Namamu Cinta

I.

Namaku cinta ketika kita bersama
berbagi rasa untuk selamanya

Aku tidak bertanya nama, tidak pula bertanya berapa nomor ponselmu.
Apalagi menduga-duga jarak antara Berlin dan Jakarta, cukupkah satu 
juta gulung benang diuntai pada keduanya, lalu aku akan meniti langkah
seolah jembatan mustaqim, bagi seseorang dengan cinta yang bermukim?

Aku tidak pula tahu, adakah jalur kereta dari Jakarta ke Palembang
dan aku akan pilih kupe terdepan, tiket bisnis ber-AC, bersandar 
lalu dunia hanya akan seluas jendela yang begitu cepat dipendarkan?
Seorang pria menempuh kesendirian lalu tersesat di kedalaman matamu.

Aku tidak bertanya apa yang kau lihat, adakah kedua bola mata itu
tengah membaca isyarat lalu berlompatan abjad dari dalamnya, berlari
ke arah musim semi, ketika daun-daun belajar warna hidup, dan degup
milikku yang dikejar waktu ingin beristirah mencari bangku terteduh?

Aku tidak pula tahu, ketika kelak aku sampai, adakah masa depan
dapat dirupakan, apakah perasaan dapat dilukiskan, apakah pertanyaan
benar-benar membutuhkan jawaban seperti saat aku melempar
satu saja milikku, “Ah, maukah kau menggenapi separuh agamaku?”

II.

Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi
Aku tenggelam dalam lautan luka dalam
Aku tersesat dan tak tahu di mana jalan pulang
Aku tanpamu, butiran debu

Kita tidak pernah saling melambaikan tangan, dan mengucap sampai
jumpa lagi. Karena Allah yang mempertemukan, Allah jualah yang
akan mengutuhkan. Di dalam hati, kita berucap “insyaAllah”, berharap
sejauh-jauh kita terjatuh, seorang di antara kita mengulurkan tangan
mencapai permukaan. Kita debu, suatu hari kembali debu. Angin
yang berzikir, menampar sekian kesadaran, jalan panjang ini hanya
mula dan kesendirian bagai ayunan tua di pojok taman, berkarat
dan dilupakan. Karenanya, kau tak boleh berjalan di depan atau
di belakang karena takut pada bayang-bayang. Kita saling genggam,
bersisian dan melihat palung luka tak usah diselami. Karena biduk
telah siap dimasuki. Karena ombak telah rela dijinakkan. Disibakkanlah
pintu-pintu yang lain, berbagai kemungkinan kita menuju, tapi tak apa
asal berdua denganmu, dan Allah di antaranya.

(2012)

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *