Ubi Jalar

Belajar dari Akar Ubi Jalar

Ubi jalar, dalam bahasa Jawa disebut telo. Kata telo ini ditengarai bermakna timbang ati gelo (daripada kecewa/menyesal) atau timbang ngersulo (daripada mengeluh) atau juga tombo ati gelo (obat sakit hati). Bukan hanya sebagai panganan, ubi jalar dianggap sebagai metafora sempurna bagi masalah kehidupan. Masalah jangan sampai hanya dipendam karena ia akan membesar, menjalar, dan bertambah banyak. Namun, ubi juga muncul dalam pepatah. Diam penggali berkarat, diam ubi berisi.

Hari-hari belakangan, kita mendapati berita bahwa akar ubi jalar sudah merambat ke mana-mana. Dalam artian, ubi jalar yang menjadi panganan masyarakat Indonesia makin digemari oleh penduduk dari negara lain.

Ridwan Kamil baru saja melepas ekspor 30 ton ubi jalar ke Hongkong. Ubi jalar tersebut merupakan produksi petani Desa Pinggirsari, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung.

Ekspor ubi jalar per tahunnya mencapai 18 ribu ton, baik dalam bentuk olahan atau pun masih ubi jalar mentah. Angka itu bertambah di masa pandemi. Peningkatan penjualan ubi jalar terjadi karena semakin tingginya kesadaran masyarakat dunia akan pentingnya nutrisi bagi kesehatan tubuh yang menuntut kualitas konsumsi makanan yang berkualitas, alami, non hewani dan kemudahan pengolahan. Dan ubi jalar menjadi salah satu alternatif sumber makanan yang memenuhi syarat karena kekayaan nutrisi dan vitamin yang terkandung di dalamnya.

Ubi jalar ini menjadi salah satu bukti sekaligus sinyal, dalam keadaan pandemi, ada satu sektor yang tidak mengalami penurunan, malah bertumbuh, yaitu sektor pangan. Hal ini seharusnya ditangkap oleh Pemerintah bahwa dalam krisis, kedaulatan pangan dapat mencuat dan hal tersebut harus dilindungi dan lebih difasilitasi agar tidak terdampak oleh pandemi.

Kita ingat beberapa tahun lalu, ada kebijakan untuk mengganti panganan dalam rapat perkantoran. Dari kue-kue modern menjadi panganan lokal seperti kacang rebus, singkong, dan ubi jalar.

Di tengah kebijakan itu, muncul kabar menyedihkan. Singkong impor serbu Indonesia. Lalu apa kabar lirik lagu betapa suburnya tanah Indonesia sehingga kayu ditancap pun dapat tumbuh beraneka rupa tanaman?

Ubi Jalar: Metafora Merkantilisme

Bicara soal filosofi ubi jalar, di Sumatra, ada ungkapan jadilah ubi jalar, jangan jadi padi yang semakin berisi semakin merunduk. Sebab padi memiliki masa muda yang ingin tegap berdiri menunjukkan diri. Sedangkan ubi jalar selalu memberikan manfaat meski ia tersembunyi dan merayap tak ada yang tahu. Jika ingin mengetahuinya, galilah ia. Semakin digali semakin banyak ilmu dan manfaat yang akan diperoleh oleh orang yang menggali.

Mengingat ubi jalar, aku pun teringat merkantilisme. Seorang teman berkata, pada akhirnya perdagangan internasional adalah merkantilisme. Bangsa yang paling berkuasa adalah bangsa yang paling banyak menduduki bangsa lain lewat barang dagangannya.

Ubi jalar yang akarnya mampu menjalar ke mana-mana buatku menjadi metafora dari merkantilisme paling halus. Syarat agar akar itu dapat menjalar ke mana pun adalah tanah yang subur nan gembur. Maka tak perlu merasa angkuh, dengan diam dan senyap, akar-akar itu akan menghasilkan umbi buah yang pada satu titik dapat kita panen.

Pertanyaannya adalah bagaimana agar dapat menyuburkan atau menggemburkan tanah tersebut?

Upaya Meningkatkan Ekspor Indonesia

Potensi ekspor Indonesia ke berbagai negara sebenarnya amatlah besar. Kita bisa menilai dengan mata telanjang, negara dengan kekayaan alam yang luar biasa seharusnya mampu mengekspor baik itu komoditas maupun olahan dari bahan mentah yang ada.

Namun, kenyataannya, saat ini Indonesia jauh tertinggal dari negara-negara di ASEAN. Bila melihat rasio ekspor terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), Indonesia menduduki peringat terakhir di ASEAN. Data ASEAN Secretary, rasio ekspor Indonesia tahun 2018 hanya 17,28%. Di atasnya ada Filipina dengan 19,69%. Di peringkat pertama ada Singapura dengan 113,16%.

Singapura yang merupakan negara kecil justru mampu menjadi negara pengekspor. Padahal, bukan cuma luas wilayah, jumlah penduduk Indonesia juga jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Singapura. 

Untuk itu perlu dilakukan berbagai upaya untuk meningkatkan ekspor Indonesia. Apa saja itu?

Memfokuskan Barang Setengah Jadi Atau Barang Jadi

Selama ini, ekspor terbesar Indonesia masih berupa ekspor komoditas. Padahal, negara lain seperti Singapura banyak mengekspor barang setengah jadi atau barang jadi yang memiliki nilai tambah dan lebih berharga. Persoalan ini terjadi, salah satunya, karena masih lemahnya industri manufaktur di Indonesia.

Dalam sebuah seminar, Chatib Basri mengatakan kita tidak boleh secara parsial melihat neraca perdagangan. Bila impor lebih banyak dari ekspor (neraca perdagangan negatif), itu belum tentu kabar buruk. Sebabnya, kita harus melihat komposisi perdagangan. Bila kita lebih banyak mengimpor bahan baku, itu bisa jadi sebuah pertanda industri kita tengah tumbuh. Tinggal persoalannya, konversi barang mentah menjadi barang setengah jadi atau barang jadi tersebut apakah hanya terserap di pasar lokal semata atau mampu dipasarkan ke luar negeri juga.

Di sini peran Pemerintah lewat kebijakan dan regulasinya harus mampu menjawab persoalan ini. Mulai dari mampu menyiapkan sumber daya manusia hingga kekuatan industrinya, sehingga pada akhirnya mampu memberi nilai tambah pada produk yang dihasilkan.

Memperluas Pasar Ekspor

Ekspor ubi jalar ke Hongkong yang diceritakan di awal sebenarnya juga sebuah kisah sukses ubi jalar Indonesia yang menembus pasar Hongkong. Sebab, tidak mudah bagi negara mana pun untuk mampu menembus pasar suatu negara.

Perdagangan internasional tak ubahnya peperangan. Tiap negara bersaing untuk menguasai pasar.

Dalam hal ekspor barang, tentu sulit untuk menembus pasar-pasar utama seperti negara Tiongkok, Inggris, dan sejenisnya. Nilai tambah yang dihasilkan di produk Indonesia kemungkinan besar kalah saing.

Oleh karena itu, perlu bagi pelaku ekspor untuk memperluas pasar ekspor ke negara-negara non-utama seperti negara di kawasan Eropa Timur, Afrika, atau Amerika Selatan.

Melakukan Pameran dan Kerjasama Perdagangan

Dalam konteks memperluas pasar eskpor di atas, perlu dilakukan pameran dan kerjasama pedagangan antar negara. Pemerintah harus mampu mempertemukan pengusaha Indonesia dengan pengusaha di negara tempat kegiatan berlangsung sesuai dengan produk yang dimiliki oleh eksportir dan produk yang dicari importir.

Ini juga tentang nilai tambah. Dengan mempelajari karakteristik suatu negara, kebutuhannya akan produk seperti apa, preferensi kesukaannya bagaimana, produsen di Indonesia jadi tahu harus memberi nilai tambah seperti apa pada produk-produknya.

Kerjasama perdagangan seperti Free Trade Agreement (FTA) juga diperlukan. FTA merupakan suatu perjanjian perdagangan bebas yang dilakukan antara suatu negara dengan negara lainnya. Manfaat dari FTA salah satunya adalah soal tarif bea masuk yang bisa didapat hingga nol persen untuk produk yang disepakati dalam perjanjian perdagangan internasional.

Meningkatkan Pemodalan

Untuk melakukan ekspor, tentu saja membutuhkan pemodalan yang tidak sedikit. Pemerintah perlu memikirkan skema kebijakan yang memudahkan eksportir untuk mendapatkan pemodalan melalui kredit perbankan atau juga kebijakan dalam bidang investasi yang pada akhirnya akan meningkatkan produksi barang.

Memudahkan Ekspor

Ekspor itu mudah. Pikiran itu yang harus dicamkan ke pengusaha agar banyak yang mencoba melakukan ekspor. Kebijakan-kebijakan agar dapat memudahkan ekspor tersebut perlu dieksekusi dengan baik di lapangan mulai dari persayaratan barang hingga pengiriman barang ke luar negeri, segalanya harus mudah dan jelas.


Mungkin teman-teman pernah mendengar cerita orang Indonesia yang beli barang di luar negeri. Merknya merk luar negeri. Tapi betapa kecelenya dia ketika ia melihat ada tulisan made in indonesia.

Di satu sisi, itu membuat kita berpikir, sebenarnya jika serius, barang-barang buatan Indonesia tidak kalah dari barang buatan luar negeri. Yang kurang mungkin mental kita. Ketika bekerja di bawah brand asing, dengan pengawasan dan standar kualitas yang ketat, kita mampu kok.

Ya, kita mampu menjadi eksportir. Kita mampu menjalar seperti telo, mungkin dengan syarat tanpa mengeluh, dan mampu berbesar hati belajar sembari menyingkirkan mental yang membuat kita lemah itu.

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *