Liksitera Sumsel beberapa waktu lalu mengadakan lomba menulis puisi. Satu peserta hanya boleh mengirimkan maksimal 2 puisi. Sebagai orang Banyuasin, Sumsel nianlah, aku terpanggil ikut berpartisipasi dalam lomba tersebut. Alhamdulillah, puisiku mendapat Juara I.
Category: Puisi
Antologi Puisi Jazirah: Jejak Hang Tuah dalam Puisi
Antologi Puisi Jazirah yang mencoba menafsirkan dan memaknai kembali jejak Hang Tuah diterbitkan dalam rangka Festival Sastra Gunung Bintan 2018. Nyaris 1000 puisi dikirim ke meja panitia dari sekitar 360 penyair dari penjuru nusantara, juga Singapura dan Malaysia. Dari jumlah itu, terpilih 131 penyair dengan sekitar 300 puisi yang mengisi antologi tersebut. Keterpilihan itu juga…
Dari Romantisisme Hingga Generasi Instapoet
Menarik, bila kita menyimak tulisan Ratih Dwi Astuti (2018) di Jurnal Ruang yang membicarakan tentang puisi dalam budaya milenial. Menurutnya, puisi masa kini kebanyakan lahir dengan kuatnya pengaruh budaya milenial yang serbamudah dan serbacepat. Dengan kata lain, Astuti sebenarnya memiliki kekhawatiran bahwa puisi akan kehilangan kedalamannya. Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Puisi mulai diajak meninggalkan…
Review Buku Matikan Aku Saja, Tuhan! Karya Fiyan Arjun
De Soto, Interferensi Teks, dan Pertanyaan Puitik Ketika Hernando de Soto menjadi bahan pembicaraan dunia akibat The Mystery of Capital: Why Capitalism triumphs in the west and fails everywhere else yang ditulisnya, saya masih asik mengumpulkan uang recehan ke dalam celengan berbentuk ayam dan tak tahu bahwa koin-koin itu adalah aset yang bisa diubah menjadi…
Puisi-puisi Toto Sudarto Bachtiar
Toto Sudarto Bachtiar dilahirkan di Cirebon, Jawa Barat, 12 Oktober 1929. Penyair yang dikenal dengan dua kumpulan puisinya: Suara (1956; memenangkan Hadiah Sastra BMKN 1957) dan Etsa (1958) ini, juga dikenal sebagai penerjemah yang produktif. Karya-karya terjemahannya antara lain: Pelacur (1954; Jean Paul Sartre), Sulaiman yang Agung (1958; Harold Lamb), Bunglon (1965; Anton Chekov, et.al.),…