Tag Archives: penyair indonesia

Puisi Aris Setiyanto

SEPANJANG JALAN CORNICHE

sepanjang jalan corniche
menuju taman mia
di mana ombak menghentak jiwa
aku merindukan
: tanah kelahiran
—kibar dwiwarna
dan keberadaanmu selalu
yang bergerilya menjajahi hatiku

seperti apa rasa kesepian?
saat malam melepas layar
memaksa senja terasingkan
gelap menyesap secangkir kisah
bertabur rerintik bintang

satu sinar permintaanku
satu sinar permohonanku
melesatlah. oh, kabulkanlah!

Temanggung, 15-10-2019

ALE

seorang tanpa nama
beta mencari ale di jalan-jalan
menuju sekolahan
menuju tempat kerja
di tempa— di mana
kesibukkan ditumpahkan hari senin

minggu yang berlalu
semakin sepi tanpa kata
kalau beta bersua ale lagi
bertanya nama
barangkali alasan kita sama-sama
memiliki teduh di mata

Temanggung, 20-10-2019

DI BANGKALAN

—kita menjelangi subuh
mencari semua rasa hati
pada seporsi nasi serpang
di pinggir jalan
aku menemukanmu
sebelum jam sepuluh pagi

kita menjadikan daun agel tali
tas dikirim ke luar negeri
merajut kasih dan berkisah
cintaku hingga belasan tahun
tapi berjamur
dan mudah rusak

Temanggung, 28-10-2019

SEGO TEMPONG

segala sesuatunya
disiapkan mentah termasuk
cinta dan rindu
dengan aroma laut
telah menampar satu
indera di antara lima simpang

tapi bukan perihal itu
bagaimana ia disebut
adalah panas bumi
menyayat kulit ari
tetes air mata bahkan
terlerainya ikatan

Temanggung, 01-11-2019

IKAN SAPETAN

kau telah menjepit tubuh
sebelum diasap
mereka adalah ikan pari
—ikan laut mengepul
pada nyala bara
kipas bambu

dengan bumbu bambu
sekali lagi (asap) partikel
namun masih mentah
sehingga tak bersua
bibir indah nona
lidah yang menari itu

Temanggung, 31-10-2019

Aris Setiyanto adalah seorang fan JKT48 yang hobi menulis puisi.

Tak Mungkin Tak Ada Puisi yang Bisa Aku Bawa Kembali ke Sumbawa

1.
empat pengembara muda memutuskan meminta
menjadi anak-anak lagi, ketika sebuah lampu tua
mereka temukan di perjalanan, “kita tak akan lagi
bingung soal cinta, atau patah hati.”

karena perasaan kadangkala terbagi seperti
bertemu persimpangan, kanan, kiri atau lurus saja
kemudian mereka berdebat arah mana lebih cepat
untuk mencapai kebahagiaan.

kecuali dalam pendakian, mereka bersepakat
untuk mencondongkan badan lima belas derajat
agar berkurang beban yang mesti ditopang
agar beringsut sakit yang harus diapit

2.
karena kehidupan adalah bagian dari kesalahan
mereka begitu ingin membenahinya

melihat sepeda, ada rindu yang ingin mengayuhnya
sampai jauh, sampai bertemu sebuah air terjun

dimakamkan perasaan, dalam sebuah genangan
suatu hari, mereka akan tenggelam. terendam.

3.
seseorang yang kemudian tersesat, menyeberang
dari kayangan. suara ombak tidak berisik
ia memutuskan tertidur dan bermimpi
bertemu lagi seorang gadis yang akan membuatkan
secangkir teh dan semangkuk cium di pagi hari

tetapi tak ada bis sore itu, yang bersedia
mengantarkannya ke sumbawa. padahal cahaya
sudah berangkat menuju kepulangan. juga
satu per satu cinta telah pergi, mencari cara
terbaik untuk kembali dan dikatakan.

seseorang yang kemudian tersesat, bertaruh
jika tuhan benar ada, ia pasti akan sampai
dan sampailah dia, tetapi di hatinya ia masih
tak yakin, apakah tuhan benar-benar ada?

Puisi Pringadi Abdi Surya di Manifesco

Aku mengirimkan 5 puisi ke Manifesco, dan alhamdulillah, 3 puisi dimuat di sana. Berikut puisi Pringadi Abdi Surya di Manifesco pada 31 Januari 2020 (3 teratas yang dimuat, 2 puisi setelahnya tidak dimuat).


Kura-Kura dalam Tubuhmu

Malam-malam sekali ada ombak berjalan ke tubuhmu. Aku pikir itu laut yang tiba-tiba kalut dan takut kalau hujan tak lagi mau turun. Hujan pasir. Hujan lambaian nyiur  di pantai itu, yang diam-diam memanggil kura-kura ke pinggiran. Meninggalkan telur.  Menyampaikan rindu yang lain dari bekas-bekas tetasan yang tak pernah kembali.

Kura-kura itu berjalan ke tubuhmu. Aku takut kura-kura itu akan memakanmu yang sedang  lelap dalam tidur memimpikan sepasang kepiting yang tak lagi berjalan miring. Kepiting anjing  yang menggonggong malam-malam. Kepiting kuda yang meringkik meminta penggembalaan seperti domba-domba lain yang pernah kauceritakan dalam suratmu itu.

Malam-malam sekali bantal itu berkhianat pada janji untuk  memberimu sepasang mimpi  lain tentang caranya bercinta sambil melenguh-lenguhkan namaNya sebelum ada kura-kura  yang berjalan ke tubuhmu. Kura-kura itu mungkin sekali adalah gadis empat belasan yang pernah kau cumbui di halaman sekolah. Lalu kau bekap ia dengan sebuah bantal yang kini berkhianat di tidurmu. Continue reading Puisi Pringadi Abdi Surya di Manifesco

Puisi Pringadi Abdi Surya | Dari Kucing Hingga ke Parkiran

Seekor Kucing di Kehidupan Lalu

Sambil kupandangi hujan
Dari jendela kamar
Kubayangkan aku seekor kucing
Di kehidupan lalu
Yang mengingat malam
Tanpa lagu pengantar tidur
Menunggu seseorang memungutku
Setelah seseorang membuangku

(2019)


Hanya Nasib

Hanya nasib yang paham
Suara jangkrik pada suatu malam
Bercerita tentang negara
Yang hancur bukan karena perang
Seorang anak perempuan
Memegang sekerat roti basi
Menatap nanar ke arah kamera
Milik wartawan yang bercita-cita
Mendapatkan penghargaan fotografi

Nasib juga yang paham
Keesokan hari, aku tak lagi mampu
Mendengar rintih jangkrik itu
Entah karena ia tertangkap untuk umpan
Atau aku yang keburu dikangeni Tuhan

(2019)


Baca: Puisi Pringadi Abdi Surya yang Lain


Menampal Ban

Aku hanya pergi menampal ban
biar esok kukhidmati lagi perjalanan
Tak perlu kucari sebab semisal
terbentur batu, tertusuk paku
atau memang ban itu letih menemaniku

Kubayangkan udara di dalamnya adalah kita
yang terkurung, bak di sebuah negara
bersesak ria, berteriak ingin segera
saling bercerai-berai, melupakan janji
betapa pernah kita berjuang bersama

Sambil kurenungkan makna setia
Setiap ada yang terluka
Kita akan saling berusaha mengobatinya

(2019)


Parkir Motor

Kita tidak mengenal tukang parkir itu
Tetapi kita tinggalkan motor padanya
Setiap menuju stasiun

Kita tidak tahu namanya, siang nanti
Dia makan apa, atau apakah ia berpikir
Negara baik-baik saja dan sudah baik padanya

Kita titipkan begitu saja, tanpa mengunci
Stang, lalu kita naiki gerbong kereta
Dan berdoa di perjalanan tiada yang merintang

Itulah satu-satunya doa yang kita ucapkan
Dan bersyukur perjalanan ke kantor
Membuat kita masih percaya Tuhan

Lupa atau tak peduli pada hati yang kotor
Dan lebih beriman pada tukang parkir motor

(2019)

 

Penerimaan Puisi ke Komunitas Negeri Poci, Antologi Puisi Negeri Bahari

Komunitas Negeri Poci
Komunitas Negeri Poci

KOMUNITAS NEGERI POCI Jakarta mengundang para penyair di seluruh INDONESIA untuk bergabung dalam antologi Dari Negeri Poci 8: Negeri Bahari, sembari merayakan 25 tahun Komunitas (dari) Negeri Poci (1993 -2018).

DARI NEGERI POCI adalah serial antologi puisi yang diterbitkan sejak tahun 1993, yang menghimpun karya puisi anak bangsa negeri bahari secara lintas generasi, lintas gender, dan genre. Antologi “Negeri Bahari” adalah seri kedelapan.

PENGERTIAN BAHARI:
– Moto kota Tegal, Jawa Tengah: Tegal Bahari
– Sinonim dari: 1. baheula, dahulu kala, kuna, prasejarah; 2. ampuh, bertuah, sakti
– Sinonim dari: antik, kuna, lawas, purwa, tua, usang
– Sinonim dari: bagus, cakap, cantik, cemerlang, elok, indah, menawan, rupawan
– Antonim dari: modern, mutakhir
– Arti kiasan dari: kelautan, kemaritiman

PERSYARATAN UMUM:
1. Terbuka bagi siapa saja – baik penyair atau bukan penyair – segala usia, baik pria maupun perempuan, berdomisili di mana saja di negeri bahari ini.
2. Karya sebanyak 10 (sepuluh) puisi, beserta foto dan biodata terbaru, alamat, e-mail, dan nomor telepon. Ditulis dalam satu lembaran/scroll.
3. Di setiap puisi, ditulis nama penyair dan judul dalam huruf besar.
4. Salah satu puisi bertema negeri bahari. Sembilan puisi lainnya bertema bebas.
5. Panjang setiap puisi maksimal 40 baris, tidak bersambung ke halaman lain. Jadi cukup termuat masing-masing puisi satu halaman dalam buku.
6. Puisi harus karya terbaru tahun 2016 – 2017 dan tidak/ belum pernah dimuat dalam buku, media sosial/ massa mana pun.
7. Silakan kirim karya terbaik Anda, ke email: negeribahari@gmail.com, mulai 1 Juni 2017 dan paling lambat sudah harus diterima pada 30 November 2017, pukul 24.OO.
8. Tidak diadakan surat-menyurat atau pun kontak lainnya.

KETENTUAN LAIN2:
1. Puisi-puisi yang dikirim hendaknya T-3 (terbaru, terkini, terbaik), ditulis antara tahun 2016 – 2017.
2. Puisi-puisi yang masuk akan diseleksi oleh tim kurator/editor yang ditunjuk.
3. Tidak ada pungutan uang seripis pun bagi keikut-sertaan dalam antologi ini, termasuk bagi mereka yang puisinya terpilih.
4. Mengingat penerbitan buku ini tidak untuk keperluan komersial, para penyair yang karyanya dimuat, tidak memperoleh honorarium/royalti.
5. Setiap penyair yang karyanya terpilih dan dimuat akan mendapat 1 (satu) eks. buku sebagai nomor bukti.
6. Buku puisi akan diberikan kepada setiap penyair yang hadir pada acara peluncuran buku Negeri Bahari, di Tegal, Jawa Tengah.
7. Bagi penyair yang tidak hadir, nomor bukti akan dikirimkan melalui jasa ekspedisi Pos Indonesia atau Tiki, atau JNE dengan mengganti ongkos pengiriman buku dan beaya administrasi.

Salam sehat beribadah!
Jakarta, 27 Mei 2017

Komunitas Radja Ketjil/ Dari Negeri Poci
Prof. Dr. Prijono Tjiptoherijanto
Dr. Handrawan Nadesul
Adri Darmadji Woko
Kurniawan Junaedhie
Dharmadi DP
Enthieh Mudakir

Catatan:
1. Rencana Antologi “Negeri Bahari” adalah serial lanjutan antologi Komunitas Radja Ketjil/Dari Negeri Poci
2. “Negeri Awan” (Dari Negeri Poci 7, 2017), 175 Penyair. Ed. Adri Darmadji Woko, Handrawan Nadesul, Kurniawan Junaedhie.
3. “Negeri Laut” (Dari Negeri Poci 6, 2015), 175 Penyair, Ed. Adri Darmadji Woko, Kurniawan Junaedhie, Hamzah Muhammad.
4. “Negeri Langit” (Dari Negeri Poci 5, 2014), 153 Penyair, Ed. Adri Darmadji Woko dan Kurniawan Junaedhie.
5. “Negeri Abal-Abal” (Dari Negeri Poci 4, 2013), 99 Penyair, Ed. Adri Darmadji Woko dan Kurniawan Junaedhie.
6. “Dari Negeri Poci 3” (1996), 49 Penyair, Ed. Adri Darmadji Woko, Handrawan Nadesul, dan Kurniawan Junaedhie.
7. “Dari Negeri Poci 2” (1994), 45 Penyair, Ed. F. Rahardi.
8. “Dari Negeri Poci” (1993), 12 Penyair