Review Buku Laut Bercerita karya Leila S. Chudori

Laut Bercerita: Saat Kata-Kata Berdiri Setangguh Api
oleh Wahid Kurniawan

Judul : Laut Bercerita
Penulis : Leila S. Chudori
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Terbit : Cetakan ke-19, 2021|
Tebal : 394 Halaman
ISBN : 978-602-4246-94-5

Laut Bercerita karya Leila S. Chudori masih menjadi primadona pembaca sastra di Indonesia. Kali pertama dirilis tahun 2017 yang lalu, novel ini sudah mengalami beberapa kali cetak ulang, bahkan kabar pembuatan adaptasi film atasnya pun santer terdengar di jagat media maya. Atensi publik yang haus bacaan bermutu, utamanya bernilai sejarah, menjadi alasan betapa larisnya novel ini di pasaran. Maka kita tidak perlu heran, bila peletakkannya di rak-rak toko buku tidak pernah absen dari baris “buku Bestseller”. Gambaran ini, lantas membuat kita bertanya-tanya, keistimewaan apa yang dimiliki oleh novel setebal 394 halaman ini?

Secara garis besar, novel ini membagi dirinya menjadi dua alur utama: alur yang datang dari tokoh Biru Laut, dan alur yang datang dari adiknya, Asmara Jati. Pembagian itu dibuat dengan perbedaan besar: latar waktu Biru Laut ada di kondisi Indonesa pra Reformasi, sementara latar waktu Asmara Jati berkisah kala Reformasi sudah terjadi, atau tahun 2000-an. Alur pertama, yaitu manakala bagian Biru Laut dikisahkan menjadi pondasi utama cerita yang kelak menyokong bagian berikutnya. Dikisahkan, Biru Laut adalah mahasiswa Sastra Inggris di Universitas Gadjah Mada yang begitu menggilai bacaan. Tak tanggung-tanggung, level bacaan yang digandrunginya bukan saja buku-buku yang ramai beradar kala itu, melainkan Biru pun menggandrungi karya dari pengarang yang kala itu dicekal, yaitu Pramoedya Ananta Toer.

Kita tentu mahfum, rezim Orde Baru memang melakukan sensor terhadap beberapa karya dan penulis tertentu yang dinilai berbahaya untuk kestabilan negara. Di situlah, karya Pram (Panggilan Pramoedya Ananta Toer) masuk ke rombongan karya yang dilarang. Kala itu, sebagaimana yang ditunjukkan oleh Biru Laut, untuk membaca karya Pram, orang-orang harus melakukannya secara sembunyi-sembunyi. Tak jarang, mereka pun mengkopi karya tersebut di tempat tertentu, lantas membungkusnya dan membacanya di tempat yang aman. Perkara membaca buku jadi aktivitas yang kucing-kucingan, sebab kalau kita tidak mau kena masalah, kiat sembunyi-sembunyi itu mesti dilakukan.

Kala tengah mengurus salinan karya itulah, Biru Laut berkenalan dengan gadis bernama Kinan. Dari gadis itu, Biru masuk ke organisasi bernama Winatra dan Wirasena yang beorientasi membebaskan masyarakat dari belenggu rezim yang menolak kebebasan berekspresi. Dalam praktiknya, Biru Laut dan teman-temannya aktif menggelar diskusi sebelum melakukan tindakan yang berpihak pada rakyat jelata. Dari diskusi itu pula, mereka melakukan aksi “Tanam Jagung Blangguan” di sebuah desa bersama para petani yang mengalami ketidakdilan akibat rezim Orde Baru. Sayangnya, aktivitas itu justru membahayakan diri mereka, sebab tangan-tangan rezim tidak menghendaki hal tersebut. Mereka dicap merah, kegiatan mereka terus dipantau, bahkan seorang intel sampai menyusup untuk mengawasi gerak-gerik organisasi.

Sebagaimana kita tahu, orang-orang seperti Biru Laut seperti menebar mala untuk diri mereka sendiri. Puncaknya, Biru dan anggota lainnya pun diculik. Mereka disiksa oleh sekelompok orang, ditekan demi mengakui siapa dalang dari aktivitas yang mereka lakukan. Di bagian inilah, kita akan mendapati penggambaran penyiksaan yang sedemikian tidak manusiawi, sebab segalanya tampak nyata, dari mulai proses penyentruman, perendaman di air es, diinjak kakinya dengan kaki meja, sampai diinjak-injak hingga tak sadarkan diri. Biru Laut mengalami semua siksaan itu, sampai ia bisa kabur, dan sayangnya, kelak diculik dan tak kembali lagi. Babakan saat ia hilang itulah yang menjadi tirai pembuka dari bagian kedua milik Asmara Jati.   

Seperti yang sudah disebut, bagian milik Asmara Jati ini bertarikh ketika rezim Orde Baru tumbang dan menyisakan PR besar yang belum usai: Hilangnya sejumlah aktivis. Dari daftar nama yang hilang itu, pembaca pun dihadapkan pada fakta kalau Biru Laut menjadi salah satunya. Upaya keluarga dan lembaga yang berorientasi HAM terus melakukan pencarian, dan ini pula yang dilakukan oleh Asmara Jati selaku adik dari Biru Laut. Pembaca akan disuguhi berbagai efek yang ditimbulkan dari hilangnya seseorang, dari luka yang menganga lebar di benak keluarga yang ditinggalkan sampai betapa negara tidak bisa menjaga nyawa anggota rakyatnya, sebab ada suatu masa ketika nyawa itu tak lebih penting dari kerikil yang menyembul di sebuah jalan: Mengganggu dan patut ditendang.

Dari situ, kalau kita berbicara mengenai pesan moral, agaknya orang lain telah banyak menulis mengenai betapa novel ini menunjukkan kenyataan pahit orang-orang pada satu rezim yang begitu tak menghargai hak asasi manusia. Babakan zaman itu memang nyata, sebagaimana pondasi novel ini yang terdiri dari sekian data, hasil wawancara, dan sumber-sumber sejarah, kendati ia tetap berlabel sebagai fiksi sejarah. Sebagai karya fiksi, mungkin segalanya tidak bisa kita percayai, tetapi sebagai fiksi pula, ia mengejewantahkan fakta-fakta sejarah dalam jalinan kisah yang sarat pemantik permenungan. Sisi humanis lainnya, kisah Biru Laut ini memiliki implikasi figur pemuda yang percaya bahwa lewat kata-kata dan berlandaskan kata-kata, perjuangan menentang ketidakadilan itu bisa dijalankan.

Kita tahu, Biru Laut seorang mahasiswa sastra, dan ia percaya kalau kata-kata menjadi pemantik penting dalam semangat juangnya. Dengan membacai karya-karya seperti karya Pram, timbul kesadaran akan situasi tidak adil di sekitarnya, dan ia ingin mengubah hal itu. Maka, selain bergerak di organasasi, ia pun rajin menerjemahkan karya-karya penting dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, semata-mata lantaran ia percaya karya itu bisa meniupkan semangat dan kesadaran serupa kepada orang lain. Oleh sebab itu, tidak heran kalau sosok ini berpijak di jalan literasi yang diyakininya bisa mengubah alur bangsa dan menghadirkan situasi yang lebih baik lagi.

Inilah keunggulan lain dari novel ini, bahwa lewat figur Biru Laut, pembaca bisa mendapati semangat serupa, selain soal kesadaran akan masa lalu yang kelam. Pembaca jadi paham, bahwa situasi yang melarang kata-kata, terutama dalam karya sastra, dibatasi untuk dibaca, ditelaah, diresensi, dan diperbincangkan, maka itulah situasi yang tidak baik bagi kemajuan sebuah bangsa. Dengan kata lain, kata-kata bisa saja menjadi monumen pengingat, tetapi bukan sebatas mengingatkan, sebab ia pun menjadi api bagi semangat juang demi mencapai kemanusiaan yang adil dan beradab. Persis seperti yang dilakukan novel ini kepada seluruh pembacanya.

Tentang Penulis

Wahid Kurniawan, penikmat buku, mahasiswa Sastra Inggris di Universitas Teknokrat Indonesia.

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *