Dari Bukit Panenjoan ke Curug Awang, Trip Backpacker Jakarta ke Geopark Ciletuh #2

Setelah sukses mengevakuasi salah seorang peserta trip yang pingsan saat mendaki dari Curug Puncak Manik, kami melanjutkan perjalanan ke Bukit Panenjoan untuk makan siang. Setelah itu, perjalanan baru dilanjutkan ke Curug Awang.

Panitia meminta maaf karena jadwal terganggu. Kami tentu saja maklum. Filosofi share-cost itu, susah senang ditanggung bersama. Melihat ada yang pingsan, lalu perjuangan teman-teman Backpacker Jakarta menggotong korban lebih dari 1000 anak tangga, tentulah kita kasih jeda mereka ambil napas, beristirahat.

Baca Juga: Bagian #1 Curug Puncak Manik

Waktu-waktu menunggu evakuasi itulah yang mengakrabkan para peserta dengan cara berbagi cerita. Beberapa dari peserta sudah sering ikut perjalanan bareng Backpacker Jakarta. Pernah suatu ketika, mereka mendaki Rinjani. Satu peserta hilang selama sekitar 4 hari. Panitia berjuang bersama Tim SAR mencari korban. Alhamdulillah, korban selamat. Ia ternyata jatuh dan tersangkut pohon. Untung di kantongnya ada madu. Dia bertahan dengan madu tersebut kemudian berusaha turun dan mengikuti aliran air hingga bertemu dengan warga. Padahal tim hampir menyerah dan SAR bahkan sudah membawa kantong mayat.

Pelajaran moral yang kemudian kuambil adalah jangan pernah sombong di hadapan alam. Tebersit sedikit saja kesombongan di dalam hati, semisal “Ah, gini doang mah gampang” bisa mengundang bahaya lho. Selalu berhati-hati dan bijaklah di hadapan alam.

Sesampainya di Bukit Panenjoan, makanan sudah disiapkan. Prasmanan. Kami hanya membayar 25 ribu sekali makan. Lauk yang dihidang sungguh banyak. Ada ayam, ada ikan, ada tempe, sambal, lalapan. Apalagi badan capek, lihat makanan itu langsung lahap.

Di depan mata panorama tak terperanai terhidang. Sepanjang mata memandang, indah. Sawah membentang. Pepohonan tak kalah hijaunya. Di ujung ada laut berwarna biru. Kita seperti sedang menyaksikan pertunjukan alam.

Makanya, dinamakan Panenjoan. Artinya, tempat untuk melihat. Lokasinya sendiri berhadapan langsung dengan kantor PAPSI (Paguyuban Alam Pakidulan Sukabumi) yang menyediakan berbagai informasi soal Geopark Ciletuh.

Ke Curug Awang

Setelah sukses menurunkan nasi, perjalanan pun dilanjutkan ke Curug Awang. Curug Awang sendiri dikenal karena dianggap mirip dengan Air Terjun Niagara.

Sayangnya, kami hanya punya waktu yang sebentar di Curug Awang. Sebab, kami perlu menyaksikan matahari terbenam di Pantai Palampang.

Jadinya, kami tak diperbolehkan turun melewati persawahan ke bagian bawah air terjun. Padahal megah sekali kalau bisa mengambil gambar dari bawah.

Sumber: Lady Pinem

Kami juga tidak bisa ke Curug Tengah yang bisa disusuri dari sini. Bedanya Curug Tengah harus jalan ke kanan. Berbeda tikungan.

Curug Awang ini memiliki ketinggian sekitar 40 meter lho. Lebarnya 60 meter. Airnya cokelat. Kebayang kan bagaimana air jatuh dari penampang yang demikian. Makanya, kalau musim hujan, tidak disarankan berfoto di bawah air terjun karena kadang ada batu yang terbawa arus lalu terlontar ke bawah. Juga tidak diperbolehkan berfoto di pinggiran atas curug karena bisa jadi air bandang datang.

Lho memang bisa berfoto pas di atas air terjun?

Bisa dong. Setelah melewat jalur treking sekitar 10 menit dengan banyak pohon terutama sirsak di siai jalan, ada jalan setapak untuk menuju pinggiran curug. Bahaya? Ya Pasti. Kudu hati-hati banget pokoknya.

Sayang kalau nggak dapat foto di sana. Sudah nggak bisa ke bawah, masa foto epik di atas juga nggak ‘kan?

Kami pun mengantre untuk bisa berpose cantik di Curug Awang. Sungguh, rasanya ingin mengulang datang ke sini dan mengeksplorasi semua sisi yang ada. Belum puas soalnya.

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *