Tag Archives: cerita rakyat banyuasin

Puisi | Burung Kuwaw

Ia menghitung dari satu sampai enam puluh lima
tetapi ibunya tak kunjung pulang ke rumah
Ia memasang telinga sebaik-baiknya, agar langkah
dari kejauhan dapat ia kenali
sambil membayangkan sebatang tebu yang tinggi
dengan rasa manis yang bikin liur tuhan menetes

Namun, ia mulai menembang
Hari demi hari, batang demi batang tebu yang dibawa
Semua busuk dan tak memiliki aroma

Lalu mulailah satu per satu bulu bertumbuh
Diikuti sepasang sayap, ia mulai berubah menjadi
seekor burung, yang terbang dari ranting ke ranting

Ia menghitung lagi, dari satu sampai enam puluh lima
Begitu jumlah pohon yang sudah ia lalui
Sejak lari dari rumah
Tetapi kini tak lagi ada suara, selain kicau
yang kacau seperti hatinya, tatkala tak merasa
memiliki kasih sayang orang tua.


Puisi ini digubah dari Cerita Rakyat Banyuasin berjudul Burung Kuwaw. Puisi ini bagian dari usaha untuk memuisikan cerita-cerita rakyat Banyuasin. Beberapa puisi lain yang dapat dibaca misalnya Tanjung Agung, Lanang Penyungkan, dan Mengusir Setan.

Puisi | Tanjung Agung, dari Cerita Rakyat Banyuasin: Asal Mula Tanjung Agung

Ia melempar kailnya ke muara
berharap menemukan teman
Namun hanya sejumlah ikan
yang berkumpul dan memberi nama
Tak ada bahasa yang bisa dieja
Ia juga tak mengenal duka


Baca juga: Puisi | Musi Landas


Di Sungai Kertak, ia bernyanyi
Sekali lagi dilemparnya kail itu
Berharap temu ikan lebih banyak
Namun hanya rumput yang berdoa
Sebelum senja, seorang anak
Harus kembali ke rumah
Kemudian tangis adalah tragedi
Segala yang ia miliki
dirampas oleh dunia

Ia melempar kailnya ke muara
berharap menemukan teman
Namun yang tampak seolah bidadari
memanggilnya, dan ia menyelam
sampai lupa manusia tak punya insang

(2019)

Puisi ini terinspirasi dari Cerita Rakyat Banyuasin, Asal Mula Desa Tanjung Agung.


Baca juga: Puisi | Mengusir Setan


 

Puisi | Lanang Penyungkan (dari Cerita Rakyat Banyuasin, Rumah Lame)

Mereka membuat rakit, dan mengikatnya dengan
rasa sakit. Ingatan tentang Yusuf yang rupawan
dibuang di sebuah sumur, lalu diselamatkan sebagai
budak, membuat keenam kakak lupa umur.
Namun bukan iri, bukan dengki. Hanya tak rela
bapaknya didurhakai.

Mereka membuat rakit, lalu mengabaikan dendang
tentang kesek dan labu parang. Berharap dan tidak
berharap tuah. Bila tuah, kembalilah. Bila tanpa, hilanglah.
Biar arah tercabut dari akarnya.

Sampai mereka menutup mata, dan mengingat dulu
pernah ada hamba, duduk di bawah sebuah pohon
lalu menjadi Buddha

Seperti itu pula kemudian, rakit itu tersangkut
di sebuah Kayu Bayur. Tak ada sumur, sebab Musi berkelana
hingga jauh. Segala bisa terhanyut, namun tidak ia.
Yang terbangun dan papah, memandang diri tak berdaya
Sirna sudah segala keengganan, namun matahari bersinar
Diraba dadanya, masih cukup jumlah debar.

Ia pun mulai membangun rumah, dari segala yang terlewat
Sambil mengingat mereka yang membuat rakit, saat ia tertidur
menolak pergi ke sawah, merambah kasih Tuhan
lewat bibit dan lumpur.

Lalu ia letakkan segala yang berharga dan tidak berharga
dan menerapkan mantra, siapa saja boleh memilih gila
kehilangan akalnya, bila mencuri di Rumah Lama.

 

Puisi ini terinspirasi dari cerita rakyat Banyuasin berjudul Asal Mula Rumah Lama Rantau Bayur.

Puisi | Biyuku (dari Cerita Rakyat Banyuasin “Putri Biyuku”)

Setelah berubah menjadi seekor kura-kura
ia tidak mengenal hutan, karena lahan
tempat ia menghina orang-orang buruk rupa
telah menjadi perkebunan sawit. Ia lupakan
rasa sakit, pergi bersama arus sungai, ke rawa
ke muara, ke mana saja–ia bisa menemukan
maaf Ayah.

Namun, begitu sulit. Ia bahkan tak mendapatkan
segerombolan kura-kura lain yang dulu menunggu
kelahirannya. Seolah-olah Tuhan telah memberikan
karma masa lalu, saat Ayah menancapkan sembilu
ke hati siapa saja yang inginkan kebahagiaan.



Bagaimana ia bisa mencemooh takdir
yang membuatnya tak bisa memilih segala sifat yang hadir?

Ia sesungguhnya hanya seorang perempuan manja
ingin segala hidup miliknya baik-baik saja

Tetapi dunia, tidak pernah baik-baik saja.

(2019)

Puisi ini diilhami dari Cerita Rakyat Banyuasin berjudul “Putri Biyuku”. Puisi ini menjadi bagian dari proyek puisi yang berasal dari cerita rakyat Sumatra Selatan, dimulai dari Banyuasin. Berikut puisi lain yang sudah diciptakan:

  1. Musi Landas
  2. Mengusir Setan

Continue reading Puisi | Biyuku (dari Cerita Rakyat Banyuasin “Putri Biyuku”)