Puisi ini sebelumnya sudah tayang di Ruang LiterSIP pada 29 Juni 2025

Sumur Doa
ribuan nama—bahkan lebih
berbisik
dari lumut waktu yang lekat
di dinding perigi.
Setiap huruf adalah doa yang tak pernah putus,
bagai mata air yang terus mengisi
mengalir ke atas, melalui corong sepi,
menuju alamat yang tak pasti.
Sambil menengadah, hanya ada cahaya jatuh,
membasuh duka
seolah di sana juga pintu terbuka
sebagai tempat kembali
(2025)
Pertanyaan yang Terkubur
Seberapa jauh sungai mengalir
sebelum lupa nama-nama yang ia hanyutkan?
Mungkin air adalah ingatan paling jujur,
meski tak pernah bicara.
Siapa mampu melihat apa yang tersembunyi
di balik sungai yang keruh
Meski di sana ada nisan tanpa nama, ada
jerit yang tak bertemu udara.
Pekik tak bisa jadi milik siapa saja
Kadang hanya jadi bisik, bahkan dersik
Atau tak sempat diucapkan
Sebab ingat dada bisa lebam oleh kenangan.
Bukankah khianat adalah maut—
diam-diam memburu sisa-sisa napas?
(2025)
Kedai Kopi
Di kedai kopi itu, kursi-kursi
menyimpan cerita
dari percakapan yang tak kunjung selesai,
aroma waktu menguap,
dan gerimis masih setia menunggu
di jendela.
(2025)
Pasar Aceh
Di antara tumpukan rempah, waktu
melambat, seperti daun kering
jatuh ke bumi yang basah.
Suara tawa dan tawar-menawar
adalah sepasang doa yang kini jarang terdengar,
tinggal sunyi renta
sebatang kara.
(2025)
Maghrib
Telah ia letakkan jubah sunyi, hingga
setiap toko mengunci pintu.
Lampu-lampu rumah satu per satu
mulai dinyalakan. Biar langkah kaki
sisakan bayang-bayang panjang.
Suara adzan begitu mesra memeluk senja.
Bagi hati yang takluk, lebih hangat
dari undangan pesta.
(2025)