Menengok Minangkabau Tempo Dulu di KBA Jorong Tabek

 

Sejumlah buku tersusun rapi di rak. Tampak beberapa anak-anak dan remaja duduk manis membaca buku di rumah begonjong di Jorong Tabek itu. Lewat jendela dunia, mereka menganali berbagai macam hal—dan dari jendela Rumah Pintar itu angin khas Talang Babungo yang sejuk menyapa mereka semua.

Warga Talang Babungo pada umumnya adalah warga yang mencintai pendidikan. Hal itu disadari betul oleh Kampung Jorong Tabek sehingga membangun Rumah Pintar sebagai wahana menumbuhkan minat literasi sejak dini. Anak-anak di sana, yang kebanyakan berasal dari keluarga petani yang pas-pasan, banyak yang berani menggapai mimpi pendidikan hingga perguruan tinggi, merantau ke seberang pulau lalu kembali sebagai “orang”. Tengok saja bila Idulfitri tiba, sepanjang jalan nagari, mobil-mobil berjajar rapi, tanda orang-orang di perantauan kembali.

Dan kini mereka berbangga hati berasal dari Talang Babungo. Sebab, Jorong Tabek semakin banyak dibicarakan sebagai salah satu tujuan ekowisata menarik di Sumatera Barat.

Tentang Jorong Tabek dan Kampung Berseri Astra

Jorong Tabek adalah kampung di nagari Talang Babungo, Kecamatan Hiliran Gumanti, Kabupaten Solok. Dari Kota Padang, kurang lebih 3-4 jam perjalanan. Naik melalui Sitinjau Laut, berbelok kanan di Lubuk Lasiah menuju Alahan Panjang. Dari Danau Kembar yang mempesona, kita tinggal menempuh jarak sekitar 12 kilometer—baru akan kita temui nagari yang dikelilingi bukit-bukit nan elok dengan pemandangan berwarna hijau yang menyegarkan mata.

Perjalanan Jorong Tabek menjadi salah satu dari 10 kampung terbaik Kampung Berseri Astra Tahun 2018 lalu dimulai manakala PT Astra International Tbk pada tahun 2016 dengan melakukan modernisasi usaha. Meski sebelum itu, sebuah kedukaan berupa kebakaran melatarbelakanginya.

Memang, pada dasarnya Jorong Tabek memiliki potensi yang menjura. Batang-batang tebu yang tumbuh digdaya di sepanjang kampung menjadi salah satu ciri utama. Pada mulanya pabrik industri gula tebu yang dikelola Koperasi Serba Usaha (KSU) Tabek masih sangat sederhana. Gula diproduksi secara manual dan konvensional.

Datanglah mesin sebagai langkah modernisasi produksi gula tebu. Yang tadinya penggilingan menggunakan tenaga kerbau, diganti dengan mesin. Biaya produksi pun dapat dihemat hingga 70%.

Modernisasi usaha tersebut hanyalah salah satu dari 4 pilar kegiatan program Kampung Berseri Astra yang saling terintegrasi. Masyarakat dididik jiwa kewirausahaannya. Rumah Pintar (dan pembenahan infrastruktur pendidikan) dan juga beasiswa pendidikan menjadi wujud dari pilar kedua, yakni pendidikan. Sedangkan pilar ketiga, yakni kesehatan, tampak  dengan adanya revitalisasi Posyandu Kecubung dan adanya tong-tong sampah guna membangun kesadaran masyarakat tentang sampah.

Pilar keempat adalah lingkungan. Dan pilar inilah yang menjadi daya tarik utama orang luar yang datang ke Jorong Tabek.

Kampung ini benar-benar indah, bukan hanya karena bentangan alamnya yang sudah dianugerahkan demikian. Hal itu dipercantik dengan kondisi jalanan yang baik, dan di sepanjang jalan tersebut, bunga-bunga ditanam begitu indah. Hampir setiap rumah warga pun ditanami berbagai macam tanaman. Bukan sembarangan tanaman, utamanya adalah bunga hiasan dan bunga toga—atau bunga obat-obatan.

Jorong Tabek pun terbagi menjadi 11 Zona. Setiap zona kira-kira terdiri dari minimal 40 keluarga. Pembagian zona ini dilakukan untuk mempermudah berbagai urusan perencanaan, pendataan penduduk, dan kontrol terhadap program kampung asri. Setiap zona harus memiliki gapura dan “halte” yang dibangun dari bahan-bahan alam seperti ijuk, bambu, dan kayu dalam model gonjong (bentuk khas rumah gadang) yang menjadi identitas Minangkabau.

Saya berkesempatan singgah di Zona 10, dan rasanya tidak perlu jauh-jauh ke Ubud untuk melihat hamparan sawah begitu purna. Sementara di langit, layang-layang beradu tinggi dan bercengkerama dengan angin di ketinggian lebih dari 1000 mdpl.

Kegiatan Kebudayaan di Jorong Tabek

Seorang penyair muda Minang, Esha Tegar Putra, pernah mengatakan dalam diskusi bukunya, bahwa anak Minang itu punya 3 ciri: surau (tempat mengaji), lapau (tempat berdiskusi), dan rantau (tempat menguji kemandirian). Nah, sebelum seorang lelaki diizinkan merantau, ia harus belajar silat. Hal itu juga bisa kita lihat dalam cerita Negeri 5 Menara.

Sejak kecil, anak-anak Minangkabau diajari bersilat. Silat sudah menjadi kearifan lokal. Karena itulah kemudian, Jorong Tabek juga ikut menjaga tradisi silat tersebut. Dalam rangka menyambut Hari Pendidikan Nasional 2019, silek (silat) pun diangkat Jorong Tabek dalam Festival Kampung Berseri Astra yang menghadirkan peserta dari 15 provini mulai dari Aceh hingga Nusa Tenggara Timur.

Bukan hanya soal silek, Jorong Tabek pun pernah menoreh prestasi dalam bidang kuliner. Salah satu panganan khas Talang Babungo pernah memenangkan lomba masakan tradisional se-Kabupaten Solok. Pangek Ubi Manih Namanya.Pangek Ubi Manih dibuat dari ubi yang kebanyakan berwarna kuning lalu dimasak dengan gula aren. Panganan  ini sering disajikan saat selesai bertani.

KBA JorongTabek Terus Berkembang

 

Saat ini sudah lebih dari 40 homestay tersedia di Jorong Tabek. Kesiapan warga untuk menjadikan Jorong Tabek sebagai destinasi wisata yang rancak dengan tetap menjaga tradisi Keminangkabauan terus ditingkatkan. Pendekatannya unik karena ingin menghadirkan Minangkabau tempo dulu, yang menampilkan bukan hanya wisata alam, budaya, tetapi juga agrowisata yang pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

 

#KitaSATUIndonesia #IndonesiaBicaraBaik

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *