal, aku meyakini Covid-19 sudah ada di Indonesia. Sejak awal pula, aku sering menulis soal kecemasanku. Kasus demi kasus pasti banyak yang dipetieskan. Kasus yang membuka peti es itu adalah kasus Cianjur yang terang-benderang menunjukkan kebohongan dan ketidaksiapan.

Sampai kadang aku mengamati, orang-orang yang masih membela, rasanya ingin berak di muka mereka.

Namun aku tahu, kalah jadi abu, menang jadi arang. Menghabiskan energi untuk marah-marah ke Pemerintah itu sia-sia. Pada akhirnya, kita hanya bisa berharap Pemerintah sadar dan cepat dalam menangani segalanya.

Marah-marah itu, diganti tujuannya, bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk membangun kesadaran. Ada porsinya orang-orang santun dalam membangun kesadaran. Ada juga porsinya orang-orang yang harus sampai bilang jancok dan kampang agar kesadaran itu terbangun.

Seorang wartawan olahraga yang santun, mencuit Presiden soal keadaannya yang tengah sesak napas. Tidak ada respons sama sekali. Kemarin, beliau meninggal.

Giliran seorang dokter, yang pada mulanya dianggap pendengung istana, marah-marah pada kelambanan pendekatan istana dalam menyelesaikan masalah, akhirnya “didengar” meski harganya, ia kini disebut pendengung oposisi. Bahkan oleh sebuah akun yang membocorokan rahasia Garuda, karakternya hendak dibunuh.

Padahal sama-sama yang perlu kita bunuh adalah virusnya. Tapi lucu sekali, di saat keadaan genting begini, para pendengung itu membahas hal lain.

Ini seperti film Titanic. Ketika kapal bocor, masih ada orang-orang yang mengutamakan kepentingan pribadinya. Tidak sadar, kemungkinan mati lebih besar.

Mungkin, ya mungkin, ucapan seorang teman menjadi masuk akal. Kasus asli di Indonesia pasti sudah puluhan ribu saat ini. Sebagian besar tentu saja tidak bergejala. Tapi itu tidak apa-apa. Sebab, memang harus diakui yang diungkapkan Mochtar Lubis itu benar adanya. Manusia Indonesia banyak bangsatnya. Jadi mending, pasrah dan musnah.

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *