All posts by Pringadi As

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di KPPN Sumbawa Besar. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini baru saja memenangkan Treasury Writer Festival 2013, sebuah apresiasi yang diberikan oleh Ditjen Perbendaharaan, Kementerian Keuangan kepada para pegawainya yang berkecimpung dalam kepenulisan. Juga menjadi salah satu pengelola http://www.perbendaharaankata.com yang menjadi wadah literasi Ditjen Perbendaharaan ke depannya.

Indonesia Darurat Utang

Tulisan ini dipublikasikan di https://www.kemenkeu.go.id/publikasi/artikel-dan-opini/benarkah-indonesia-darurat-utang/ pada 30 November 2017 dan dimuat di dalam buku Perbendaharaan untuk Negeri.

Belakangan ramai di media massa mengenai Indonesia telah berada dalam keadaan darurat utang. Seorang tokoh bahkan mengatakan, saat ini, presiden sebagai kepala pemerintahan dapat di-impeach karena telah melanggar undang-undang, sebab defisit anggaran telah melebihi angka 3% terhadap APBN. Ramai-ramai pula masyarakat mengkritik pemerintah.

Pernyataan tersebut sesungguhnya keliru. Batas defisit anggaran yang disebutkan dalam UU Keuangan Negara ialah 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), bukan terhadap APBN. Kriteria defisit anggaran 3% tersebut, bila ditilik lebih jauh, dilatarbelakangi oleh perjanjian Maastricht yang menjadi cikal-bakal Uni Eropa. Dalam perjanjian tersebut disebutkan beberapa hal yang menjadi kesepakatan, di antaranya defisit anggaran yang dianggap aman tidak melebihi 3% terhadap PDB, dan rasio utang yang dianggap aman tidak melebihi 60% terhadap PDB.

Indonesia menganut sistem anggaran defisit. Hal ini tidak terlepas dari tujuan negara yakni kesejahteraan rakyat. Dalam hal ini, pertumbuhan ekonomi menjadi salah satu syarat untuk tercapainya masyarakat yang sejahtera. Pembangunan ekonomi tidak hanya fokus pada perkembangan ekonomi, tetapi juga peningkatan kesejahteraan, keamanan dan kualitas sumber daya yang dimiliki. Sumber daya dimaksud bukan hanya pengolahan sumber daya alam, tetapi juga peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Terkait pertumbuhan ekonomi, diperlukan adanya kebijakan yang baik agar sesuai dengan target yang telah ditetapkan. Dalam hal ini kebijakan pengelolaan anggaran melalui belaja dan penerimaan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi tersebut. Saat menyusun rencana anggaran, pemerintah mengidentifikasi terlebih dahulu sisi kebutuhan.

Pemerintah berusaha memenuhi kebutuhan tersebut (dengan skala prioritas) untuk menyejahterakan rakyatnya melalui pengelolaan sisi penerimaan dan belanja negara. Selisih antara belanja dan penerimaan negara dalam APBN ditutupi dengan pembiayaan dan utang merupakan salah satu upaya pembiayaan. Bagi negara yang sedang berkembang, utang merupakan salah satu sumber dana untuk membantu mempercepat proses pembangunan ekonomi negaranya. Ini terjadi karena belum cukupnya dana yang berasal dari penerimaan dalam negeri, sehingga sumber pembiayaan berupa utang, khususnya utang dari luar negeri, sangat diperlukan. Hal ini juga menjadi salah satu alternatif untuk mencukupi kekurangan kebutuhan anggaran pembangunan di Indonesia.

Lebih spesifik lagi, utang ada untuk investasi dalam peningkatan infrastruktur. Infrastruktur yang kurang baik menjadi salah satu faktor kegagalan pasar yang akan berimbas pada tak meningkatnya (atau justru berkurangnya) kapasitas produksi dan berujung pada pertumbuhan ekonomi yang rendah atau justru menurun. Kapasitas produksi yang tinggi juga dapat menciptakan lapangan kerja dan pendapatan pajak yang lebih baik. Itulah mengapa jika dapat tepat mencapai tujuannya, maka utang berkorelasi positif dengan target pajak dan pertumbuhan ekonomi.

Dalam 10 tahun terakhir, pemerintah Indonesia secara serius telah menjaga angka defisit anggaran di bawah 3%. Angka defisit anggaran tertinggi terjadi pada tahun 2014 sebesar 2,8%, dan pada tahun ini, APBN-P 2017, mengasumsikan defisit anggaran sebesar 2,92%. Pelebaran defisit terjadi karena adanya perubahan komposisi dari sisi penerimaan dan belanja negara.

Dari sisi belanja negara, ada kenaikan subsidi energi dan belanja lain yang mendesak, salah satunya keputusan kalkulasi ulang untuk subsidi elpiji 3 kilogram, listrik dan Bahan Bakar Minyak (BBM). Keputusan dari Menteri BUMN dan ESDM menyatakan bahwa perbedaan antara jumlah subsidi yang terdapat pada APBN dengan biaya yang harus ditanggung oleh Pertamina akan dibayar oleh Pertamina dulu. Selanjutnya pada semester kedua, pemerintah akan memenuhi kewajiban pembayaran BBM yang selama ini belum terbayarkan. Namun demikian, pemerintah tetap berkomitmen melakukan penghematan belanja dan memberi outlook defisit sebesar 2,67%. Begitu juga bila dilihat dari sisi rasio utang terhadap PDB, pemerintah Indonesia telah berhasil menurunkan dan menjaga rasio utang di bawah 30% dalam 8 tahun terakhir.

Rasio utang Indonesia hingga Juni 2017 sebesar 27,9%. Dibandingkan dengan negara-negara yang tergabung dalam G-20, rasio ini termasuk rendah. Data dari DJPPR Kementerian Keuangan pada Februari 2017 menunjukkan rasio utang Indonesia ada di urutan ke-19. Hanya Rusia yang rasionya lebih rendah yakni 17%. Negara-negara seperti Jepang, Italia, dan Amerika Serikat memiliki rasio utang lebih dari 100%, bahkan Jepang memiliki rasio utang 250,4%.

Selama kurun 2007-2017, Indonesia berhasil mencatatkan pertumbuhan ekonomi positif, terendah pada 2009 sebesar 4,6% akibat terimbas oleh krisis ekonomi di Amerika Serikat. Angka tersebut sesungguhnya bukan angka yang buruk, sebaliknya sangat baik. Berkati pondasi makro ekonomi yang lebih baik dibanding krisis ekonomi 1997, Indonesia berhasil meminimalisasi dampak krisis AS yang menyapu hampir seluruh negara di dunia.

Ketidakpastian global yang kini sedang terjadi menjadi salah satu faktor eksternal yang menekan perekonomian Indonesia. Dengan pondasi yang makin kuat, Indonesia justru berani merevisi asumsi pertumbuhan ekonomi dari 5,1% menjadi 5,2% di APBN-P 2017. Pertumbuhan ekonomi yang positif inilah yang akan menaikkan pendapatan pajak pemerintah yang digunakan untuk mendanai belanja negara.

Pada akhir 2014 lalu, pemerintahan Jokowi mulai mengurangi subsidi BBM. Terbukti, sejak Januari 2017, secara bertahap, subsidi listrik untuk pengguna 900 VA dicabut. Hal ini tak terlepas dari usaha pemerintah untuk memiliki ruang fiskal demi pemenuhan belanja infrastruktur. Rata-rata peningkatan alokasi belanja infrastruktur pemerintah 2015-2017 dibandingkan 2011-2014 sebesar 123,4%. Dalam periode tersebut, alokasi anggaran pendidikan dan kesehatan yang termasuk mandatory spending juga mengalami peningkatan masing-masing sebesar 27,4% dan 104%. Refocusing ini juga mengisyaratkan belanja subsidi dianggap tidak tepat sasaran. Dengan mengurangi 66,2% alokasi dan mengalihkannya ke belanja lain, maka tujuan pemerintah untuk menyejahterakan masyarakat menjadi lebih baik pencapaiannya—dengan eskalasi pembangunan infrastruktur dan perlindungan pemerintah terhadap masyarakat miskin di bidang pendidikan dan kesehatan.

Pembiayaan melalui utang harus dilakukan dengan hati-hati dengan manajemen yang efektif dan efisien. Hal ini juga telah dilakukan oleh pemerintah dengan melakukan pendalaman pasar utang dalam negeri dengan tujuan meminimalisasi risiko yang ada pada utang luar negeri, yakni risiko nilai kurs yang berubah-ubah. Penerbitan utang baru pun didasarkan pada biaya utang yang rendah diiringi dengan forecasting kebutuhan kas pemerintah.

Kebijakan fiskal di sisi peneriman, pengeluaran, dan pembiayaan dilakukan untuk menjaga kesinambungan fiskal. Saat ini, defisit anggaran terbukti dapat menumbuhkan pertumbuhan ekonomi, yang memungkinkan pendapatan pajak yang lebih tinggi. Mengelola APBN bukanlah hal yang mudah, dan bukan berarti pemerintah tak berkeinginan mengurangi utang dan defisit. Namun, hal tersebut jangan sampai menghambat tujuan bernegara: social welfare.

 

*) Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja

Cerpen | Senja Terakhir di Dunia

 

“Ceritakan kepadaku tentang senja…” pinta Alina kepadanya.
Tukang cerita itu terkejut. Dulu sekali, seseorang pernah meminta hal yang sama. Dan saat itulah ia menceritakan kisah Alina dengan Sukab1)—kisah yang membuatnya harus berhadapan dengan polisi, karena ternyata saat itu Sukab tak terima persoalan pribadinya diungkap ke publik. Ia terpaksa harus meringkuk di penjara setelah didakwa bersalah atas pencemaran nama baik. Kini, setelah dua puluh tahun berlalu—dan ia pun bebas, tak disangka-sangka Alina menyambutnya di pintu keluar. Alina sudah keriput dan beruban. Meski masih tampak sisa-sisa kecantikan di wajahnya.
“Senja adalah…” Kata-kata itu terhenti. Ia tak sanggup meneruskan cerita. Ia menangis sambil memandangi Alina yang diam-diam ia cintai itu.

