Cerpen Eyok El-Abrorii | Beberapa Tokoh yang Membuat Songgah Menderita

Hidup barangkali harus jadi seperti ini. Seperti kehidupan yang ditemukan Songgah dalam cerita ini, bahwa sebenarnya dia tidak berubah, hanya saja tiba-tiba segala hal yang berkaitan dengannya seperti tidak berpihak terhadapnya sama sekali. Misalnya ketika suatu waktu dia menangis sejadinya di perempatan jalan dan orang-orang hanya heran tanpa ada yang bertanya kenapa.

Songgah adalah tokoh yang dipaksa menderita dalam cerita ini. Dari kecil, songgah sudah menderita. Di kampung, bapaknya salah satu yang dipandang melarat oleh masyarakat dan pencerita sendiri. Dan sayang sekali, ibunya harus dibuat meninggal saja ketika dia berusia enam tahun, agar lebih lengkap penderitaannya.



Songgah kecil harus selalu dibawa ngojek oleh bapak setiap hari, sebab tidak ada tetangga yang mau direpotkan untuk menjaganya. Bapak mangkal di pasar. Dan setiap ada penumpang, -jika tidak memungkinkan untuk ikut mengantar karena belanjaan penumpang lumayan banyak- Songgah akan dititipkan di lapak alat-alat dapur milik Ci Mei. Ci Mei sendiri rela menerima Songgah untuk dititipkan bukan tanpa alasan. Sementara bapak kembali dari mengantar penumpang, Songgah akan diperintah untuk merapikan dagangan yang berantakan bekas orang-orang mampir melihat-lihat barang. Selain itu, Ci Mei juga akan meminta upah kepada bapak karena telah mau direpotkan.

Tapi dari kesibukan itu, dia menemukan satu momen yang nantinya akan membuatnya sangat merindukan masa kecil ini. Momen itu adalah ketika bapak memboncengnya. Mengingat, dia sangat gampang menemukan kebahagiaan melalui hal-hal sepele karena kurangnya waktu bermain dengan bocah seumuran. Semisal, jika dia menemukan dunia menjadi lebih biru setelah memejamkan mata sepanjang perjalanan sambil memeluk bapak erat-erat dari belakang. Dunia biru, punggung bapak yang hangat, udara segar, juga barangkali bayangan jilatan lolipop yang dilihatnya di iklan-iklan pinggir jalan merupakan beberapa hal yang berhasil menjadikan Songgah tetap ceria dan bersemangat untuk terus ikut bekerja dengan bapak.

***

Sekarang dia sudah dewasa. Bapak sudah tidak ada sejak Songgah yakin bahwa hidup adalah tentang terus bekerja (penulis harus menghilangkan bapak dari kehidupan Songgah entah dengan cara apa, bisa meninggal ataupun meninggalkan, sebab sekali lagi Songgah dipaksa menderita dalam cerita ini). Sekarang dia harus bekerja sendiri. Dia telah jadi pengojek menggunakan sepeda motor butut yang dulu bapak kenakan. “Hidup sangat berat, Pak.” Ucapnya selalu setiap pagi ketika hendak berangkat ke pasar.

Di pasar, Songgah juga bekerja di lapak Ci Mei yang sudah renta. Dia bekerja mengangkut barang-barang dari gudang dan merapikannya sesuai jenis barang itu agar pembeli gampang menemukan apa yang mereka inginkan. Ci Mei tidak baik, namun juga tidak jahat kepadanya. Ci Mei tetap orang lain dan sekarang merupakan bosnya juga. Upah yang diberikan Ci Mei memang sangat murah, hanya saja dia bisa sarapan gratis di sana. Selain itu dia juga bisa memberikan senyum kepada Ling, anak Ci Mei yang seumuran dengannya.

Sebelum benar-benar dewasa, Songgah yang kulitnya lebih mirip warna sawo busuk itu tidak pernah tahu bagaimana rasanya benar-benar remaja. Bapak, Ci Mei, dan keadaan telah membatalkan pengalaman-pengalaman yang menurut sebagian orang lumrah untuk dilalui fase demi fase dalam hidup. Semenjak remaja, dunia songgah hanyalah meliputi lapak Ci Mei dan rumah. Pencerita sengaja memposisikan lapak Ci Mei terlebih dahulu dari rumah untuk menunjukkan bahwa sebagian besar aktifitas Songgah memang dihabiskan di sana: pagi sampai siang dia harus menjaga lapak dan sore dia harus mengecek barang-barang yang laku ataupun rusak. Songgah hanya akan di rumah malam hari untuk tidur. Itupun hanya sebentar, sebab setelah subuh dia harus di lapak lagi untuk menggelar dagangan.

Songgah tidak sekolah. Dia tidak tahu sekolah itu seperti apa. Baginya sekolah adalah suatu dunia di mana anak-anak yang ada di sana tidak pernah berhenti tertawa dan kekurangan uang jajan. Di kepala Songgah, sekolah telah jadi sebuah dunia fantasi yang sesekali dilihatnya di tv tetangga, hal yang tidak akan dapat dimasukinya sama sekali. Sebenarnya bapak bisa saja menyekolahkannya waktu itu, tapi bapak yang kolot itu lebih memilih membelanjakan hasil kerjanya yang tak seberapa untuk keperluan sehari-hari dan satu dua mainan murahan jika penumpang sedang ramai.

***



Hari itu Songgah sedang duduk di pangkalan ojek. Cuaca panas sekali padahal siang masih belum menyusul pagi. Dia membayangkan Ling, gadis berdarah Cina anak majikannya itu. Selain Ling, tidak ada lagi wanita yang dikenalnya. Sejak dia sadar bahwa hidup tidak akan lengkap tanpa seorang pendamping, cintanya sudah tertuju kepada Ling. Sekarang cinta itu menuntut agar dapat memiliki. Tapi karena Songgah bukan siapa-siapa, tidak tampan, dan terlebih pencerita terlanjur tidak bermaksud membuatnya berbahagia, maka Ling tidak mencintainya. Cerita ini tidak akan menampilkan romantisme cinta antara Songgah dan Ling. Tidak akan ditemukan cerita di mana Songgah menyatakan cinta, kemudian Ling rela kawin lari melepaskan batasan ras, suku, ataupun strata sosial kemudian hidup beranak pinak di suatu tempat jauh yang tidak seorangpun akan mengganggu mereka. Cerita ini tidak akan seperti itu.

Malahan cerita ini akan membawa Songgah pada posisi di mana Ling menunjukkan penolakannya bahkan sebelum dia sempat menyatakan cinta. Seperti ketika Ling meninggalkan tempat duduknya di lapak jika Songgah datang untuk duduk di tempat yang berdekatan dengannya. Atau ketika Songgah memberikan senyum namun Ling malah pura-pura tidak melihat dan tiba-tiba sibuk dengan hal-hal lain. Atau ketika Ling sengaja memerintah Songgah melakukan banyak pekerjaan untuk mempertegas bahwa hubungan mereka sebatas anak bos dan babu, tidak akan dan tidak boleh ada harapan lebih dari itu. Tentang bagaimana Ling menanggapi sikap sumringah serta sifat halus yang dibut-buat oleh lelaki kasar macam Songgal, pencerita menyerahkannya kepada pembaca saja jika tidak mau dianggap sengaja merahasiakan bagian cerita ini untuk mengatakan bahwa yang terpenting dari cerita penolakan bukan pada caranya, akan tetapi pada intinya ia adalah sebuah penolakan.

Maka sekarang Songgah telah patah hatinya. Dia sudah paham bahwa Ling tidak mencintainya, walaupun cintanya kepada Ling tidak berubah sedikitpun. Dia sudah paham bahwa cintanya itu tersekat oleh tembok status sosial, golongan, dan dua hal paling jelas -yang tidak pernah disinggung pencerita dari awal- yaitu etnis dan agama.

Maka sejak penolakan itu, Songgah sangat merindukan dunia biru, punggung bapak yang hangat, udara segar, juga barangkali bayangan jilatan lolipop yang dilihatnya di iklan-iklan pinggir jalan yang berhasil menjadikan Songgah tetap ceria dan bersemangat untuk terus ikut bekerja dengan bapak sewaktu kecil dulu tanpa ada beban moral juga cinta. Maka sejak penolakan itu, setiap pagi ketika hendak berangkat ke pasar, Songgah selalu mengucapkan “Hidup sangat berat, Pak.”

Maka untuk mengetahui apa yang dilakukan Songgah di hari penolakan itu, pencerita hendak mengabarkan bahwa Songgah menangis sejadinya di perempatan jalan, dan orang-orang hanya heran tanpa ada yang bertanya kenapa.

Lombok Timur, 2019



Eyok El-Abrorii merupakan cerpenis kelahiran 27 Juni 1999 di Monjet Bat, Sakra Barat; bermukim di Selong. Beberapa cerpennya telah tersiar di beberapa media, seperti Suara NTB, Padang Ekspres, Medan Pos, Radar Malang, dan sebagainya.

Prolog Patah Hati (Bandung, 2018) adalah novelnya yang terbit secara indie.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *