Semangat Ramadan dengan Berbagi Kebaikan Bersama FWD

Bulan Ramadan telah berlalu. Tak ada doa yang lebih ketimbang semoga kita semua dipertemukan dengan Ramadan berikutnya.

Syukur tak habis-habis karena selama sebulan, tidak ada hari tidak berpuasa. Relatif, tubuh terjaga dengan baik, kecuali di awal-awal berpuasa, aku masih harus berkutat dengan masalah telinga. Otitis media akut. Berdenging, meradang, dan telinga terasa penuh. Hal itu membuatku merasa paranoid, karena infeksi telinga juga menjadi manifestasi dari Covid-19, meski sangat jarang terjadi. Untunglah, hal itu telah berlalu tanpa ada indikasi lain.

Cara Menjaga Kesehatan Saat Berpuasa di Tengah Pandemi

Bagaimana cara menjaga kebugaran tubuh selama berpuasa, di tengah pandemi, sambil Work From Home (WFH)?

Pertama, berpuasa bukan memindahkan jam makan.

Ada banyak orang mengira berpuasa berarti memindahkan jam makan. Bila normalnya makan sehari tiga kali, maka sahur dianggap pengganti sarapan, berbuka dianggap makan siang, dan sebelum tidur makan lagi seolah-olah makan malam.

Padahal tidak seperti itu, Berpuasa adalah menahan diri. Termasuk menahan diri dari kalap saat waktu diperbolehkan makan dan minum. Saya berbuka secukupnya. Hanya makan nasi satu kali. Camilan satu kali. Sementara saat bersahur, saya lebih banyak makan kurma dan air putih saja.

Kedua, perhatikan menu makanan.

Perbanyaklah konsumsi sayur dan buah. Hal itu saya lakukan. Mulai dari bayam hingga labu siam. Lauknya harus cukup protein dan usahakan cara memasaknya tidak terlalu banyak menggunakan minyak.

Ketiga, tambah suplemen vitamin.

Saya minum vitamin 1 kali per 2 hari. Biasanya vitamin yang saya minum mengandung vitamin C, D, dan kalsium. Hipotesis menarik bahwa Covid-19 ternyata lebih berisiko bukan hanya ke orang-orang yang memiliki penyakit komorbid, melainkan ke orang-orang yang kekurangan vitamin D. Maka selain berjemur tiap pagi, asupan vitamin D tambahan menjadi penting buat kita.

Keempat, berolahraga 30 menit sehari.

Pada awal berpuasa, aku membeli sepeda. Bekas sih. Tapi lumayan buat kunaiki pagi atau sore. Minimal 15 menit sekali bersepeda. Selain sepeda, aku membeli barbell. Awalnya yang 1 kg untuk memulai. Kubaca bahwa olahraga beban kerap diremehkan disbanding kardio. Padahal ia punya efek yang tak kalah baik dengan kardio. Di pertengahan bulan puasa, aku pun membeli barbell baru. Beratnya 3 kg. Sekarang, meski belum tampak berotot, lenganku sudah sangat keras lho. Kadang-kadang kedua hal itu kutambah dengan plank juga lho!

Kelima, kelola keuangan dengan baik.

Nah, ini tak kalah penting. Kesadaran mengelola keuangan dengan baik itu sangat penting. Kesehatan keuangan punya peran penting dalam menentukan stabilitas mental dan keluarga saat menghadapi pandemi.

Di saat itulah, aku bersyukur keputusanku 10 tahun lalu terbukti benar. Di saat banyak pekerja sektor swasta terancam PHK, pemotongan gaji… aku masih menerima penghasilan rutin secara penuh plus bekerja dari rumah. Selama Negara tidak bangkrut, penghasilanku masih aman. Meski THR tidak diterima secara penuh, tanpa tunjangan kinerja. Begitu pun gaji-13 diundur pembayarannya. Anggaran keduanya dialihkan untuk penanganan Covid-19. Kedua tambahan penghasilan tersebut pun untungnya tidak pernah kuhitung sebagai penghasilan rutin, melainkan bonus, sehingga perencanaan kasku tidak terganggu.

Teorinya, di rumah saja itu harusnya bikin hemat. Sebab, tidak ada biaya transportasi ke kantor. Makan pun lebih hemat karena sekalian masak. Hanya saja, tantangannya adalah menahan diri untuk mencamil dan belanja online berlebihan.

DI Rumah Aja Bareng FWD

Rabu, 20 Mei 2020 kemarin aku mengikuti live instagram bersama Dono Pradana dan Aidil Akbar dengan tajuk “Financial Talk with Standup Comedy”. Ini merupakan Episode ke-4 dari Di Rumah Aja Bareng FWD.

Aidil Akbar merupakan seorang Wealth Planner, profesi gabungan dari financial planner dengan wealth manager. Financial planner ini tugasnya membuat perencanaan keuangan, sedangkan wealth manager tugasnya merekomendasikan produk-produk keuangan yang ada di perbankan. Jadi ketiga digabungkan, domain Wealth Planner ya mulai dari perencanaan hingga implementasinya. Dono Pradono adalah komika asal Surabaya yang memandu jalannya talkshow sehingga lebih cair suasananya, diselingi tawa.

Selama satu jam, banyak sekali hal bermanfaat yang bisa kupelajari. Sempat diangkat fenomena seorang pegawai swasta yang punya penghasilan 20 juta/bulan. Namun karena pandemi, perusahaannya terdampak sehingga harus melakukan pemotongan penghasilan hingga 50%. Tersisa hanya 10 juta/bulan. Padahal, dia punya kewajiban cicilan rumah dan mobil yang totalnya 9,5 juta/bulan. Sehingga hanya tersisa 500 ribu/bulan untuk kebutuhan rumah tangganya.

Perencanaan seperti ini sebenarnya berbahaya. Ada semacam norma, angka psikologis utang yang diperbolehkan adalah maksimal 30% dari total penghasilan. Bahkan Negara menerapkan rasio tersebut, total utang dibandingkan dengan PDB sudah lampu kuning jika angkanya melebih 30%, dan maksimal 60%.

Alhamdulillah, saya memakai resep 10-20-30-40 dalam mengelola keuangan saya. Apa itu?

40% adalah maksimal pengeluaran untuk kebutuhan rumah tangga.

30% adalah maksimal cicilan yang sifatnya produktif.

20% adalah investasi dan asuransi.

10% adalah dana darurat, pleasure, dan sedekah.

Nah, insight baru yang penting diusahakan adalah mengubah kedaruratan menjadi peluang. Selain menahan diri dalam pengeluaran, kondisi di rumah saja memungkinkan kita untuk mencari penghasilan tambahan lho.

Saya misalnya jadi lebih banyak menulis. Selain di blog, saya kerap mengirim tulisan ke berbagai media massa. Alhamdulillah, ada beberapa tulisan bertema keuangan publik yang dimuat dan mendapatkan honor. Selain itu, optimalisasi sosial media pun menjadi penting karena peluang untuk menjadi nano-mikro influencer terbuka lebar.

Tentang #BerbagiBarengFWD

Berbagi kebaikan itu sangat penting. Setiap kali kita berbuat baik, semesta akan membalas kebaikan itu berkali-kali lipat. Islam mengenal konsep sedekah, yang secara ekstrem, beberapa ulama bahkan medefinisikan sedekah dengan frasa “Berbisnis dengan Allah” karena kepercayaan bahwa sedekah memiliki berkah yang luar biasa yang akan menjadi timbal balik.

Berbagi Bareng FWD ini adalah ajakan donasi sebesar 200.000 rupiah melalui www.kitabisa.com/berbagibarengfwd. Nantinya semua donasi #BerbagiBarengFWD ini akan disumbangkan kepada anak-anak SOS Children’s Villages Indonesia untuk melawan Covid-19. Nah, para peserta donasi akan mendapatkan Jersey dari FWD Life di akhir program sebagai ucapan terima kasih.

#BerbagiBarengFWD ini merupakan kolaborasi FWD Life bersama SOS Children’s Village. Banyak lapisan masyarakat yang kurang beruntung karena wabah ini. Anak-anak menjadi korban karena banyak dari mereka yang tiba-tiba kehilangan orang tuanya—atau ditinggal orang tuanya yang dikarantina, atau juga orang tuanya yang kehilangan mata pencaharian. Tidak kurang dari 5.500 anak asuh yang berasal dari 2.400 keluarga tercatat di SOS Children’s Village terkena dampak Covid-19.

Rata-rata satu keluarga membutuhkan kurang lebih 1 juta rupiah untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan dan sanitasi. Angka ini tidak meleset dari batas angka kemiskinan yang dimiliki Badan Pusat Statistik sebesar 400 ribuan per jiwa per bulan. Kalau punya 1 anak, ya kebutuhannya minimal sudah 1,2 juta.

Adanya gerakan kolaborasi untuk berbagi ini, FWD Life ingin membantu setiap anak masih memiliki masa depan dengan menjaga mereka agar tetap sehat, aman, dan terlindungi. Jadi, kita yang masih beruntung ini, tidak ada salahnya turut berdonasi untuk anak-anak di SOS Children’s Village. Gusti Allah Mboten Sare kok….

Baca juga: Pengelolaan Keuangan Negara

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *