Puisi | Burung Kuwaw

Ia menghitung dari satu sampai enam puluh lima tetapi ibunya tak kunjung pulang ke rumah Ia memasang telinga sebaik-baiknya, agar langkah dari kejauhan dapat ia kenali sambil membayangkan sebatang tebu yang tinggi dengan rasa manis yang bikin liur tuhan menetes Namun, ia mulai menembang Hari demi hari, batang demi batang tebu yang dibawa Semua busuk…

Puisi | Tanjung Agung, dari Cerita Rakyat Banyuasin: Asal Mula Tanjung Agung

Ia melempar kailnya ke muara berharap menemukan teman Namun hanya sejumlah ikan yang berkumpul dan memberi nama Tak ada bahasa yang bisa dieja Ia juga tak mengenal duka Baca juga: Puisi | Musi Landas Di Sungai Kertak, ia bernyanyi Sekali lagi dilemparnya kail itu Berharap temu ikan lebih banyak Namun hanya rumput yang berdoa Sebelum…

Puisi | Lanang Penyungkan (dari Cerita Rakyat Banyuasin, Rumah Lame)

Mereka membuat rakit, dan mengikatnya dengan rasa sakit. Ingatan tentang Yusuf yang rupawan dibuang di sebuah sumur, lalu diselamatkan sebagai budak, membuat keenam kakak lupa umur. Namun bukan iri, bukan dengki. Hanya tak rela bapaknya didurhakai. Mereka membuat rakit, lalu mengabaikan dendang tentang kesek dan labu parang. Berharap dan tidak berharap tuah. Bila tuah, kembalilah….

Puisi | Biyuku (dari Cerita Rakyat Banyuasin “Putri Biyuku”)

Setelah berubah menjadi seekor kura-kura ia tidak mengenal hutan, karena lahan tempat ia menghina orang-orang buruk rupa telah menjadi perkebunan sawit. Ia lupakan rasa sakit, pergi bersama arus sungai, ke rawa ke muara, ke mana saja–ia bisa menemukan maaf Ayah. Namun, begitu sulit. Ia bahkan tak mendapatkan segerombolan kura-kura lain yang dulu menunggu kelahirannya. Seolah-olah…