***

Sudah beberapa tahun terakhir ini senja menghilang dari bumi. Bukan cuma sepotong. Tetapi seluruhnya. Tanpa disangka, akibat ceritanya dua puluh tahun silam itu, hampir semua laki-laki di dunia berlomba-lomba menggunting senja untuk diberikan ke pacarnya. Ada-ada saja alasannya. Ada yang kepengen balikan lagi. Ada yang digunakan untuk pelet alias pengasihan. Ada juga yang cuma dihadiahkan di hari ulang tahun sang pacar, dimasukkan ke dalam pigura, dan dipajang di dalam kamar.
Tukang cerita itu memandangi sekeliling. Banyak hal yang berubah. Dua puluh tahun lalu, becak masih di mana-mana. Sampai suatu hari, ia pun harus menceritakan kepunahan dan itu mengenai kisah tukang becak terakhir di dunia, juga kepada Alina—yang kerap mengunjunginya di penjara. Kini, semuanya tinggal cerita, jalan-jalan layang dibangun, gedung-gedung pencakar langit bertebaran, dan jalan melewati gang menuju rumah Alina pun harus ditempuh dengan naik bajaj. Tetapi, mereka memilih berjalan kaki.
“Sudah dua puluh tahun ya?”
“Dan kamu tidak menua.”
Ia diam sebentar. Dilihatnya selokan. Airnya memang masih cukup bening karena mengalir dan kotorannya mengendap. Ia perhatikan wajahnya dan memang tidak banyak berubah. Hanya tumbuh kumis dan jambang yang memanjang. Janggutnya pun menjuntai tak terurus.
“Apa yang ingin kamu ketahui tentang senja?”
“Kesedihan.”
“Sukab?”
Alina menggeleng. “Ada banyak hal yang terjadi selama dua puluh tahun ini. Kisah Sukab sudah kuanggap berakhir.”
“Di dunia kappa, hukum berlaku dengan terbalik. Perasaan pun demikian. Hal-hal yang sering kita anggap lucu dan tidak serius justru dianggap serius. Sementara hal-hal yang serius, menyedihkan dan menyengsarakan dianggap lelucon terbaik di sana.”
“Kappa? Di negeri ini mana ada Kappa.”
“Tidakkah aku pernah bercerita kalau aku pernah keliling dunia?”
“Kamu bahkan tidak pernah bercerita apa-apa tentang dirimu kepadaku.”
Tukang cerita itu tertunduk. Matanya sembab. Ia memandangi kembali gedung-gedung tinggi. Ia saksikan anak-anak tak lagi bisa bermain sepuasnya. Di tiap tiang listrik, ada pengumuman anak hilang. Di tiap mesjid, ada pengumuman kematian. Di tiap kafe, ada perayaan ulang tahun. Di tiap hotel pun, ada penyelenggaraan rapat, konsinyering, pembahasan peraturan yang jadi kedok penghabisan dana akhir tahun anggaran.
“Apa yang ingin kamu ketahui tentang aku, Alina?”
“Kesedihan.”
“Tukang cerita tidak berhak memiliki kesedihan.”
“Tukang cerita tidak berhak memiliki senja?”
“Sejatinya, kita memang tidak berhak memiliki apa-apa.”
“Aku memang tidak pernah memiliki Sukab.”
Alina menangis lagi. Ini kedua kalinya, ia menyaksikan Alina menangis. Di dalam hatinya, ia merasa cemburu kenapa air mata Alina tidak pernah dipersembahkan untuknya. Sukab, laki-laki yang telah membuatnya menangis itu, kini tak jelas juntrungannya. Bahkan oleh tukang cerita sekalipun, Sukab tak lagi bisa diceritakan. Mungkin, kini ia sedang bersenang-senang di sebuah negara yang tak ada dalam peta bersama Maneka. Ah, Maneka… Tiba-tiba ia pun ikut-ikutan menangis.
“Kenapa kamu ikut menangis?”
“Apa menangis perlu alasan?”
Keduanya menangis bersama-sama. Orang-orang yang menyaksikan mereka (ada yang sedang main catur, makan es krim, menyeruput kopi, mengangkat kasur yang baru dijemur, memarahi anaknya yang tidak mau pulang ke rumah) berhenti melakukan pekerjaannya dan ikut-ikutan menangis juga. Air mata mereka mengalir ke selokan. Selokan penuh air mata. Sudah lama rasanya air mata tidak sebanjir itu sejak beberapa puluh tahun lalu, sebelum senja menghilang dari bumi, saat ratusan ribu massa merangsek ke jantung pemerintahan menurunkan seorang kepala negara. Orang-orang menangis bahagia. Pada akhirnya, orang-orang tidak lagi menangis karena menyesal telah menghabiskan air matanya untuk kebahagiaan yang fana. Karena setelahnya, mereka dipaksa tertawa dan menertawakan semua kejadian yang seharusnya bikin mereka menangis.
“Aku baru menyadari ternyata setelah mulutku lama dibungkam dipenjara, dan aku hanya bercerita lewat surat-suratku kepadamu, Lin, aku lupa bagaimana cara memulai cerita dengan baik dan benar.”
“Tak perlu hal yang baik pula benar di dunia ini… Kebaikan sudah jadi omong kosong. Kebenaran telah jadi pembenaran.”
“Lantas, kenapa suratku tak pernah kamu balas?”
“Karena setiap melihat kertas surat, aku jadi teringat Sukab. Maaf.”
“Orang-orang yang mencuri senja itu kebanyakan sudah ditangkap. Mereka dimasukkan ke dalam sel yang berdekatan denganku.”
“Lalu, kenapa bumi masih tanpa senja?”
“Tidak semudah itu. Ada tiga jenis pencuri senja yang kutemui di penjara. Yang pertama, pencuri kacangan. Begitu diancam akan disiksa, mereka langsung menyerahkan senja yang mereka sembunyikan. Tentu, para sipir ini tidak bisa menampik godaan senja yang terang benderang itu. Ada yang diam-diam menyimpannya atau beberapa di antara mereka bersepakat untuk menjualnya kepada kepala penjara. Sebaliknya, yang sudah terlanjur memperjualbelikan atau malah menggunakan senja, pasti setiap malam mereka akan menjerit kesakitan karena digebuki oleh para sipir sialan itu.
Yang kedua ini pencuri elit. Gembong-gembong senja ini sudah kaya raya, punya harta yang berlimpah, dan dengan mudahnya mereka menyogok kepala penjara sampai para sipir. Mereka bahkan punya kamar khusus. Fasilitas khusus. Dijaga dengan sangat khusus biar tak ada media yang meliputnya.”
“Kamu saja yang menceritakan ini ke media?”
“Siapa yang mau percaya kepada narapidana macam aku, Lin?”
“Aku.”
“Ya, jika semua manusia di dunia punya hati sejujur kamu.”
“Kejujuran memang mahal.”
“Tidak semahal kebebasan.”
Mereka saling berpandangan. Tukang cerita pelan-pelan memberanikan diri memeluk punggung tangan Alina. Alina diam saja. Beberapa saat kemudian, mereka sudah bergenggaman tangan. Masing-masing jari berada di sela jari yang lainnya. Mereka berjalan sambil menatapi langit yang masih cerah. Lalu Blup! Langit padam dan datanglah malam.
“Seperti inilah bumi tanpa senja, seperti tiba-tiba mati lampu saja,” keluh Alina. “Sekarang, aku ingin mendengar apapun tentangmu. Kesedihan yang tak pernah kamu miliki itu…semuanya.”
Lampu-lampu dinyalakan. Dari kejauhan, terlihat gedung-gedung berkerlap-kerlip. Di sepanjang gang ini, hanya beberapa rumah yang memiliki lampu. Harga bahan bakar yang naik membuat tarif dasar listrik ikut naik. Tidak banyak orang yang bisa bayar listrik. Jadi, mereka kembali ke masa lalu, menyalakan petromax, lampu teplok, atau lilin-lilin kecil yang tak pernah meleleh dimakan api.
“Namaku Sakum. Dulu, aku seorang penyair. Aku mengenal Sukab. Dan aku pernah memiliki seorang istri.”
“Benarkah itu? Kenapa kamu baru menceritakannya sekarang?”
“Aku mengenal Sukab dari surat-suratnya kepada istriku, Maneka. Ia juga pernah mengirimkan sepotong bibir paling indah di dunia. Bibir itu bisa berbicara sendiri, bisa bercerita kisah-kisah yang membuat Maneka terbuai dan jatuh cinta. Lalu ia pun pergi mencari Sukab. Aku tidak tahu di mana dia sekarang. Hal yang terakhir kutahu, dia membuat sebuah cerita dan dalam ceritanya pun aku hanya muncul sebagai tokoh ‘suami’ yang disebutkan tiga kali dalamm ribuan kata yang lain.2) Menyedihkan bukan?”
“Ternyata, kita sama-sama menyedihkan ya?”
Genggaman mereka semakin erat. Seperti dieratkan oleh lem Fox.
“Rumahmu masih jauh, Lin?”
Sudah satu jam mereka berjalan kaki. Dari gang ketemu gang, lorong ke lorong, tapi belum sampai-sampai juga.
“Kamu belum cerita tentang pencuri ketiga.”
“Ya, pencuri ketiga adalah pencuri paling tabah. Mereka adalah penggemar senja sejati. Digebuk, disetrum, dicap besi panas, dicelup-celupkan ke dalam air, mereka tetap tidak mau mengaku. Mereka sangat pandai menyembunyikan senja.”
“Memangnya di mana mereka menyembunyikannya?”
“Aku juga tidak tahu. Mereka tidak pernah bilang apa-apa. Tapi, aku yakin sekali, muka secerah itu adalah muka-muka yang tercerahkan oleh senja. Muka-muka yang bahagia.”
“Hmm, padahal aku ingin tahu secuil cerita senja yang tersisa.”
Sakum tersenyum. Tangannya yang semula menggenggam Alina berpindah ke bahunya. Ia sudah berani memeluk Alina.
“Akan kuceritakan sebuah rahasia,” Sakum berbisik.
“Apa itu?”
“Sebelum aku dibebaskan mereka menitipkan senja kepadaku. Bukan cuma sepotong. Tapi berpuluh-puluh potong.” Sakum berbinar-binar. Alina juga ikut berbinar-binar.
“Di mana. Di mana? Di mana!” Alina tampak begitu tak sabar.
Sakum membuka jaketnya. Lalu membuka kemejanya. Kaos lengan panjangnya. Kaos dalamnya. Celana jeansnya. Celana dalamnya. Sakum benar-benar telanjang seutuhnya. Tubuh sakum tampak terang benderang. Indah sekali. Senja seperti bertumpuk-tumpuk menyusupi tulangnya.
Alina tampak gembira. Gembira sekali. Rambut putihnya tiba-tiba jadi hitam lagi. Keriputnya kembali kencang juga.
Alina memeluk Sakum. Sakum memeluk Alina. Mereka saling memeluk.
Alina mencubui Sakum. Sakum mencubui Alina. Mereka saling mencumbu.
Orang-orang kaget dengan sinar benderang itu. Mereka keluar rumah dan menyaksikan percumbuan terdahsyat di dunia. Mula-mula mereka hanya melihat dari kejauhan. Seseorang lalu berani mendekat dan mulai berebut memeluk Sakum. Berebut melumat Sakum. “Hei semua, senja ada di tubunnya!”
Mendadak orang-orang berlarian menyerbunya. Sakum masih dicumbui Alina. Orang-orang jadi gila. Alina juga. Orang-orang mengerogoti kulit, tulang, sampai ke sumsumnya. Senja jadi berhamburan dibuatnya.
Sejak saat itu, Sakum dimuat media sebagai Grenouille!***

Puisi | Kelahiran

saat kudengar dirimu lahir
di awal musim gugur
bintang terang bersinar di langit
daundaun yang baru belajar
mengenal mati
mulai berserak
tanpa sempat dikuburkan
semua penginapan penuh
dan kau berada berbeda
di antara tumpukan jerami
aku kemudian mengimanimu
dalam keadaan yatim
lenguhan seekor lembu
tak mengingat turunnya salju
tak mengenal jaket, selimut tebal
dan api perapian
yang kesemuanya merindukan mithra
aku tidak tahu atau
aku tidak peduli
seberapa asli atau palsu imanku
hari ini
musim gugur adalah musim gugur
musim gugur adalah masa lalu

The Fear of Oneself by Sharon Olds

Ketakutan

 

Setelah hampir sampai ke rumah, kita melepaskan sarung tangan

udara dengan segera menjadi lapisan es di masing-masing tangan kita.

Kau berkata, kau percaya aku akan bertahan dari semua siksaan

demi anak-anak kita. Kau berkata, kau percaya aku punya keberanian.

Aku bersandar di pintu dan menangis sejadi-jadinya.

Air mataku membeku di pipiku dengan suara-suara rapuh.

Aku berpikir tentang perempuan yang berdiri telanjang

di sungai yang membeku, para penjaga menuangkan

berember-ember air ke tubuh mereka sampai berkilau

seperti pohon-pohon dalam badai salju.

 

Aku sungguh tak pernah berpikir bisa melalui semua ini, bahkan

bila demi anak-anak kita. Aku memang pernah menginginkan

berdiri di antara mereka dan luka. Tapi aku juga perempuan,

seorang perempuan yang seharusnya mementingkan diri mereka terlebih dahulu.

Aku bersandar pada pintu yang dingin, besar dan penuh kegelapan.

Wajahmu berkilat dengan tatapan sedingin es seperti jalan yang berbahaya,

dan berpikir mengenai pemantik api, dan berbagai motif

dan kulit anak-anakku, yang halus, kencang, dan tipis

membungkus tubuh mereka secara lembut dan meredup.

Kutipan Inspiratif Haruki Murakami

Coba kau pikirkan baik-baik. Kondisi semua orang sama saja. Sama seperti ketika kita naik pesawat rusak. Tentu saja di situ ada orang yang bernasib baik dan bernasib buruk. Ada yang tangguh, ada juga yang lemah; ada yang kaya, ada pula yang miskin. Hanya saja, tidak ada orang yang memiliki kekuatan yang jauh lebih besar daripada orang lain. Semua orang sama. Orang yang memiliki sesuatu selalu khawatir, jangan-jangan apa yang dia miliki sekarang akan hilang, sedangkan orang yang tidak memiliki apa-apa selalu cemas, jangan-jangan selamanya aku akan tetap menjadi orang yang tidak punya apa-apa. Semua orang sama! Karena itu, manusia yang menyadari hal itu lebih cepat harus berusaha menjadi sedikit lebih tangguh. Sekadar pura-pura pun tidak apa. Betul kan? Di mana pun tidak akan ada manusia yang tangguh. Yang ada hanyalah manusia yang pura-pura tangguh.

“Jika kamu dapat mencintai seseorang dengan sepenuh hati, bahkan untuk satu orang, itulah keselamatan dalam hidup. Meskipun kamu tidak dapat bersama dengannya,” – Haruki Murakami, 1Q84

“Saya dapat menahan segala beban asalkan ada maknanya,” – Haruki Murakami, 1Q84

“Inilah dunia, pada akhirnya, sebuah perjuangan tanpa akhir akan kenangan yang saling bertentangan,” – Haruki Murakami, 1Q84

Jika kau mengingatku, maka aku tak peduli jika semua orang melupakanku.

“Kamu dapat menyembunyikan kenangan, akan tetapi tidak akan bisa menghapus jejak langkah bagaimana kenangan itu dibuat,” – Haruki Murakami, Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage

“Seiring dengan berjalannya waktu kita menemukan siapa diri kita, akan tetapi semakin kita mengenalnya, semakin kita kehilangan diri sendiri,” – Haruki Murakami, Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage

Hal terpenting yang kita pelajari di sekolah adalah fakta bahwa hal yang paling penting tidak bisa dipelajari di sekolah.

“Seiring dengan berjalannya waktu, kamu akan memahami. Apa yang berlalu, berlalu; apa yang tidak, tidak terjadi. Waktu menyelesaikan semuanya. Dan apa yang waktu tidak dapat selesaikan, kamu harus atasi sendiri.” – Haruki Murakami, Dance Dance Dance

“Yang kita cari adalah bentuk kompensasi dari apa yang kita lakukan,”– Haruki Murakami, Dance Dance Dance

Kematian bukan lawan dari kehidupan, kematian itu bagian dari kehidupan.


“Kenangan akan menghangatkan dirimu dari dalam. Namun mereka juga membuatmu bersedih,” – Haruki Murakami, Kafka on the Shore

“Dengar- tak ada perang yang akan bisa mengakhiri semua perang,”– Haruki Murakami, Kafka on the Shore

“Keheningan, adalah sesuatu yang sebenarnya dapat kamu dengar,”– Haruki Murakami, Kafka on the Shore

“Setiap kita akan kehilangan sesuatu yang berharga. Kehilangan kesempatan, kehilangan kemungkinan, perasaan yang tidak akan pernah kembali lagi. Itulah hidup.” – Haruki Murakami, Kafka on the Shore