paradoks gagak

Cerpen Pringadi Abdi | Paradoks Gagak

Cerita ini sayangnya gagal memenangkan Kompetisi Menulis Cerpen Indonesiana. Ia hanya masuk 22 naskah terpilih di luar naskah yang menjadi juara.

“Kalau kau percaya reinkarnasi, di kehidupan selanjutnya, kau ingin jadi apa?”

Kalimat itulah yang terakhir kuingat. Tanpa tahu, siapa yang mengucapkannya.

Saat membuka mata, kulihat patung-patung dengan banyak wajah di hadapanku. Aku mengenal patung-patung itu. Kurang lebih 500 patung Lohan di Vihara Ksitigarba Bodhisattva. Para Arahat itu, masih kuingat betul—kemarin, aku baru saja berfoto ria di sela padatnya acara festival sastra yang kuikuti.

Namun, tak kuketahui kenapa aku bisa berada di sini lagi. Dan betapa kagetnya aku, ketika mencoba menggerakkan tangan untuk mengusap wajah, yang kulihat bukanlah tangan. Tanganku dengan kulit sawo matang itu telah berubah menjadi hitam legam, tanpa jari, tanpa struktur tulang yang sama. Kulihat betul, kedua tanganku telah berubah menjadi sepasang sayap. Ya, sayap!

Ketika mencoba berteriak, suaraku juga ikut berubah. Suara yang aku kenal.

Seperti gagak. Ya, gagak.

 

***

 

Aku mencoba mengingat-ingat lagi apa yang terjadi sebelum aku menjadi gagak. Namun, kusadari sebuah anomali. Aku mengingat beberapa hal, namun ada beberapa pula yang tak bisa kupanggil. Seperti ada bagian-bagian tertentu yang hilang, seakan-akan memori tersebut dihapus.

Aku berharap ini mimpi. Aku hanya terbawa perasaan atau terjebak di alam bawah sadar, mengingat aku sering menulis cerita-cerita surealis.

Sampai kemudian kucoba kukepakkan sayap, dan aku merasakan sensasi sebetul-betulnya kepakan itu, udara itu, sehingga ya, aku terbang. Dan itu menyenangkan. Sebab harus kuakui pula, bahwa ketika kecil aku sangat ingin bisa terbang, ingin punya sayap, meski kemudian aku berkeyakinan manusia tidak bisa terbang bukan karena tidak punya sayap. Bahkan jika punya sayap, itu tak menjamin seseorang bisa terbang.

Namun, kini aku punya sayap. Aku seekor burung. Dan aku bisa terbang.

Aku pun meninggalkan vihara terindah di Tanjung Pinang itu. Kulihat patung-patung itu ada yang seolah tak rela aku pergi dari sana.

Hari menuju senja. Matahari masih tergantung sendirian di langit.

Dalam lintasan perjalanan, kulewati berbagai macam hal. Seorang anak menunjukku saat terbang rendah, “Ma, Mama… ada gagak!”

Ibu anak itu langsung menurunkan telunjuk sang anak, memeluknya, lalu berkata, “Hati-hati, Nak, sama gagak….”

Aku merasa kesal juga mendengarnya. Terlintas pengetahuan tentang mitos gagak. Gagak ditakuti karena dianggap sebagai simbol kematian. Tak sedikit orang percaya bahwa jika seekor gagak hinggap di sebuah rumah, akan ada yang meninggal di rumah itu. Bahkan di Celtic, gagak dianggap sebagai jelmaan Morrigan, Sang Dewi Kematian. Sementara di Inggris, gagak dianggap sebagai hewan peliharaan para penyihir—dan penyihir bisa berubah menjadi gagak.

Padahal, gagak adalah hewan paling cerdas. Bahkan ada yang menganggap bahwa pikiran gagak lebih cemerlang dari kera besar.

Mataku menyapu apa saja yang ada di hadapanku. Beruntunglah aku menjadi seekor gagak karena memiliki mata yang dapat mengenali wajah manusia. Sebagian ingatan yang bertahan pun menuntunku untuk menuju tempat-tempat yang kudatangi sebelum tiba-tiba, ah, begitu saja menjadi seekor gagak di vihara Kstigarba Bodhisattva.

Terus terang saja, aku baru mulai mencintai Kepulauan Riau ini. Bahkan sejak kali pertama kedatanganku, satu tahun sebelum aku datang kembali untuk membahas apakah Hang Tuah dan Hang Jebat hanya sekadar mitos atau memang bagian dari sejarah, leluhur dari para Melayu di Gunung Bintan. Rasanya baru kemarin juga aku berdiri di dermaga, memandangi Pulau Penyengat dan membayangkan jejak Raja Ali Haji dengan Gurindam Dua Belas miliknya.

Langit menggelap, dan kini aku sudah jadi gagak.

Bagian ingatan yang menghilang itu—siapa yang bertanya, aku ingin jadi apa di kehidupan selanjutnya. Sekeras mungkin aku berusaha mengingatnya, tetapi tak ada satu klu menyeruak di kepalaku. Terbang aku membelah kota, yang mulai ramai itu. Warung-warung kopi mulai membuka diri, dan masyarakat lokal menjadikan ngopi sebagai budaya.

Sampailah aku di seberang hotel tempat aku menginap sebelumnya. Sebuah kedai kecil milik orang Melayu. Aku tahu itu Melayu dari nada mereka berbicara, dari cara berpakaian mereka yang sangat menghormati agama. Kental sekali.

Kemudian datang serombongan orang bermata sipit dengan bahasa asing yang diucapkan sekali. Aku menduga mereka orang-orang dari negeri tetangga. Singapura. Singapura dan Pulau Bintan memang sangat dekat—sehingga orang-orang asing itu banyak yang memilih liburan kemari. Alamnya memang indah, biaya akomodasinya murah, dan ya, mereka bisa memilih kemari lewat jalur laut—jika tiba-tiba merasa seperti The Unflying Dutchman, yang takut naik pesawat itu.

Kontras sekali pemandangan yang kulihat. Cici-cici Singapura itu memakai kaos apa adanya dengan celana pendek, sementara sepasang anak dan ibu yang menjual makanan memakai jilbab yang lebar melebihi pinggang mereka.

Ketika menyimak mereka saat hendak berdialog, rasanya aku ingin tertawa—tapi bagaimana tawa gagak? Suaranya sama saja.

Mendengar suaraku, sejenak mereka menolehkan pandangannya ke arahku. Tapi aku tak mengerti bahasa Mandarin.

Orang Melayu itu juga tak mengerti bahasa mereka. Orang Singapura itu tak mengerti juga bahasa Melayu. Menu menjadi medium di antara mereka berdua. Sambil tersenyum dan berbahasa isyarat, dua kelompok yang tak terampil berbahasa satu sama lain, mampu berkomunikasi.

Orang Singapura kemudian mengeluarkan ponselnya. Aku pikir awalnya dia hanya kecanduan ponsel. Yang tak kusangka, Cici Singapura itu mengajak gadis Melayu itu berfoto bersama. Tidak hanya satu kali. Setelah sukses berfoto berdua, ia mengajak rombongannya yang lain berfoto bareng juga.

Sebagai gagak, aku merasa terharu melihat pemandangan itu—dan ingatan tentang salah satu materi seminar datang menghampiriku. Hubungan Melayu dan Cina memang kuat pada masa lalu. Beberapa karya sastra masa lalu mengisahkannya.

Asik aku merenung, lambat kusadari udara memberat di sekitarku. Saat aku sadar, aku melihat seekor burung lain terbang gagah mendekat ke arahku. Aku tahu ini nyaris tak mungkin… di bawah langit yang kian gelap, seekor burung yang harusnya tak lagi ada muncul.

Burung itu menyerupai elang, namun bukan elang. Kepakannya lebih gagah. Ukurannya lebih besar. Jauh lebih besar—bahkan melebih ukuran manusia biasa.

Aku heran apakah ia tak dilihat oleh orang-orang? Dengan keberadaannya yang sebesar itu seharusnya akan membuat jalanan heboh dan mengeluarkan ponselnya demi konten viral.

Hatiku deg-degan. Asal kautahu, gagak yang disebut-sebut sebagai burung kematian justru adalah burung yang paling takut pada kematian. Melihat seekor elang mendekat saja, gagak akan ketakutan. Apalagi ini, ya, dengan pasti, aku tahu burung itu adalah garuda!

Kehadirannya membuatku terpaku. Bayangkan bagaimana perbandingan tubuh kami! Betapa besarnya dia… belum ditambah dengan aura yang membuat udara begitu berat!

Suaraku tercekat.

Aku belum berpengalaman menjadi gagak, jadi aku tak tahu apakah dua burung dengan spesies yang berbeda dapat saling berkomunikasi.

Penasaranku itu terjawab ketika ia yang terlebih dahulu menyapaku:

Seekor gagak muda belajar terbang. Hinggap di pohon tak bernama. Apakah kemanusiaan telah hilang? Ketika segala telah hanya melihat beda.

Garuda itu menyapaku dengan dendang, ah, pantun.

Harus kujawab dengan pantun jugakah?

“Mereka bisa melihatmu, tapi tidak bisa melihatku,” ujar Garuda.

Aku terkesiap, “Kau ini sebenarnya apa? Roh burung?”

“Kau pernah membacaku…”

“Membacamu?”

“Hikayat Meronghamawangsa.”

“Merongmahawangsa?”

“Tak ingat? Aku burung garuda itu…”

Ah… Hikayat Merongmahamawangsa. Seekor burung garuda terbang ke negeri Cina lalu menyambar putri di sana, membawanya ke pulau Langkawi. Dalam perjalanan yang berbeda, burung garuda itu merusak perahu Raja Merongmahawangsa yang menyebabkan ia terdampar ke Langkawi. Di sanalah sang raja bertemu sang putri. Mereka jatuh cinta dan menyatukan dua budaya yang berbeda.

“Ingat sekarang?” tanyanya lagi.

“Ya. Tapi…”

“Tapi apa?”

“Jika kau adalah burung garuda di dalam cerita, lalu kita berada di mana sekarang? Ini sama sekali tidak masuk akal!”

“Tentu saja kita tidak berada di dalam fiksi.”

“Kenapa?”

“Karena fiksi harus masuk akal.”

Kalimatnya adalah kalimatku juga. Aku tahu pasti kalimat sambungannya.

“Sedangkan kenyataan seringkali tidak masuk akal….” tambahnya.

Aku terdiam sejenak sebelum kembali bertanya, “Jadi kau bilang, sekarang kita berada di kenyataan, kenyataan yang tidak masuk akal ini…”

“He hemm…”

“Atau di mimpiku?”

“Hemm, no no... Ini kenyataan!”

 

***

 

“Jadi kautahu bagaimana caranya aku kembali ke kenyataan sebelumnya? Menjadi manusia biasa, mengikuti rangkaian Festival Sastra Tanjung Bintan yang tersisa? Aku juga ingin mencicipi durian di kaki Gunung Bintan!”

“Sayang sekali…”

“Apa?”

“Duriannya baru selesai musimnya.”

“Lalu soal kembali menjadi manusia?”

“Tergantung…”

“Tergantung apa?”
“Mana yang lebih berarti menjadi gagak atau manusia…”

“Bukankah sudah jelas jawabannya?”

Sang Garuda malah tersenyum menggelitik, “Dulu, aku juga berpikir sepertimu….”

“Maksudmu?”
“Ah, nikmatilah semalam ini dulu, menjadi seekor gagak hitam. Nikmatilah langit malam di Tanjung Pinang!”

 

***

Aku memikirkan kalimatnya, dan pemandangan di kedai barusan seharusnya membuatku merasa bangga sebagai manusia.

Kita bisa bicara meski kita kedua burung yang berbeda. Apa manusia juga bisa?

Kalimat lain dari Garuda itu jelas-jelas sudah menemukan jawabannya. Orang Melayu dan Orang Singapura, Muslim dan penganut Budha, bisa berpelukan.

Sebagai seekor gagak, ternyata terlalu banyak berpikir membuatku mengantuk. Aku mencari tempat bertengger yang tersembunyi untuk beristirahat. Nikmati satu malam ini dulu. Mungkin maksudnya besok aku sudah kembali menjadi manusia.

Persetan dengan jenis realitas macam apa yang tengah kualami saat ini. Aku yakin besok segalanya akan kembali normal.

 

***

 

“Kalau kau percaya reinkarnasi, di kehidupan selanjutnya, kau ingin jadi apa?”

Pertanyaan yang sama kudengar di saat aku menutup mata. Ketika aku merasa membuka mata, kulihat pagi telah merekah. Aku tidak berada di tempat aku bertengger sebelumnya. Apakah mungkin aku terbang ke tempat ini saat aku tertidur?

Sepanjang penglihatanku, terhampar pasir yang begitu luas dikelilingi pepohonan. Di sebagian tempat tampak lubang-lubang dengan air yang menggenang.

Saat hendak kukepakkan sayapku—atau kuharap sudah menjadi kedua belah tanganku—ternyata aku tak lagi memiliki semua itu. Kulihat tubuhku hijau. Memiliki duri. Dan aku tidak bisa bergerak sedikit pun.

Aku baru sadar, aku sedang menjadi sebatang kaktus!

 

(2019)

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *