Puisi| Stasiun Juanda

aku akan pulang, aku akan pulang
sementara malam terus merambat
hingga ke jantungku
kukenang segala yang bisa kukenang
kereta yang akan datang terlambat
membuatku belajar arti menunggu

kau pasti tengah menanak nasi,
menggoreng telur mata sapi
menantiku berbicara soal aksi,
deklarasi, dan kabar Jakarta
yang tak pernah baik- baik saja
masalah-masalah lebih dari air bah
orang datang mengharap hidup
lalu mati dan tak mendapat tanah
dan memilih dihanyutkan di kali
yang tak lagi penuh sabun dan pasta
Waktu tiada, sekarat yang tersisa
terhimpit bunyi klakson kendaraan
dan semua yang berebut Tuhan

Jakarta selalu lebih rumit dari perempuan

aku akan pulang, aku akan pulang
bersama sekawanan binatang pekerja
dan aku adalah binatangmu
dengan kerinduan dan berkasih-kasihan
mengenalkanku kembali pada kemanusiaan
yang menuntut anyir darah
dengan alasan penting maupun remeh
atau bahkan tak beralasan sama sekali
saat itulah dari kejauhan ada sebuah sinar
bak kesadaran yang diterima hawking muda
yang jatuh cinta pada seni semesta
penciptaan yang amat sederhana dan pasti
orang hidup lalu mati, orang makan lalu mati
orang terbang lalu mati, semua orang mati
aku juga akan pulang, aku juga akan mati

Comments

comments

One thought on “Puisi| Stasiun Juanda”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *