All posts by Pringadi As

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di KPPN Sumbawa Besar. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini baru saja memenangkan Treasury Writer Festival 2013, sebuah apresiasi yang diberikan oleh Ditjen Perbendaharaan, Kementerian Keuangan kepada para pegawainya yang berkecimpung dalam kepenulisan. Juga menjadi salah satu pengelola http://www.perbendaharaankata.com yang menjadi wadah literasi Ditjen Perbendaharaan ke depannya.

Puisi| Stasiun Manggarai

 

aku salah karena berpikir perempuan paling kejam
kau lebih kejam dari semua
karena berulang-ulang membuatku menunggu
berjanji tak akan lagi, namun kau ingkari pula
semua waktu yang sia-sia adalah omong kosong
kau bisa menyita 1/12 hidup seseorang
yang telah rapuh menahan rasa pulang
hanya untuk kau biarkan pergi setelah sesaat
berdamai dengan ketakutan akan tersesat
kau telah terlalu sombong
karena menjadi jantung dan tempat masuk
setiap arah dan setiap aliran darah
kata maaf yang kau ucap dari bibir jauh lebih hina
dari seorang pejabat sekalipun, yang suka seenaknya
menyebut satu per satu nama hewan
yang tidak lagi dikurung di kebun binatang
kata maaf yang tidak terasa tulus karena di belakangku
kau pegang pisau bernama kebinekaan
apalah artinya cinta tanpa kemerdekaan
apalah artinya kemerdekaan bila ada yang diistimewakan
hanya karena kau merasa sebagai jantung
yang dibutuhkan para penumpang
aku tak pernah benar-benar ingin jadi penumpang
yang terkurung dalam dingin perahu sarden
di sungai darah ini dan menujumu

Puisi| Air Mata

aku memahami kita belajar matematika
untuk menghitung nyawa demi nyawa
yang menghilang begitu saja seperti janji Tuhan
tak ada yang tahu: satu detik kemudian
atau bahkan seribu tahun yang Anwar inginkan
bumi akan berguncang dan terbelah
tercipta puluhan lubang, yang dalam dan panjang
segalanya terhisap, juga kenangan-kenangan
saat kali pertama belajar bersepeda bersama Ayah
duduk di beranda, menatap langit dan air mata
jatuh seperti tombak-tombak yang dilemparkan
saat setan ingin mencuri rahasia masa depan
air matamu adalah setan bagiku
yang menggoda seluruh iman untuk luruh
dan menghujat yang telah menciptakan segala
dan lupa bahwa tak ada yang pernah
benar-benar menjadi milik manusia
kekasih yang kucintai sepenuh aku juga
bisa dibolak-balik hatinya dengan mudah
tak ada pernah kata kebebasan seutuhnya
masa lalu, kini, dan apa yang akan terjadi nanti
adalah rantai yang saling terikat dan pasti
dan aku hanyalah sebuah boneka
yang dimainkan ventriloquist di atas panggung

(2016)

Menulis Sepi

Writing Residence. Dua kata ini menarik bagiku. Pada Mei 2016 lalu, aku terpilih mengikuti program residensi di ASEAN Writers Residence di Jakarta dalam rangkaian acara ASEAN Literary Festival 2016. Selama seminggu, aku berkumpul bersama 12 penulis dari negara-negara ASEAN dan Jepang dan banyak bertukar pikiran dengan mereka. Program residensi itu menumbuhkan berbagai perspektif baru dan aku menyukai itu.

Ketika membaca Asma Nadia ingin membuka writing residence, aku langsung tertarik. Apalagi dalam informasi itu disebutkan untuk penulis yang berada di Jakarta dapat memilih daerah yang menjadi tujuan. Ada satu tempat yang ingin benar-benar kukunjungi. Tempat ini sudah sejak lama memantik rasa penasaranku. Ia berada di suatu tempat di Nusa Tenggara Timur. Aku pernah satu kali ke NTT, ke Alor. Dan faktor pertama yang unik dari NTT adalah kerukunan umat beragamanya. Panitia MTQ bisa bukan beragama Islam. Sebaliknya, muslim juga bisa terlibat melindungi kegiatan yang berkaitan dengan gereja. Terkenang ucapan seorang yang menemaniku saat ke Alor, Osvo namanya. Ia berkata, bagi mereka bela di atas segalanya. Bela/darah adalah identitas. Selama satu bela, mereka akan saling menjaga.

Namun, bukan Alor yang ingin kukunjungi. Melainkan Mollo. 180 km dari Kupang.

Kenapa Mollo?

Aku punya seorang teman di Mollo. Namanya Christian Dicky Senda. Dia seorang cerpenis. Cerpen-cerpennya selalu bercerita tentang kearifan lokal di Mollo, juga masalah-masalah kemanusian yang terjadi di sana.

Sebagai seorang yang terlahir di Barat (Sumatra), dunia Timur terasa begitu berbeda. Aku ingin sekali menjejakkan kaki ke sana dan mengenali udaranya. Aku ingin mendapatkan perspektif baru mengenai keIndonesiaan yang lebih utuh dari sebelumnya.

Bila sampai di Mollo, hal pertama yang ingin kulakukan adalah mengeksplor pasar tradisional di Kapan, ibu kota kecamatan Mollo Utara. Di sana akan ditemukan banyak sekali produk pertanian organik dari warga termasuk beberapa bahan pangan yang sudah hampir jarang ditemukan di pasar-pasar di perkotaan. Kemudian treking ke beberapa kampung di sekitar desa Tafetob, bertemu dengan para penenun di desa Bosen, berinteraksi dengan petani jeruk dan sirih di Lelokasen. Atau kalau masih tersisa tenaga, aku mau treking yang lebih jauh dan menantang ke kampung Manesat Anin sejauh 12 km pergi pulang menyusuri sungai Sebau yang air jernihnya mengalir dari gunung Mutis menuju pantai selatan Timor. Di Manesat Anin aku bisa mengunjungi kebun warga, panen ubi dan sayuran, belajar bikin jagung bose hingga memasak bersama warga setempat. Ada beberapa menu spesial seperti jagung bose, singkong kuning rebus dan ubi kapuk bakar yang semuanya bisa dinikmati dengan ayam bakar dan sambal lu’at bunga gala-gala (kembang turi).

Mendadak saya terkenang ucapan Budi Darma. Masalah kebanyakan penulis adalah ketidakmampuan dalam mengenali apalagi mendalami masalah. Sastra hadir sebenarnya untuk mengangkat masalah itu ke permukaan, mengubahnya menjadi bentuk seni yang dapat dinikmati atau membuat pembaca ngeh bahwa benar ada masalah seperti ini. Ia bisa juga bisa ditampilkan dalam bentuk yang menghibur, masalah tidak ditulis gambling dan “disembunyikan” di dalam cerita.

Ketidakmampuan mengenali masalah terjadi selain karena kurangnya pembacaan terhadap literatur, salah satunya, adalah adanya jarak antara penulis dengan objek yang ia tulis. Penulis kebanyakan hanya mengira-ngira dari pembacaan yang singkat, atau dalam bahasa lain, penulis kurang melakukan riset. Karena itu, penulis perlu terjun langsung dan berinteraksi dengan objek yang ingin ditulisnya.

Kenapa Mollo—saya anggap Mollo merepresentasikan manusia yang belum banyak terpapar modernisme. Pada titik ini sebenarnya saya mempertanyakan kemanusiaan saya sendiri. Apakah hidup di kota, dengan tetek bengek kehidupan modern telah menggerus banyak hal dari dalam diri saya pribadi? Dan kenapa Mollo—sesampainya di sana, saya akan punya seorang teman yang akan mendampingi saya menemukan jawaban atas kegundahan hati.

Bukan berarti hanya, saya akan menulis mengenai Mollo. Tetapi, saya ingin berangkat dari Mollo untuk menuju sebuah gambaran apa sih manusia itu, dan bagaimana kemudian manusia yang saya pahami itu akan menjadi homo fictus di dalam karya saya.

Aa Gym di Tengah Massa

aa gym yang tegas dans antun
aa gym yang tegas dan santun

Satu hal yang membuat saya bertanya-tanya, makna apa yang ada di balik kehadiran Aa Gym dalam aksi damai. Sejauh saya memperhatikan beliau, beliau bukanlah orang yang suka ikut-ikutan, bukanlah seseorang yang bertindak tanpa pemikiran dan pertimbangan yang matang. Aa Gym adalah tipe orang yang tulus, pintar, dan tidak mudah ditunggangi kepentingan yang sifatnya pragmatis.

Bagi saya pribadi, Aa Gym, selain sebagai pribadi, juga memiliki peran sebagai simbol. Saya masih ingat sosoknya adalah sosok yang diterima berbagai kalangan. Ia dihormati dan memiliki pengaruh yang signifikan dalam pergerakan. Ketika Aa Gym masih eksis di media massa, berjuta-juta orang bisa rela datang untuk mendengarkan beliau.

Di luar yang ditampilkan di media, Aa Gym punya sisi berbeda. Beliau begitu tegas. Ketika saya masih nyantri di Darut Tauhid, saya merasakan sendiri karisma itu. Beliau memahami geo politik. Paham betul ancaman-ancaman terhadap agama dan bangsa, dan karena itulah di luar santri DT, ia juga menyiapkan Santri Siap Guna yang tiap tahunnya diikuti ribuan santri. Saya sendiri masuk ke dalam angkatan ke-12.

Ketika Aa Gym ikut aksi massa, pesan apa yang hendak disampaikan beliau sebagai simbol?

Saya kemudian termasuk yang menyimak hampir semua ucapan beliau secara kronologis dalam perihal kasus Gubernur kota J. Dan menjadi sebuah simpulan, pesan itu adalah momentum persatuan umat.

Entah sudah berapa tahun, pertelevisian kita diinvasi acara yang remeh. Ustad-ustadnya nyeleb. Beritanya dikaburkan ke sana-ke mari. Arus kehidupan di televisian pun seperti sebuah efek samping produk bernama kapitalisme dan liberalisme. Segalanya hanya demi pasar.

Individualisme merebak. Beda pandangan sedikit dibilang baper. Perang terjadi di media sosial. Ga setuju gua remove. Blokir. Beda, ga temenan. Kira-kira begitu yang terjadi. Dan pandangan terhadap agama menjadi sangat sempit. Orang-orang mulai banyak berpikir agama seharusnya tetap berada di ruang privat, tidak boleh ada di ruang publik. Sekulerisme adalah buah otomatis dari liberalisme.

Aksi pertama yang dilakukan FPI kurang mendapat simpati publik. Belum lagi pendiskretan media bernama Metro Tipu yang banyak menyoroti sisi negatifnya membuat citra Islam dan muslim bisa semakin luntur.

Citra itu tidak boleh jatuh lagi. Aa Gym pun merasa harus hadir di sana.

Di mana posisi Aa waktu itu? Di belakang, bersama santrinya, ia memegang peran sebagai koordinator kebersihan. Keputusan Aa Gym untuk datang itu mungkin tidak pernah disangka-sangka oleh pihak seberang karena selama ini Aa Gym tidak tampak sekeras Habib Rizq. Tak membesar-besarkan peran Aa Gym, saya yakin sekali umat Islam yang tadinya masih ngambang pun banyak yang menjadi yakin untuk ikut serta.

Hal itu pun ditandai dengan munculnya Aa Gym di Hitam Putih. Terima kasih kepada Deddy Corbuzier. Pernyataan Aa di sana adalah pernyataan yang sangat cerdas dan tepat:

Gubernur J ditakdirkan terlahir beretnis Tionghoa, itu sudah takdirnya. Kita nggak boleh menghina hal itu. Gubernur J beragama Kristen, itu pilihannya. Biarlah nanti beliau mempertanggungjawabkannya ke Tuhan. Tapi, Gubernur J tidak seharusnya berkomentar yang bukan ranahnya. Itu offside.

Kecemerlangan beliau dilanjutkan dalam ILC bakda aksi. Mendapat giliran terakhir, orang terkesima dengan paparan Aa Gym. Beliau tidak takut nyentil Kapolri dan Presiden, dengan sangat halus… killing me softly.

Setelah itu, ad hominem bertebaran di mana-mana. Aa Gym pun mulai menuai serangan siber. Beberapa mengungkit-ungkit soal poligaminya, beberapa menyebut aa dapat panggung lagi, macam-macamlah.

Di sinilah, orang baru mulai sadar bahwa seorang Aa Gym lebih menakutkan ketimbang FPI. Saya sudah lama paham bahwa Aa Gym adalah orang yang cerdik. Sebagai simbol, Aa adalah katalis.

Katalis itu diperlihatkan sekali lagi dalam Aksi Damai 2 Desember lalu. Salah satu penyesalan saya adalah nggak ikut datang dan hanya bisa menyimak via Youtube. Aa mengatakan lebih kurang:

Berbeda boleh, marah jangan. Marah tidak sama dengan tegas dan santun. Kalau marah semuanya serba tidak jelas, sedangkan tegas segalanya didasarkan aturan.

Di sini Aa Gym juga mengingkatkan sesama muslim untuk tidak ikut berperilaku sama buruknya dengan orang yang buruk, karena menjadi tidak ada bedanya. Aa Gym juga bilang tentang untuk melihat persamaannya terlebih dahulu ketimbang perbedaan dari segala sesuatu.

Terakhir beliau berkata tentang air. Air lembut, tapi punya kekuatan. Air lembut, tapi bisa menyatukan segala adukan bahan bangunan menjadi bangunan yang kokoh. Maka, jadilah air.

Saya yakin sekali hari ini Aa Gym lebih ditakuti dari pada Habib Rizq oleh orang-orang yang tidak suka Islam, karena beliau tidak pemarah, dan beliau membuat massa mengambang tidak menjadi ragu lagi.

Politik? Tentu dalam arti luas, segala hal adalah politik. Kalau ada aktor partai politik yang ingin menunggangi umat Islam, tinggal kita berpikir seperti agent, siapa memanfaatkan siapa… Biarkanlah mereka berpikir kita bisa ditunggangi, tapi padahal kuda ini bergerak sesuai fitrahnya sendiri, tanpa dikendalikan.

PS:

Setiap kali membaca ada orang menghina Aa Gym saya seperti ingin marah, tapi ingat ucapan beliau, teko hanya mengeluarkan isinya. Dan juga galau ketika yang menghina Aa Gym berada di lingkaran saya… tapi tak jadi marah. Barangkali itu tanda, ketika saya memiliki lingkungan yang masih menghina orang lain… berarti karakter saya aslinya sebenarnya tak jauh lebih baik dari mereka.

Delusi Gubernur Kota J

Tentu, kita tak lagi perlu berdebat mengenai apakah beliau telah menistakan ibadah atau tidak. Hal itu sudah diproses secara hukum. Cukuplah ketegasan dan hati kita mengartikan bagaimana pandangan beliau tentang agama. Bukan hanya dari sepotong kalimat, atau video utuh, tapi juga dari semua video (yang tidak menjadi viral) ketika beliau membawa-bawa agama dalam kalimat-kalimatnya.

Delusi yang berhasil dibentuk mengenai Gubernur Kota J adalah sebuah dikotomi hitam dan putih, baik dan jahat, benar dan salah, seakan-akan semua selain pro dia adalah sisi buruknya. Juga yang kontra dengan Gubernur kota J, menganggap pendukungnya sama buruknya. Inilah yang berbahaya dan harus segera diatasi.

Kita harus adil sejak dalam pikiran dan mencoba meruntuhkan delusi yang dibentuk, digiring oleh berbagai media. Ketika kondisi sudah semakin tak kondusif seperti saat ini–ketika semua pendukungnya menganggap segala hal yang dilakukannya adalah benar–menjadi sebuah tanda bahaya yang harus diwaspadai.

Artinya kita kudu mendudukkan mana persoalan yang benar dan mana persoalan yang salah.

Saya kasih sebuah contoh soal penggusuran. Ada penggusuran yang sudah menjadi hak pemerintah kota J, ada penggusuran yang belum menjadi hak. Bukit Duri misalnya. Ketika Bukit Duri digusur, belum ada kekuatan hukum tetap yang mengizinkan/melarang penggusuran tersebut. Tetapi penggusuran tetap dilakukan. Ini adalah bukti bahwa tidak adanya penghormatan terhadap hukum.

Ada lagi misalnya yang namanya Idle Cash. Idle Cash ini adalah uang yang mengendap di rekening kas daerah. Kota J adalah pemilik idle cash terbesar di Indonesia. Memang itu tak terlepas dari besarnya PAD kota J. Nah, bagaimana sih teorinya? Sumber penerimaan daerah itu berasal dari transfer pusat ke daerah dan pendapatan asli daerah. Idealnya, selama PAD ada, ia digunakan untuk membiayai baseline budget seperti belanja pegawai dan belanja barang. Sinkronisasi itu adalah berkaitan dengan tujuan pengelolaan kas. Berkaitan dengan manajemen keuangan, maka perlu dilihat realisasi anggarannya. Kota J juga realisasinya rendah. Kenapa kas ada, tapi tidak direalisasikan? Maka masalahnya bisa berarti ada di pelaksanaan anggaran itu sendiri, dan juga penganggarannya. Nah, Gubernur bertanggung jawab atas itu!

Permasalahan manajemen keuangan ini sebenarnya lebih krusial dari ke Kepulauan Seribu, sosialisasi tentang program laut dan perikanan, tapi malah ngomongin agama.

Ada banyak hal lain yang bisa dibahas untuk meruntuhkan delusi itu. Tentu, pertanyaannya bukan apakah Gubernur kota J yang sekarang saat ini lebih baik dari Gubernur sebelumnya, melainkan apakah Gubernur kota J telah bekerja sesuai standar dan target yang sudah ditetapkan?

Tentu untuk menjawab pertanyaan seperti ini kita butuh memahami standar dan target.

Yah, kira-kira begitulah kalau kita salah mengajukan pertanyaan. Jawabannya juga bisa keliru. Begitu pun dalam hidup, kita harus berhati-hati mengajukan pertanyaan kehidupan agar mendapatkan jawaban yang tepat!

Poem by the Swedish writer Erik Axel Karlfeldt (1864-1931)

 

Poem by the Swedish writer
Erik Axel Karlfeldt (1864-1931)

The rhyme smith
Now, coarsely wrought iron from my thoughts’ own smithy,
my sledge shall test the utmost you can bear.
I know your chain’s links snap, that this is risky,
but likewise know there’s honest steel in there.
From my home mine and slash-burnt acres’ clamour
I gained my iron and charcoal for the fire,
I gripped – as once each sweetheart’s waist – my hammer
and fanned my forge’s flames with keen desire.
How bright the anvil’s song when dusk was swelling,
in evening coolness when my youth’s sun set!
The clanging, how it spread! From farm and dwelling
with chiming youthful voices it was met.
But out of sight, alone, hard iron unfurling,
toiled with great zest the half-apprenticed bard
and smiled at all the hot flakes round him whirling,
though many a spark his pitted skin still scarred.