Resensi Kumpulan Cerpen Danarto: Berhala

Dunia Sufistik ala “Danarto”

oleh Hendy Pratama*

DANARTO, dalam menciptakan cerpen-cerpennya, acap kali tidak terlepas dari dunianya sendiri yang magis dan absurd. Sebelum membaca buku ini, para penggemar Danarto telah tergiring pada suasana sonya ruri dalam buku-buku terdahulunya seperti Godlob dan Adam Ma’rifat. Umar Kayam (penulis kata pengantar di buku ini), memberi istilah berupa dunia alternatif; dunia yang sengaja dibangun sebagai kritik terhadap dunia riil.

Kritik tersebut diwujudkan dalam pelbagai macam cara melalui dunia alternatifnya—yang terasa mengambang, sunyi, dan mengerikan itu, di mana sosok manusia tidak jelas asal-usulnya, identitasnya, serta status kehidupan sosialnya. Misalnya saja pada cerpen berjudul “Nostalgia”, “Asmaradana”, dan “Abracadabra”, yang mana bangunan suasananya berasal dari dunia dongeng dan epos (tokoh Abimanyu dari Mahabarata, Salome dari kisah Injil, dan Hamlet lahir dari sandiwara Shakespeare), dan lain-lain.

Pada buku yang bertitel sufistik ini pun, suasana itu masih terasa dan tetap memiliki ciri khas ala Danarto. Suasana sonya ruri dalam cerpen-cerpen karangan penulis asal Sragen tersebut merupakan world view, yang mendapatkan banyak pengaruh dari mistik tasawuf (dunia kaum sufi), atau detailnya disebut sebagai doktrin Wahdat al-Wujud.

Doktrin Wahdat al-Wujud merupakan suatu ketunggalan wujud, di mana pernyataan kehidupan itu menemukan keesaannya hanya kepada Sang Pencipta. Kehadiran yang benar sesungguhnya adalah hak istimewa Tuhan, yang merangkum Yang Abadi dan Yang Tidak Terkira, menerobos dan mengubah sosok ruang dan waktu dalam semua ciptaanNya (Martin Lings, 1973). Doktrin semacam ini diperjelas oleh Danarto di buku Adam Ma’rifat:

“… kita itu (alam bendam alam tumbuh-tumbuhan, alam bintang, dan alam manusia), hanyalah proses, sehingga segala sesuatu tidak terpahami karena tidak berbentuk… Karena kita ini proses, maka kita hanya mengalir saja, dari mana, mau ke mana, kita tak mengetahui. Begitulah hakikat sebuah barang ciptaan. Yang jelas, kita adalah milik Sang Pencipta secara absolut dan ditentukan.” (Danarto, 1983).

Dari pelbagai hal di atas, pembaca setia buku Danarto pastinya tidak asing terhadap keterangan yang ditulis oleh Umar Kayam dalam buku ini. Lantas, bagaimanakah suasana dalam buku bertitel Berhala ini—yang secara lugas memilih judul cukup sufistik?

Apabila diamati selintas dari judul pertama, agaknya cerpen-cerpen di buku ini masih membawa doktrin Wahdat al-Wujud dan aliran absurdisme (kendati tidak terlalu kentara). Setelah sebelumnya menulis judul dengan simbol jantung dipanah, Danarto kembali (lagi) membuat judul berupa tanda seru (!). Dalam “!”, Danarto mengisahkan sebuah keluarga kaya raya dan modern yang terlibat seteru antara Ayah dengan Zizit, salah satu anaknya. Cerpen ini ditutup secara mengejutkan: tokoh Ayah yang terkena ‘serangan jantung’ (karena sikap nyentrik anaknya), sekonyong-konyong berdiri di atas tempat tidur sambil bernyanyi.

“…Maka menghamburlah kami masuk dengan tangis-tangisan yang menyayat… yang disambut suara tenor yang mengalumkan ‘Come Back to Sorento’ dari mulut yang tubuhnya berdiri tegap di atas tempat tidur dan merentang-rentangkan tangannya…” (hlm. 36).

Danarto terbilang sering menyelipkan twist pada penghujung cerpen-cerpennya. Saya selalu menyadari hal itu. Anehnya, dia selalu berhasil membuat saya terkejut. Bagaimana mungkin saya bisa menebak twist yang absurd dan sangat teatris itu?

Dalam “Anakmu bukanlah anakmu,’ ujar Gibran”, bentuk kesenjangan keluarga juga masih terlihat. tokoh Ayah—yang mengimani ajaran-ajaran Gibran Khalil Gibran—berusaha menerapkan ajaran figur idolanya tersebut kepada sang anak, Niken. Tetapi, Niken justru tumbuh menjadi seorang pemberontak yang hanya menuruti kata hatinya.

Cerpen ini juga ditutup secara tak masuk akal. Gibran Khalil Gibran datang ke pesta pernikahan Niken dan Tomo. Niken—yang perutnya sudah bunting sebelum menikah dan entah bagaimana bisa begitu—terkesima oleh kado yang dibawa tokoh junjungan Ayah itu, berupa sebuah lukisan terkenalnya.

“Ya, Tuhan Yang Maha Suci. Ini benar-benar lukisannya,’ seru saya sambil terhuyung memegangi lukisannya hitam putih yang masyhur itu. Pandangan saya seketika kabur. Keringat dingin berlelehan.” (hlm. 94).

Cerpen berjudul “Selamat Jalan, Nek”, membicarakan konflik sosial yang lebih luas ketimbang dua judul cerpen di atas. Dan, cerpen ini sejalur dengan “Panggung”, “Memang Lidah Tak Bertulang”, tentu karena cangkupan konfliknya lebih luas, tidak hanya sebatas kesenjangan antara anggota keluarga. Namun, (sekali lagi), absurdis pada twist selalu saja saya jumpai, misalnya pada “Selamat Jalan, Nek”. Tokoh Nenek—yang yakin jenazahnya akan diculik ketika hari kematiannya tiba—tampak mempermainkan kejadian mustahil itu, tak ubahnya sedang bermain drama komedi.

“Dari lima puluh meter panjang kain kafan itu ditarik keluar, tidak juga habis, lalu ditarik lagi mulur lagi hingga seratus, dua ratus, tiga ratus, empat ratus, lima ratus, seribu meter, dua ribu meter, tiga ribu meter….” (hlm. 110).

Cerpen-cerpen yang kental unsur sufistiknya tampak pada “Dinding Ibu”, “Dinding Anak” dan “Pagebluk”. Coba saja kita tilik bagaimana Danarto menarasikan sosok ibu yang secara tiba-tiba membelah dirinya menjadi dua. Fenomana itu tentu saja mustahil terjadi di dunia nyata—dan hanya terwujud di dunia alternatif lelaki kelahiran Sragen itu. Namun, apa yang saya baca seakan-akan betulan terjadi dan bukan sebuah dongeng semata.

Cerpen ini dibuka dengan kalimat menakjubkan dan lugas menggambarkan absurdis. Sejak awal, pembaca digiring menuju pintu masuk dunia lain itu. Dan, marilah kita amati ‘mukzijat’ sufistik ala Danarto melalui paragraf awal dengan kalimat sebagai berikut:

“Kaget sangat saya menyaksikan kembaran ibu. Lalu saya undur berjarak satu meja dari kedua wanita itu. Mahasuci Allah, di depan saya sungguh duduk dua sosok pinang dibelah dua. Ibu, wanita yang saya kagumi yang dapat menerima kritik apa saja dari anaknya, hari ini berhadapan dengan fotokopinya…” (hlm. 111).

Sedangkan dalam “Dinding Anak”, unsur sufistik dan absurdisme itu terasa sangat kental. Cerpen ini mengandung ajaran agama yang sering kita dengar melalui ceramah atau pengajian perihal misteri kematian yang tak diketahui oleh siapa pun, selain Tuhan. Boleh dikatakan bahwa cerpen ini merupakan salah satu cerpen yang sangat saya sukai dalam buku kumpulan cerpen Berhala. Danarto, secara gampang menggambarkan sosok malaikat Izrail yang menyeramkan itu, yang senantiasa membuntuti Bibit, targetnya.

“Bibit jelas sekali mula-mula berayun-ayun di atas dahan, lalu dahan itu menggelem-bungkan dirinya menjadi lengan, dan pemilik lengan itu lalu mengembang, melebar, dan meninggi. Ya, ya, tiba-tiba saya mengenal siapa pemilik lengan itu, yang wajahnya tak tertembus oleh cahaya… ‘Izrail!’ teriak saya.” (hlm. 181).

Sekeras apa pun usaha “tokoh saya” menghalang-halangi Izrail mencabut Bibit, pada akhirnya takdir tak dapat dielakkan juga. Dan, yang lebih mengejutkannya, skenario yang dibuat “tokoh saya” guna mengubah suratan takdir (mengubah nama Bibit jadi Sruni, hingga membawanya ke Pacitan), nyatanya sama persis dengan takdir yang telah dicatat Tuhan.

“Dalam catatan nasib, Bibit memang harus mati pada hari ini di sebuah perkampungan di Pacitan, ketika namanya sudah diganti dengan Sruni….” (hlm. 187).

Cerpen serupa juga ditulis Danarto dalam “Pagebluk”. Hanya saja, unsur adat-istiadat, tradisi-budaya Jawa Tengah tampak terasa—di luar absurdis dan sufistiknya. Sebagaimana masyarakat Jawa pada umumnya, terjadinya pagebluk acap kali dikaitkan dengan hal mistik. Misalnya, adanya roh-roh jahat yang membawa wabah mengerikan dan hanya dapat diusir melalui arak-arakan kesenian. Pada “Pagebluk”, anak-anak mengeliling kampung dengan telanjang di belakang balok es sembari mengucap puji-pujian.

“Ketika wabah mulai bersimaharajalela dalam seminggu, Pak Kiai Kasan Menhat menyiapkan barisan untuk melawannya. Barisan itu terdiri dari orang-orang tua, para pemuda, dan anak-anak. Berbekal obor dan tembang kami berkeliling ke seluruh desa.” (hlm. 194).

Dari keseluruhan alur cerita tersebut, agaknya membuat saya mengangguk-angguk paling dulu ketika Umar Kayam, secara lugas, menyebut Danarto sebagai seorang cerpenis sufistik di negeri tercinta kita ini. Tentu, hal itu menjadi kredo baginya, bagi pembaca setia Danarto, dan bagi saya sendiri. Saya pun tak perlu mengakuinya, lantaran tanpa sadar saya tengah terperangkap dalam dunia alternatif itu. ***

Judul: Berhala

Penulis: Danarto

Penerbit:  DIVA Press

Edisi: Pertama, Maret 2017

ISBN: 978-602-391-270-4

Tebal: 228 hlm.

Madiun, 10 April 2020

(*) Hendy Pratama, lahir dan tinggal di Madiun.

Pegiat komunitas sastra Langit Malam dan FPM IAIN Ponorogo.Heliofilia merupakan buku kumpulan cerpen terbarunya.

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *