Catatan Kecil Setelah 10 Tahun Menjadi PNS

Sepuluh tahun sudah aku berada di Kementerian Keuangan. Jalan yang tidak pernah aku bayangkan sejak kecil. Hanya karena puntiran takdir, aku menempuh jalan ini dan aku tidak menyesalinya.

Jalan ini tidak semulus kata orang-orang. Ada banyak drama yang tercipta. Tak luput, air mata. Tapi aku tak akan memulai cerita ini dengan itu.

Aku akan memulainya dengan rasa syukur. Apa yang terjadi beberapa waktu belakangan menunjukkan padaku bahwa begitu adil Tuhan. Meski di satu sisi, apa yang Ia berikan padaku lebih dari cukup.

Entah bagaimana memulainya, kepala seksiku menngajukan namaku sebagai pegawai berprestasi. Saat itu aku menolak. Aku merasa tidak memiliki kontribusi yang berarti bagi organisasi. Aku sering telat. Aku bermasalah. Perang dingin dengan Kasubditku sebelumnya. Tapi ia menilaiku berbeda. Pegawai berprestasi berbeda dengan Pegawai Teladan.

Aku maju mewakili subditku. Diwawancara oleh direktur. Maju lagi ke level eselon I, DJPb. Lalu tingkat Kementerian Keuangan. Hasilnya, tidak menang.

Namun itu belum berakhir. Aku diusulkan menjadi pegawai yang menerima penghargaan luar biasa. Dan proses kembali dimulai sampai beberapa hari lalu aku mengikuti wawancara di tingkat Kementerian Keuangan untuk dipilih nama-nama yang akan diajukan ke Badan Kepegawaian Negara (BKN).

Wawancara itu berjalan tidak sesuai harapanku. Kondisiku sedang sangat tidak fit. Aku terkena flu parah di hari Sabtu. Menyusul ruam kulit muncul hampir di seluruh tubuh. Pikiranku panik. Masa pandemi. Gejala serupa muncul bagi pasien Covid-19. Aku berupaya menenangkan pikiranku karena secara kronologis harusnya tidak begitu.

Jumat aku ke kantor di Jakarta. Pulang kehujanan saat melewati Cinere. Badanku tidak enak malam itu. Aku punya rhinitis alergika. Jadi bersin-bersin juga. Seperti biasa, aku akan minum obat Cetirizine.

Ponselku habis jatuh. Layarnya pecah. Aku pun membeli LCD pengganti di Shopee. Begitu sampai di rumah, Minggu siang segera kuantarkan ke tukang service di Pengasinan. Entah cuaca panas atau bagaimana, pulangnya aku merasa sangat lelah.

Jadwalku memang sangat padat. Wawancara itu mulanya dijadwalkan Sabtu pagi. Mundur ke Senin siang. Sabtu malam dan Minggu sore aku mengikuti uji coba Tes IELTS. Memang dibagi dua hari.

Minggu malam kepalaku mulai sangat berat. Hidungku buntu. Aku tidur cepat.

Bangun keesokan harinya, kepalaku sudah ringan. Namun, hidungku masih buntu. Bersin-bersin melulu. Irigasi hidung kulakukan.

Senin siang jadwal wawancara ditunda lagi.

Secara sadar, aku tidak punya harapan apa-apa. Siapalah aku. Tapi mungkin saja di alam bawah sadar, aku merasakan tekanan dan pengharapan. Siapa yang tahu.

Fluku belum sembuh. Selasa pagi aku masih bersin-bersin. Aku tahun ini bukan bersin alergi. Aku memang kena flu. Kucari Cetirizine pada Selasa siang, tak ketemu. Akhirnya dalam kotak obat, kutemukan Alpara. Keterangannya Paracetamol Flu. Kuminum kbat itu.

Beberapa menit kemudian, ruam merah muncul di tanganku. Sedikit. Tak butuh waktu lama, ruam itu menghadirkan rasa gatal dan menyebar ke kaki dan badan.

Apakah aku alergi obat? Aku berkonsultasi dengan temanku yang berprofesi sebagai dokter. Kalau dari kronologinya, aku alergi. Tapi aku tidak menutupi kalau aku panik. Dia kasih saran obat radang. Sore kubeli di apotek. Kuminum satu. Reda.

Aku bersiap untuk mengikuti wawancara yang dijadwalkan ulang pada Selasa sore. Namun, tertunda lagi jadi malam. Aku mendapatkan jadwal jam 9 malam. Kutunggu, tinggal beberapa nama lagi giliranku, wawancara ditunda lagi.

Aku merasa lelah dan ruam meradang lagi di kulitku. Aku sulit tidur. Sampai dini hari. Mungkin setengah satu terakhir aku melihat jam. Namun, setengah 4 kurang aku terbangun karena aku merasa seperti dikeroyok nyamuk. Kunyalakan lampu. Badanku merah semua. Meradang. Gatal luar biasa.

Aku baca-baca soal ruam itu di mesin pencari. Ada kemungkinan aku tak cocok obat radangnya sehingga semakin gatal. Aku minum air putih sebanyak-banyaknya dan ndilalah nemu Cetirizine. Aku minum sebutir. Gatal berangsur-angsur menghilang.

Aku ceritakan ini ke temanku yang dokter itu. Aku ceritakan kekhawatiranku soal virus itu. Dia bilang kalau besok masih, lakukan tes.

Jam 9 (Rabu) harusnya jadwal wawancaraku. Kutunggu dari jam 8, dan tertunda lagi. Padahal tiga nama lagi giliranku. Aku mendapatkan jadwal pukul 2 siang. Padahal jam 2 harusnya aku jadi moderator sebuah FGD.

Badanku sudah terasa lemas. Gugup. Panik. Dan untunglah tidak diundur lagi.

Kuikuti wawancara itu dengan tenaga yang tersisa. Dan aku tidak tahu kenapa aku merasa tidak pantas. Okelah sebagai pribadi, prestasoku sedemikian banyaknya. Tapi itu di luar tusiku. Aku hanya seseorang yang merasa punya tanggung jawab sebagai akademisi dan menuliskan seluruh kecamuk keilmuanku dalam media massa. Aku merasa tidak punya kontribusi utuh yang kukerjakan sendiri di organisasi. Jika ada, itu semua kerja sebagai tim.

Memang, aku pribadi merasa kemampuanku yang seutuhnya belum didudukkan dengan pas. Pada mulanya, setelah lulus D4, aku mendapatkan kenyamanan. Atasanku, enak diajak diskusi. Kami mengerjakan sesuatu yang kami suka. Di Litbang, kami bikin publikasi. Dia memberikan akses yang begitu fleksibel padaku. Ada lembur tapi paling banyak sekali seminggu. Dan suasana bekerjanya pun ayem. Di sana kami merintis jurnal ilmiah. Kami juga bikin analisis makro.

Lalu periode terberat dalam hidupku datang. Atasan baru yang tidak sebaiknya diceritakan banyak karena hanya akan membuka luka. Saat itulah aku merasa dimatikan. Mati. Setahun lebih aku kehilangan api dan sudahlah, aku cocoknya jadi umbi-umbian saja. Aku tidak lagi berhasrat jadi pejabat atau sekolah lagi. Idealismeku luluh lantak.

Sampai kini mungkin aku belum sembuh seutuhnya. Kepercayaanku pada orang lain belum pulih. Bahkan kepercayaan pada diriku sendiri pun demikian.

Aku tidak ingin menunjukkan apa yang aku bisa dan memilih menjadi yang biasa-biasa saja. Padahal, aku boleh bilang, aku punya kemampuan yang beragam. Tidak cuma menulis.

Kadang aku benci dianggap “cuma” penulis. Aku seorang akademisi.

Begitu selesai, Zane bertanya bagaimana. Kuceritakan semuanya. Lalu dia berkata, “Kamu harus bersyukur, Uda. Ada di titik ini saja sudah spesial. Ada berapa orang dari DJPb yang diwawancara? 10? Kamu sudah jadi seseorang yang spesial. Maka, bangkitlah seperti dulu.”

Selesai wawancara itu, Zane menatapku dengan tatapan berbeda. “Da, teslah. Antigen.”

Aku menangkap ketakutan di matanya. Segera aku memanaskan motor. Padahal FGD masih berjalan. “Aku ikut,” ujarnya.

Kami ke klinik terdekat. Antigen swab 250.000. Daftar. Lalu tes. Dicolok lagi hidungku. 30 menit kemudian, hasilnya keluar. Negatif.

Aku juga ke dokter dan diberi obat antiradang dengan merk yang berbeda dan juga Cetirizine. Kuminum dan ruam itu pelan-pelan menghilang.

Pemicunya memang alergi obat. Ditambah sepertinya aku sedang drop dan tertekan secara mental. Di alam bawah sadar itu.

Setelah hasilnya keluar, Zane tersenyum seperti sedia kala. Dia memelukku. Aku bertanya, “Kenapa? Kamu takut, ya.”

“Maaf ya, cintaku hanya sebatas ini… sebatas aku merasa tak mampu bila tanpamu…”

Maka Nikmat Tuhan Manakah yang Kamu Dustakan?

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

One Comment

  1. Semoga lekas pulih mas, dan sukses dengan wawancaranya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *