Puisi Annisa Hafizah

Tiga puisi Annisa Hafizah, perempuan kelahiran Durian, 4 Agustus 2002. Sekarang ia tinggal di Panimbang, Pandeglang, Banten. Buat kawan-kawan yang mau mengirimkan tulisan, silakan simak ketentuannya di sini.

Kaisan Sampah

Pada lautan kumuh penuh sampah
Tampak terbungkus dalam kaisan
Tangannya sibuk menyila
Mata tua itu menelaah bak harimau mencari mangsa
Kaki-kaki tertancap pada goyah tumpukan bau
Senja sudah
Mentari beradu pada tepian
Matanya berbinar penuh cita
Lihatlah, masih tersisa gado-gado setengah porsi
Bisa mengganjal lapar bukan?

Keberuntungan Ceceran

Butir demi butir kupungut
Kuhitung satu per satu dengan ukiran senyum pada bibir gosong
Masih tersisa jejaknya pada jalanan memanjang
Ah, aku amat beruntung
Sepagi ini kudapati ceceran beras bulir bening
Bergetar jiwa raga ini memungut
Tangan kucel penuh kotoran bergetar
Masih panjang jalanan
Masih panjang
Ah, aku beruntung sekali

Punggung Kian Membungkuk

PT tempatnya bekerja tutup bulan depan
Itu isu yang kudengar
Punggung tempat bertumpunya keluargaku kian memanas
Bagaimana menghidupkan bara api rumah kami kalau begini?
Bahkan saat ladang membentang saja periuk sering kosong
Bisik-bisik kembali terdengar
Ini karena keputusan yang ketuk palu di gelap malam
Ini karena keputusan yang menimbulkan banyak kericuhan
Ini karena keputusan mode hening suara rakyat
Ini karena keputusan sebelah pihak

Ah, bukankah selama ini keputusan sebelah pihak selalu menyakitkan?

Punggung bertumpunya keluargaku kian membungkuk
Semoga masih tertopang

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *