Hai, kali ini puisi Luqyana Fi Adnin, penyair muda berusia 21 tahun asal Malang ini menemani teman-teman semua. Buat kalian yang mau mencoba kirimkan karya, silakan baca ketentuannya sebelum kirim tulisan ya. JANJI POLITIKUS Kurcaci menahan kentutMendengar engkau membidik massaMenawarkan mimpi surgaRealita melupakan logikaStatistik berdandan cantikDi atas kertas di atas podiumMenjadi beda dengan fakta Terbahak…
Category: Puisi
Ketika Pasukan Kecil Menawarkan Kematian
Pasukan kecil menawarkan kematian. Saya tahu mati itu pasti. Tetapi saya tak berniat meninggalkan utang. Barangkali pekerjaan saya di kantor pelayanan perbendaharaan negara bikin pantat ambeien. Tertakdir berspesies homo sapiens bikin saya punya dada yang bisa retak kapan saja. Duh, sama sekali saya tak berniat menyalahkan Tuhan. Tuhan hadir dalam segelas kopi yang lagi-lagi saya…
Memahami Licentia Poetica
oleh Malkan Junaidi Licentia Poetica (lisensi puitik) bukanlah kartu gaib yang memberi penyair wewenang untuk menulis secara ngawur. Licentia poetica harus digunakan untuk mendapatkan efek artistik tertentu, untuk memperindah, memperkuat, dan memperkaya makna. Ia tidak bisa menjadi pembenar bagi eror aransemen dan penalaran. Agar suatu susunan bisa dikatakan berdasarkan licentia poetica, tiga hal harus dipenuhi:…
Puisi Pringadi Abdi Surya di Cerano
Berikut ini puisi Pringadi Abdi Surya yang dimuat di Cerano.id pada 20 November 2020. Empat puisi ini semoga dapat memberikan sesuatu pada kamu. Batu Tanggamus Tuhan melahirkan api di dalam batuanak-anak menemukan tahunhilang di dua ribu lima ratus keping daun jarak begitu jauh antarpemukimanrumah-rumah yang diangkut dari Ilahanberpondasikan lenguh sapi—seseorang meniup seruling seolahpenggembala yang lupa caranya…
Puisi Pringadi Abdi Surya di Omong-omong.com
Berikut ini adalah puisi Pringadi Abdi Surya yang dimuat di omong-omong.com, sebuah media yang digawangi Okky Madasari, pada 25 Oktober 2021. Kelima puisi ini berlatar sentral kereta. Kereta Suara kedatangan kereta ituTak seperti laguYang mengiringi peti mati NairobiDadaku yang ringkihTak sanggup mengampuniKekejaman yang ditawarkanGerbong-gerbong penuh penumpangDi dalamnya, rasa penjaraLebih dari neraka di ujung senjata Gandia…