Review Buku 00.00 karya Ameylia Falensia

BENTUK KEKERASAN TOKOH UTAMA DALAM NOVEL “00.00” AMEYLIA FALENSIA
oleh Ananda Fitria Ramadhanti

         Menikmati sebuah karya sastra, khususnya dalam bentuk Novel, tentu akan membuat penikmat sastra seakan ikut terjun mengikuti aliran seluk-beluk segala percikan permasalahan antara suka dan duka yang disampaikan pengarang. Hingga pada nantinya penikmat karya sastra akan sadar bahwa ternyata akhir dari segala kenikmatan yang dilaluinya bertujuan untuk mendapatkan pesan atau maksud tersirat yang disampaikan pengarang melalui ceritanya.

         Begitu juga dengan novel yang saya peroleh yang dilapisi sampul berwarna hitam dengan ilustrasi bayangan wanita berambut panjang dari pengarang Ameylia Falensia dengan judulnya 00.00 (Agustus,2021). Novel ini bermula dari sebuah cerita Wattpad kemudian diterbitkan dalam bentuk Novel fiksi yang memuat 280 halaman, cerita yang disuguhkan cukup rumit dan tajam, segala bentuk konflik yang berbeda pada setiap sub babnya menjadikan pembaca dibuat penasaran dengan kelanjutan alur ceritanya. Novel fiksi ini sangat menarik untuk dinikmati kalangan remaja, selain itu pesan yang disampaikan juga bisa menjadi bentuk pembelajaran bagi para orangtua dalam membangun keluarga yang penuh kasih sayang, kepercayaan dan saling menghargai. Sebagian besar dari cerita ini adalah menyajikan duka dan kesedihan yang tak disangka bisa mengundang tangis bagi para pembaca.

         Ameylia Falensia membuat cerita dalam novelnya dengan kehidupan penuh lika-liku yang dialami tokoh utama yang bernama Lengkara Putri Langit, mulai dari pertikaian keluarga, percintaan, hingga pertemanan. Sebagian besar isi novel yang disuguhkan penulis berkaitan dengan rintangan kehidupan yang penuh konflik dan permasalahan, sehingga berdampak besar pada luka batin, fisik dan juga mental tokoh utama dalam novel ini. Disisi lain penulis juga menjelaskan mengenai sosok Lengkara tentang bagaimana ia mempertahankan hidupnya dikala benteng pertahanan dari keluarga yang dianggapnya rumah telah membuatnya hancur. Membaca novel ini mengingatkan saya dengan kehidupan disekitar saya tentang banyaknya kekerasan yang diberitakan diberbagai media, mulai dari kekerasan orangtua, pembullyan dalam lingkup pertemanan dan bentuk kekerasan/penindasan lainnya.

         Novel ini menceritakan tentang seorang gadis remaja SMA yang bernama Lengkara Putri Langit dengan berbagai permasalahan hidupnya. Perubahan besar dalam kehidupannya bermula karena keluarga yang begitu ia cintai hancur atas dasar perceraian orangtuanya. Sedari kecil Lengkara memang selalu dituntut untuk menjadi versi yang terbaik dan berprestasi oleh orangtuanya dalam bidang apapun itu, khususnya pendidikan di sekolah, namun sayangnya motivasi dan dukungan yang diberikan orangtuanya dengan cara yang salah bukan menjadikan dirinya semakin maju melainkan menjadikannya memiliki ketakutan yang besar atas kegagalan atau kesalahan kecil yang menimpanya, karena ketika kesempurnaan itu pudar sedikit saja, imbas yang akan didapat bukanlah dorongan semangat, melainkan segala bentuk kekerasan dan bentuk perbandingan dengan orang yang dianggapnya lebih unggul, yang tentunya akan membuat luka batin dan fisiknya, bagi Lengkara itu merupakan hal yang biasa, namun setelah perceraian itu, mengharuskan ia memilih untuk ikut tinggal bersama Ayah, Ibu tiri dan adik tirinya yang menjadikan permasalahan dalam hidupnya semakin besar dan tiada henti.

         Kehadiran adik tirinya membuat kebahagiaan Lengkara seakan direnggut begitu saja, mulai dari segala bentuk adu domba yang membuatnya semakin berjarak dengan Ayahnya, permasalahan disekolah, percintaan dan persahabatan semua dihancurkan begitu saja olehnya. Lengkara merasa bahwa kedatangan sosok baru dalam kehidupannya membuatnya merasa amat terusik, seringkali ia berfikir bahwa hidup ini keras dan dirinya merasa tak diberikan kekuatan untuk melawan semua permasalahan yang berdatangan, ia merasa sangat kecil untuk semestasanya yang luas dan merasa sangat lemah untuk dunianya yang kejam.

         Hal yang paling ditonjolkan dalam novel ini adalah berbagai bentuk kekerasannya. Dimana dijelaskan bahwa orangtua Lengkara memiliki mimpi setinggi langit, menaruh harapan besar kepada dirinya, sedangkan Lengkara selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik meski pada akhirnya ia merasa bahwa dirinya tak mampu memenuhi segala bentuk ekspetasi orangtuanya yang tak terkendali, ia merasa bahwa segala hal yang ia berikan selalu kurang dimata orangtuanya, bahkan tidak ada sedikitpun apresiasi untuk dirinya. Semua digambarkan dalam novel ini pada saat Lengkara tidak mendapatkan nilai ulangan sempurna, padahal nilai tersebut adalah nilai yang tinggi dikelasnya.

“Kamu gila, Kara!,Kamu mau kita diinjak-injak sama keluarga baru papa kamu itu?!”

Setelah melempar robekan kertas ulangan itu ke wajah Lengkara. Wanita itu terdiam sejenak sebelum akhirnya kembali bersuara, “Kenapa anak mama bukan Nilam aja!”

“Pranggg!”

Piring itu meleset dan hancur begitu mengenai dinding dibelakang tubuh Lengkara. Nina kembali melempar piring kearah Lengkara, dan lemparan kali ini tepat sasaran. Piring itu mengenai wajah Kara, sebelum akhirnya jatuh ke lantai dan pecah.

“Nyesel Mama ngelahirin kamu!. (hlm. 21-23).

Segala bentuk permasalahan yang Kara hadapi dari kecil membuat dirinya memiliki ketakutan dan perasaan tidak tenang saat tidur sendiri, karena setiap ia tidur selalu dibangunkan untuk belajar dan ditarik paksa hingga diguyur air oleh orangtuanya. Kekerasan itu terus berlanjut saat ia didiskualifikasi oleh pihak sekolah karena tuduhan adik tirinya (Nilam) yang menganggap bahwa Karalah yang telah membakar tugas yang dikerjakannya untuk seleksi olimpiade.

“KENAPA?!” Erik menggebrak meja kerjanya.

“Dari adik kamu saja, kamu kalahhh!!” Pria paruh baya itu berjalan mendekat ke arah Lengkara setelah melempar gadis itu ke lantai.

“Apa yang bisa saya banggakan dari kamuu?!! Tidak ada yang bisa saya banggakan!!”. Erik menoyor kepala anak perempuannya itu.

“TIDAK ADA LENGKARA!” Tangannya begitu ringan melayangkan pukulan kembali ke kepala Lengkara.

“Plak!!, Anak kurang ajar!”

Tendangan kuat mendarat dikepala Lengkara Putri Langit, membuat kepala gadis itu menghantam lantai. (hlm. 50-51).

Permasalahan itu terus berlanjut ketika adik tirinya merencanakan sesuatu yang jahat pada Kara, ia membayar dan menyogok teman kelasnya untuk bekerjasama dengannya, tentang kejadian Nilam (adik tirinya) yang sengaja menjatuhkan dirinya dari lantai 2 sekolahnya saat sedang berhadapan dengan Kara, peristiwa itu terjadi seakan-akan disebabkan oleh Kara, terlagi ketika teman bayaran adik tirinya itu mengaku-ngaku menjadi saksi mata atas kejadian tersebut. Dari kejadian itu ia selalu membela diri, meskipun tiada hasil yang didapat. Ia sangat kacau dan terpuruk terlagi ketika orangtua,kakaknya, kekasih, sahabat dan guru yang dekat disekolah sama sekali tak mempercayainya. Sejak kejadian peristiwa itu Lengkara yang dianggap bintang sekolah yang selalu berprestasi menjadi sasaran bullyan paling utama dilingkungan sekolahannya.

“PSIKOPAT! MONSTER! MANUSIA RENDAHAN!

MATI LO! PARASIT! SAMPAH!” (hlm. 154)

Beberapa saat yang lalu, dirinya baru disiram dengan seember air perasan pel. Bau busuk tercium menyengat di hidung Lengkara, gadis itu benar-benar mual. (hlm.160).

Segala bentuk permasalahan yang menimpa kehidupannya, seringkali membuatnya tidak kuat dengan berbagai rencana yang Tuhan berikan padanya, sesekali ia ingin mengakhiri hidupnya dengan meminum pil obat yang cukup banyak, namun rencananya selalu dibuat gagal. Dirinya merasa bahwa sudah begitu banyak luka fisik,batin hingga menyerang mentalnya. Lengkara memiliki masalah kesehatan mental Self harm dimana seseorang berusaha menyakiti dirinya secara sengaja.

Tangan Lengkara perlahan meremas pisau Cutter yang tajam didalam genggamannya. Darah segar keluar di antara sela-sela jarinya. (hlm.178).

Novel ini merupakan novel yang unik dimana tiap judul sub bab yang disajikan penulis menunjukan sebuah waktu, dan sub bab 00.00 merupakan sebuah kejadian yang penting dalam novel tersebut, sehingga menjadikan novel ini sedikit lebih berbeda dibandingkan dengan novel-novel lainnya. Bahasa yang digunakan juga sederhana sehingga mudah dimengerti oleh pembaca, maka tak heran jika pembaca terbawa hanyut oleh suasana yang diciptakan pada alur cerita novel tersebut. Namun sayangnya ada beberapa sub bab yang terkesan monoton karena bentuk permasalahan yang sama dan terkesan berulang. Kekurangan dari novel ini terletak pada alur cerita yang seakan memberikan kesedihan yang tiada hentinya terhadap tokoh utama, sehingga kita sebagai penikmat merasa kurang mendapatkan suasana bahagia saat membaca novel ini.

Selain itu penggambaran tokoh Nilam (Adik tiri Lengkara) tidak disajikan penyebab/alasan mengapa dirinya membenci tokoh utama, dan sayang sekali akhir cerita dari novel ini berujung kesedihan. Akan tetapi menurut saya poin plus dari novel ini yaitu cukup banyak menyajikan quote-quetes yang cukup menarik, disisi lain penggambaran emosi ataupun perasaan dalam buku ini berhasil menyentuh perasaan para pembaca atau penikmat sastra.

BIODATA PENULIS

Ananda Fitria Ramadhanti, mahasiswi Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Lahir di Banyumas, 18 Desember 2001. Agama Islam. Hobi menulis, dan menyanyi. Berdomisili di Desa Tambak Sari Kidul Rt 07/03, Kembaran, Banyumas (53182). Instagram: @ananda.afr . Ponsel: anandafitriaramadhanti101@gmail.com

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *