Cerpen Imam Khoironi: Bayangan Ibu dan Penyesalan Ayah

Cerpen Imam Khoironi ini berjudul Bayangan Ibu dan Penyesalan Ayah. Bagi teman-teman yang ingin mengirimkan ceritanya, silakan simak caranya di sini.

Baca juga cerpen-cerpen para penulis lain yang sudah dimuat di Catatan Pringadi:

Bayangan Ibu dan Penyesalan Ayah

            Malam belum terlalu hening, masih ada suara kendaraan dan ketukan telapak kaki berlaluan di luar rumah. Sementara di rumahku ada ayah yang masih terjaga. Seperti malam-malam sebelumnya, ia masih belum memberi napas pada bokongnya di kursi ruang tamu, sembari mengetuk-ketukan tiap ujung jemarinya pada hamparan muka meja kayu.

Inci demi inci malam, ia lewati dengan kegelisahan. Sepertinya ia masih memikirkan sesuatu yang sangat mengganjal otaknya. Kukira itulah yang menyebabkan sampai larut ayah belum tidur. Aku hanya melihat bayangan ibu di wajah ayah. Aku tak berani menanyakan apapun saat tadi melihatnya.

Aku beranjak ke kamar tidur, aku tak mendapat jawaban apapun dari pertanyaan yang aku ajukan pada diriku sendiri saat buang air.

Adikku terbangun, mendengar derit pintu kamar yang kubuka.

“Apa kau mendengar suara itu?” tanya Halil adikku.

“Ya, tentu saja. Itu ayah,” jawabku.

“Apa yang ia lakukan?”

“Besok sekolah, kau tak perlu menghiraukan dia. Lanjutkan saja tidurmu.”

Halil bukan penurut, tapi dia terlalu mengantuk untuk melanjutkan percakapan ini. Aku bisa bernapas lega karena dia tak banyak tanya. Sekarang aku mau mengajukan beberapa pertanyaan.

Mengapa ayah belum tidur? Apa yang dia pikirkan? Mengapa aku seperti melihat bayangan wajah ibu di wajah ayah? Ada apa dengan ibu? Entahlah. Aku masih tidak bisa menemukan jawaban semua pertanyaan-pertanyaan itu, sampai sekarang.

***

Otak Mardani masih di kepala tapi seluruh angan dan pikirannya mengembara entah ke dunia mana. Matanya yang sudah dibungkus kacamata semakin gersang dan merah terpapar serpihan asap rokok dan pendar lampu. Ia seperti sedang menunggu sesuatu, tapi entah apa yang ia tunggu hingga menjaga dirinya agar tak tidur saat semua makhluk sudah bercinta dengan bantal dan kasur.

Sangat jelas di wajah Mardani, bercampur-aduk antara kegelisahan, kelelahan, frustasi dan kantuk yang beradu jadi satu. Di otaknya kini berkecamuk sebuah penyesalan, dan ketakutan. Dia menantikan sebuah kabar yang belum juga datang ke telinganya. Dan dalam ingatannya terselip sebuah pesan singkat dari seseorang di ponsel.

Aku akan pulang hari ini, jangan beri tahu anak-anak. Aku mau bikin kejutan buat mereka.”

Hingga pukul tiga pagi, saat ayam sudah bangun dengan segala kesombongannya, Mardani tetap belum juga terpejam. Segenap jiwanya dipaksa begadang menantikan sesuatu yang belum jelas kedatangannya.

***

Mata merahnya sudah mulai melemah, kelopak matanya kini dibebani ribuan kantuk yang amat berat. Usahanya untuk  menahannya sia-sia, ia akhirnya terlelap juga, tepat ketika aku dan Halil bangun. Aku melihat betapa kantuk yang ia tahan sejak tadi malam sudah meluap. Aku masih menyimpan pertanyaan-pertanyaan itu. semoga ketika aku pulang, aku punya keberanian untuk menanyakannya. Sedangkan Ibu, aku hanya sedang menantinya. Berharap ketika ulang tahun Halil dia pulang, setidaknya. Aku rindu peluk ibu, Halil terlalu belia untuk ia tinggal pergi.

***

Saat matahari sudah naik ke atap rumah Mardani, kedua anaknya belum pulang sekolah. Mardani terbangun oleh suara dering ponselnya. Ada telepon dari seseorang. Dengan segala kantuk yang coba ia hapuskan, ia mengangkat telepon itu, yang sepertinya dari nomor telepon yang tidak ia kenali.

“Halo, dengan Bapak Mardani?” sapa suara dari seberang telepon.

“Iya benar, saya Mardani. Anda siapa ya?” jawab Mardani disambung dengan tanya.

“Maaf, Pak. Saya ingin pastikan sekali lagi. Benar ini Bapak Mardani, suami dari Ibu Marsiyah?” tanya seseorang itu memastikan.

“Benar, Pak. Saya Mardani suami Marsiyah.”

“Jadi begini, Pak. Kami ingin mengabarkan perihal istri bapak ….” belum sempat orang itu melanjutkan, Mardani segera memotong pembicaraannya mengetahui bahwa yang akan dibicarakan adalah perihal istrinya.

“Ada apa dengan istri saya, Pak?” tanya Mardani memotong kalimat orang itu.

“Istri bapak, kemarin, mengalami kecelakaan, taksi yang ia tumpangi bertabrakan saat menuju bandara,” jelas orang itu yang membuat Mardani terkejut.

“Apa!? Lalu bagaimana keadaan istri saya, Pak?” tanya Mardani dengan penuh ketegangan.

“Syukur Alhamdulillah, istri bapak selamat meski menderita luka-luka. Hanya, supir taksi meninggal dan mobil taksi yang rusak parah di bagian depan.” Jawaban dari orang itu melegakan Mardani, mengetahui istrinya tidak apa-apa.

“Lalu sekarang istri saya ada di mana, Pak?”

“Bapak tidak usah panik, istri bapak kini dirawat di Rumah Sakit dekat kantor  Kedubes RI untuk Singapura. Dan seluruh biaya perawatan dan sebagainya akan ditanggung pihak Duta Besar RI.”

Keesokan harinya, setelah bergulat dengan sandiwara di depan anak-anaknya, agar mereka tak tahu ada sesuatu apa pun yang terjadi hari itu. Karena ia tak mau kedua anaknya khawatir dan sedih mendengar kabar tentang ibunya di Singapura. Ia mendapat pesan singkat dari nomor bernama Marsiyah.

Mas, kamu tidak usah cemas, aku baik-baik saja. Aku dirawat dengan baik di sini. Kamu jangan kasih tahu anak-anak tentang ini. Buatlah pesta yang berkesan di ulang tahunnya lusa, aku sudah kirimkan uang kemarin ke rekeningmu lewat bantuan pegawai dubes.”

“Bagaimana keadaan istriku di sana?” gumam Mardani, yang tentu tak puas jika hanya mendengar kabar, ia ingin lihat istrinya. Tapi, di sini dia harus tegar dan harus pintar menyembunyikan kesedihannya. Makian demi makian untuk dirinya terucap dari mulutnya sendiri.

“Bodoh kau, bodoh kau Mardani. Kenapa kauizinkan istrimu bekerja di luar negeri? Kenapa bukan kau yang bekerja? Dasar lelaki bodoh.”

Tapi meski memaki, ia tetap sunyi, sampai anak-anaknya pulang pun ia masih tetap sunyi. Segala penyesalan dan kebodohan ia pendam di puncak kesunyian malam.

Biodata Penulis

Imam Khoironi. Lahir di desa Cintamulya, Lampung Selatan, 18 Februari 2000. Alumni MA I Cintamulya. Menempuh pendidikan di UIN Raden Intan Lampung. Menulis puisi, cerpen, esai dan apa saja yang bisa membuat bahagia. Buku puisi tunggalnya berjudul Denting Jam Dinding (2019/Al-Qolam Media Lestari). Beberapa hasil tulisannya juga tersiar di Simalaba.com, Apajake.id, Kawaca.com, Kibul.in, Takanta.id, Travesia.co, Radar  Cirebon, Medan Pos, Radar Malang, Kabar Madura, Malang Post, Riau Pos, Radar Mojokerto, Banjarmasin Pos, Bangka Pos, Denpasar Post. Menjadi kontributor dalam banyak buku Antologi bersama.

Ia bisa ditemukan di Facebook : Imam Imron Khoirooney, WA/Hp : 0858609086924, Youtube channel: Imron Aksa, Ig : @ronny.imam07 atau di www.duniakataimronaka.blogspot.com.

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *