Penderitaan: Asal Muasal Karya Sastrakah? karya Iin Farliani

Esai Iin Farliani berjudul Penderitaan: Asal Muasal Karya Sastrakah? ini dimuat di Harian Rakyat Sultra pada Senin, 3 Februari 2020. Iin Farliani lahir di Mataram, 4 Mei 1997. Selain menekuni cerita pendek dan puisi, juga menulis sejumlah esai di sela-sela studi formalnya di bidang Budidaya Perairan. Bergiat di Komunitas Akarpohon, Mataram, Lombok. Kumpulan cerita pendeknya  berjudul Taman Itu Menghadap ke Laut (Akarpohon, 2019).

Esai Iin Farliani


Setiap karya sastra yang baik kiranya akan memancing pertanyaan mengenai proses kreatif para pengarangnya dalam menghasilkan karya sastra tersebut. Namun, apabila kita melacak jejak pengarang yang hasil karya sastranya hingga kini tetap dibaca dan dicinta  sebagai khazanah yang kaya, tampak bahwa mereka dibesarkan dalam penderitaan-penderitaan yang tidak memberi kemakluman kepada mereka untuk memanjakan diri.

Perlakuan-perlakuan yang tidak mengenakkan, entah itu perlakuan yang berlaku di zaman hidup pengarang yang bersangkutan, tekanan-tekanan dari lingkungan, maupun faktor-faktor internal yang menimpa pengarang adalah pundi-pundi bagi mereka untuk  semakin menghayati hidupnya yang tidak sekadar badan yang berjalan di atas bumi. Namun, yang paling hakiki ialah menemukan
wujudnya dalam bentuk karya-karya yang mewakili kemanusiaan berguna bagi umat manusia, khususnya sidang pembaca yang menghayati karya-karya sastra.

Maka, titik tolak tulisan ini ialah bukan menekankan pada isi dari suatu karya sastra yang berisi demonstrasi penderitaan melulu dari orang-orang yang tidak bernasib baik dan menemukan kecenderungan secara eksplisit agar pembaca bersimpati terhadap nasib jungkir balik orang-orang yang dikisahkan di dalamnya, melainkan kehidupan pengarang-pengarang yang menghasilkan karya sastra besar yang abadi sepanjang zaman.

Seperti yang telah dipaparkan tadi, umumnya pengarang-pengarang yang menghasilkan karya sastra yang baik dibesarkan oleh  penderitaan-penderitaan. Ernest Hemingway sebagai pengarang berdiri dengan kenyataan-kenyataan pahit akibat Perang Dunia I yang menimbulkan sikap pesimis dalam memandang kehidupan. Alexander Solzhenitsyn yang mengalami pengalaman delapan tahun
ditahan dalam berbagai barak tahanan melahirkan karyanya yang besar, yaitu Sehari Dalam Hidup Ivan Denisovich. Ada juga Fyodor Dostoyevsky mengalami tekanan yang berat ketika dijatuhi  ukuman
mati karena melawan pemerintah yang berkuasa pada masa itu. Kematian kedua orang tua dan pelecehan seksual di masa kecil yang dialami Virginia Woolf turut mempengaruhi proses kreatifnya dalam
berkarya.

Pengarang lainnya, yaitu Attila Jozsef, penyair Hungaria yang mengalami ketidakstabilan jiwa mengakhiri hidupnya dengan menabrakkan diri ke kereta api. Friedrich Nietzsche meninggal dalam keadaan gila sepenuhnya setelah mengalami keruntuhan rohani. Albert Camus dengan teori kehidupan absurdnya tak lepas dari kehidupan di masa kecil yang pahit dan keputusasaan menyaksikan Perang Dunia II. Penyakit TBC yang dideritanya turut
merongrong jiwanya yang setiap saat dapat berhadapan dengan kematian (Tokoh-tokoh Cerita Pendek Dunia, 2005). Kemudian,
silakan sebut pengarang lain yang sebagian besar hidupnya mengalami tekanan.

Pun di negeri Khatulistiwa ini kita mengenal pengarang-pengarang yang memiliki riwayat-riwayat yang tidak memanjakan dirinya.  Kemudian, umumnya, kenyataan seperti itu berlaku bagi semua
pengarang yang mencintai sastra dan ajeg di dalamnya. Sebut saja Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, Iwan Simatupang, dan pengarang besar lainnya. Iwan Simatupang yang dikenal sebagai
pembaharu kesusastraan Indonesia dengan karya-karyanya yang inkonvensional dan gagasan eksistensialisme yang bertebaran
dalam karya-karyanya, semasa hidupnya diwarnai dengan krisis-krisis yang memutusasakannya.

Seperti yang dijelaskan dalam Antologi Biografi Tiga Puluh  Pengarang Sastra Indonesia Modern (2002), pengalaman traumatis ketika Iwan Simatupang masih belajar di Fakultas Kedokteran dan kegagalannya menyelesaikan pendidikannya membuatnya berniat
bunuh diri. Juga soal perdebatan masalah agama yang membuat hubungan dengan keluarganya menjadi renggang. Krisis-krisis lain pun terus memukulnya. Pada tahun 1960, istri yang dicintainya meninggal dunia. Novel Ziarah yang memberi bentuk baru pada kesusastraan Indonesia dipersembahkannya untuk mendiang  istrinya itu.

Tentu masih banyak lagi pengarangpengarang negeri “nyiur  melambai” yang riwayatnya penuh luka tidak tertulis dalam tulisan yang sederhana ini. Namun, yang menjadi pertanyaan ialah, apakah benarbenar penderitaan yang mereka alami itu dan krisis-krisis yang kerap menimbulkan rasa ketidakberdayaan, kesia-siaan, kesunyian, dan ketidakberartian dalam riwayat-riwayat pengarang tersebut
berpengaruh besar terhadap karya-karya mereka?

Penderitaan bisa menjadikan seseorang berkepribadian hina atau mulia. Kurang lebih begitulah yang saya dengar dari pernyataan seorang tokoh ketika menonton biografi mantan presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela. Pernyataan tersebut tentu saja dikaitkan dengan ketabahan Nelson Mandela menjalani masa penjara selama
dua puluh tujuh tahun. Mungkin dapat dijabarkan di sini maksud pernyataan tersebut dengan pengertian saya sendiri.

Kemudian, pengertian itu sendiri bersifat sangat subjektif. Penderitaan yang dialami seseorang tidak akan menjadi sesuatu yang bernilai tinggi manakala orang itu merasa tidak ada yang dapat dilakukannya selain daripada mengeluh, menyalahkan diri sendiri ataupun keadaan luar, tidak mengantarnya pada renungan-renungan yang lebih dalam yang membuatnya semakin menghayati keberadaannya. Dalam arti lain krisiskrisis yang menghampirinya dalam pandangannya hanya berhenti sebagai krisis tanpa dapat dikaji-kaji sehingga ia tidak dapat menemukan sesuatu yang baru
yang dapat mengalihkannya dari sesuatu yang telah dianggap ‘kutukan’ itu.

Sementara itu, seseorang dapat dikatakan telah menemukan nilai-nilai yang tinggi atas penderitaannya ketika ia dapat menaklukkan dan melewati tahap-tahap yang menyakitkan untuk bertahan. Bukan berarti ia tidak pernah putus asa dengan krisis yang menimpanya. Namun, dari penderitaan itulah ia menemukan pelajaran berharga berupa kesadaran yang sungguh-sungguh dalam menghayati nilai-nilai kemanusiaan. Penderitaanpenderitaan yang memukul kuat tersebut dapat menjadikannya seseorang yang hebat dalam upaya menemukan dirinya. Inilah yang diwujudkan para sastrawan dalam
kerja kreatif untuk mencipta karya sastra.

Namun, kenyataan tentang hidup pengarang yang selalu penuh pergolakan jiwa dan pemberontakan, meski segala yang menjadi pandangan hidup mereka telah tertuang dalam karya-karyanya,
akan menjadi pertanyaan pula apakah sebenarnya yang melatarbelakangi semua itu. Ungkapan sastrawan Perancis, Guy de
Maupassant, di bawah ini barangkali dapat sedikit memberikan gambaran tentang hal tersebut.

Dalam pengantar kumpulan cerita pendek Mademoiselle Fifi: Kumpulan Cerita Pendek Guy de Maupassant (2004), ia mempertanyakan: “Mengapa ada penderitaan hidup? Aku selalu
merasakannya karena aku memiliki ‘penglihatan’ kedua, yang merupakan kekuatan sekaligus bencana bagi pengarang. Aku menulis karena mengerti dan aku menderita melihat semua
yang terjadi karena aku terlalu banyak mengetahui.”

Maupassant yang akhir hidupnya dalam kesehatan jiwa yang tidak sempat pulih merasakan penderitaan yang rupanya tidak hanya berasal dari dalam dirinya, melainkan juga berasal dari keadaan yang terjadi di luar yang turut menggelisahkan jiwanya. Penderitaan yang berasal dari dalam berupa kegelisahan terhadap diri sendiri, ketakutan, kemuakan, renungan tentang keberadaan diri ataupun sang Pencipta yang dapat membawa perasaan ke tingkat kesyahduan dan keputusasaan, akhirnya kembali juga ke dunia luar
karena tugas pengarang itu sendiri adalah mengamati manusia.

Itulah mungkin yang dimaksudkan Maupassant dengan “penglihatan kedua” itu. Penglihatan yang bertumpu pada kepekaannya yang memberi kekuatan sekaligus bencana. Karena kepekaan yang disebutnya sebagai kekuatan pengarang yang melebihi orang-orang awam, ia dapat menyaksikan kebodohan-kebodohan yang dilakukan manusia, sementara mereka tidak menyadarinya. Ia menyaksikan
kekosongan hidup orang lain dan ikut merasakannya. Namun, ia tidak berdaya untuk mengatasi kelemahan-kelemahan itu. Ia ingin memberontak terhadap ketimpangan-ketimpangan yang terjadi
di sekitarnya.

Akan tetapi, ia tahu bahwa itu tidak akan tumbang. Inilah juga yang menjadi bencana baginya, kegelisahan hakiki yang dirasakan pengarang karena ia selalu memiliki pandangan yang sangat berbeda dengan orang kebanyakan dalam menyikapi suatu persoalan.

Lalu timbul juga pertanyaan apakah dengan mengalami penderitaan yang hebat akan membuat seseorang dapat berkarya dengan baik? Kita mungkin bisa mengaitkan pertanyaan ini dengan pernyataan Sapardi Djoko Damono dalam buku Proses Kreatif: Mengapa dan
Bagaimana Saya Mengarang II (2009): “Saya suka iri setiap kali membaca riwayat hidup penyair yang penuh dengan saat yang menegangkan, petualangan, kesengsaraan, dan ketabahan; penyairpenyair seperti Lord Byron, Chairil Anwar, dan Arthur Rimbaud memiliki riwayat hidup semacam itu. Kalau saja salah satu
syarat kepenyairan seseorang adalah kehidupan semacam itu, rasanya tidak pantaslah saya menjadi penyair. Masa kecil saya rasanya biasa saja.”

Patut direnungkan juga apa yang dikatakan penyair Sapardi Djoko Damono. Dari situ kita dapat mengambil pengertian bahwa riwayat-riwayat sastrawan yang penuh luka dan saat-saat tegang bukanlah satu-satunya yang menentukan keberhasilan mereka dalam berkarya.

Adalah proses kreatif mereka yang lebih banyak mencari penuh rasa ingin tahu, mengenal hidup, dan mempunyai sikap hidup serta yang paling penting memiliki kepekaan itulah penentu keberhasilan berkarya. Penderitaan-penderitaan yang dialami oleh mereka tidak akan berdampak apa-apa seandainya mereka tidak memiliki kepekaan terhadap situasi buruk yang kerap memolesi hidup mereka.

Yasunari Kawabata yang gemar akan tema misteri maut disebut-sebut oleh pengkritik merupakan tema yang bersumber dari riwayat hidupnya sendiri, yang menyaksikan kematian berturut-turut dari keluarga yang mengasuhnya (Mengenal Sastra dan Sastrawan Jepang, 1989). Barangkali karena kepekaannyalah Yasunari menyukai tema tersebut dan barangkali juga terilhami oleh riwayat
keluarganya yang mati berturut-turut.

Akhirnya, semuanya akan kembali kepada proses kreatif para  pengarang yang memang bersifat pribadi sekali. Kita akan selalu dirundung pertanyaan apabila menghayati suatu karya yang berkesan,

”Apakah yang mendasarinya menulis karya seperti ini? Dan mengapa?”

Kita hanya dapat menduga-duga. Akan tetapi, memang tidak bisa dipungkiri bahwa mereka yang bergelut dengan kesusastraan akan selalu dirundung derita mengingat bahwa sastra menuntut kepekaan yang tidak bisa ditembus oleh kacamata orang awam. Kahlil Gibran pun menyebut penyair selalu diselubungi air mata.

Dalam hal ini, tulisan ini tidak bermaksud semata-mata  menampilkan riwayat-riwayat pengarang penuh luka dan menghubungkannya dengan cipta karya mereka. Bahwasanya melalui tulisan ini kita sama-sama memahami bahwa penderitaan
yang diderita oleh mereka tidak hanya berhenti sebagai siklus perubahan kehidupan yang turun naik, jatuh bangun, dan sebagainya. Namun, penderitaanpenderitaan yang memukul jiwa mereka itu diolahnya menjadi suatu nilai yang berharga, terwujud dalam bentuk cipta seni karya sastra yang mewakili zaman dan
kemanusiaan pada umumnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *