Belajar Membuat Blog untuk Pemula

Beberapa waktu belakangan, tidak sedikit temanku yang bertanya bagaimana caranya membuat sebuah blog Top Level Domain (TLD). Pandemi ternyata membuat mereka ingin membunuh waktu dengan menulis juga.

Kujelaskan secara singkat bahwa blog TLD itu berbayar, dan yang kita butuhkan adalah hosting dan domain. Pertama, kita cek dulu domain atau nama web yang kita inginkan. Apakah masih tersedia. Pemilihan domain ini sangat penting karena mempengaruhi brand diri yang ingin kita bangun. 

Baca Juga: Single Salary System

Harga domain pun berbeda-beda. Domain dengan ekstensi .com, .net, .org sudah lazim dipakai orang. Namun belakangan domain Indonesia kian populer dengan ekstensi seperti .id, .my.id, .co.id. Pasalnya harganya juga lumayan murah. harga domain id dan .co.id misalnya, hanya Rp275.000 dan Rp300.000/tahun. Yang lebih murah adalah harga domain .my.id yang hanya Rp24.000 per tahun.

Setelah itu, kita memilih hosting. apa pengertian hosting? Hosting adalah sebuah layanan online yang digunakan untuk mengelola data situs atau aplikasi web oleh pengguna dan ditampilkan melalui via internet. File website yang tersimpan di dalam hosting berupa gambar, script, video, email, aplikasi, dan database (basis data).

Ada beberapa jenis hosting yang bisa dipilih untuk web kita;

1. Shared Hosting

Jenis hosting ini bisa membuat beberapa situs berbagi ke server utama yang lebih besar. Shared hosting ini sendiri harganya paling murah. Sehingga tidak mengherankan jika kebanyakan blogger dengan anggaran dana kecil bisa membelinya untuk penyimpanan data website. Untuk jenis hosting ini cocok dimanfaatkan pada situs web portofolio, website bisnis kecil, serta blog. Kelemahannya adalah web kita kalah dengan website yang berada di server utama. Performa di mesin pencari akan buruk.

2. Reseller Web Hosting

Mirip dengan shared hosting, kita masih bisa menjual ruang di hosting ini kepada klien. Reseller web hosting ini memiliki beberapa fasilitas tambahan. Di antaranya seperti website gratis, dukungan teknis label putih, server pribadi, dan lainnya. Harganya sedikit lebih mahal mulai dari $15 – $50/tahun. Harga ini menyesuaikan fitur web hosting yang diinginkan oleh konsumen.

3. VPS Hosting

Virtual Private Server (VPS) Hosting menawarkan kecanggihan dari mesin virtual yang mampu dipergunakan ke dalam web hosting. Lingkungan hosting lebih stabil dibandingkan dengan menggunakan hosting lainnya. Keunggulan dari VPS Hosting sendiri adalah dari segi keamanan lebih terjamin dibandingkan shared hosting. Pengguna juga akan mendapatkan akses root yang bisa digunakan untuk mengatur dan menginstal sistem operasi sendiri. Selain itu VPS hosting ini pun juga lebih fleksibel dibandingkan dedicated server.

4. Dedicated Hosting

Hosting satu ini diciptakan hanya untuk melayani klien tunggal saja. WordPress menjadi salah satu platform website ideal yang bisa masuk ke dalam dedicated hosting ini. Karena hanya mampu menampung satu website saja, mak tidak heran jika perusahaan-perusahaan besar saja yang tepat untuk menggunakan hosting ini. Jadi ya harganya cukup mahal dan terdapat biaya tambahan. Semakin tinggi spesifikasi server maka semakin mahal pula harganya. Dibandingkan dengan VPS Hosting, jenis hosting ini kurang fleksibel. 

5. Managed WordPress Hosting

WordPress merupakan salah satu platform yang paling banyak digunakan untuk membuat website. Banyak sekali perusahaan yang sudah memanfaatkan WordPress untuk membuat website. Selain itu WordPress sendiri memiliki tambahan fitur WooCommerce. Karena website yang dibuat menggunakan WordPress, maka tidak masalah jika memanfaatkan hosting managed WordPress hosting ini. Meskipun cocok untuk WordPress, namun hosting satu ini tetap memiliki kelemahan. Yakni dari segi harganya yang mahal, kontrol penuh yang kurang, serta terbatas hanya untuk CSM WordPress saja.

6. Cloud Hosting

Merupakan hosting yang mengutamakan penggunaan teknologi komputasi awam. Cloud hosting merupakan salah satu layanan hosting yang diterima dari server saling terhubung. Dari segi harga, memang lebih efisien. Juga cloud hosting ini pun aksesnya mudah serta fleksibel. Kelemahannya adalah masalah privasi, cloud provider bisa mengakses tanpa sepengetahuan. Kita harus berhati-hati ketika menyimpan data di sini.

Lalu jenis hosting mana yang cocok untuk website kita? Balik lagi semuanya tergantung dengan kebutuhan dan kemampuan pendanaan. Tapi setidaknya ada empat aspek penting yang perlu diperhatikaan saat hendak memilih hosting:

  • Kecepatan – Perhatikan berbagai faktor yang mendukung performa server. Contohnya seperti bandwidth, storage, dan plugin optimasi kecepatan website.
  • Keamanan – Pastikan hostingnya dapat menjamin kemanan website. Contohnya melalui proteksi malware dan DDoS, serta gratis SSL.
  • Bantuan tim support – Anda juga harus tahu layanan support yang ditawarkan oleh penyedia hosting. Contohnya seperti 24/7 live chat, email, dan phone support.
  • Skalabilitas – Hostingnya mesti memudahkan Anda untuk berkembang. Contohnya, dengan menawarkan paket-paket yang sesuai dengan kebutuhan website Anda.

Baca Juga: Review Buku Struktur Cinta yang Pudar

Biasanya sih, untuk blog pribadi pemula, shared hosting sudah cukup. Biaya yang dikenakan tidak mahal. Sedangkal Cloud Hosting sering digunakan untuk website perusahaan, toko online, dan portal berita. Sementara itu VPS hosting digunakan untuk Ecommerce, website proyek, dan high-traffic blog.

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *