Menjadi Penyair Lagi dan Puisi Acep Zamzam Noor Lainnya

Menjadi Penyair Lagi

Melva, di Karang Setra, kutemukan helai-helai rambutmu
Di lantai keramik yang licin. Aku selalu terkenang kepadamu
Setiap menyaksikan iklan sabun, sampo, atau pasta gigi
Atau setiap menyaksikan penyanyi dangdut di televisi
Kini aku sendirian di hotel ini dan merasa
Menjadi penyair lagi. Bau parfummu yang memabukkan
Tiba-tiba menyelinap lewat pintu kamar mandi
Dan menyerbuku bagaikan baris-baris puisi
Kau tahu, Melva, aku selalu gemetar oleh kata-kata
Sedang bau aneh dari tengkuk, leher dan ketiakmu itu
Telah menjelmakan kata-kata juga

Kini aku sendirian di hotel ini dan merasa
Menjadi penyair lagi. Helai-helai rambutmu yang kecokelatan
Kuletakkan dengan hati-hati di atas meja
Bersama kertas, rokok dan segelas kopi. Lalu kutulis puisi
Ketika kurasakan bibirmu masih tersimpan di mulutku
Ketika suaramu masih memenuhi telinga dan pikiranku
Kutulis puisi sambil mengingat-ingat warna sepatu
Celana dalam, kutang serta ikat pinggangmu
Yang dulu kautinggalkan di bawah ranjang
Sebagai ucapan selamat tinggal

Tidak, Melva, penyair tidak sedih karena ditinggalkan
Juga tidak sakit karena akhirnya selalu dikalahkan
Penyair tidak menangis karena dikhianati
Juga tidak pingsan karena mulutnya dibungkam
Penyair akan mati apabila kehilangan tenaga kata-kata
Atau kata-kata saktinya berubah menjadi prosa:
Misalkan peperangan yang tak henti-hentinya
Pembajakan, pesawat jatuh, banjir atau gempa bumi
Misalkan korupsi yang tak habis-habisnya di negeri ini
Kerusuhan, penjarahan, perkosaan atau semacamnya

O, aku sendirian di sini dan merasa menjadi penyair lagi

1996

Baca Juga: Puisi Acep Zamzam Noor

Ingin Kusentuh

Ingin kusentuh rambutmu dengan ciuman paling lembut
Dari gurun masih kudengar deru panser dan meriam
Mari kubimbing langkahmu melintasi teluk yang panas
Memadamkan kemarahan purba yang menyulut hatimu
Lupakanlah kapal-kapal perang tak bernama itu
Dan biarkan lautan minyak terus bergolak di sana
Pertikaian bukanlah panorama indah untuk dikenang
Kini pejamkan matamu dan mengeranglah pelan
Dalam pelukanku. Aku akan membawamu ke sabana raya
Ke hamparan puisi yang luas, hijau dan terbuka
Dunia ini terlalu keras bagi sorot matamu yang jenaka
Aku takut peluru-peluru liar itu menodai pipimu
Masukilah dunia baru dalam kata-kataku
Dunia yang diguyur anggur dan cahaya bulan
Penuh perlambang, nyanyian dan juga kekhusyukan

1990

Lagu Malam Braga

Sunyi yang kusimpan
Dalam tungku perasaan
Kini jadi api. Jalanan menyala
Lampu-lampu menawarkan khuldi

Deru kendaraan yang sesekali
Keloneng becak
Bagai gumam yang dingin. Deretan pintu
Dan barisan tiang listrik yang bisu

Ada yang tak mampu kubeli
Dengan seluruh ketelanjangan
Tapi ada yang harus kudaki, harus kusetubuhi
Hakikat sunyi. Malam lindap di bawah bulan

1984

Ingatan

Sudah lama aku menyukai sebutir batu
Yang kebeningan warnanya selalu mengingatkanku
Pada kedalaman rindu. Aku menyimpan dan merawatnya
Seperti menyimpan dan merawat ingatanku padamu

2006

Kenangan

Aku melukis tubuhmu
Dengan cahaya pagi
Tubuhmu memanjang
Seperti air kali

2003

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *