PARADIGMA PENELITIAN oleh Prof. Sriati

     Istilah Paradigma, dalam  Kamus Besar Bahasa Indonesia  diartikan sebagai model dalam teori ilmu pengetahuan, juga diartikan  sebagai “kerangka berpikir”  Istilah paradigma pertama kali diperkenalkan oleh Thomas Khun  (1962), sinonim dengan disciplinary matrix yang berarti perspektif  atau weltanschaung yang menyusun  penelitian dalam masyarakat ilmiah  Paradigma dedefinisikan sebagai suatu pandangan dunia dan model konseptual yang dimiliki oleh anggota masyarakat ilmiah yang menentukan cara mereka meneliti ( Bulaeng, 2004).  Sementara itu,  Ritzer (1975) mengartikan paradigma sebagai “subject matter” atau substansi dari ilmu pengetahuan. Sejalan dengan hal tersebut, Paradigma adalah pandangan yang mendasar tentang apa yang menjadi pokok kajian yang semestinya dipelajari sebagai disiplin ilmu pengetahuan Salim (2001) dalam Irianto dan Mardikanto (2010).  Dalam hal ini paradigma merupakan semacam konsensus dari ilmuwan tertentu, sehingga memunculkan berbagai sub-komunitas yang berbeda.  Dengan kata lain, paradigma dapat diartikan sebagai “pola pikir”, yang dijadikan landasan pemahaman terhadap sesuatu obyek atau gejala (fenomena) tertentu yang dipelajari.

Baca Dulu: Definisi dan Karakteristik Penelitian

     Menurut Khun (Bulaeng, 2004) disebutkan bahwa paradigma mengandung empat unsur yaitu: asumsi ontologis (subyek matter), asumsi epistemologis (metoda), asumsi metateoritis (teori), dan asumsi metodologis (prosedur).  Jika seseorang berbeda dalam hal paradigma yang dipilih, maka akan berbeda pula dalam keempat hal tersebut.  Asumsi ontologis menyangkut ruang lingkup yang dikaji.  Asumsi epistemologi menyangkut cara yang tepat mengenai obyek yang dikaji.  Asumsi metateoritis menyangkut penjelasan yang cocok untuk obyek yang dikaji. Dan asumsi metodologis menyangkut teknik atau prosedur yang cocok untuk diterapkan dalam penelitian mengenai obyek yang dikaji.

     Terdapat dua paradigma penelitian yang sampai saat ini masih terus berkembang, yaitu Penelitian Kuantitatif dan Penelitian Kualitatif. Dalam perkembangannya, berkaitan dengan permasalahan dan perekembangan ilmu pengetahuan maka ada metode penelitian kombinasi, yang pada hakekatnya menggabungkan  pendekatan kualitatif dan keuantitatif, dalam memecahkan permasalahan dalam penelitian, secara holistik.  Dengan metode/pendekatan kombinasi diharapkan kekurangan pada pendekatan kuantitatif dapat dilengkapi dengan pendekatan kualitatif.  Artinya kedua metode tersebut saling melengkapi dan memberikan cara pemecahan/pendekatan masalah dengan lebih baik. 

A.   Paradigma Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif

     Terdapat perbedaan paradigma penelitian kuantitatif dan kualitatif.  Perbedaan tersebut menyangkut tingkat pembentukan pengetahuan dan proses penelitian, tingkat epistemologi yang cukup tipis, tingkat teori tengahan (midle range), seperti diuraikan dalam kerangka teoritis, serta tingkat metode-metode dan teknik-teknik.  Diasumsikan terdapat kaitan antara epistemologi, teori dan metode. Namun demikian perbedaan tersebut umunya diterapkan pada tingkat metode, proses pengumpulan data dan bentuk pencatatan dan analisis data. Ada peneliti yang tetap setia salah pada satu paradigma, tetapi ada pula yang lebih suka memadukan kedua metode tersebut (Brannen, 1997).

     Penelitian kualitatif dilakukan untuk mengeksplorasi informasi/ data yang diperlukan, yang sulit dituangkan dalam bentuk data kuantitatif.  Penelitian kuantitatif lebih tepat digunakan dalam penelitian inferensial dengan menggunakan parameter yang bersifat emik (yang dirumuskan berdasarkan teori/konsep/pengalaman empirik).  Penelitian kualitatif sering disebut paradigma alamiah, dan penelitian kuantitatif sebagai paradigma ilmiah.       

     Perbedaan metode penelitian kuantitatif dan kualitatif, dapat juga dilihat dari tiga aspek, yaitu : (a) perbedaan aksioma, (b) proses penelitian, dan (c) karakteristik penelitian (Sugiyono, 2011).

a. Perbedaan aksioma. 

Aksioma adalah pandangan dasar atau filsafat. Aksioma penelitian kuantitatif dan kualitatif  mencakup aksioma  tentang : sifat realitas, hubungan peneliti dengan yang diteliti, hubungan variabel, kemungkinan generalisasi, dan peran peneliti. Metode kuantitatif berdasarkan pada filsafat positivisme, dimana realitas dipandang sebagai suatu yang konkrit, dapat diamati dengan panca indera, tidak berubah dalam waktu relatif lama, dapat diukur dan dibuktikan. Sehingga, dalam penelitian kuantitatif peneliti dapat menentukan hanya beberapa variabel saja dari obyek yang diteliti kemudian membuat instrumen pengukurnya.  Sementara penelitian kualitatif  berdasarkan pada pandangan postpositivisme atau paradigma interpretative. Dalam hal ini suatu realitas atau obyek tidak dapat dilihat secara parsial dan dipecah dan dipecah ke dalam beberapa variabel.  Penelitian kualitatif memandang suatu obyek sebagai satu kesatuan yang utuh, dinamis, hasil konstruksi pemikiran da interpretasi terhadap gejala yang diamati, serta utuh (holistik), karena setiap aspek dari obyek mempunyai kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.  

     Dari hal tersebut maka terdapat perbedaan aksioma antara penelitian kualittatif dan kualitatif.  Penelitian kuantitatif memandang realitas sebagai sesuatu yang tunggal, diklasikasikan, konkrit, dapat diamati dan terukur. Hubunagn antara peneliti dengan yang diteliti bersifat independen agar dicapai obyektivitas, hubungan variabel merupakan  sebab akibat (kausalitas),  cenderung membuat generalisasi dan cenderung bebas nilai.     

     Sementara penelitian kualitatif, memandang realitas sebagai suatu yang ganda, holistik, dinamis, merupakan hasil konstruksi dan pemahaman. Hubungan antara peneliti dan yang dibersifat interaktif dengan sumber data agar diperoleh makna.  Hubungan variabel bersifat timbal balik (interaktif), transferable dan terikat nilai-nilai yang dibawa peneliti dan sumber data.   

b.Proses penelitian.

       Berdasarkan prosesnya, penelitian kuantitatif dan kualitatif terdapat perbedaan. Proses  penelitian kuantitatif bersiat linier, sedangkan penelitian kualitatif bersifat sirkuler. Proses penelitian kuantitatif bertolak dari studi pendahuluan dari obyek yang diteliti. (Preliminary study) untuk mendapatkan masalah. Masalah digali melalui studi pendahuluan, fakta-fakta empiris, dan membaca referensi. Masalah dirumuskan secara spesifik, dan umumnya dalam kalimat tanya, Untuk menjawab masalah peneliti menggunakan teori dan juga hasil kajian (penelitian ) terdahulu yang relevan, disusun dalam kerangka pikir. Dari kerangka pikir dirumuskan hipotesis yang merupakan jawaban sementara terhadap masalah penelitian.  Selanjutnya, untuk menguji hipotesis, peneliti menggunakan metode/strategi /pendekatan /desain penelitian yang sesuai dengan masalah. 

          Proses penelitian kualitatif, dapat diibaratkan seperti orang akan pergi ke hutan    Peneliti hanya tahu tentang lokasi hutan yang akan dituju, tetapi belum tahu pasti apa yang terdapat di dalamnya.  Peneliti akan mengetahui setelah memasuki hutan tersebut, membaca berbagai informasi, berpikir, bertanya kepada orang di sekitar lokasi, mengamati hutan dan melalukan wawancara kepada orang sekitar. Tahap pertama ini disebut tahap orientasi atau deskripsi. Tahap ke dua adalah tahap reduksi/fokus. Yakni peneliti mereduksi segala informasi yang telah diperoleh pada tahap 1 untuk memfokuskan pada masalah tertentu.  Pada tahap ini peneliti menyortir dan mengelompokkan data. Peneliti memilih data yang menarik, penting, berguna, dan baru.  Kemudian dikolompok-kelompokkan menjadi beberapa katagori yang ditetapkan sebagai fokus penelitian. Tahap ke tiga, adalah tahap selection. Pada tahap ini peneliti menguraikan fokus penelitian menjadi lebih rinci. Dengan menganalisis mendalam terhadap data dan informasi peneliti menemukan tema dengan cara mengkontruksikan data yang diperoleh menjadi suatu bangunan pengetahuan, hipotesis, atau ilmu yang baru. Hasil akhir penelitian kualitatif, bukan hanya data atau informasi yang sulit dicari melalui metode kuantitatif, tetapi juga harus mampu menghasilkan informasi yang bermakna, bahkan hipotesis atau ilmu baru yang dapat digunakan untuk membantu mengatasi masalah dan meningkatkan kesejahteraan manusia. Data dan informasi yang diperoleh dapat berupa informasi yang bersifat deskriptif, komparatif, maupun asosiatif.  Informasi deskriptif adalah gambaran lengkap tentang keadaan obyek yang diteliti, informasi komparatif adalah gambaran informasi lengkap tentang perbedaan atau persamaan gejala pada obyek yang diteliti, dan informasi asosiatif adalah gambaran informasi  lengkap tentang hubungan antara variabel satu dengan gejala lain.  

Karakteristik penelitian

     Perbedaan karakteristik penelitian kuantitatif dan kualitatif dapat dilihat dari perbedaan metode kualitatif dan kuantitafif.  Aspek metode yang dapat diperbadingkan meliputi : (1) desain, (2) tujuan, (3) teknik pengumpulan data, (4) Instrumen penelitian, (5) Data, (6) Sampel, (7) Analisis, (8) hubungan dengan responden, (9) Usulan desain, (10) Kapan penelitian dianggap selesai, dan  (11) kepercayaan terhadap hasil penelitian (Sugiyono, 2011). Perbedaan karakterisik penelitian kuantitatif dan kualitatif dapat diuraikan sebagai berikut.

  1. Karakteristik Penelitian Kantitatif.
  1. Desan : spesifik, jelas, rinci, ditentukan secara awak, dan menjadi pengangan langkah-demi langkah.
  2. Tujuan : menunjukkan hubungan antar variabel, menguji teori dan mencari generalisasi.
  3. Tenik pengumpulan data : kuesioner, observasi, dan wawancara terstruktur. 
  4. Instrumen penelitin : tes, angket, wawancara, dn instrumen yang telah baku.
  5. Data : bersifat kuantitatif, hasil pengukuran variabel yang dioperasionalkan dengan penguluran instrumen.
  6. Sampel, : relatif baynak, representatif, sedapat mungkin acak dan ditemukan sejak awal.
  7. Analisis data : dilakukan setelah selesai pengumpulan data, bersifat deduktif, dan dianalisis menggunakan statistik untuk uji hipotes.
  8. Hubungan dengan reponden: berjarak, kedudukan peneliti lehih tinggi daripada responden.
  9. Usulan desain , luas dan rinci, masalah dirumuskan dengan secaraspesifikdan jelas, prosedur spesifik, ditulis dengan rinci dan jelas  sebelum ke lapangan. 
  10. Penelitian dianggap selesai : setelah semua rencana diselesaikkan.
  11. Kepercayaan terhadap hasil penelitian :pengujian validitas dan reliabilitas instrumen. 

2. Karakteristik Penelitian Kualitatif. 

  1. Desain : bersifat umum, fleksibel, berkembang selama proses penelitian.
  2. Tujuan : menemukan pola hubungan yang bersifat interaktif, menemukan teori, dan menggambarkan realitas yang konpleks.
  3. Teknik pengumpulan data : observasi partisipasi, wawancara mendalam, dokumentasi, dan triangulasi. :
  4.  Instrumen penelitian : peneliti (human instrument), buku catatan ,  camera, tape recorder, handycam dan lain-lain.
  5. Data : deskriptif kualitatif, dokumen pribadi, catatan lapangan, dan tindakan responden, dan dokumentasi.
  6. Sampel : relatif sedikit, tidak representatif, purposive, snawball, berkembang selama proses penelitian.
  7. Analisis data : terus menerus sejak awal penelitian, induktif, mencari model, tema, dan teori.
  8. Hubungan dengan resonden : empati, akrab, kedudukan sama.
  9. Usulan desain : singkat, umum, bersifat sementara, pustaka tidak menjadi peganangan utama, prosedur umum, masalah bersifat sementara dan ditemukan setelah studi pendahuluan, tidak merumuskan hipotesis malahan menghasilkan hipotesis.  
  10. Waktu penelitian selesai : setelah tidak ada data-data yang dianggap baru (jenuh).
  11. Kepercayaan terhadap hasil penelitian : pengujian kredibilitas, depensbilitas, proses dan hasil.

      Penelitian kuantitatif dirancang sesuai dengan asumsi paradigma kuantitatif sementara penelitian kualitatif dirancang sesuai dengan asumsi paradigma kualitatif. Menurut Creswell (1994) setiap paradigma menggunakan asumsi yang berbeda. Berikut asumsi-asumsi paradigma kuantitatif dan kualitatif, yang meliputi asumsi ontologis, epistemologis, aksiologis, retoris dan metodologis (Tabel 2.1)

Tabel 2.1.Asumsi Paradigma Kuantitatif dan Kualitatif (Creswell, 1994)

ASUMSIPERTANYAANKUANTITATIFKUALITATIF
Asumsi Ontologis  Apakah realitas itu?Realitas itu obyektif  tunggal, dan ter pisah dari penelitinyaRealitas itu subyektif, ganda, sebagai dilihat oleh penelitinya  
Asumsi Epis tomologisBgaimana hubungan antar peneliti dan yang diteliti?Peneliti itu independent terhadap yang ditelitiPeneliti itu berinteraksi dengan yang diteliti
Asumsi AksiologisBagaimanakah Peranan nilaiBebas nilai dan tidak biasTerikat nilai dan bias
Asumsi RetorisBagaimanakah bahasa penelitian itu?FormalBerdasar seperangkat definisiSuaranya impersonalMenggunakan kata-kata kuantitatif yang telah diterima  InformalMelibatkan keputusan-keputusanSuaranya personalMenggunakan kata-kata kualitatif yang telah diterima
Asumsi MetodologisBagaimanakah proses penelitian- nya?DeduktifHubungan sebab-akibat   Rancangan statis: kategori=kategorinya terpisah sebelum penelitian   Bebas kontekInduktifFaktor-faktor yang terbentuk secara simultan timbal balikRancangan berkembang: kategori-kate gorinya diidentifikasi selama proses penelitianTerikat konteks 
  Generalisasi yang mengarah pada prediksi, eksplorasi, dan pemahamanAkurat dan reliabel melalui uji validitas dan reliabilitas Pola-pola dan teori dikembang-kan untuk pemahamanAkurat dan reliabel melalui pembuktian  

2.3. Alasan Pemilihan Paradigma

     Peneliti mempunyai alasan-alasan dan pertimbangan tertentu dalam memilih dan menggunakan pendekatan penelitiannya. Paling tidak terdapat dua alasan pokok yang menjadi pertimbangan dalam memilih pendekatan penelitian, yaitu kecocokan asumsi dan sifat masalah  (Silalahi, 2010). Menurut Slamet (2001) dalam Irianto dan Mardikanto (2010), alasan-alasan tersebut berkaitan dengan kriteria-kriteria yang meliputi : pandangan peneliti, latihan dan pengalaman peneliti, sifat-sifat psikologis peneliti, sifat masalah penelitian, dan khalayak bagi penelitiannya.   Deskripsi tentang pertimbangan  dan alasan tersebut seperti pada Tabel 2.2.

Tabel 2.2. Alasan Pemilihan Paradigma Penelitian

KriteriaKuantitatifKualitatif
Kesesuaian asumsiPeneliti merasa sesuai dengan asumsi ontologis, epistemologis, aksiologis, retoris, dan metodologis dari paradigma kuantitatifPeneliti merasa sesuai dengan asumsi ontologis, epistemologis, aksiologis, retoris, dan metodologis dari paradigma kualitatif
Latihan dan pengalaman penelitiKetrampilan teknis menulis ketrampilan statistika dan komputer, ketrampilan kepustakaan.Ketrampilan menulis teks yang analitis, ketrampilan kepustakaan
Sifat-sifat psikologis penelitiMerasa cocok dengan aturan dan petunjuk bagi pelaksanaan penelitian, toleransi rendah terhadap keti-dak-jelasan, masa studi/penelitiannya pendekMerasa cocok dengan kurangnya aturan dan petunjuk bagi pelaksanaan penelitian, toleransi tinggi terhadap ketidakjelasan, masa penelitian panjang
Sifat masalah penelitianTelah dipelajari terlebih dahulu oleh peneliti lain, sehingga  pustaka tersedia, teori tersedia, dan variabel-variabelnya diketahuiPenelitian eksploratoris, variabel belum diketahui, mementing kan konteks, dasar teori bagi penelitian nya bisa jadi masih kurang
Khalayak bagi studinyaIndividu-individu yang mendukung, terbiasa dengan penelitian studi-studi kuantitatifIndividu-individu yang mendukung, terbiasa dengan penelitian studi-studi kualiitatif

B. Jenis/Macam Penelitian

     Banyak pendekatan untuk menyebutkan jenis/macam-macam penelitian, antara lain berdasarkan : landasan filsafat, tujuannya, dan metodenya.  Berdasarkan filosofinya penelitian digolongkan atas : penelitian kuantitatif, kualitatif, dan kombinasi (Sugiyono, 2011) Metode kuantitatif terdiri atas  metode survei dan eksperimen.  Metode Kualitatitif terdiri atas : phenomenology, grounded theory, ethnography, case study,dan narrative.  Sedangkan yang tergolong metode kombinasi adalah : model sequential (kombinasi berurutan), dan model concurrent (kombinasi campuran). Model Kombinasi berurutan terdiri dua macam yaitu model sequential explanatory (urutan pembuktian) dan sequential exploratoiry (urutan penemuan). Selanjutnya model concurrent (campuran) terdiri atas : model concurrent triangulation (campuran kuantitatif dan kualitatif secara berimbang) dan concurrent embedded(campuran kuantitatif dan kualitatif tidak berimbang).

          Jenis metode Penelitian dapat digambarkan seperti gambar berikut (Gambar 2.1)

KUANTITATIF     KUALITATIF              KOMBINASI

a. Survei                a. Phenomenology        a. Sequental/berurutan

b. Eksperimen       b. Grounded theory           1. Sequential explanatory

                                                                        2. Sequential exploratory

                              c. Ethnografy

                              d. Case study                 b. Concurret/campuran

                              e   Narative                        1. Concurrent triangulation

                                                                   2.  Sequentaial embedded 

Gambar 1.5. Jenis MetodePenelitian

        Berdasarkan tujuannya, penelitian dapat digolongkan atas : (1) penelitian dasar (basic research) dan (2) penelitian terapan (applied research).  Penelitian dasar disebut juga penelitian murni, yaitu penelitian yang digunakan secara tidak langsung untuk memecahkan suatu masalah.  Penelitian dasar biasanya digunakan untuk menguji kebenaran suatu teori tertentu secara mendalam.  Sementara penelitian terapan  adalah penelitian yang menyangkut aplikasi teori untuk memecahkan masalah tertentu.  Penelitian terapan dapat dikatagorikan tiga bentuk yakni : (1) penelitian evaluasi, (2) penelitian dan pengembangan, dan  (3) penelitian tindakan.

     Penelitian evaluasi adalah penelitian yang diharapkan dapat memberikan masukan atau mendukung pengambilan keputusan tentang nilai relatif dari suatu atau lebih alternatif  tindakan. Misalnya  apakah penggunakan teknologi baru dalam pemupukan akan memberikan produksi yang lebih tinggi?    Penelitian dan pengembangan adalah penelitian yang bertujuan untuk mengem- bangkan produk sehingga produk mempunyai kualitas yang lebih tinggi,  mempunyai jangkauan pemasaran yang lebih luas.

      Penelitian tindakan adalah penelitian yang dilakukan untuk dipergunakan sebagai dasar pemecahan masalah .  Misalnya apa yang harus dilakukan Kelompok tani ketika perubahan kebijakan berkaitan dengan usahataninya. (Muhamad, 2008 : 18).

     Jenis penelitian juga dapat digolongkan berdasarkan jangkauan-nya dalam pemecahan masalah penelitian .  Macam masalah penelitian dari yang sederhana sampai yang komplek terdiri atas :

  1. Belum menemukan ciri-ciri, sifat-sifat, unsur-unsur dari sebuah obyek/kejadian/ fenomena
    1. Belum menemukan ciri-ciri, sifat-sifat, unsur-unsur beberapa obyek/kejadian/ /fenomena pada tempat dan waktu berbeda.
    1. Belum dapat menerangkan hubungan (keterkaitan) antar fenomena/kejadian
    1. Belum memperoleh cara (metode) atau alat (teknis) untuk mencapai tujuan tertentu (memecahkan masalah tertentu
    1. Terdapat keraguan-raguan terhadap ilmu pengetahuan (teori) yang telah ada.

    Berdasarkan pada masalah penelitian yang dihadapi dan hubungannya dengan tujuan penelitian untuk mencari, mengembangkan, dan menguji kebenaran suatu teori, maka jenis penelitian dapat digolongkan atas 3 macam, yaitu :

  1. Penelitian eksploratif atau penelitian penjajagan (explorative research), yakni penelitian yang berusaha mendapatkan sesuatu untuk mengisi kekosongan.
  2. Penelitian pengembangan (developmental research) , yakni penelitian yang berusaha untuk memperluas atau menggali lebih dalam pengetahuan-pengetahuan yang telah ada,
  3. Penelitian pengujian (verificative research), yaitu penelitian yang dilakukan atas dasar keraguan terhadap teori tertentu, yakni penelitian yang ditujukan untuk menguji kebenaran suatu teori.

     Berdasarkan metodenya, jenis penelitian dapat digolongkan atas empat macam yaitu : (a) metode filosofis, (b) metode deskriptif, (c)  metode histories, dan  (d) metode eksperimen). Masing-masing metode tersebut dapat diuraikan sebagai berikut

a. Metode Filosofis.    

      Prosedure pemecahan masalah yang diselidiki secara rasional melalui perenungan atau pemikiran yang terarah, mendalam, dan mendasar tentang hakekat sesuatu yang ada dan yang mungkin ada, baik dengan mempergunakan pola pikir aliran filsafat tertentu maupun dalam bentuk analisa sistematik berdasarkan pola berpikir induktif, deduktif, fenomenologis dan lain-lain dan dengan memperlihatikan  hukum-hukum berpikir (logika).

b. Metode Deskriptif

     Prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan/melukiskan keadaan subyek/obyek penelitian/ seseorang, lembaga, masyarakat, dan lain-lain pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak dan sebagaimana adanya.

Ciri-ciri pokok :

1. Memusatkan perhatian pada masalah yang ada pada saat penelitian

2. Menggambarkan fakta-fakta tentang masalah-masalah yang diselidiki sebagaimana adanya, diiringi dengan interpretasi rasional yang tepat (sesuai).

Bentuk pokok metode deskriptif :

1. Survei (Survey studies)

2. Studi Hubungan  ( Interrelationship studies)

3. Studi perkembangan (Developmental studies)

Bentuk pokok tersebut tidak baku, jadi tidak mustahil digunakan secara bersama-sama.

A.1. Survey Studies

    Pada dasarnya survei tidak berbeda dengan research (penelitian). Survey umumnya digunakan untuk kajian yang  menyeluruh, sedangkan penelitian  biasanya menekankan pada satu atau beberapa aspek dari obyeknya.

Jenis-jenis studi yang tergolong dalam penelitian survei :

a. Survei Kelembagaan (Institutional survei)

b. Analisis Jabatan/Pekerjaan (Job Analisis)

c. Analisis Dokumenter (Documentary Analysis)

d. Analisis Isi (Content Analysis)

e. Survei Pendapat Umum (Public Opinion Survey)

f. Survei Kemasyarakatan (Community Survey).

C. Metode Histories.  Metode Penelitian Historis  umumnya dilakukan untuk membuat rekonstruksi masa lampau secara sistematis dan obyektif, dengan cara mengiumpulkan, mengevaluasi, memverifikasikan, serta mensintesiskan bukti-bukti  yang ada untuk mendapatkan kesimpulan mengenai sebab-sebab, dampak, atau perkembangan dari kejadioan yang telah lalu yang dipergunakan untuk menjelaskan kejadian sekarang dan menantisipasi kejadian yang akan datang. 

     Penelitian historis menggunakan dua macam data, yaitu data primer dan data sekunder.  Data primer diperoleh dari sumber data langsung, artinya peneliti secara langsung melakukan observasi atau penyalksian kejadian-kejadian yang dituliskan.  Sedangkan data sekunder diperoleh dari dokumen-dokum,en atau catatan-catan masa lampau yang telah dikumpulkan oleh peneliti atau pihak lain. Sebagaian ilmuwan menyebut penelitian histories sebagai penelitian dukumenter, apabila penelitian hanya didasarkan pada penelusuran data (dokumentasi) masa lampau. 

     Penilaian (evaluasi) data penelitian histories dilakukan melalui dua macam kritik, yantu kritik eksternal dan kritik internal.  Kritik eksternal menganykut keautentikan (keaslian), keakuratan, dan kesesuaian (relevansi) data.  Sedangkan kritik internal berkaitan dengan motif  atau latar belakang kebeadaan data tersebut. 

D. Metode Eksperimen. Metode Penelitian Eksperimen dapat dikelompokksan atas : (1) Penelitian eksperimental sungguhan (true-experimental research), dan (2) penelitian Eksperimental semu (quasi-eksperimental research).

Metode  Penelitian Eksperimen Sungguhan (true-experimental research),  digunakan untuk menyelidiki kemungkinan-kemungkinan  saling hubungan sebab-akibat dengan cara mengenakan satu atau lebih kelompok eksperimental satu atau lebih kondisi perlakuan dan memperbandingkan hasilnya dengan satu atau lebih kelompok kontrol yang tidak dikenai kondisi perlakukan. Pada umumnya penelitian eksperimen dilakukan dalam penelitian ilmu pengetahuan alam yang bersifat eksak, yang dilakukan di lapangan ataupun di laboratorium.  Berbeda dengan metode penelitian lainnya, dalam penelitian eksperimental peneliti nengontrol sepenuhnya perlakuan atau kondisi yang diciptakan untuk memperoleh data primer.  Pembentukan kondisi.  dan perlakuan dilakukan sesuai dengan kaidah metode  penelitian eksperimen  yaitu rancangan  percobaan (eksperimental design), dan rancangan perlakuan (treatment design).

Contoh :

  1. Penelitian yang mengkaji tentang  pengaruh pemberian pupuk pada tanaman padi, dengan perlakuan dosis pupuk, dan jenis pupuk, maupun cara pemberian pupuk.
    1. Penelitian yang mengkaji  pengaruh cara panen terhadap …..

Sementara metode penelitian eksperimental semu ( quasi-experimenta lresearch), bertujuan untuk memperoleh informasiyang merupakan perkiraan bagi informasi yang da;pat diperoleh dengan eksperimen yang sebenarnya dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk mengontrol dan/atau memanipulasikan semua variabel yang relevan.  Dalam hal ini, peneliti harus dengan jelas memahami kompromi-kompromi apa yang ada pada internal validity dan eksternal validity rancangannya dan berbuat sesuai dengan keterbatasan-keterbatasan tersebut.

Contoh:

1. Pengaruh metode penyuluhan terhadap pemahaman petani terhadap materi penyuluhan.

  • Penelitian tentang efektifitas penggunaan media komunikasi dalam perubana perilaku petani

Berdasarkan sifat-sifat masalahnya, selain  ke empat jenis metode tersebut, ada 3 jenis lainnya yaitu : (1) penelitian korelasional, (2) penelitian kausal komparatif. dan (3) penelitian tindakan. Penelitian korelasional adalah penelitian yang bertujuan menentukan apakah terdapat asosiasi antara dua variabel atau lebih, serta seberapa jauh korelasi yang ada di antara variabel yanga diteliti.

Contoh : 

1. Kajian tentang hubungan antara persepsi petani terhadap tekno-

    logi pemupukan dengan  perilakunya dalam menggunakan pupuk

2. Kajian tentang : Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi kerja karyawan.

  • Studi tentang memprediksi keberhasilanstudi mahasiswa berdasarkan nilai test ujian saringan masuk.

Penelitian kausal komparative, yaitu penelitian yang bertujuan untuk menyelidiki kemungkinan hubungan sebab-akibat dengan cara  : pengamatan terhadap akibat yang ada mencari kembali faktor yang mungkin menjadi penyebab melalui data tertentu.  Hal ini berbeda dengan penelitian eksperimental yang mengumpulkan datanya pada waktu kini dalam kondisi yang dikontrol. Pada penelitian eksperimental peneliti mengendalikan sedikitnya satu variabel bebas dan mengamati akibat yang terjadi kepada satu atau lebih variabel terikat.

Misalnya :

  1. Pengaruh jenis media komunikasi terhadap pemahaman petani terhadap pesan penyuluhan (materi yang disampaikan). Variabel bebasnya adalah jenis media komunikasi, dan variabel terikatnya adalah pemahaman petani terhadap materi/pesan  penyuluhan yang disampaikan.
    1. Dampak pembinaan terhadap kinerja karyawan. Variabel bebasnya adalah pembinaan dan varianbel terikatnya adalah kinerja karyawan.

     Pada penelitian kausal komparatif, variabel bebas merupakan hal yang sudah terjadi dan tidak dikendalikan. Variabel bebas yang secara alami tidak bisa dikendalikan misalnya jeniks kelamin (pria dan wanita), Adanya hubungan sebab-akibat yang jelas dari hasil penelitian, kausal komparatif tidak terdapat pengendalian terhadap variabel bebas, hasil penelitian ini umumnya bersifat tentatif.  Namun keuntunganya penelitian ini lebih murah dan waktunya lebih pendek ari pada penelitian eksperimen.

Misalnya :

  1. Penelitian yang bertujuan menetukan karakteristik petani yang berhasil dalam menerapkan teknologi baru berdasarkan  catatan/data tentang karakteritik individunya secara lengka
    1. Pengaruh jenis kelamin terhadap perilaku petani dalam memanfaatkan teknologi baru dalam usahataninya.
    1. Pengaruh jenis kelamin terhadap kinerja karyawan.

     Penelitian tindakan (Action Research).  Adalah penelitian yang bertujuan mengembangkan ketrampilan-ketrampilan baru atau cara pendektan baru dan untuk memecahkan masalah dengan penerapan langsung di dunia kerja.

Contoh ; suatu program inservice –training untuk melatih para penyuluh bekerja dengan petani dalam suatu program pemberdayaan petani;  untuk menyusun rencana kerja usaha agribisnis komoditi tertentu, sesuai kondisi wilayah.

Penelitian tindakan memiliki ciri-ciri :   (1) praktis, langsung relevan untuk situasi aktual dalam dunia kerja, (2) menyediakan kerangka kerja yang teratur untuk pemecahan masalah dan perkembangan-perkembangan baru, em[piris berdasar pada observasi aktual, (3) fleksibel dan adaptaif, membolehkan perubahan selama masa penelitiannya, dan mengorbankan kontrol untuk kepentingan on-the-spot experimentation dan inovasi, dan (4) meskipun berupaya sistematis, namun kurang ketertiban ilmiah karena validitas internal dan ekternalnya lemah.  Tujuannya situasional, sampelnya terbatas dan tidak representatif, dan kontrolnya terhadap variabel bebas kecil.  Oleh karena itu hasilnya lebih banyak untuk aspek praktis, dan tidak secara langsung untuk pengembangan keilmuan (kontribusi keilmuannya rendah).

     Berdasarkan uraian di atas  seorang peneliti dapat memilih satu atau lebih metode yang tepat untuk menjawab permasalahan penelitiannya. Dengan kata lain peneliti dapat juga mengkate-gorikan jenis penelitiannya  dari dasar pengelompokan berbeda, misalnya berdasarkan filosofi atau penekatan termasuk penelitian kualitatif, dari tujuannya termasuk penelitian deskriptif, dari metodenya termasuk penelitian survey, dan sebagainya.

      Pembentukan paradikma penelitian dilhami adanya pendekatan kuantifikasi dalam ilmu pengetahuan, Matematika sebagai induk ilmu pengetahuan, fisika dan sejenisnya dipandang sebagai ilmu “keras, sedangkan ilmu sosial sebagai. ilmu lunak, Kuantifikasi tersebut bukan untuk meremehkan, tetapi untuk menunjuksan adanya toleransi dalam ketidaktepatan dugaan dan keterandalan (no flexibility, rigid and fixed probability )

        Sifat paradigma dapat digambarkan sebagaimana uraian berikut. Paradigma sebagai sistem kepercayaan dasar yang didasarkan pada asumsi-asumsi ontologis, epistemologis, dan metodologis. Paradigma  bisa dipandang sebagai sekumpulan kepercayaan dasar (atau metafisika) yang berurusan dengan prinsip-prinsip puncak atau pertama. Paradigma mewakili pandangan dunia yang menentukan bagi pemakainya, sifat “dunia“ tempat individu didalamnya, dan rentang hubungan yang dimungkinkan dengan hubungan tersebutdan bagian-bagiannya, seperti misalnya yang dilakukan kosmologi dan teologi

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *