Review Buku Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam karya karya Dian Purnomo

Judul : Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam
Pengarang : Dian Purnomo
Editor: Ruth Priscilia Angelina
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2020
Tebal Halaman : 320 Halaman
Ukuran Buku : 20 cm

Cermin Feminisme Pada Tokoh Magi Diela Dalam Novel “Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam” Karya Dian Purnomo

Galuh Anggun Brilianti

Isu pelecehan seksual atau kekerasan pada perempuan marak terjadi saat ini. Banyak perempuan yang menjadi korban pelecahan seksual dari laki-laki yang tidak mempunyai sopan dan santun. Mereka tidak menjungjung tinggi harga diri perempuan. Akibatnya, banyak perempuan yang merasa harga dirinya sudah tidak berarti lagi.            


“Kematian adalah kepastian, ada yang membiarkan kedatangannya menjadi misteri, ada yang menjemputnya dengan paksa.”


Maraknya pelecehan seksual pada perempuan, mengakibatkan beberapa pengarang menceritakannya dalam sebuah bentuk cerita. Dengan begitu, pembaca dapat menyadari bahwa masih banyak perempuan di luar sana yang nasibnya kurang beruntung. Salah satu penulis yang ada di Indonesia yakni Dian Purnomo, penulis tersebut memiliki perhatian khusus pada isu-isu sosial seperti isu perempuan dan perlindungan anak. Hasil karyanya yang mengangkat isu pelecehan seksual pada perempuan yakni novel bertajuk “Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam”.           

Hal berbeda saya peroleh dari pengarang Dian Purnomo melalui novelnya yang berjudul “Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam”. Novel tersebut memuat jalan cerita yang maju, sehingga dapat dengan mudah dipahami oleh pembaca. Gambaran cerita yang diceritakan oleh Dian Purnomo dalam novel tersebut sangat jelas. Pembaca seolah-olah dapat merasakan apa yang sedang dirasakan oleh tokoh didalam novel tersebut.

Magi Diela, gadis yang berasal dari tanah Sumba. Dia merupakan lulusan sarjana Pertanian di Yogyakarta. Setelah mengenyam pendidikan, dia kembali ke Sumba. Dia berharap dapat mempratikkan ilmunya di tanah kelahirannya. Namun nasib berkata lain, dia menjadi korban dari tradisi Yappa Mawine, saat akan berangkat bekerja di dinas Pertanian Waikabukak. Tradisi tersebut sangat melekat di tanah Sumba dan merupakan tindak kejahatan terhadap perempuan. Sebagai seorang perempuan, Magi Diela tentunya tidak bisa tinggal diam merenungi nasibnya dan menjatuhkan hari dirinya begitu saja. Magi Diela ingin pelaku yang sudah melakukan hal tidak baik padanya ditangkap dan mendaptkan balasan yang setimpal.                                                             

Leba Ali, ia merupakan pelaku yang sudah melakukan pelecehan seksual kepada Magi Diela. Dia merupakan orang yang berpengaruh di tanah Sumba. Dengan kekuasaan yang ia miliki, ia menyalahgunakan kekuasaannya itu untuk melakukan hal tidak baik.

Menariknya dari novel “Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam” yakni pengorbanan Magie Diela terhadap dirinya sendiri untuk mendapat keadilan atas ketidakdilan yang telah diterima. Disatu sisi lain, Magi ingin mendapat keadilan. Walaupun perjuangan Magie Diela mendapat keadilan banyak dari warga Sumba, ketua adat dan bahkan keluarga tidak menghiraukannya. Mereka mengganggap hal itu adalah batas wajar dan merupakan tradisi setempat.

Tidak ada yang berpikir kalau hari itu Magi akan kabur dari rumah. Hari ini adalah seminggu persis sebelum renacana pernikahannya dilaksanakan. Magi merasa bahwa jika tidak pergi sekarang maka waktunya sudah benar-benar habis. Menunda pergi berarti menyerah masuk ke kandang macan (hlm 117).

Tiba di kupang, Magi dijemput dengan motor oleh Siti, salah satu relawan Gema Perempuan yang akan memberinya rumah aman untuk sementara (hlm 138).   

Gerakan yang dilakukan oleh Magi Diela merupakan gerakan feminisme. Feminisme merupakan gerakan sosial, ideologi dan politik untuk mencapai kesetaraan gender. Magi Diela ingin membuktikan bahwa anggapan perempuan itu lemah adalah salah. Dia akan melawan atas ketidakdialan yang telah diterima.                                                              

Magi berencana untuk pulang ke Sumba. Dia berharap tidak jadi menikah dengan Leba Ali, namun perkiraan Magi salah, ia akan tetap menikah dengan Leba Ali. Pernikahanpun berjalan, Magi Diela telah menjadi istri Leba Ali. Sampai pada suatu hari, Magi diperlakukan kasar oleh Leba Ali dengan keji. Magi yang kala itu sudah tidak sanggup lagi akhirnya pergi secara diam-diam dari rumah Leba Ali dan melaporkannya ke polisi.

Dengan keterbatasan pandangan karena daerah dekat matanya mulai bengkak, Magi langsung menuju kantor polisi. Tidak mudah untuk Magi bisa sampai di sana dengan selamat. Beberapa kali dia nyaris kehilangan kesadaran dan motornya selalu mengarag ke kiri. Namun, Magi bertahan. Sesampainya di gerbang kantor polisisi, perasan lega yang merasuki dadanya membuat Magi tak lagi sanggup berhenti dan memarkirkan motornya dengan benar (hlm 297).               

Hal yang dilakukan oleh Magi Diela, benar-benar membuktikan bahwa dia perjuangan atas ketidakdilaan yang selama ini dia. Perjuangan yang selama ini dia tempuh, akhirnya dapat berlabuh. Dia dapat melaporkan pelaku pelecehan seksual.            

Dipenjarakannya Leba Ali selama tujuh tahun, maka berhasil sudah perjuangan Magi Diela untuk memperjuangkan harga dirinya sebagai perempuan. Walaupun tuntutan tersebut tidak sesuai dengan jaksa, tetapi masih lebih baik Leba Ali dipenjara.            

Kisah Magi Diela dalam novel bertajuk “Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam” yang ditulis oleh Dian Purnomo, mengaduk perasaan pembaca. Pembaca dapat merasakan apa yang dirasakaan oleh tokoh Magi Diela yakni berupa kekecawan, ketakukan, sedih, tidak berdaya dan lainnya. Selain itu, pembaca juga ikut merasakan bagaimana perjuangan Magi Diela mendapat keadilan untuk dirinya. Berbagai strategi yang Magi Diela gunakan.                                                                                                                

Penulis Dian Purnomo, menginsprirasi perempuan untuk terus berjuang dan melawan ketidakadilan yang didapat. Pembaca juga mengetahui bahwa tradisi masih mengingat di daerah tertentu. Perempuan dibuat tidak berdaya untuk melawan tradisi, perempuan dibuat seolah-olah untuk tunduk kepada tradisi yang sudah berkembang di masyarakat setempat. Padahal tradisi atau kebudayaan dapat berubah seiring berkembangnya kemajuan dan teknologi.                                                     

Alur cerita yang disajikan dalam novel tersebut tidak terlalu rumit, sehingga mudah untuk diikuti oleh pembaca. Pembaca dibuat untuk tidak berhenti membacanya, setiap berganti bab, pembaca dibuat penasaran kisah selanjutnya dan membuat novel ini merasa cepat terselesaikan dibaca.            

*Penulis: Galuh Anggun Brilianti, lahir di Banyumas 10 Oktober 2001. Mahasiswa program sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UMP. Ia saat ini tinggal di Tambaknegara, Kecamatan Rawalo Kabupaten Banyumas. Ia dapat dihubungi melalui ig: @galuhanggunbri.

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *