Atavisme | Cerpen Budi Darma (Kompas, 12 Januari 2020)

Beberapa tahun lalu ada berita, seorang mahasiswi Indonesia bertemu secara ajaib dengan mahasiswa asal Sudan di kampus SOAS, Universitas London.

Waktu itu dia menunggu lift, akan naik ke lantai 5. Begitu lift membuka, pandangannya tertusuk oleh pandangan mahasiswa Sudan, dan pandangan mahasiswa Sudan pun tertusuk oleh pandangan mahasiswi Indonesia. Hari itu juga mereka memutuskan untuk menjadi suami istri, dan tiga bulan kemudian mereka benar-benar sudah menjadi suami istri. Inilah atavisme: dalam kehidupan zaman dahulu, entah kapan dan di mana, dua orang ini tidak lain adalah suami istri, kemudian meninggal, oleh kekuatan alam yang tidak mungkin diuraikan, mereka dipertemukan kembali.

Pertemuan saya dengan Susan juga mirip, meskipun berbeda. Susan mahasiswa Ilmu Politik, saya mahasiswa Sastra Inggris, dan dalam semester musim gugur sama-sama mengambil mata kuliah psikologi. Begitu masuk kelas pada awal semester, pandangan Susan menancap pada pandangan saya, dan pandangan saya menancap pada pandangan Susan. Atavisme. Kami langsung mengasihi dan menyayangi. Mungkin dalam kehidupan kami dahulu, entah kapan, Susan dan saya adalah saudara kandung. Saya abang Susan, dan Susan adik saya.

Saya tinggal di asrama dalam kampus, dan Susan tinggal di karavan di pinggir kota, jauh dari kampus. Ada banyak jalan untuk mencapai karavan, antara lain jalan berliku-liku mengikuti aliran sebuah sungai kecil. Sungai mengingatkan Susan pada kota kelahirannya, Newhaven, dan ada pula beberapa jalan lain, di antaranya, jalan melewati semak belukar di antara gedung-gedung tua yang sudah lama tidak dihuni.

Karena kebetulan kuliah Susan di Departemen Ilmu Politik dan kuliah saya di Departemen Humaniora dimulai jam 14, kami biasa belajar bersama di Perpustakaan Universitas sampai larut malam, bahkan kadang-kadang sampai menjelang fajar.

Baca juga: Tarom, Cerpen Budi Darma

Sementara itu daun-daun pohon berangsur-angsur menjadi kuning, angin makin hari makin kencang dan pohon-pohon makin gundul, siang hari makin pendek dan malam hari makin panjang, dan cuaca makin hari makin dingin, sebelum akhirnya gumpalan-gumpalan salju melayang-layang, lalu jatuh ke tanah setelah ditiup angin ke sana kemari. Meskipun Susan berani pulang sendiri tapi saya tidak sampai hati, dan karena itu kadang-kadang saya mengantar dia pulang, dan kadang-kadang juga saya menginap di karavannya, atau dia menginap di asrama saya.

Sejak salju pertama turun, kami merasa, segala gerak kami sering diawasi oleh seseorang terutama pada saat kami menuju ke karavan Susan. Kadang-kadang kami berjalan cepat, dan orang itu ikut berjalan cepat, lalu kami berjalan lambat, dia pun berjalan lambat, lalu kami berhenti dan saya pura-pura mengencangkan tali sepatu, dan dia ikut berhenti pula. Dia selalu bersembunyi, mungkin di balik semak-semak, di balik pohon raksasa, atau juga menyelinap di gedung-gedung tua. Karena salju sering turun, maka jejak sepatu orang itu mudah kami kenali. Dan ternyata beberapa kali dia ganti alas sepatu. Dan ketika saya menginap di karavan, orang itu berkeliaran tidak jauh dari karavan.

“Mari kita tangkap dia,” kata saya pada suatu malam.

Susan setuju, lalu kami sama-sama membeli sepatu ringan, peluit, dan borgol. Tampaknya orang itu tahu, dan selama beberapa hari tidak muncul. Pada saat dia muncul lagi, kami sengaja berjalan perlahan-lahan, lalu berhenti sebentar, lalu dengan kecepatan penuh Susan lari, melompat-lompat di antara semak-semak, kemudian saya memasuki celah gedung-gedung tua.

Tidak lama kemudian terdengarlah bunyi peluit, dan dengan kecepatan kilat saya menuju ke sana. Susan sedang bergulat dengan seorang laki-laki, dan saya pun segera menyergapnya.

“Saya orang baik-baik,” suaranya gemetar, kepalanya menunduk.

Ketika saya mengeluarkan borgol, dia berkata, tetap gemetar dan tetap menunduk: “Saya bukan orang jahat.”

Setelah sampai karavan, Susan bertanya: “Nama kamu?”

“George.”

“Nama lengkap?”

“George Rodam,” katanya, tetap gemetar dan tetap menunduk.

Susan dan saya terbahak-bahak. Nama terkenal. Dia sering menempelkan plakat di beberapa asrama kampus, terutama asrama khusus mahasiswi dengan berbagai kalimat, intinya, tidak ada mahasiswi yang tidak gatal. Semua jalang. Suka menguber-uber laki-laki berandalan. Mahasiswa yang serius justru dilecehkan. Cinta suci saya dibuat bahan tertawaan.

“Tinggal di mana?”

Dia diam, menunduk.

“Kalau kamu mau, malam ini kita bisa tidur di sini bertiga,” kata Susan.

Karena capai, Susan dan saya tertidur. Ketika kami bangun, dia tidak ada.

Waktu berjalan terus, sampai akhirnya liburan tahun baru tiba. Sebelum liburan tiba, beberapa kali George berkirim surat kepada Susan. Kalimatnya macam-macam, intinya sama: saya mau, saya serius. Tanpa alamat.

Kami mencari dia dengan berbagai cara, tidak berhasil. Dalam buku besar daftar mahasiswa dia juga tidak ada.

Susan menempelkan catatan kecil di sudut-sudut kampus: “George Rodam, apa kabar?” dan dia tidak pernah muncul.

Ketika kami akan naik bus menuju Newhaven, dia tampak berkelebat sebentar, lalu menghilang.

Selama perjalanan salju turun, menyelimuti pohon, mobil, dan rumah, dan mobil-mobil pengeruk salju tidak pernah berhenti menyekop timbunan salju, dan setelah mendekati Newhaven salju berhenti total, dan matahari bersinar terang.

Ayah Susan tampak gagah, jangkung, kakinya panjang, mirip juara sprinter, dan ibu Susan cantik dan anggun, mirip Susan.

Mereka memuji-muji saya, dan senang karena saya mau menjadi teman baik Susan.

Salju tidak pernah turun lagi, dan matahari terus memancar tanpa dihalangi oleh awan.

Ketika kami sedang duduk-duduk di ruang tamu, dengan mendadak kuping Susan terangkat, lalu dia menengok ke luar, terus lari bergegas ke telepon, menelepon Kantor Pemadam Kebakaran: “Buaya!”

Pasukan Pemadam Kebakaran datang, diikuti oleh polisi. Setelah berjuang keras, akhirnya mereka membekuk buaya itu, mengikat mulut dan semua kakinya. Buaya besar. Mungkin buaya itulah yang pernah mencaplok berbagai binatang peliharaan.

Buaya memang mempunyai kemampuan istimewa. Pada saat air membeku, buaya bisa membekukan diri, dan setelah begitu udara bergerak hangat, buaya bisa membuat tubuhnya hangat, dan beringas kembali. Buaya bisa bersembunyi di dalam air, melompat ke darat, mencaplok korbannya.

***

Atas anjuran ayahnya, Susan mengajak saya naik mobil mengelilingi Newhaven. Ketika sampai di Balai Kota Susan berhenti sampai lama, memandangi bangunan besar mempesona itu. Matanya berkaca-kaca.

Dia bercerita, ketika masih kecil dia bertanya kepada ayahnya untuk apa gedung itu. Ayahnya menjelaskan, itu kantor Walikota, lalu dia bertanya apa Walikota itu. Ayahnya menjelaskan, Walikota menyejahterakan semua warga kota, mengatur kebersihan kota, memberantas sumber penyakit, mengamankan kota dari segala macam ancaman.

“Sejak saat itu, Bodas, saya ingin menjadi Walikota Newhaven, kota tempat kelahiran ayah saya, ibu saya, dan saya sendiri.”

Dia menjatuhkan kepalanya ke dada saya sambil menangis sesenggukan, minta saya berdoa agar cita-citanya berhasil.

Akhirnya dia berkata: “Di belakang rumah Walikota ada sungai. Sangat indah.”

Memang beberapa kali dia berbicara mengenai politik, dan dia mengaku sebagai kader Partai Demokrat, tapi baru kali inilah saya tahu keinginannya. Dia tidak memilih Partai Republik karena sekian banyak presiden dari Partai Republik menyombongkan diri sebagai polisi dunia, juru selamat seluruh umat manusia, dengan jalan memerangi negara-negara lain yang belum tentu menanggung dosa.

Baca juga: Bukan Mahasiswa Saya, Cerpen Budi Darma

Setelah Susan tenang, kami menyusuri berbagai macam sungai, sampai akhirnya tiba di Sungai Detroit, dan tampaklah lalu lalang kapal berbagai ukuran. Musim salju, tapi salju tidak lagi turun. Ada beberapa jalanan yang saljunya membeku menjadi es, dan beberapa pejalan kaki tergelincir, kadang-kadang terlihat menyedihkan, tapi juga terasa lucu. Kami terus melaju, bukan melalui jalan besar, tapi jalan kecil sepanjang sungai.

Di suatu tempat yang indah kami turun, Susan mencari telepon umum, minta izin untuk menginap di luar kota, dan ayahnya dengan penuh semangat memberi izin. Kami melanjutkan perjalanan ke Detroit, kota paling besar di negara bagian Michigan. Sepanjang sungai tetap tampak kapal berbagai ukuran berseliweran.

“Jumlah kapal tidak seramai dulu,” kata Susan. “Detroit, kota penghasil mobil terbesar di seluruh dunia, terancam ambruk. Orang Amerika suka mobil besar, makan banyak bensin, potongannya kaku, padahal dunia menghendaki mobil-mobil kecil yang lebih lincah dan hemat bensin. Partai Republik ingin menguasai dunia tanpa menyadari, bahwa negara ini tidak mungkin berdiri sendiri tanpa kerjasama dengan negara-negara lain. Lihatlah mobil-mobil Jepang. Bukan hanya lincah, tapi modalnya juga merupakan himpunan modal banyak negara. Tahukah kamu, Bodas, sebagian besar roda mobil Jepang itu buatan Jakarta, bannya buatan Bogor, kuncinya buatan Thailand, joknya buatan India? Naik mobil Jepang berarti naik mobil global, tidak seperti naik mobil Amerika.”

“Negara ini besar dan kuat, Susan.”

“Betul, tapi dunia berubah. Orang-orang Partai Republik masih dihinggapi megalomania kebesaran negeri ini.”

***

Susan dan saya lulus bersama-sama, dan menunggu wisuda bersama-sama. Kebetulan nilai kami juga sama, yaitu empat bulat. Kami diwisuda bersama-sama, dan setelah wisuda usai kami berangkulan erat sekali, seolah-olali tidak ingin lepas. Dan kami menangis bersama-sama, sebab kami tahu, kami harus segera berpisah.

Saya pulang ke Surabaya, dan waktu berjalan terus, dan Susan berhasil mendirikan Biro Konsultasi Psikologi dengan jumlah pasien yang makin banyak. Tapi ada sesuatu yang mengganggu: George kadang-kadang berkelebat, tetap menunduk, kemudian menghilang.

Ketika Susan berkampanye untuk menjadi walikota, tiba-tiba George muncul, membawa poster pemenangan Susan, tetap dengan wajah menunduk. Susan menang, dan beberapa bulan kemudian dia resmi menjadi walikota. tinggal di rumah dinas.

Sungguh mengherankan, entah bagaimana caranya, George sering muncul di pekarangan belakang rumah Walikota, duduk di atas batu di bibir sungai, sambil menunduk seperti sedang berlatih yoga.

Pada suatu hari datanglah berita mengejutkan: George disambar buaya, sisa-sisa tubuhnya tidak bisa ditemukan.

“Bodas, datanglah segera. Bulan depan musim panas akan tiba. Waktu berburu buaya dilegalkan selama sepuluh hari. Hanya sepuluh hari. Sesudah itu, ilegal.”

Susan mengaku, setiap kali latihan menembak, bayangan George berkelebat di otaknya, dan tidak ada satu peluru pun yang menghunjam ke sasarannya.


Budi Darma, lahir di Rembang, Jawa Tengah, 25 April 1937, sebagai anak pegawai Kantor Pos. Setelah lulus S-l di Universitas Gadjah Mada, ia menjadi pengajar di IKIP Surabaya (sekarang Universitas Negeri Surabaya/Unesa). Menulis novel fenomenal Olenka dan kumpulan cerpen Orang-orang Blomington. Dua buku ini berisikan kisah-kisah manusia dengan latar di Amerika Serikat, tempat Budi pernah belajar.

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *