Puisi-puisi Palestina karya Kurnia Effendi

PERANG

Inilah perang—seperti cerita keseharian—yang
tak pernah diumumkan
Telah habis halaman untuk menuliskan nama-nama
: korban tak terjumlahkan

Bayi-bayi dilahirkan
Di bawah hujan abu
mesiu

Disematkan pada mereka: Nama
yang selalu ingin mengelak sebagai
sarang peluru

Anak-anak dibesarkan
pada lengkung tahun yang muram
Seperti bendera yang dikibarkan
Hanya separuh gagah, di setengah tiang
Melalui gambar rajah
di tangan yang kelak bersimbah darah

Mereka belajar membaca peta
Yang tak pernah kekal batasnya
Angin gurun selalu menghapus
jejak dan gugus
Dengan kelopak hangus
jiwa yang terluka

Orang-orang ditahbiskan
menjadi pahlawan
pada genangan dendam
Karena perang ini—seperti sebuah rutin—tak
pernah diumumkan
Bahkan pada beranda rumah
Tempat mereka selalu berkemah

Jakarta, 2006

BERJUTA LARIK PUISI

Berjuta larik puisi pulang ke rumah sunyi
Mereka tak sanggup bercerita tentang para pengungsi
Di mana mesti diletakkan tanpa perasaan sangsi
Tubuh Palestina yang ditopang gemetar sepasang kaki

Ketika terpandang oleh mereka awan jingga senja
Seolah isyarat untuk terus terjaga
Ketika terdengar oleh mereka derap langkah tentara
Tiba waktunya untuk tak sekadar berjaga

Jalan yang mereka tempuh tak memiliki udara
Gua panjang penderitaan setia mengelilingi
Udara yang mereka hirup adalah jalan perang
Lukisan kepedihan dipahat pada ruh yang pergi

Luka terlampau nyeri karena nyaris tak terpahami
Darah terlampau merah karena tak ingin menyerah
Hidup begitu gugup berpetak-umpet dengan maut
Mati tak lagi ditakuti seperti janji yang harus ditepati

Akhirnya berjuta larik puisi kembali ke rumah sunyi
Mereka ingin tinggal di sudut rak perpustakaan
Untuk sekali waktu menjadi alamat ziarah
Tempat berhimpun para syuhada yang tak pernah
sungguh-sungguh mati

Jakarta, 2006

DI TEPI TIGRIS

Di tepi Tigris perang itu berlangsung
Di tepi makam kami kalian menangis
Untuk apa?

Ke tepi Tigris, kami semua dikirim
Penuh semangat sekaligus ketakutan
Menggembungkan dada dan ransel kami

Ke tepi Tigris, di masa lalu
Kalian tamasya. Menabur bunga, puisi
Dan surat-surat cinta

Ke tepi Tigris, kini tinggal ziarah
Kalian menabur bunga untuk mengenang
Karena saudaramu, kami yang malang,
pernah dijemput maut di sini
Untuk sesuatu yang sia-sia dan
berkepanjangan

Di tepi Tigris pasir bergelora
Mengubur sekaligus menumbuhkan
dendam-dendam baru
Tapi, untuk apa?

Jakarta, 1992

JERUSALEM

Kami selalu berbondong dalam kubah rasa takut, juga
cemeti yang rajin melecut, berjalan lurus menuju plaza
tanah perjanjian itu. Kami selalu memaklumi diri sebagai
prajurit dengan pemimpin sebayang impian untuk sampai
pada Jalan Keselamatan, Darussalam yang tak pernah diketahui
titik bujur dan lintangnya dalam perjalanan hidup kami.

Kami selalu menjadi hikayat sebelum dilahirkan, dan tak
terbaca lagi nama kami setelah kematian. Kami adalah sebuah
garis takdir yang beredar pada orbit di luar peradaban, bermandi
debu dan darah, bermain peluru dan granat, yang kisahnya
senantiasa dibaca penuh hikmat oleh hampir seluruh umat,
dielu-elukan dalam puisi yang gemetar, meski mereka hanya
melihat secara samar-samar

Mungkin di jejak pendahulu kami ini ada sisa sujud untuk
diteruskan

Perjalanan tak putus pandangan adalah shaf-shaf gaib yang
gema suara imamnya terlampau lirih untuk dicatat
pada buku perdamaian. Mereka belum sempat mendengar jelas
untuk menuliskan maklumat, terburu tinta itu kesat

Kota itu, entah apa namanya, telah mengubur dirinya
dalam timbunan jenazah kami

Jakarta, 2006

CINTA TETAP TUMBUH

Kepada gadis Palestin itu kuserahkan bunga
Ia tak bertanya, dari mana gerangan kuperoleh kuntum lili itu
Ia terlalu tenggelam dalam perasaan yang megah
Seolah dunia memandangnya dengan mata berbinar
Sejenak terlupa, angin tetap mengirim debu
Pada antero derita yang ditanggungnya

Pipinya merah dadu
Sebuah paras yang luput dari lukisan perang
Bibirnya terbasuh kesumba
Oleh gemetar kata-kata yang hendak diucapkannya

Kepada gadis Palestin itu kuserahkan mahkota
Yang terbuat dari kertas surat kabar, terlampau sederhana
Lalu ia janjikan sebuah pasmina
Yang pernah berbulan-bulan menutupi rambutnya
Seolah aku, dalam tiupan angin kering ini, telah mencium
aroma wangi lehernya yang melekat di ujung rajutannya

Matanya mengandung cahaya
Tentu itu api harapan yang sengaja dinyalakan
Sebelum aku pulang, istirah dari kemelut
Seraya merasa bersalah telah meninggalkannya
Dalam marabahaya

Tapi cinta tetap tumbuh
Seperti lumut yang mendekap batu
Ah, tidak!
Seperti butir pasir yang selalu kembali ke
hamparan gurun

Jakarta, 2006

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *