All posts by Pringadi As

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di KPPN Sumbawa Besar. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini baru saja memenangkan Treasury Writer Festival 2013, sebuah apresiasi yang diberikan oleh Ditjen Perbendaharaan, Kementerian Keuangan kepada para pegawainya yang berkecimpung dalam kepenulisan. Juga menjadi salah satu pengelola http://www.perbendaharaankata.com yang menjadi wadah literasi Ditjen Perbendaharaan ke depannya.

Sejarah Ejaan Bahasa Indonesia

Ejaan Bahasa Indonesia (disingkat EBI) adalah ejaan bahasa Indonesia yang berlaku sejak tahun 2015 berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2015 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Nah, sebelum EBI berlaku, kita memiliki beberapa jenis ejaan lho. Apa saja?

ejaan bahasa Indonesia

1. Ejaan Van Ophuysen
Ejaan Van Ophuysen merupakan ejaan pertama yang dimiliki oleh bahasa Indonesia. Ejaan ini ditetapkan tahun 1901. Perancang ejaan Van Ophuysen adalah orang Belanda yakni Charles Van Ophusyen dengan dibantu Tengku Nawawi yang bergelar Soetan Ma’moer dan M. Taib Soetan Ibrahim. Ejaan ini menggunakan huruf latin dan bunyinya hampir sama dengan tuturan Belanda.



Ejaan ini digunakan untuk menuliskan kata-kata Melayu menurut model yang dimengerti oleh orang Belanda, yaitu menggunakan huruf latin dan bunyi yang mirip dengan tuturan Belanda, antara lain:

  • huruf ‘j’ untuk menuliskan bunyi ‘y’, seperti pada kata jang, pajah, sajang.
  • huruf ‘oe’ untuk menuliskan bunyi ‘u’, seperti pada kata-kata goeroe, itoe, oemoer (kecuali diftong ‘au’ tetap ditulis ‘au’).
  • tanda diakritik, seperti koma ain dan tanda trema, untuk menuliskan bunyi hamzah, seperti pada kata-kata ma’moer, ‘akal, ta’, pa’, dinamaï.

Huruf hidup yang diberi titik dua diatasnya seperti ä, ë, ï dan ö, menandai bahwa huruf tersebut dibaca sebagai satu suku kata, bukan diftong, sama seperti ejaan Bahasa Belanda sampai saat ini.

2. Ejaan Republik/Ejaan Soewandi
Edjaan Republik berlaku sejak 17 Maret 1947 menggantikan ejaan pertama yang dimiliki bahasa Indonesia saat itu. Ejaan ini merupakan upaya pemerintah untuk mengganti ejaan Van Ophuysen yang disusun oleh orang Belanda dan merupakan ejaan resmi pertama yang disusun oleh orang Indonesia.
Ejaan republik juga disebut dengan ejaan Soewandi. Mr. Soewandi merupakan seorang menteri yang menjabat sebgai menteri Pendidikan dan kebudayaan. Perbedaan ejaan Soewandi dengan ejaan Van Ophuysen ialah:
a. Huruf oe diganti dengan u.
Contohnya dalam ejaan Van Ophuysen penulisannya ‘satoe’, dalam ejaan Republik menjadi ‘satu’.
b. Huruf Hamzah dan bunyi sentak ditulis dengan huruf K.
Contohnya: maklum, pak, tak, rakjat.
c. Kata ulang boleh ditulis dengan angka 2
Contohnya: kupu2, main2.
d. Awalan di dan kata depan di kedua-duanya ditulis serangkai dengan kata yang mendampinginya. Kata depan ‘di’ pada contoh dirumah, disawah, tidak dibedakan dengan imbuhan ‘di-‘ pada dibeli, dimakan.
3. Ejaan Melindo
Ejaan ini dikenal pada akhir tahun 1959. Sidang perutusan Indonesia dan Melayu (Slamet Mulyana-Syeh Nasir bin Ismail) menghasilkan konsep ejaan bersama yang kemudian dikenal dengan nama Ejaan Melindo (Melayu-Indonesia). karena perkembangan politik selama tahun-tahun berikutnya maka diurungkan peresmian ejaan tersebut.
4. Ejaan yang Disempurnakan (EyD)
Ejaan ini berlaku sejak 23 Mei 1972 hingga 2015, atas kerja sama dua negara yakni Malaysia dan Indonesia yang masing-masing diwakili oleh para menteri pendidikan kedua negara tersebut. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menerbitkan buku yang berjudul Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan yang tercatat pada tanggal 12 Oktober 1972. Pemberlakuan Ejaan yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah ditetapkan atas dasar keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 0196/U/1975.
Sebelum EYD, Lembaga Bahasa dan Kesusastraan, (sekarang Pusat Bahasa), pada tahun 1967 mengeluarkan Ejaan Baru (Ejaan LBK). Ejaan Baru pada dasarnya merupakan lanjutan dari usaha yang telah dirintis oleh  Ejaan Melindo. Para pelaksananya pun di samping terdiri dari panitia Ejaan LBK, juga dari panitia ejaan dari Malaysia. Panitia itu berhasil merumuskan suatu konsep ejaan yang kemudian diberi nama Ejaan Baru. Panitia itu bekerja atas dasar surat keputusan menteri pendidikan dan kebudayaan No. 062/67, tanggal 19 September 1967.
Ejaan Baru di Malaysia disebut Ejaan Rumi Bersama (ERB) sementara Indonesia menggunakan Ejaan yang Disempurnakan (EyD). EyD mengalami dua kali revisi, yakni pada tahun  1987 dan 2009.

Beberapa kebijakan baru yang ditetapkan di dalam EyD, antara lain:

  • Huruf f, v, dan z yang merupakan unsur serapan dari bahasa asing diresmikan pemakaiannya.
  • Huruf q dan x yang lazim digunakan dalam bidang ilmu pengetahuan tetap digunakan, misalnya pada kata furqan, dan xenon.
  • Awalan “di-” dan kata depan “di” dibedakan penulisannya. Kata depan “di” pada contoh di rumah, di sawah, penulisannya dipisahkan dengan spasi, sementara “di-” pada dibeli atau dimakan ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya.
  • Kata ulang ditulis penuh dengan mengulang unsur-unsurnya. Angka dua tidak digunakan sebagai penanda perulangan

Secara umum, hal-hal yang diatur dalam EyD adalah:

  1. Penulisan huruf, termasuk huruf kapital dan huruf miring.
  2. Penulisan kata.
  3. Penulisan tanda baca.
  4. Penulisan singkatan dan akronim.
  5. Penulisan angka dan lambang bilangan.
  6. Penulisan unsur serapan.

5. Ejaan Bahasa Indonesia



Perbedaan Ejaan Bahasa Indonesia dengan EyD adalah:

  1. Penambahan huruf vokal diftong. Pada EyD, huruf diftong hanya tiga yaitu ai, au, oi, sedangkan pada EBI, huruf diftong ditambah satu yaitu ei (misalnya pada kata geiser dan survei).
  2. Penggunaan huruf tebal. Dalam EyD, fungsi huruf tebal ada tiga, yaitu menuliskan judul buku, bab, dan semacamnya, mengkhususkan huruf, serta menulis lema atau sublema dalam kamus. Dalam EBI, fungsi ketiga dihapus.

Lomba Puisi untuk Indonesia, DL 8 September 2017

Lomba puisi ini akan memilih 100 puisi untuk dibukukan. Tentu, juara I, II, III, Harapan I, II dan III, dan 15 puisi pilihan lainnya akan mendapatkan hadiah lain yang menarik.

Temanya adalah UNTUK INDONESIA dengan subtema:

  • Wajah Indonesia Hari Ini
  • Merawat Indonesia
  • Merayakan Keragaman
  • Membangun Jiwa Nasionalis Religius
  • Peduli dan Beri Solusi adalah Kita

Puisi dikirimkan paling telat 8 September 2017, dikirimkan ke puisidemokrat@gmail.com

Informasi lain bisa dibaca di poster atau tanyakan ke CP yang tersedia.

Menguak Arti Pertumbuhan Ekonomi

Sering kita dengar, pemerintah membangga-banggakan capaian pertumbuhan ekonomi yang positif sebagai bentuk prestasi. Tapi tahukah kamu, juga selalu positif. Hanya ketika krisis keuangan tahun 1997, pertumbuhan ekonomi kita jatuh. Bahkan Pelita II berhasil menghasilkan pertumbuhan ekonomi rata-rata 7%!

Sebelum terlalu jauh, kita kudu tahu dulu nih, apa sih sebenarnya pertumbuhan ekonomi itu?

Bolton and Khaw (2006) menyatakan pertumbuhan ekonomi sebagai indikator fundamental bagi kesehatan perekonomian. Tingkat pertumbuhan PDB suatu negara itulah pertumbuhan ekonomi yang menurut Mankiw (2010), menjadi alasan suatu negara menjadi lebih kaya dan meningkatkan standar kehidupannya. Model paling familiar adalah Y = C + I + G + (X-M) atau PDB merupakan fungsi dari konsumsi, investasi, belanja pemerintah, dan net ekspor (ekspor dikurangi impor).

Saat ini, pertumbuhan ekonomi sebagai indikator utama kesejahteraan masyarakat banyak mendapat kritikan. Alasan pertama adalah pertumbuhan ekonomi tidak mewakili rakyat secara keseluruhan. Pertumbuhan ekonomi tumbuh ya, tapi siapa yang tumbuh? Orang miskin yang menjadi kaya atau orang kaya yang semakin kaya?

Tak semua manfaat pertumbuhan ekonomi terdistribusi secara merata. Pertumbuhan GDP riil seringkali disertai dengan melebarnya gap pendapatan dan ketidakadilan dalam kesejahteraan di masyarakat, dicerminkan oleh bertambahnya kemiskinan (baik rakyat miskin atau juga hampir miskin).

Koefisien gini adalah salah satu cara untuk mengukur pemerataan tersebut. Semakin besar angka koefisien gini, maka semakin besar pula ketidakmerataannya. Dua negara yang menjadi contoh adalah China dan India. Di antara 1990-2012, China mengalami tingkat pertumbuhan 10,2% dan dalam periode yang sama ketidakmerataan tersebut meningkat 1,6% (koefisien gini) per tahun. Dalam periode itu, India mengalami pertumbuhan 6,6%, namun koefisien gininya semula 0,325 pada 1993 menjadi 0,37 pada 2010.

Hal ini terjadi karena ada pemisahan yang jelas antara perkotaan dan pedesaan. Di banyak negara berkembang, ada dua struktur ekonomi yang terbangun. Ekonomi perkotaan didasarkan pada modernisasi manufaktur dan jasa, dan pedesaan yang didominasi oleh cara-cara tradisional.

Hal yang sama juga dialami oleh Indonesia. Perkotaan, Jawa dan Sumatra, menyumbang kontribusi 58,65% dan 21,69% PDB semester I 2017. Hal ini mencerminkan betapa tidak meratanya perekonomian Indonesia dilihat dari regionalnya saja. Hampir 80% PDB hanya ada di 2 pulau.

Dilihat dari pengeluaran, pertumbuhan ekonomi 5,01% pada semester I 2017 disumbang oleh konsumsi rumah tangga sebesar 2,65% dan konsumsi pemerintah 1,69%. Ini menunjukkan bahwa arah fiskal kita berada di sisi konsumsi/permintaan.

Ada argumen bilang, tidak meratanya distribusi PDB (kaya makin kaya) itu tidak apa-apa juga, karena si kaya akan makin banyak membayar pajak yang kemudian menjadi belanja pemerintah untuk membangun infrastruktur dan pelayanan umum. Argumen kedua bilang, pertumbuhan dengan kontribusi konsumsi itu tidak apa-apa juga, karena konsumsi mencerminkan daya beli masyarakat yang tinggi.

Argumen-argumen seperti ini sepintas benar, namun pada kenyataannya, berbahaya. Seperti ucapan mantan ketua Bappenas yang bilang tidak apa-apa harga naik, asal daya beli meningkat. Ini artinya, inflasilah yang terjadi. Saya tadinya bergaji 1 juta bisa buat beli permen 100. Harga permen naik 3 kali lipat, sehingga saya butuh 3 juta. Gaji saya naik 3 juta, tetap bisa beli permen 100. Apakah pertumbuhan ekonomi terjadi? Ya. Tapi pada kenyataannya, pertumbuhan ekonomi seperti ini tidak ada gunanya, bukan?

If demand races ahead of aggregate supply the scene is set for rising prices – many of the faster-growing countries have seen a trend rise in inflation – this is known as structural inflation

Lalu siapa yang menderita jika ini terjadi? Orang menengah ke bawah yang peningkatan daya belinya berada di bawah angka inflasi atau bahkan nggak bisa meningkatkan harkat daya belinya. Sehingga hasilnya, pasti kemiskinan akan meningkat.

Hal kedua, pertumbuhan ekonomi adalah hasil dari kapitalisme. Ada praktik kanibal di sana. Globalisasi yang tadinya menguntungkan negara maju kini berbalik memakan negara maju. Kita bisa lihat hal ini dari angka pertumbuhan ekonomi negara maju yang relatively berada di bawah 2% sementara negara berkembang dan emerging countries berada di angka 4-6%. Kenapa ini bisa terjadi?

Untuk dapat angka pertumbuhan ekonomi yang bagus, sebuah negara harus terus membangun. Pertumbuhan ekonomi tidak mengenal efisiensi. Kalau pemerintah berhemat atau berhenti membangun, maka kontribusi ke G (atau ke konsumsi pemerintah dan PMTB) akan berkurang.

Bumerang globalisasi tadi pun terjadi karena dulu negara-negara maju yang mampu menginvasi perdagangan di negara berkembang. Sekarang, sebaliknya, negara berkembang yang mengekspor komoditas dan mampu memproduksi barang-barang karena tenaga kerja yang lebih murah dan sumber daya alam yang memadai, membuat secara biaya, barang-barang dari negara-negara yang tadinya berkembang jauh lebih murah dan diterima oleh konsumen.

Kanibalisme pertumbuhan ekonomi adalah kanibalisme perdagangan internasional sehingga siapa yang mampu merebut konsumen suatu negara akan tinggi pertumbuhan ekonominya. Makanya, Donald Trump menyadari hal itu dan membuat tren proteksionisme negara dari perdagangan, karena bila sudah terperosok menjadi konsumen, maka suatu negara akan menjadi konsumen selamanya. Susah untuk bangkit kembali.

Dengan fakta-fakta itu, sebenarnya tak salah jika kita bilang, pertumbuhan ekonomi sudah masa lalu atau cuma angka makroekonomi saja. Pertumbuhan ekonomi tak pernah menggambarkan secara riil keadaan rakyat.

Tabik.

 

 

Memahami Nota Keuangan RAPBN 2018

Asumsi Dasar Makro Ekonomi 2018

Nota keuangan menjadi gambaran mengenai prospek ekonomi tahun depan. Dalam Nota Keuangan mencakup target pertumbuhan ekonomi, sasaran inflasi, proyeksi nila tukar, dan proyeksi harga minyak dunia. pemerintah juga menjabarkan mengenai target penerimaan perpajakan serta indikator lainnya.

Belanja Negara

Rancangan APBN 2018 masih bersifat ekspansif. Simpelnya, belanja dianggarkan lebih besar dari tahun sebelumnya sebagai stimulus fiskal untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4%. Angka 5,4% ini sebenarnya dinilai ambisius, mengingat ketidakpastian global masih menghantui perekonomian. Sebagai perbandingan, realisasi pertumbuhan ekonomi semester pertama saja hanya 5,01%. Ketidakpastian global ini akan memicu volatilitas harga komoditas yang menjadi bagian ekspor terbesar kita. Jika harga komoditas turun, dipastikan pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan akan sulit dicapai.

Anggaran belanja pemerintah pusat menurut fungsinya pada RAPBN 2018 naik ~100 triliun sebesar menjadi Rp1.443,2 triliun dari APBN 2017 sebesar Rp 1.343,0 triliun. Alokasi anggaran pemerintah pusat yang terbesar adalah fungsi pelayanan umum yaitu 30,3% dari total anggaran fungsi. Sisanya sekitar 69,7% tersebar pada fungsi-fungsi lainnya, yakni pertahanan, ketertiban dan keamanan, ekonomi, perlindungan lingkungan hidup, perumahan dan fasilitas umum, kesehatan, pariwisata, agama, pendidikan dan perlindungan sosial.

Peningkatan signifikan terjadi di fungsi pelayanan umum, pariwisata dan ekonomi. Dalam RAPBN 2018, anggaran untuk fungsi layanan umum naik dari Rp347,4 triliun menjadi Rp437,9 triliun pada tahun depan. Anggaran belanja pariwisata tercatat meningkat dari Rp3,34 triliun menjadi Rp7,45 trilun. Sementara itu, anggaran belanja pemerintah pusat untuk fungsi ekonomi naik menjadi Rp344,4 triliun dari APBN 2017 sebesar Rp323,4 triliun.

Pendapatan Negara yang Realistis?

Realisasi penerimaan pajak semester I 2017 sebesar Rp482,6 triliun atau 37,95 persen dari target. Realisasi ini naik 8,2% dari tahun lalu. Tapi kenaikan ini juga karena ada faktor Tax Amnesty tahap III di awal tahun.

Dalam RAPBN 2018, pendapatan negara diproyeksikan sebesar Rp1.878,4 triliun, terdiri dari penerimaan perpajakan sebesar Rp1.609,4 triliun dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp267,9 Triliun dan penerimaan hibah sebesar Rp1,1 triliun.

Dalam APBN-P, target penerimaan pajak hanya sebesar 1472,7 T. Penambahan target 9,7% ini, saya tidak tahu apakah feasible atau tidak. Ataukah justru kita akan memulai lagi perhitungan shortfall kita tahun demi tahun.

Pengelolaan pembiayaan yang terukur dan terjaga

Poin ini juga sangat penting. Dalam RAPBN tahun 2018 defisit diperkirakan mencapai Rp325,9 triliun (2,19 persen PDB) atau turun dibandingkan outlook APBN Perubahan tahun 2017 sebesar 2,67 persen terhadap PDB.

Hal yang perlu dilihat bukan hanya angka defisit dalam satu tahun berjalan, tetapi defisit hariannya yang memungkinkan pembiayaan meleset jauh dari defisit satu tahun. Sebagai contoh, selisih antara pembiayaan dan defisit anggaran pada tahun 2016 saja mencapai 30 triliun. Artinya, kita melakukan pembiayaan lebih dari defisit/utang yang dibutuhkan yang diakibatkan oleh pengelolaan yang kurang baik.

 

Puisi | Membaca Koran

Ketika kubaca koran pagi ini, kutemukan tubuhmu terpanggang

di sebuah halaman. Aku tak sanggup terlalu lama memandang

jasadmu yang hangus itu.

Aku hanya bisa menunggu pemadam datang,

memadamkan api yang masih menyala-nyala, dan menghindari orang-orang

yang setia menjadi penonton.

Aku bukanlah seorang penonton yang baik.

Aku tak bisa menangis, tertawa, atau juga bertepuk tangan.

Setelah api bersedia pergi, kau telah sulit dikenali.

Bahkan tanda pengenalmu, yang hanya berupa kertas dilaminating

juga ikut terbakar. Sidik jarimu–

upaya sia-sia untuk mengetahui identitas. Tinggal nanti,

pasti ada yang datang menangis, meraung-raung

menyebut cinta dan harapan yang pernah kau titipkan itu

tidak pernah lebih khianat dari negara yang mengkhianati bangsanya.

 

Ketika kubaca koran pagi ini, aku belum tahu di mana

nanti kau akan dimakamkan.

Barangkali orang-orang yang mengenalmu ingin Kalibata.

Tapi, bahkan tanah pemakaman di Jakarta sulit terbeli.