More than a Woman: Saatnya Perempuan Mengambil Peran

Jumat sore lalu, aku berkesempatan mengikuti Ideafest 2020. Sesi Ideatalks yang kuikuti saat itu bertemakan More Than a Woman: How These Female Leaders Make a Change dengan narasumber Vera Galuh Sugijanto selaku VP General Secretary Sarihusada, Dewi Muliaty selaku Presiden Direktur Prodia, dan Hannah Al Rashid selaku aktor dan aktivis.

Mungkin membaca kata “aktor” yang dilekatkan ke Hannah Al Rashid, sebagian orang akan merasa heran. Aktor itu kan sebutan untuk laki-laki? Kalau perempuan itu aktris lho?

Itulah salah satu perubahan pada bahasa yang kini menyamakan penggunaan kata aktor baik untuk laki-laki dan perempuan. Sedangkan istilah aktris tetap dipakai dalam penganugerahan (award).

Sesi tersebut menarik, membuka mata kita semua bahwa sudah seharusnya perempuan tidak malu-malu lagi mengambil peran penting di masyarakat. Seorang perempuan yang sudah menikah tidak melulu harus bergantung pada suaminya, hanya menjadi ibu rumah tangga, dan mengorbankan banyak hal untuk itu. Waktu bisa membuktikan bahwa perempuan tetap bisa sukses menjadi ibu rumah tangga sambil membangun kemandirian. Hal itu juga untuk mengantisipasi peran yang akan beralih apabila (amit-amit) sang suami meninggalkannya, baik itu karena kematian atau hubungan yang tidak langgeng lagi.

Peran yang membutuhkan sosok perempuan juga semakin banyak. Karena toh, sejak program pengarusutamaan gender digalakkan, banyak perusahaan atau kantor pemerintah memperhatikan betul dukungan kepada para perempuan. Mulai dari ruang untuk menyusui hingga pemberian cuti hamil dan melahirkan selama maksimal 6 bulan untuk juga memberikan waktu efektif menyusui buat bayinya kelak.

Salah satu perusahaan yang telah perhatian pada pengarusutamaan gender tersebut adalah Sari Husada. Lebih lanjut, perusahaan yang bergerak di bidang nutrisi ini juga mengeluarkan program pemberdayaan perempuan untuk jadi lebih produktif lewat Warung Anak Sehat. Jadi, Sari Husada mendukung para perempuan menciptakan produk makanan yang mengedapankan gizi dan nutrisi pada makanan tersebut.

Hannah Al Rashid juga membagikan pengalamannya di dunia akting. Peran perempuan juga semakin diperhatikan. Industri perfilman semakin memandang kualitas seni peran para perempuan sehingga semakin lazim bayaran yang diterima para perempuan lebih tinggi dibanding laki-laki. Sutradara perempuan pun semakin bermunculan kini.

Sementara itu, Dewi Muliaty mengungkapkan di Prodia juga banyak pegawai perempuan. Posisi penting perempuan di bidang kesehatan tidak hanya untuk menjadi bidan atau perawat. Posisi yang membutuhkan ketelitian dan kecermatan di Prodia juga banyak diisi perempuan.

Bagaimana di pemerintahan? Beberapa bulan lalu aku diminta menjadi editor penyusunan sebuah buku berjudul Do with Love karya Bu Yen Yen. Saat itu, Bu Yen Yen adalah Kepala KPPN Tanjung Pandan di Pulau Belitong. Membaca kisah dalam bukunya, saya belajar bagaimana beliau bisa membagi waktu dan keseimbangan antara karir dan rumah tangga. Apalagi saat beliau menjadi kepala kantor, ia harus menjalani hubungan rumah tangga jarak jauh dengan suami dan ketiga anaknya.

Kiprahnya bukan hanya sebagai pegawai biasa, tetapi memiliki banyak prestasi, baik sebagai pegawai negeri maupun di luar kantor. Ia menjadi sosok ideal dalam pengarusutamaan gender di pemerintahan.

Ketika akan menikah, aku masih sangat patriarkis. Istri ya di rumah saja. Namun akhirnya ia kuizinkan mengikuti passionnya. Sekarang ia sibuk membangun bisnisnya dari rumah. Membuka usaha Etalase Zane, menjual gamis dan perlengkapan busana muslim lainnya. Ia kadang bawa motor sendiri untuk mengantarkan dagangannya ke komplek-komplek sekitar sambil membangun jaringan onlinenya.

Keterbukaan keuangan pun kulakukan dalam investasi yang kupilih. Ia kulibatkan dalam edukasi apa itu P2P Lending dan semacamnya sehingga dalam satu akun bukan cuma aku yang bisa melakukan investasi. Dia juga bisa memilih dan memutuskan dari anggaran yang sudah disiapkan.

Memang kini zamannya sudah butuh keseimbangan, bekerja sama dalam rumah tangga, tanpa merendahkan satu sama lain. Siapa pun berhak sukses dan bahagia tanpa saling menyakiti pasangan kita.

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *