Resensi Buku FORGULOS karya Aveus Har

Berikut ini adalah resensi buku Forgulos karya Aveus Har. Buat teman-teman yang suka membaca buku sastra, silakan kirimkan hasil pembacaanmu baik berupa resensi, review, maupun esai ke sini ya!

Mengasingkan Diri di Vulos
karya Imam Khoirini

Judul Buku      : Forgulos
Penulis            : Aveus Har
Tebal Buku     : xii + 152 hlm
Penerbit          : Basabasi
Tahun Terbit   : 2020
Peresensi         : Imam Khoironi

            Sebuah kisah yang menguras pikiran dengan menyajikan pertanyaan-pertanyaan dan sampai sekarang jawaban itu masih abu-abu di pikiran. Saya yang awalnya bukan pecinta novel merasa ditarik ke alam lain dan memaksa saya untuk terus dan terus membaca novel ini bahkan ketika sudah khatam. Aveus Har, penulis novel ini begitu piawai membangun cerita dengan tidak tergesa-gesa memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang muncul ketika pertama kali saya membaca novel ini dari bagian “dua belas”. Intensitas yang dimunculkan dari novel ini  pun sangat ritmis, naik dan turun seperti sedang menikmati alunan musik. Di beberapa bagian terasa sangat dekat dengan kehidupan masyarakat di Indonesia, citraan-citraan sepertinya memang dibuat berdasarkan keseharian kita sebagai manusia beragama yang begitu saja menjalani hidup tanpa harus membeda-bedakan siapa tuhan dan apa agama, semua berjalan sesuai dengan apa yang seharusnya berjalan.

            Ketika di bagian awal, saya dibuat bingung dengan dua istilah yakni “forgulos” dan “forlugos” atau apa pun sebutan bagi sesuatu yang kemudian menjadi cikal-bakal malapetaka itu tidak hadir dengan secara kebetulan, bangunan naratif yang kuat mengikut di bagian-bagian berikutnya dengan alur yang dibuat maju mundur.

            Sosok Arthur yang selanjutnya disebut Arura dan Bero begitu sentral di awal, kemudian lenyap begitu saja menggambarkan betapa tidak terjadi apa-apa dalam kehidupan mereka walaupun forgulos merasuki setiap lini kehidupan tanpa disadari hingga melupakan petuah moyang untuk mengindari forgulos, mengusir forgulos. Dan benih-benih petaka itu disampaikan dengan begitu cepat dan menguras emosi. Alurnya meningkat dan begitu membutuhkan tenaga untuk mencerna setiap kata atau frasa yang disajikan pada bagian itu, mulai dari konflik kecil antar umat beragama, hingga membawa pada masalah besar yakni peperangan. Hal itu disajikan begitu rapi dan sangat elegan.

            Meskipun demikian, beberapa hal yang masih bisa diperbaiki dari novel ini adalah begitu banyak diksi yang entah sengaja dibuat demikian sebagai penanda bahwa ini benar-benar novel sastra atau memang hanya dengan itulah cerita ini bisa disampaikan (kebutuhan narasi). Bagi orang awam seperti saya hal tersebut akan membawa pada lingkaran kesesatan dan mungkin membawa kejenuhan karena beberapa bagian seperti memang sengaja ditulis bukan untuk dibaca orang awam. Dan saya yakin Har menyadari hal tersebut dan memiliki dalil sendiri.

            Selain itu, premis yang begitu unik dan dibangun dengan alur yang kuat tidak diimbangi dengan cerita yang detail, di beberapa bagian terasa agak membingungkan. Mungkin maksud Har ingin mempercepat tempo alurnya, namun hal itu justru menjadikan bangunan narasinya terkesan buru-buru di bagian konflik hingga menjelang akhir.

            Kemudian, penggambaran bumi Vulos dan para Vuloses begitu gamang mengingatkan saya dengan novel The Hobbit, buah fantasi yang sedikit absurd namun unik. Masyarakat “primitif” yang seharusnya begitu dan akan tetap begitu yang sulit di temukan padanannya di zaman ini. Juga mengingatkan saya pada suku Baduy Dalam di Banten yang terasing atau lebih tepatnya mengasingkan diri dari negeri di luar negeri mereka.

            Ada banyak hal yang menjadi pertimbangan saya ketika hendak membeli novel ini, salah satunya adalah keterkaitannya yang erat dengan agama dan Tuhan. Saya beberapa kali berperang batin dan mungkin ingin sekali berperang opini dengan Har mengenai bagaimana Tuhan itu, namun di akhir saya ditampar dengan keras dengan kalimat dari pikiran Obre, “Barangkali Tuhan memang ada, tetapi di atas segala kuasa-Nya, Dia tak mabuk sanjung dan pembelaan.” Pada bagian sebelumnya di mimpi Arthur pula ditegaskan bahwa Tuhan tetaplah mengasihi hamba-hambanya meskipun ia tidak mengimani-Nya.

Biodata Penulis

Imam Khoironi. Lahir di desa Cintamulya, Lampung Selatan, 18 Februari 2000. Mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa Inggris di UIN Raden Intan Lampung. Menulis puisi, cerpen, esai dan artikel. Buku puisinya berjudul Denting Jam Dinding (2019/Al-Qolam Media Lestari). Karya-karyanya pernah dimuat di berbagai media cetak maupun online seperti Simalaba.com, Apajake.id, Kawaca.com, Radar  Cirebon, Malang Post, Riau Pos, Radar Mojokerto, Banjarmasin Pos, Bangka Pos, Denpasar Post, Pos Bali, dan lainnya. Puisinya masuk dalam buku Negeri Rantau; Dari Negeri Poci 10 dan banyak antologi puisi lainnya.

Ia bisa ditemukan di Facebook : Imam Imron Khoironi, WA/Hp : 085609086924, Youtube channel: Imron Aksa, Ig : @ronny.imam07 atau di www.duniakataimronaka.blogspot.com.

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *