All posts by Pringadi As

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di KPPN Sumbawa Besar. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini baru saja memenangkan Treasury Writer Festival 2013, sebuah apresiasi yang diberikan oleh Ditjen Perbendaharaan, Kementerian Keuangan kepada para pegawainya yang berkecimpung dalam kepenulisan. Juga menjadi salah satu pengelola http://www.perbendaharaankata.com yang menjadi wadah literasi Ditjen Perbendaharaan ke depannya.

Cerpen| Dua Kelopak Krisan

 

Yang mungkin kuingat hanyalah derai hujan malam minggu itu, yang terdengar  seperti detik jam dinding yang jatuh satu persatu dari langit, berusaha menyerang kita –seperti kesepian.

Aku tak sanggup membaui pohon-pohon bintaro (yang konon beracun) yang berbaris rapi, menghormat dengan tegap dan gagah, tapi bau dan embusan napasmu yang terasa karib, tangan yang kokoh yang memayungi aku, membiarkan tubuhmu sendiri dihujani air-air sulfat itu-entahlah, seperti cinta saja yang nyata-nyata telah mematahkan hatiku (bukan karenamu, tapi dia).

Sengaja aku menerima tawaranmu untuk singgah di Jurangmangu. Hanya alasan ketika kukatakan aku takut pulang sendirian ke Serpong, kereta sudah tak lewat, bus-bus biasanya sepi penumpang dan memungkinkan perempuan sepertiku ‘dijahili’ meski tanpa rok mini. Kau dengan cekatan segera mengatakan “Tidur saja di tempat temanku. Perempuan. Nanti aku minta izin ke mereka..”

Aku tidak tahu bagaimana caranya mengungkapkan perasaanku yang ingin rebah di dadamu bukan karena cinta atau kekasih, tapi kau seperti pelabuhan dan dia seolah menara. Kau tak marah melihat aku acap kali gelisah menekan tombol keypad ponselku dan suara laki-laki (aku yakin kau mendengarnya disebabkan kemampuan auditori itu) menyambutku dengan ketus, “Jangan telepon aku sekarang. Mas sedang memanjat tower!” Hanya karena sebuah menara (dan dia memang menara), aku seperti wisatawan yang baru pertama datang ke Paris menyaksikan Eiffel menjulang angkuh di antara kerumunan orang-orang. Bingung. Tak bias berbahasa Prancis, memakai ransel ala backpacker, memegang peta dan menengok ke segala penjuru seolah ingin memastikan, Hei Menara, apa kau melihatku di sini?

Pelan-pelan, dan sengaja memang kupelankan, aku ingin kau saja yang menyatakan cinta kepadaku kali ini. Kau, penyair, pencinta hujan, momen mana lagi yang paling romantis selain saat ini, selain kecupan yang kau daratkan dengan tiba-tiba (meski aku akan menyadarinya), lalu memintaku jadi pacarnya. Aku akan emnjawab “Ya” tanpa koma, melingkarkan kedua tanganku di pinggangmu dan tak peduli bilapun seluruh daun, seluruh hujan, seluruh udara mala mini cemburu. Pelabuhanku. Pelarianku. Sebuah kapal yang tertambat di sana, aku tak peduli jikapun kau hanya sekoci, kemudian membawaku pergi ke samudra lain, ke pulau lain, ke pemandangan yang menawarkan camar-camar lain, lumba-lumba lain yang tak akan sanggup menumbangkan laju biduk cinta milik kita.

Tapi kau selalu diam, seperti tak ada kata yang sanggup mengungkapkan perasaan yang ah, sudahlah, perempuan mana yang tak bias mengetahui laki-laki yang jatuh cinta dan mencintainya? Aku sudah sejak dulu tahu, kau menaruh hati kepadaku. Kau yang lebih sering mendengarkan telepon-teleponku berjam-jam lamanya, menjemputku di BSD menemani setiap acara sastra yangmelibatkanku sebagai pembaca puisi. Aku tak pernah menyaksikanmu membaca puisi, tapi aku tahu kau menyukai pembacaanku.

Jurangmangu. Pukul 11 malam. Tapi tak ada pelukan.

Kau malah menunjuk ke Santiago Berdebu (lapangan sepak bola di depan Mesjid yang tak pernah ditumbuhi rumput, dan bila dimainkan debu-debu akan beterbangan seiring langkah-langkah yang ditapakkan), kemudian bercerita nyaris setiap malam ada berpasang kekasih yang memadu cinta di sekitarnya. Bahkan, katamu lagi, pernah ada yang gelap-gelapan bercumbu atau malah bercinta di sana. “Tapi jelas tak mungkin dalam ekadaan hujan begini,” kau menambahkan sambil menatap mataku dalam. Ayolah, cium aku saat ini. Cium aku agar aku dapat melupakan lelaki itu, lelaki yang jelas-jelas telah memiliki perempuan lain namun mengatakan cinta padaku. Bodohnya aku seperti mangsa yang terjerat di jarring laba-laba menunggu dia melahapku. Pasrah

Hanya kau barangkali, yang kukenal karib, seperti tanpa pamrih mendekatiku dengan hati-hati, enggan menyentuhku, bahkan menggenggam tanganku erat pun tak pernah.

“Aku menyukai perempuan yang tak memiliki bekas bibir orang lain di bibirnya.”

“Kau menyukai Hamsad Rangkuti? Maukah kau menghapus bekas bibirnya di bibirku dengan bibirmu?”

“Ya. Dan tidak.”

“Maksudmu?”

“Aku menyukai Bibir dalam Pispot sebagai sebuah fiksi. Tapi, aku tak menyukai perempuan yang pernah berciuman dengan laki-laki lain.”

“Lalu menurutmu apa aku sudah pernah memiliki bekas bibir lelaki di bibirku?” aku bertanya memancing.

Kau diam sebentar sebelum balik bertanya,”Lalu bagaimana rasanya?”

“Aku masih 18 tahun.”

“Aku juga 19 tahun.”

“Aku tidak bertanya umurmu. Aku hanya bermaksud mengatakan perempuan mana yang sudah berciuman di usianya yang ke-18?”

“Tapi rata-rata kita ingin mendapatkan ciuman pertamanya di usia ke-17”

“Kamu sendiri?”

“Menurutmu?”

Apa rata-rata mahasiswa STAN sepintar dirimu, terutama dalam memutarbalikkan perasaan?

Aku bukan perempuan bodoh. Tapi, setiap berbicara denganmu aku merasa bodoh. Aku bukan perempuan manja. Tapi, setiap berhadapan denganmu aku selalu ingin menyandarkan diri ke dadamu yang bidang. Dan merasakan seberapa cepat detak jantungmu berderap di telingaku. Aku ingin memilikimu, tapi aku tak mencintaimu. Aku ingin kau selalu ada di sampingku, hanya milikku.

“Krisandi…”

Hanya kau yang memanggilku dengan nama depan. “Kenapa kau memanggilku dengan nama itu?”

“Krisanthemum.”

“Krisanthemum?”

“Dalam bahasa Yunani, krisanthemum berarti bunga emas. Yang tertua dari mereka adalah krisanthemum Cina, agak mirip dengan Daisy. Bunga ini telah dikultivasikan 2500 tahun sebelum diperkenalkan ke Eropa dan sekarang telah banyak ditanam di mana-mana, bahkan krisan juga diangkat menjadi bunga nasional Negara Jepang. Sebagai bunga potong, ia bias bertahan sampai lebih dari 2 minggu. Dan seperti kelahiranmu, bunga krisan dijadikan sebagai bunga November, seperti batu topaz. Menurut ilmu feng shui, krisan dapat membawa kebahagiaan dan tawa di dalam keluarga. Ia juga bias berarti keceriaan, pesona, optimis, kelimpahan , keberuntungan, persahabatan dan cinta rahasia.”

“Wow, apa ada yang tidak kau tahu?”

“Ada.”

“Apa?”

“Adakah yang lebih pedih dari Sysyphus?”

“Sysyphus?”

“Sysyphus barangkali adalah manusia yang paling menanggung kepedihan di dalam hidupnya.”

Teruskan.

“Jika atas nama dosa dan pengorbanan, ia harus mendorong sebongkah batu ke atas bukit, menggelinding dan mendorong lagi sepanjang hayatnya, apakah mencintai juga harus sebegitu menderitanya?”

Aku tak paham.

“Aku begitu mudah jatuh cinta. Tapi aku tak pernah mencintai.”

Memang tak pernah mudah mencernamu. Atas nama Hegel yang sering kau dengung-dengungkan, aku hanya butuh tatapan milikmu itu hanya ditujukan kepadaku. Sudahlah, tak usah banyak berfikir tentang masa lalumu, yang sering kau singgung begitu penuh luka. Hidupku juga penuh luka.

Aku mulai mengerti ayahku tak pernah menyentuh ibuku lagi sejak aku tahu apa itu suami-istri. Dan ketika teman-temanku mulai mengejekku karena ibuku adalah istri kedua dari ketiga istri ayahku, aku memutuskan untuk tidak pernah lagi berairmata. Bahkan bias dihitung dengan jari berapa kali aku berbicara dengan ayah. Sementara ibuku, mengulum senyumnya (yang aku tahu palsu) setiap aku menyebut kata “ayah”.

Kau juga tidak tahu, kalau kehidupanku tidak seberuntung dirimu yang mampu lulus STAN dan SPMB sekaligus. Aku tak lulus keduanya. Padahal, sekali lagi, aku bukan perempuan bodoh. Dalam 3 tahun pendidikan SMA, setidaknya tak pernah sekali pun aku keluar dari 10 besar, dibandingkan dirimu yang pernah menduduki ranking 24 ketika kelas 1 SMA. Aku hanya sial. Tidak beruntung. Ketika teman-temanku yang sama nasibnya mulai menjajaki pendidikan swasta di universitas, aku memutuskan pergi sendiri ke Jakarta (dari Yogyakarta), berbekal alamat kakak sepupu. Dan bekerja.

Yang pasti, aku tak ingin bernasib sama dengan ibuku. Aku tak mau diduakan. Begitu tega Tuhan yuang berkuasa membolak-balikkan hati manusia, membuatku mencintai dia. Jika manusia berkuasa mengubah nasibnya sendiri, izinkan aku dicintai olehmu. Biar nanti, aku tahu aku akan bahagia bila hidup denganmu.

“Sebentar lagi akan sampai…”

                  Secepat itu?

“Rumahnya ada di belakang mesjid ini.”

Ponselku bergetar lagi. Dia. Dewi,Mas kedinginan. Sebuah pesan singkat yang benar-benar singkat. Bahkan tak ada pertanyaan darinya sedang apa aku sekarang, bersama siapa, dan apakah aku juga kedinginan? Tak ada. Kenapa aku emncintai laki-laki seegois dia. Kenapa harus dia yang datang mengisi kekosongan itu?

Aku menatapmu. Aku membayangkannya. Kalian berdua sama-sama menyukai Hegel, membicarakan Descartes, membandingkan Goenawan Muhammad dan Saut Situmorang, atau membanggakan Umbu Landu Paranggi yang bahkan belum pernah kalian temui. Kau pelabuhan dan dia menara. Kau bertindak begitu hati-hati, terlampau hati-hati. Dia berani mengatakan apa-apa yang dia rasakan, melakukan apa-apa yang dia yakini.

“Jo?”

Tentu kau mengenalnya. Kau bahkan pernah bilang cinta kami platonic. Tapi, kau juga tidak mengakui bahwa cintamu kepadaku platonic. Love does not consist in gazing at each other but in looking outward in the same direction. Kau diam, lalu seperti mengguman. Aku tak mau dikutuk sumpahi Eros.

“Kau tahu hal apa yang paling membahagiakan sekaligus paling menyakitkan di dunia ini, Krisandi?”

Aku menggeleng.

“Mencintai.”

“Mencintai?”

‘Ya mencintai, sementara kau tahu orang yang kau cintai telah emncintai orang lain.” Hujan berhenti. Langkahmu juga terhenti

“Kita sampai…”

Aku ingin menjawab, tapi kau buru-buru memalingkan muka. Memencet bel. Dan dua orang temanmu yang berjilbab lebar keluar, membukakan pintu dan pagar. Kalian berbincang sebentar. Kau bilang menitipkanku semalam. Lalu berpamitan.

Aku seharusnya tahu ketika malam itu kau berpaling, kemudian berlari-lari kecil menghindari genangan air di sepanjang jalan, tanpa memlukku, mengelus kepalaku, atau bahkan menyalami telapak tanganku, kau telah tak lagi bersikap sama. Pelan-pelan menghindar dan membiarkan cinta yang tak sempat kau ucapkan itu menguap, gugur seperti kelopak-kelopak krisan yang layu di hatiku.

Cerpen ini pernah dimuat di Majalah Story dan juga menjadi salah satu cerita di dalam Kumpulan Cerita Simbiosa Alina (Gramedia, 2013).

Simplifikasi Konflik dalam Penceritaan

 

Kenyataan boleh tak masuk akal. Namun, fiksi harus masuk akal.

Salah satu masalah dalam penulisan cerita adalah simplifikasi konflik. Hal ini menjadi fatal karena kekuatan konflik adalah poin paling penting dalam cerita. Kegagalan dalam pembangunan konflik maupun dalam penyelesaian konflik akan merusak semua bangunan penceritaan.

Kekuatan konflik akan tercipta jika ada hubungan sebab-akibat yang jelas dari setiap unsur cerita. Penggerak utamanya adalah karakter. Karakter ini yang akan membuat segalanya mungkin/tidak mungkin.

Prinsip dasarnya, karakter tidak boleh moderat. Karakter harus ekstrem negatif atau ekstrem negatif. Kalau dia kaya, ya harus kaya banget. Dengan cara ini, sang karakter jadi punya jangkauan yang sangat luas tentang kemampuannya bisa ngapain saja. Saya sering mengambil contoh tokoh/karakter di dalam drama-drama Korea. Seringkali sang tokoh adalah anak Chaebol atau konglomerat utama yang hartanya sulit dihitung. Sebaliknya, jika ia kesepian, bikin dia sangat kesepian. Hal ini ada pada tokoh-tokoh Murakami misalnya.

Namun, selama dia berbentuk realisme, sebuah fiksi harus masuk akal. Keekstriman itu tetap harus didukung oleh unsur lainnya seperti latar, baik itu latar tempat, waktu, maupun latar karakter itu sendiri.

Sebelum menulis cerita, hal pertama yang dilakukan seorang penulis, biasanya adalah deskripsi karakter. Si karakter ini bagaimana sih. Sebisa mungkin sangat detail sehingga dapat memandu penulis untuk membuat ceritanya menjadi logis.

Realisme yang baik menuntuk ironi. Peletakan ironi pada karakter bisa berupa limitasi akan kemampuan karakter. Atau bisa juga sifat-sifat yang bertentangan yang seharusnya tidak ada pada dirinya. Fiksi tidak mengenal adanya kesempurnaan. Sebab, manusia pun tidak mengenal adanya kesempurnaan. Fiksi menampilkan dengan baik sisi terang dan sisi gelap sang karakter.

Kita beri contoh karakter Lintang dalam Laskar Pelangi. Andrea Hirata dengan sadar menggunakan teori karakter ekstrem tadi. Ia hadirkan tokoh Lintang, sang jenius kebangetan. Tapi, bagaimana logikanya seorang anak kecil tahu tentang berbagai teori sedangkan pada masa itu tidak ada akses internet, tidak ada akses buku bacaan yang memadai di sana?

Logis dalam fiksi bukan berarti karena memang ada citraan seperti karakter di dunia nyata. Logis dalam fiksi ketika hubungan sebab-akibat dan keterkaitan dengan segala unsur fiksi itu ada.

Mari kita bahas pula karakter yang sering dibicarakan saat ini. Fahri. Apakah karakter Fahri logis?

Fahri dalam Ayat-ayat Cinta yang pertama saya pikir masih logis. Karakternya mengalami perkembangan dari awal cerita hingga ke akhir cerita. Hubungan sebab-akibat di dalam cerita masih bisa diterima. Dan kesempurnaan Fahri pun masih memiliki ironi, yakni ketika Fahri tampak menjadi manusia saat berhadapan dengan Maria.

Namun, Fahri di dalam Ayat-Ayat Cinta 2 bukanlah Fahri dalam Ayat-ayat Cinta 1. Ia berubah. Kita perlu menjelaskan berbagai sisi batin, hubungan sebab-akibat yang jelas sehingga seorang suami bisa tidak mengenali istrinya, lalu bagaimana karakteristik seorang ikhwan yang sangat taat, beristri, berpendidikan dihadapkan pada perempuan-perempuan. Masih banyak hubungan sebab-akibat lain yang perlu diluruskan.

Namun, yang paling fatal adalah mengenai kekayaan Fahri. Kita tidak bisa memberi premis bahwa Fahri saat ini adalah Fahri yang kaya dengan bisnis butik dan minimarket ditambah warisan mertuanya. Bagaimana caranya membangun bisnis di Skotlandia pada era e-commerce? Bagaimana harga-harga properti di sana? Bahkan anak seorang chaebol di dalam drama-drama Korea tidak pernah ditunjukkan dapat membeli properti dengan uang pribadinya! Hal-hal semacam inilah yang perlu dibangun dalam sebuah cerita.

Simplifikasi konflik lain terjadi para karakter yang diperankan Chelsea Islan. Perlu pendalaman karakter untuk dapat mengubah sikap sebuah karakter di dalam penceritaan. Tokoh A melakukan X, tokoh B melakukan Y, bagaimana hubungan A dan B sehingga ada kejadian Z… premis-premis ini harus kuat. Apalagi dalam cerita realisme… segala sesuatunya harus uhhhh. Bukan berarti dalam cerita surealisme tidak perlu hal-hal begini, ya.

Segala itu barulah yang berasal dari karakter. Konflik pun tidak sesederhana berasal dari karakter semata. Karena itulah, jangan pernah percaya dengan orang-orang yang berkata menulis itu mudah. Ah, menulis memang mudah sih… menulis yang bagus itu yang susah.

 

Boikot dan Sejarah Penderitaan

Saya ternganga melihat sebuah status di Facebook yang menyatir perihal ajakan boikot. Mungkin si penulis status tidak tahu bahwa jika ajakan boikot dilakukan secara serius dan berhasil, akan mengakibatkan dampak yang luar biasa. Meski kita terkepung dalam jeratan kapitalisme, bukan berarti kita tak bisa keluar darinya. Sulit, iya. Namun, usaha untuk melepaskan diri, sedikit demi sedikit, tetap bisa dilakukan asal konsisten.

Boikot sendiri punya sejarah panjang. Tidak banyak yang tahu asal kata boikot. Kata itu berasal dari sebuah nama, Charles Boycott Cunningham, yang merupakan purnawirawan kapten Angkatan Darat Inggris. Saat itu, Boycott bekerja pada Lord Erne, seorang tuan tanah di Irlandia.

Masyarakat Irlandia mengucilkan dia karena adanya kampanye hak-hak penyewa tanah. Saat itu, penyewa tanah sangat lemah dan diperlakukan tidak adil.

Kampanye melawan Boycott tersebut menjadi populer di  Inggris, setelah ia menulis surat kepada “The Times”. Ia mengadukan situasi yang dihadapainya di Irlandia.  Dari sudut pandang kerajaan Inggris pada waktu itu, hal yang dialami Boycott tersebut  adalah suatu pengorbanan seseorang yang setia terhadap kerajaan Inggris melawan semangat nasionalisme Irlandia.

Dalam era revolusi, boikot adalah sebuah taktik. Tan Malaka dalam pidatonya pernah menganjurkan pemboikotan terhadap kolonialisme. Taktik ini digunakan oleh kaum nasionalis. Selengkapnya Pidato Tan Malaka.

Boikot akan berhasil apabila:

1. Tujuannya jelas dan terukur;

2. Didukung oleh kekuatan yang nyata (bukan khayalan);

3. Dipersiapkan dengan baik;

4. Dilaksanakan dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi;

5. Dipimpin oleh seorang yang cakap dan disegani.

 

Ketika kita terkepung oleh kapitalis, prioritas perlu ditetapkan. Tidak mungkin kita memboikot semuanya. Kita perlu menetapkan prioritas dan kelogisan mana yang bisa diboikot terlebih dahulu.

Misalnya, air mineral. Saya selalu bilang, keberadaan air mineral di republik ini tidak logis. Air adalah barang publik. Itu yang harus dicatat. Menyerahkan pengelolaan air tanah ke industri yang sahamnya dimiliki dominan asing itu kekeliruan. Jangankan asing, oleh swasta lokal saja harus dipertanyakan. Air harus dikelola BUMN/BUMD. Boikot terhadap air mineral perlu dilakukan tetapi sebaiknya didukung oleh kekuatan pemerintah.

Aksi boikot seharusnya diarahkan untuk menumbuhkan kemandirian lokal, untuk membangkitkan kembali pasar-pasar lokal. Satir atas koperasi atau mini market alumni 212 sebenarnya berasal dari ketakutan pihak lawan. Sebenarnya, jika gerakan tersebut dipandu dengan baik, tentu akan menghasilkan hal yang baik pula.

Menghidupkan kembali kemandirian itu bisa ditiru dari cara para startup saat ini, terutama di bidang pertanian dan perkebunan. Mereka memotong banyak jalur perdagangan dengan langsung berhubungan dengan hulu/petani. Mereka memotong tengkulak dengan melakukan pendanaan, menghimpun langsung dari masyarakat dg pembagian keuntungan. Mereka langsung menyediakan kanal distribusi yang menghubungkan produsen langsung ke konsumen. Cara ini sebenarnya yang disebut sebagai angin untuk mengubah arah fiskal. Pro produksi.

Orang-orang yang meremehkan boikot mungkin tidak tahu, jika layar sudah terkembang, angin boikot akan menghasilkan efek yang baik. Muslim sendiri pun pernah merasakan dahsyarnya pemboikotan.

Suatu pertemuan digelar di kediaman Bani Kinânah, di lembah al-Mahshib. Hampir seluruh pembesar Quraisy hadir. Agenda pertemuan adalah rencana pemboikotan terhadap Nabi SAW dan para pengikutnya. Mereka sepakat untuk mengembargo umat Islam secara ekonomi dan sosial. Dalam urusan ekonomi, kaum Quraisy tidak akan berjual-beli dengan kaum Muslim. Secara sosial, Quraisy tidak akan menikahi Bani Hâsyim dan Bani al-Muthallib, tidak berkumpul dan tidak berbaur, serta tidak berbicara dengan kaum Muslim.
Pernyataan embargo itu mereka dokumentasikan di atas sebuah shahifah (lembaran) yang berisi perjanjian dan sumpah yang digantungkan di dinding Ka’bah. Berikut isinya: “Bahwa mereka selamanya tidak akan menerima perdamaian dari Bani Hâsyim dan tidak akan berbelas kasihan terhadap mereka, kecuali bila mereka menyerahkan Rasulullah SAW untuk dibunuh.”
Hasilnya, kondisi Muslim mengenaskan. Mereka terpaksa memakan dedaunan dan kulit-kulit. Mulut mereka berbusa dan anak-anak mereka merintih kelaparan. Sa’ad bin Abi Waqqâsh menuturkan penderitaan yang mereka alami. “Pada suatu malam, aku pergi kencing. Tiba-tiba aku mendengar suara gemercik air kencingku sepertinya banyak, sehingga aku gembira. Setelah selesai, aku baru sadar bahwa yang gemercik itu adalah suara kulit yang aku biarkan terpanggang di atas api supaya kering dan dapat aku makan. Ternyata kulit itu menjadi sangat kering, sehingga terpaksa aku memakannya dengan merendamnya dalam air terlebih dahulu.”
Jadi, apa yang kau caci dari boikot?

Lomba Puisi Haul Gus Dur

Lomba Cipta Puisi Haul Gus Dur PMII

Memperingati sewindu haul Gus Dur, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Abdurrahman Wahid Komisariat UIN Walisongo Semarang menyelenggarakan Sayembara Cipta Puisi.
Adapun naskah yang dikirimkan harus orisinil (karya sendiri); belum pernah dimuat di media cetak maupun media online; serta belum pernah memenangkan perlombaan dan tidak sedang diikutkan pada lomba lainnya.”
Kriteria penilaian meliputi kesesuaian dengan tema, pemilihan diksi/kata, keutuhan dan keselarasan, serta kedalaman kedalaman pesan.

Karya peserta ditunggu paling lambat 31 Desember 2017 pukul 23.59 WIB. Pengumuman pemenang dipublikasikan di website pmiigusdur.com; FB: PMII Abdurrahman Wahid; Twitter: @PMII_GusDur dan @LKaP_GD pada tanggal 10 Januari 2018.

Dewan juri Basa al Kalam (Sastrawan Semarang); dan Aziz al Afifi (Pimred LPM Edukasi) akan memilih 3 puisi terbaik yang akan mendapatkan hadiah uang Rp. 500.000+Sertifikat untuk juara 1; Uang Rp. 350.000+Sertifikat untuk juara 2, dan 2 uang Rp. 200.000+Sertifikat untuk juara 3.
Untuk 100 puisi terpilih akan dibukukan, dan setiap peserta mendapatkan E-Sertifikat.
Tertarik mengikuti sayembara ini? Baca ketentuan khususnya berikut:

• Tema Puisi “Sajak untuk Gus Dur: Guru Waskita; Pembela Bangsa & Penegak Agama”
• Naskah ditulis dengan Ms. Word format A4, Times New Roman 12, margin normal, spasi 1,0
• Panjang naskah maksimal 1 halaman per puisi
• Setiap peserta boleh mengirimkan maksimal 3 puisi
• Naskah dikirim melalui email pmiigusdur@gmail.com disertai pengisian biodata diri.

Untuk mendapatkan informasi lengkap calon peserta dapat menghubungi nomor handphone 085876538746 (Hakim), atau 081228256830 (Fatim).
LOMBA BACA PUISI TENTANG GUS DUR
Begini 3 cara mudah untuk ikut kompetisinya:
1. Rekam pembacaan puisimu dan unggah ke Youtube
2. Mention link Youtube ke twitter @gusdurians
3. Berhadiah paket eksklusif.

Cerpen | Malabar

Cerpen ini dibukukan dalam rampai karya Temu Sastrawan Indonesia IV di Tarnate. Saat itu, saya termasuk 10 sastrawan muda yang mendapat undangan dengan akomodasi ditanggung. Sayangnya, saya tidak mendapatkan izin dari kantor. Cerpen ini juga masuk dalam kumpulan cerpen, Simbiosa Alina (Gramedia, 2013).

Malabar. Aku padamu bagai embun di pucuk daun teh yang lenyap dimakan cahaya. Berapa menit waktu telah melenyapkan aku dari kedua matamu ketika duduk di kafe itu, kau memesan Coupe la Braga, aku tak memesan apa pun kecuali segala rasa cemburumu yang diam-diam kupadatkan di dalam pikiran. Padahal kau (begitu pun aku) telah sama-sama jatuh cinta pada Braga yang menguapkan segala kekakuan kota. Kekakuanmu. Kekakuanku. Kekakuan segala tetek bengek rumus matematika dan fisika di kelas-kelas jam tujuh pagi. De Gauss gila. Descartes yang sia-sia. Cinta. Ah, aku padamu bagai dahan pohon cemara, ditepuk angin, dan benarlah Chairil itu, hidup hanya menunda kekalahan.

“Katakanlah…”

“Apa?”

“Yang seharusnya ingin kau katakan.”

Padahal aku tidak ingin mengatakan apapun. Aku tidak ingin membiarkan segala huruf berloncatan dan meledekku dari kejauhan, kemudian udara dingin menggigilkanku lewat sela sweater yang kukenakan (meski berlapis), menatap matamu dan api menyala-nyala di dalamnya seolah Patuha siap menyemburkan lahar yang mati, tetapi yang kurindukan tetaplah hangatnya pelukanmu.

“Jangan sentuh aku lagi…aku tidak mau tanganmu yang memiliki bekas perempuan lain.” Tambahmu marah. Tetapi wajahmu tenang-tenang saja sambil menyuap lembutnya es krim yang pertama kali kukenalkan kepadamu, ketika hujan rintik-rintik dan kita terbiar di atas kedua belah kaki, tak berpayung, dan berlari-lari kecil seolah dikejar kecemasan. “Aku takut gerimis…” begitu kau bilang kepadaku kala itu. Aku pun hanya bisa menangkupkan jaketku ke atas kepalamu dan kau tersenyum manis dengan lesung pipitmu itu.

“Aku masih mencintaimu, Lin….”

“Dan kau mencintainya juga?”

“Kau tak lagi mencintaiku?”

“Lebih baik tak mencintai daripada terbaginya cinta ‘kan?

Aku diam. Kau diam. Aku berharap langit memberikan jawaban. Tetapi hujan masih rintik-rintik, beberapa gadis muda sedang memakai kaos ketat, tonjolan-tonjolan dada sedikit memancing hasrat. Paradoks. Tidakkah mereka merasakan sedikit saja dingin merambat di kulit dan menusuk-nusuk tulang? Tetapi, aku tak pernah melihat tatapan mata kau sedingin saat itu. Aku tahu aku bersalah. Hanya saja, apakah hati bisa disalahkan sementara perasaan datang seenaknya dan begitu tiba-tiba?

“Maaf….”

“Cukup hanya maaf?”

“Lalu apa yang kau inginkan, Lin?”

Kau diam. Kita terlalu sering diam. Segala masalah yang sering kita hadapi hanya kau jawab dengan kediaman, beberapa hari, lalu aku menunggu amarah itu mereda dan senyummu kembali merekah.

“Akuilah kalau kau selingkuh….”

Dingin. Aku tidak bisa membandingkan dingin Malabar dan Alahan Panjang. Aku tidak bisa membandingkan kentang Mustofa dengan rasa buah markisa.
Malabar. Aku padamu bagai selimut yang tak pernah kumiliki. Kubiarkan angin subuh menerpa leher, mengepung telinga dan pelan-pelan menusuk belulang. Barangkali hanya orang gila yang rela berjalan-jalan di kebun teh selepas subuh. Ya, para pemetik itu juga tentu gila. Orang-orang Pangalengan juga gila. Begitu pun aku yang tak bisa memilih cinta mana yang harus kudekap lebih erat.

“Aku tidak selingkuh.”

“Lantas, siapa Indah?”

“Teman.”

“Teman yang bersama-sama ke Lembang?”

“Kami ada seminar.”

“Satu kamar?”

Aku tersedak. Kaget.

“Mungkin dirimu berpikir aku tidak tahu apa-apa, kan?”

Kau seperti sedang membaca buku dari wajahku. Sambil menyendok buah yang kukira plum—berwarna orange dan sepertinya manis keasam-asaman—kau memandang badan jalan yang didatangi muda-mudi, berpasangan atau tidak berpasangan, tetapi kau melarang tanganku menari di tanganmu.

“Aku mencintaimu, Lin…”

“Tapi kau juga mencintainya…”

Malabar. Makam Boscha tidak jauh dari pintu 1 Malabar. Semasa hidupnya ia adalah orang yang mengembangkan perkebunan teh ini. Beliau selalu inspeksi dengan naik kuda ditemani seekor anjing gembala berwarna putih. Sekitar tahun 1927, saat inspeksi, kudanya jatuh terpeleset dan menimpa Boscha, sejak saat itu ia jatuh sakit dan lumpuh. Tak lama kemudian ia meninggal dunia dan dimakamkan di sini.

“Sial ya?”

“Siapa?”

“Boscha.”

“Kau yang sial.”

“Ha?

“Jadi siapa yang kau pilih?”

Aku tidak mungkin meninggalkan Indah. Dan lebih tak mungkin lagi aku meninggalkanmu.

“Kau sudah menciumnya? Kau sudah menikmati…hmm…tubuhnya?”

“Aku tak suka plum. Aku lebih suka kesemek.”

“Jangan mengalihkan pembicaraan.”

“Kesemek lebih eksotik, lebih bergetah…”

“Jangan mengalihkan pembicaraan!”

Jadi begitulah caramu marah, menggebrak meja, pengunjung-pengunjung lain bertatap ke arah kita. Seharusnya kau mampu memarahiku dari dulu, dari sejak kali pertama aku berselingkuh. Dari sejak kali pertama aku mematikan ponsel dan berbincang berjam-jam dengan perempuan lain. Nyatanya, berkali-kali kau membiarkan bahkan memaafkanku. Dengan mudahnya aku berjanji tak akan mengulanginya lagi. Manis di mulut, tetapi pasti sakit di hati. Hanya aku tak tahu bagaimana menghadapimu kali ini. Seandainya sejak dulu kau tunjukkan emosi itu, mungkin aku akan lebih menghargaimu dan tidak menganggapmu sebagai perempuan yang selalu menerima kesalahan-kesalahanku.

“Jadi, dari mana kau mengenalnya?”

Haruskah kuceritakan kepadamu tentang Indah, perempuan yang membuat dadaku bergetar dan berlahiran sajak-sajak dari dalamnya? Kau pencemburu ulung yang seolah bertanya bukan untuk jawaban sebenarnya. Tentu, aku tidak akan bercerita bahwa Indah adalah teman sekolahku saat SMA yang dengan tiba-tiba menggodaku, mengirim pesan mesra setiap malam, menceritakan kesedihannya yang terdalam sampai berkata ia tak memiliki siapa pun selain aku—ia tak mengharapkan apapun selain kehadiranku.

“Sekali lagi, kau pilih aku atau pilih dia?”

Malabar. 2022 hektar. Aku juga tak akan mengulang kenangan tiga tahun denganmu. Membanding-bandingkan antara tubuhmu dengan tubuhnya, yang sama menggairahkan. Sepanjang mata, aku hanya melihat hijau daun teh. Di pagi itu pula tampak para pencari kayu bakar dari pohon teh yang sudah pulang dengan membawa seikat besar pohon-pohon teh di atas kepalanya—menembus embun-embun pagi yang masih membasahi rumput setelah hujan semalaman mengguyur Pangalengan.

“Aku tidak mungkin meninggalkan Indah,” tanpa sadar air mataku meleleh, “dia tidak memiliki siapa-siapa selain aku, Lin…”

“Baiklah, kalau begitu, sebaiknya kau tinggalkan aku….”

“Itu tak mungkin!”

“Kenapa?”

“Karena aku mencintaimu….”

Matamu merah. Tolong, jangan membangun bendungan di depanku. Masih kau dekap gelas es krim itu dengan kedua tanganmu walau sisanya yang sedikit itu sudah meleleh, menguap bersama bau gerimis yang khas.

“Menangislah jika ingin menangis, Lin….”

Aku membayangkan ekspresimu yang biasanya ketika menangis karena kekhilafanku. Ya, kau akan menyembunyikan wajahmu dengan menekuk kedua kakimu di sana selama beberapa menit sampai lega. Sampai matamu begitu merah dan rambutmu awut-awutan. Ketika kuucap maaf, dengan ekspresi tegar kau menjawab, “Tidak apa-apa…” Tetapi kali ini kau benar-benar tidak menangis. “Aku tidak mau menangis lagi, apalagi jika karenamu…” kau menegaskan.

Malabar. Beberapa kelelawar terlambat kembali ke sarang. Beberapa ekor burung terbang tanpa mantel. Aku memikirkan kabar bahwa kebun teh adalah sarang ular. Hewan satu itu memang sangat kutakuti. Aku benci ular, apalagi manusia yang berhati ular. Perihal yang terakhir, aku tak paham dari mana metafora itu berasal.

Ketika kau pulang hari itu, ketika kau meninggalkan gelas es krim kosong di depanku hari itu, ketika kau tidak menoleh lagi hari itu, aku berpikir kau mungkin berpikir bahwa aku telah benar-benar memilih Indah. Tetapi, sungguh, aku belum menentukan pilihan. Setelah itu pastilah kau akan melepaskan airmata itu di luar pandanganku. Air mata yang tak akan pernah habis dan mengalir deras seperti Palayangan.

Ketika teleponku tak kau angkat-angkat lagi, ketika pesan-pesanku tak kau balas-balas lagi, aku tahu kau tak akan kembali ke Alahan Panjang. Tak akan membawakan markisa. Tak akan meledekku yang tak tahan dengan jalan yang berkelak-kelok diapit banyak jurang.

Beberapa orang tua berpapasan denganku sambil membawa petikan daun teh. Mereka memperhatikan sejenak buntelan yang kupanggul dan kuharap tak bertanya apa-apa.

“Asep mau ke mana? Di sana cuma ada jurang…”

Aku hanya tersenyum, tak menjawab apapun.

Mereka berlalu tanpa berkata-kata lebih banyak.

Malabar. Begitu curam jurang ini. Pasti aku akan mati jika terjun ke sana. Kuturunkan buntelan itu—yang berisi bagian-bagian milikku (dan memang semuanya milikku) di tubuhmu, kutendang sekuatnya. Kuhela napas sejenak, rasa dingin mulai mengepung tubuhku lagi. Lebih dingin dari Braga. Lebih dingin dari hujan semalam. Lebih dingin dari tanpa cinta. Jika cinta tak dapat dimiliki, mungkin memang seharusnya kita membuangnya jauh-jauh. Membuangnya ke tempat yang terdalam. ***

(2011)