Air Terjun Ai Beling

Air Terjun Ai Beling di Sumbawa

Namanya air terjun Ai Beling. Di Sumbawa. Air terjun Ai Beling ini meninggalkan memori tersendiri bagiku. Sebabnya, perjalanan ke air terjun ini seakan menjadi kado perpisahan dari sahabat-sahabatku di Adventurous Sumbawa.

Ai Beling
Foto Yudi Rusdian

Ya, saat itu, aku sudah akan pergi dari Sumbawa. Pengumuman kelulusan tes DIV PKN STAN mencantumkan namaku. September, aku akan memulai perkuliahan. Agustus, bakda libur Idulfitri, Farhan (yang kini menjadi ketua Adventurous Sumbawa) berinisiasi mengajakku jalan-jalan ke Ai Beling yang sudah mereka sambangi saat libur lebaran. Khusus untukku, walau setelah itu kami mengajak beberapa teman lain yang belum berkesempatan mengunjungi Ai Beling.

Ai Beling dalam bahasa Sumbawa berarti air (ai) dan bicara (beling). Disebut air yang berbicara karena suaranya terdengar hingga 5 km jauhnya.

Foto Taufik Rahman

Selain itu, ada mitos setempat yang mengatakan dulunya ada seorang gadis, anak raja, kabur karena dijodohkan dengan orang yang tidak dicintainya. Lalu dia menangis dan menangis di sebuah sungai hingga akhirnya terjun bunuh diri di ujung sungai tersebut. Hingga suatu hari, ada seseorang mendengar sebuah tangisan yang begitu jernih dan ia menemukan sebuah air terjun ini. Dipercaya Ai Beling adalah roh dari gadis tersebut.

Baca Juga: 4 Air Terjun Terindah

Air Terjun Ai Beling

Buat kamu yang kepengen ke Ai Beling, catat ya alamatnya. Air Terjun Ai Beling terletak di Dusun Kuang Amo, Desa Sempe, Brang Rea, Kecamatan Moyo Hulu, Kabupaten Sumbawa. Jika berkendara menggunakan sepeda motor dari Kota Sumbawa Besar/Bandara Sumbawa, anda akan menempuh jarak sekitar 1 jam.

Kalau dulu sih, jalannya masih ada yang kurang layak. Penuh perjuanganlah. Kalau boncengan, nggak disarankan naik motor matic. Namun, ndak tahu gimana sekarang.

Dulu juga masuknya gratis. Keberadaan air terjun ini benar-benar tersembunyi, tidak ada yang mengurus atau menjaga. Meski dari jalan yang dilalui kendaraan bermotor, kita berjalan kaki hanya sekitar 200 meter.

Foto Farhan Syadli

Namun, informasi yang terakhir kudengar, sekarang, sudah ada penjaga yang menjaga parkir kendaraaan kita. Tarifnya Rp5.000.

Pesan satu lagi, jangan sampai kunjungan kita ke air terjun ini meninggalkan sampah. Beberapa waktu lalu, aku membaca status Yudi Rusdian yang menyayangkan betapa banyak sampah ditinggalkan terselip di antara bebatuan. Ia pun memunguti sampah-sampah itu sebagai bagian dari edukasi bahwa berwisata harus sadar lingkungan. Biar keindahan yang ada terjaga selalu.

Selain itu, di air terjun ini harus hati-hati jika musim hujan. Sebab, air bah bisa tiba-tiba saja datang. Jangan sampai berwisata menjadi bencana, ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *