Metafora Padma dan Sejarah Sastra Kita

  Saya termenung mendengar pernyataan Saut Situmorang setelah keluarnya putusan pengadilan atas kasus yang menimpanya. “Kalau dunia hukum merasa berhak menilai dunia sastra, kenapa dunia sastra tak berhak menilai dunia hukum?” Tentu implikasi pernyataan ini bukan hanya mengenai keabsurdan kasus yang menimpa beliau—ketika berusaha membela sejarah sastra, menghadapi Fatin Hammama dan Denny Ja. Implikasinya juga…

Puisi-puisi Saut Situmorang

Saut Situmorang lahir 29 Juni 1966 di kota kecil Tebing Tinggi, Sumatera Utara. Tapi ia besar di Medan. Pada 1989-2000, ia menetap di Selandia Baru. Di sana, ia belajar Sastra Inggris (BA) dan Sastra Indonesia (MA) di Victoria University of Wellington dan University of Auckland. Ia menulis puisi dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Karya-karyanya…

Curug Cibareubeuy dan Sebuah Metafora

Seorang penyair dari Jawa Barat mengirimiku pesan minggu lalu. “Pring, jalan yuk!” katanya sambil mengunggah foto sebuah air terjun di instagram. Curug itu adalah Curug Cibareubeuy. Dia tahu aku punya hobi jalan-jalan dan kami sudah lama berwacana mau menjelajah tempat wisata di sekitar Bandung sejak ia tahu aku telah pindah ke Bandung. Baru Kamis lalu…

Perbedaan Cicilan Pinjaman dari Bank Syariah dan Konvensional

Dalam beberapa waktu terakhir saya ingin mencari pinjaman untuk membeli rumah. Sebagai umat beragama yang kadang-kadang baik, saya paling takut riba. Karena itulah, saya pengennya membeli rumah secara tunai. Namun, apa daya kemampuan ekonomi tidak memungkinkan sehingga harus kredit. Dan kredit yang diutamakan adalah kredit syariah. Pertama, pengennya non-bank, namun perumahan syariah non-bank kudu menyatu…

Tiga Puisi Pringadi Abdi Surya

Memeluk Bahaya sayang, hiduplah dalam bahaya dengan begitu, setiap hari engkau akan mengingat tuhan tuhan hadir dalam kilatan peluru, dalam langkah kaki yang terburu sesuatu tak pernah berhenti mengejarmu ia yang kalah adalah ia yang lelah sayang, hiduplah sambil memeluk ketakutan peluk lebih erat dari engkau memeluk bahagia kelak, tuhan yang akan memelukmu sebagai balas…

1 277 278 279 280 281 307