Puisi-puisi Daviatul Umam

Puisi-puisi Daviatul Umam. Daviatul Umam, lahir di Sumenep, 18 September 1996. Alumni Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa sekaligus mantan ketua umum Sanggar Andalas. Buku puisi pertamanya, Kampung Kekasih (Halaman Indonesia, 2019). Sementara ini tinggal dan bekerja di Ciomas, Bogor.Puisi Daviatul Umam


Silakan bagi teman-teman yang ingin mengirimkan tulisannya ke Catatan Pringadi, saya tunggu!



Melepas Kesendirian

Begitu masuk kamar, aku
dibimbing dua tangan gelap
yang kekar. Membabat tidurmu,
mimpi-mimpiku pun berjatuhan.

Naik dipan sama halnya turun
ke medan perang. Melalui
pintu sakitmu, mudah sekali
kubunuh seribu musuh.

Leburlah dunia yang diperebutkan
para pecinta. Jadi tiga percik
kata yang membuat seprai
subur bagi jamur.

Di luar kefanaan, aku
ingin selalu muda bersamamu.

Sumenep, 2019.


Kopi Januari

Kopi sudah ampas, Sayang.
Sudah tiba aku di dasar pencarian.

Gelas sedingin almanak usang
yang kau tinggal menuju lembaran
baru. Tanpa kenal lagi
angka-angka rindu.

Halaman demi halaman buku kita
buka. Kata demi kata pun lihai
membuka diri kita.

Angin membagi-bagi semerbak
melati. Kita menerimanya sebagai
pengharum ruang dada. Dada
yang menahun berlumut sepi.

Kopi sudah ampas. Tapi tak perlu
menyeduh lagi untuk meraih hangat.

Sumenep, 2020.


Sebulan Berjalan

Bantal tak seempuk malam-
malam lalu.

Bangun subuh kepalaku
langsung disambut gatal yang
berpindah-pindah. Mungkin
kutu-kutumu yang menetas dari
keresahan memikirkan uang
belanja, mulai berkelana
menyusuri rimbun rambutku.

Aku jadi sadar penuh, kita
bukan kanak lagi dan tak punya
tempat atau alasan yang tepat
buat merengek lagi.

Kini akulah ayahmu dan kaulah
ibu bagi dirimu sendiri.

Sumenep, 2020.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *