Momentum Hari Gizi Nasional untuk Cegah Stunting dan Obesitas

Apa hubungannya stunting dan obesitas? Nah, Rabu, 17 Februari 2022 lalu saya berkesempatan mengikuti webinar bertema “Kolaborasi Asyik Cegah Risiko Obesitas” bersama Direktorat Gizi Masyarakat Kementrian Kesehatan RI. Ini adalah rangkaian kegiatan dalam memperingati Hari Gizi Nasional ke-62.

Hari Gizi Nasional ke-62 sebenarnya jatuh pada tanggal 25 Januari 2022. Hari Gizi Nasional adalah sebuah momentum untuk membangkitkan kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap pentingnya penerapan gizi seimbang guna kualitas kesehatan yang lebih baik. Hari Gizi Tahun 2022 mengangkat tema “Aksi Bersama Cegah Stunting dan Obesitas”.

Sederhananya, stunting adalah adalah gangguan tumbuh kembang anak yang disebabkan kekurangan asupan gizi, terserang infeksi, maupun stimulasi yang tak memadai. Gangguan ini menimbulkan masalah pada pertumbuhan yang menyebabkan tinggi badan sang anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari rata-rata teman-teman seusianya.

Masalah stunting bisa diatasi dengan melakukan berbagai cara pencegahan, salah satunya adalah dengan memenuhi ketercukupan gizi pada usia kehamilan. Pada masa menyusui, seorang ibu pun perlu memberikan asi eksklusif sampai bayi berusia enam bulan.

Selain itu, pemantauan kondisi gizi anak juga harus diperhatikan agar apabila terlihat tanda-tanda ketidaknormalan bisa langsung segera diatasi. Terakhir, kondisi kebersihan lingkungan tempat tinggal tak boleh luput dari perhatian. Lingkungan yang tidak sehat bisa menimbulkan penyakit yang dapat memicu masalah pada ketercukupan gizi anak.

Berbeda dengan stunting, obesitas sendiri merupakan kondisi penumpukan lemak yang berlebihan akibat ketidakseimbangan asupan energi (energy intake) dengan energi yang digunakan (energy expenditure) dalam waktu lama. Peningkatan angka obesitas umumnya dikaitkan dengan asupan makanan dengan energi yang melebihi kebutuhan harian.

Obesitas tidak boleh dianggap remeh karena dapat membahayakan kesehatan. Ada banyak risiko penyakit yang dapat diidap seseorang yang mengalami masalah obesitas. Sebut saja seperti penyakit jantung, diabetes melitus, hingga tekanan darah tinggi.

Masalah obesitas sebenarnya dapat diatasi dengan melakukan pola hidup sehat. Hal utama untuk memerangi obesitas adalah melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit sehari. Selain itu, upaya-upaya lain guna mengatasi obesitas seperti mengurangi makan berlebih, mengonsumsi buah dan sayur, mengurangi jenis makanan yang tinggi akan gula, garam, dan minyak, serta mengatur pola istirahat dengan baik.

Kolaborasi Asyik Cegah Risiko Obesitas

Dalam menangani permasalahan obesitas dan stunting di Indonesia tentu bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja, namun pihak swasta dan seluruh pihak terkait lainnya harus turut serta ambil bagian untuk bersama-sama mencegah terjadinya obesitas dan stunting pada anak-anak. Nah salah satu hal yang bisa dilakukan adalah dengan terus mengedukasi masyarakat agar lebih aware dalam memberikan asupan gizi dan nutrisi pada anak-anaknya.

Data Riskesdas tahun 2018, jumlah status gizi remaja di Indonesia menunjukkan 25,7% (usia 13-15 tahun) dan 26,9% (usia 16-18 tahun)  mengalami stunting. Sedangkan remaja yang mengalami obesitas sebanyak 4,8% (usia 13-15 tahun) dan 4% (usia 16-18 tahun). Masa remaja adalah masa pembelajaran dan perubahan yang dinamis. Terjadinya perubahan fisik, perkembangan emosional dan intelektual. Maka sangat disayangkan sekali apabila angka masalah gizi ganda ini terus meningkat. 

Melinda Mastan, S.Gz (Grant Officer – Tanoto Foundation) memaparkan soal bagaimana cara mencegah stunting dalam konteks peranan remaja. Mengapa remaja dilibatkan? Karena periode remaja inilah sebagai periode pembentukan perilaku atau kebiasaan dalam mendukung status gizi dan kesehatan sesama. Remaja bisa menjadi kekuatan untuk perubahan yang lebih baik di masa mendatang.

Edukasil literasi kesehatan oleh Tanoto Foundation hadir untuk menyediakan wadah dan mengapresiasi para remaja. Tanoto Foundation mengajak mereka untuk turut berkontribusi dalam pencegahan obesitas dan stunting. Berbagai kegiatan pun telah dilakukan oleh Tanoto Foundation seperti mengadakan writing competition, penerbitan buku, video contest, dan masih banyak lagi.

Eriana Asri, MPH (Nutrition International) selanjutnya menjelaskan soal program gizi remaja Nutrition International. Program ini dilakukan di Asia dan salah satunya adalah di Indonesia. Sejak tahun 2015 Nutrition International terus melakukan pendampingan dan juga pemanfaatan platform digital sebagai dukungan program gizi remaja di Indonesia. Nutrition International juga memberikan kursus gizi remaja dan anemia. Kursus ini gratis yang bisa diikuti oleh semua kalangan. Nah cara mengaksesnya bisa langsung ke: https://giziremaja.learning.nutritionintl.org

Kursus ini didesain oleh tim ahli teknis Nutrition International dan pelaksana program tingkat global. Kursus ini terdapat 15 modul yang dibagi menjadi 3 bagian : 

  1. Modul 1-5 mencakup gizi remaja, situasi global dan dampak anemia pada wanita dan remaja putri. Bagian ini juga mengulas tentang penyebab dan akibat anemia, peran zat besi dalam tubuh dan intervensi yang ada untuk memperbaiki gizi remaja.
  2. Modul 6-10 mencakup pedoman dan panduan global, kehamilan remaja, kemitraan dan program. Bagian ini juga memberikan gambaran umum tentang program gizi remaja Nutrition International dan berbagi pelajaran yang didapat dengan bekerjasama remaja.
  3. Modul 11-15 mencakup hubungan antara gizi dan pendidikan, sistem kesehatan remaja, dan pemantauan serta penilaian program gizi remaja. Bagian ini juga membahas kesenjangan data dan kebutuhan penelitian, serta cara melibatkan remaja.

Nazhif Gifari, S.Gz, M.Si (Universitas Esa Unggul) kemudian menjelaskan soal gaya hidup cerdas dan cegah stunting. Agar terhindar dari obesitas dan stunting tentu harus menerapkan gaya hidup sehat dan cerdas diantaranya: NutritionExerciseSleepStress, dan Fun. Konsumsi makanan yang sehat yang terdiri dari makanan pokok, lauk pauk, sayuran, buah-buahan, air putih.

Terakhir, Ni Putu Desy Aryantini, Ph.D (PT. Yakult Indonesia Persada) menambahkan bahwa PT. Yakult juga sering mengadakan seminar kesehatan dilingkungan karyawannya. Hal ini dilakukan tentunya agar makin banyak yang aware soal kesehatan. PT. Yakult terus berkomitmen mendukung program pemerintah dalam mensosialisakan perilaku hidup sehat.

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *