Hoaks atau Fakta? Begini Cara Mengeceknya!

Kita tenggelam dalam lautan informasi. Dalam gelombang informasi itu, kita kerap bingung membedakan hoaks atau fakta. Dan kebingungan itu menyebabkan kebodohan. Seorang teman berkata, bahkan ada yang lebih cepat dari kecepatan cahaya, yakni merebaknya kebodohan di media sosial. Nah, karena itu penting buat kita mengecek hoaks atau fakta, memilih dan memilih informasi yang dapat dijadikan rujukan. Beberapa waktu lalu aku ikut kelas Tempo Institute bekerja sama dengan ISB Community tentang Cek Fakta Kesehatan. Begini cara mengeceknya!

Indonesia menjadi pengguna internet keempat terbesar di dunia yang sayangnya belum diikuti dengan literasi digital. Tingkat literasi Indonesia menempati urutan ke-70 di dunia. Sedangkan indeks literasi digital Indonesia, menurut Kominfo di angka sedang. Ini menyebabkan pengguna internet belum bisa membedakan informasi yang sesuai hoaks atau fakta.

Hoaks atau Fakta

Sebelumnya, apa sih yang dimaksud dengan hoaks?

Menurut KBBI, hoaks adalah berita bohong. Menurut Silverman, hoaks adalah rangkaian informasi yang memang sengaja disesatkan, namun “dijual” sebagai kebenaran. Jadi, hoaks memang sengaja diproduksi untuk kepentingan tertentu.

Dalam kasus Indonesia, menyebarnya hoaks masif terjadi karena adanya polarisasi politik sejak menuju Pilpres 2014. Di lain sisi, hal itu tumbuh subur karena kultur jurnalisme kita yang lemah.

Setidaknya, ada 7 jenis hoaks menurut standar First Draft, sebuah organisasi riset yang berfokus untuk media di Amerika Serikat. Tujuh macam itu meliputi satire, konten menyesatkan, konten aspal, konten pabrikasi, konten gak nyambung, konteks salah, dan konten manipulatif.

Dalam mengecek hoaks atau fakta, kita perlu tahu caranya mengenali situs abal-abal, serta memverifikasi foto dan video. Menurut Menkominfo ada 900 ribu situs penyebar hoax. Berikut tips-tips untuk mengidentifikasi situs abal-abal, diantaranya:

  • cek alamat situsnya melalui sejumlah situs salah satunya who.is dan domainbigdata.com. Dan jangan jadikan rujukan Web non TLD.
  • cek data perusahaan media di Dewan Pers
  • cek detail visual
  • waspada bila terlalu banyak iklan
  • bandingkan ciri-ciri pakem media mainstream. Ada Bandingkan sejumlah ciri yang menjadi pakem khas jurnalistik di media mainstream. Misalnya, nama penulisnya jelas, cara menulis tanggal di badan berita, hyperlink-nya yang disediakan mengarah ke mana, narasumbernya kredibel atau tidak, dan lain-lain.
  • cek About Us. Media abal-abal selalu anonim.
  • waspada dengan judul judul sensasional
  • cek ke situs media mainstream
  • cek google reverse image search pada foto utama. Cek foto utama apakah pernah dimuat di tempat lain, terutama di situs mainstream. Situs abal-abal biasanya selalu mencuri foto dari tempat lain. Reverse Image yang bisa digunakan selain dari Google, adalah dari Tineye dan Yandex.
  • Untuk video, selain menyimak videonya sampai habis dan detailnya, kita juga bisa memfragmentasi video menjadi gambar lalu menggunakan reverse image tools.

Infodemik yang Meresahkan

Setelah tahun politik yang membuat masyarakat terpolarisasi dan konten hoaks diproduksi massal, muncul hal baru yang lebih meresahkan. Pandemi Covid-19 membuat masyarakat terbelah antara yang percaya dan tidak percaya. Konten-konten hoaks diproduksi baik untuk menjadi sumber ketakutan yang berlabuhan atau malah menjadikannya konspirasi untuk abai pada protokol kesehatan.

Pengunaan media sosial yang begitu masif di masa pandemi Covid-19 menimbulkan informasi yang salah terkadang dapat menyebar lebih cepat dibandingkan faktanya. Fenomena tersebut dinamakan infodemik. Untuk melawan infodemik, platform digital harus dibuat lebih akuntabel, mis/disinformasi dilacak dan diverifikasi, serta kemampuan literasi digital masyarakat perlu ditingkatkan. 

Berdasarkan data Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO), jumlah hoaks kesehatan meningkat dari 7% (86 hoaks dalam setahun pada 2019) menjadi 56% (519 hoaks dalam setengah tahun pada 2020).  Jumlah hoaks Covid-19 yang diklarifikasi oleh MAFINDO adalah berjumlah 492 hoaks (94,8%) dari total hoaks kesehatan selama enam bulan pertama tahun 2020. Sedangkan Kementerian Kominfo mencatat 1.471 hoaks terkait Covid-19 tersebar di berbagai media hingga 11 Maret 2021. Banyak ‘kan?

Dikatakan sebagai infodemik, karena dampaknya sangat berbahaya. Dampak buruk dari mis/disinformasi kesehatan antara lain:

  • menyebabkan kebingungan dan kepanikan di masyarakat
  • ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah, otoritas kesehatan dan ilmu pengatahuan (sains)
  • demotivasi untuk mengikuti perilaku protektif yang direkomendasikan
  • sikap apatis yang memiliki konsekuensi besar karena berkaitan dengan kualitas hidup masyarakat, seperti membahayakan kesehatan, bahkan sampai menimbulkan risiko kematian. 

Hari-hari belakangan kita mengalami hal tersebut. Gelombang Covid-19 makin mengganas. Rekor demi rekor harian terus tercipta. Rumah sakit penuh. Tenaga kesehatan sudah kewalahan. Namun, masih ada yang berkoar-koar bahwa Covid-19 adalah kebohongan. Salah satunya Jrinx yang baru keluar dari penjara malah membabi buta memaksa artis-artis lain yang mengaku kena Covid sedang berbohong. Bintang Emon pun dengan lincah menggocek Jrinx dengan sarkasme yang membuktikan bahwa Jrinx itu lucu.

Lalu bagaimana agar kita mampu mengecek fakta kesehatan agar tidak terlalu takut atau malah abai pada Covid-19?

Baca Juga: Mitos tentang Air dan Kesehatan

Kemampuan Dasar Cek Fakta Kesehatan

  • Cek sumber aslinya. Cek siapa yang membagikan informasi dan darimana mereka mendapatkan informasi tersebut. Bahkan, jika informasi tersebut berasal dari teman atau keluarga, tetap periksa sumbernya. 
  • Jangan hanya baca judulnya. Judul mungkin sengaja dibuat sensasional atau provokatif untuk mendapatkan jumlah klik yang tinggi.  
  • Identifikasi penulis. Telusuri nama penulis secara online untuk melihat apakah penulis adalah seseorang yang nyata dan kredibel. 
  • Cek tanggal. Periksa apakah informasi tersebut merupakan informasi terbaru, apakah sudah up to date dan relevan dengan kejadian terkini. Periksa apakah judul, gambar atau statistik yang digunakan sesuai konteks. 
  • Cek bukti pendukung lain. Cerita yang kredibel mendukung klaim dengan fakta. 
  • Cek bias. Pikirkan bahwa bias pribadi Anda akan mempengaruhi penilaian Anda terhadap hal yang dapat dipercaya atau tidak.  
  • Cek organisasi pemeriksa fakta. Cek berita yang ditemukan dengan tulisan atau temuan yang sudah diverifikasi oleh  organisasi pemeriksa fakta baik dalam lingkup nasional, seperti Cek Fakta Tempo atau media nasional lainnya maupun pemeriksa fakta internasional seperti AFP factcheck, danWashington Post factcheckers. 

Untuk memeriksa fakta, khususnya seputar klaim kesehatan, tools dan teknik dasar yang diperlukan diantaranya:

  • sumber referensi yang terpercaya seperti website resmi institusi atau organisasi (Badan Kesehatan Dunia/WHO, Pusat Pencegahan dan Pengandalian Penyakit AS/CDC, Kementerian Kesehatan, Badan POM, Ikatan Dokter Indonesia/IDI, Ikatan Kesehatan Masyarakat Indonesia/IAKMI) dan jurnal ilmiah, seperti the New England Journal of Medicine, the British Medical Journal, Nature Medicine, the Lancet). 
  • studi peer-review dan pre-print. Peer review merupakan studi penelitian melewati proses evaluasi oleh tim pakar independen dari bidang keilmuwan yang sama. Peer-review umumnya dianggap sebagai gold standard dalam studi ilmiah. Sedangkan pre-print belum melewati proses peer-review. 
  • studi korelasi dan hubungan sebab akibat. Studi korelasi mengukur derajat keeratan atau hubungan korelasi antara dua variabel. Sedangkan studi hubungan sebab akibat untuk meneliti pola kausalitas dari sebuah variabel terhadap variabel lain. 

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *