Chairil Anwar dan Omong Kosong Mereka yang Berkata Peduli Sastra

Pada waktu luang, saya suka membaca keriuhan di grup-grup Whatsapp. Salah satu grup yang saya ikuti adalah Klinik Bahasa. Di sana sering terjadi diskusi yang menarik tentang bahasa. Selalu ramai. Salah seorang yang selalu bikin ramai adalah Holy Adib. Dan malam itu, Adib kembali mengajukan pertanyaan tentang puisi Chairil Anwar yang diposting di akun Facebook Badan Bahasa.

Postingan Badan Bahasa

Saya terpancing berkomentar bahwa dari bahasanya jelas itu bukan bahasa Chairil. Saya pun mengecek keseluruh puisi Chairil yang sudah dipublikasikan yang kebetulan saya simpan di aplikasi catatan di ponsel saya. Tidak ada puisi Chairil berjudul Ibu.

Saya pun teringat permasalahan serupa beberapa tahun silam. Ada puisi yang disebut sebagai puisi Chairil Anwar namun asing di telinga penyair. Usut diusut ternyata ada orang lain yang bernama/menggunakan nama Chairil Anwar, dan tentu saja bukan Chairil yang penyair besar itu. Saya pun beranggapan bahwa puisi yang dimuat Badan Bahasa (berjudul Ibu) adalah puisi Chairil yang lain itu.

Adib kemudian mengajakan pertanyaan lain, “Apakah saya tahu tentang Chairil yang dimuat Kompas?”

Karena saya belakangan tidak mengikuti dunia persilatan puisi, tentu saya tidak tahu. Adib pun mengunggah pemuatan artikel film puisi tentang Chairil Anwar. Begitu saya membacanya, saya langsung tahu bahwa puisi berjudul “Cinta dan Benci” yang dikutip itu bukan puisi Chairil Anwar. Bahasanya bukan bahasa Chairil. Dan saya cek untuk pastikan, judul puisi tersebut tidak ada di buku Chairil mana pun.

Saya kemudian berpikir banyak, mengingat beberapa hal yang pernah terjadi, yang saya alami sendiri. Beberapa tahun lalu misalnya, ada seorang perempuan yang menggegerkan Indonesia. Sebuah tulisan yang dianggit oleh perempuan muda (saya menolak menyebut dia anak-anak karena usianya di atas 17 tahun) dianggap sangat jenius.

Saya membacanya dan langsung berkeyakinan, membandingkan cara dia menulis dan berkomentar, bahwa perempuan ini seorang pelaku plagarisme. Saya pun langsung mengecek, paragraf pertamanya pun langsung ketemu milik siapa. Paragraf-paragraf selanjutnya pun berbau anyir. Seorang teman kemudian memberikan sumber aslinya. Plek. 99% plagiat.

Saya membaca status lain, unggahan tulisan yang lain, dan berkata kepada seorang teman di Kompasiana, kalau kamu mau mencari, setidaknya ada lebih dari 10 unggahannya yang bukan asli tulisan dia. Saya punya keyakinan seperti itu. Dia pun mencarinya dan ketemu hasil jiplakan dari buku Chicken Soup. Lalu warganet pun banyak menemukan jiplakannya yang lain.

Kenapa saya bisa punya keyakinan seperti itu? Pun kenapa banyak pelaku plagiarisme bisa ditemukan?

Jangan remehkan kemampuan pembacaan seseorang. Setiap tulisan punya DNA. Bukan cuma penyanyi yang bisa membuat pendengarnya mampu mengidentifikasi suara siapa ketika mendengar nyanyian dengan mata tertutup. Penulis juga demikian.

Apalagi untuk yang sekelas Chairil. Kental sekali. Memeras kata hingga ke inti. Dan saya menulis puisi. Berulang-ulang saya katakan kepada setiap orang bertanya, bila harus belajar menulis puisi, bacalah Amir Hamzah, Chairil Anwar, dan Goenawan Mohammad untuk melihat “yang tetap” dan “yang berubah”.

Jawaban Sutradara Film Chairil atas Pertanyaan Hasan Aspahani

Pada titik itu, saya yakin, pembuat film ini sama sekali tidak memahami Chairil. Jangankan memahami Chairil, saya pun meragukan bahwa mereka membaca buku puisi Chairil.

Di luar itu, saya jadi menggenaralisasi, mereka yang berkoar peduli pada puisi, pada sastra, seringkali malah nggak memahami sastra. Beberapa kali saya pernah diundang menjadi pembicara, online maupun offline, yang pesertanya adalah mahasiswa sastra. Saya tanya kepada mereka, “Apa buku sastra favorit kalian?” Sebagian besar menjawab Tere Liye.

Tidak ada salahnya membaca buku Tere Liye. Meski saya bertanya sambil beramah tamah, ada hal serius di sana lewat frasa “buku sastra”. Maka itu adalah upaya untuk melihat pemahaman apa yang sastra dan apa yang bukan dan sampai mana pengetahuan anak-anak sastra terhadap sejarah dan karya sastra yang ada di Indonesia bahkan dunia.

Hasilnya minim sekali. Maka tidak heran ketika ada analisis yang ditulis oleh seorang magister sastra di sebuah koran online, tentang puisi yang sebenarnya tidak pernah ditulis oleh Chairil Anwar. Itu kayak melempar tahi ke muka sendiri.

Apa yang harus dilakukan kemudian? Bingung juga. Tapi saya iri setiap menonton film atau serial drama luar yang menunjukkan adegan anak sekolahnya belajar sastra. Ada karya-karya wajib yang dibahas di sekolah. Dipelajari sedemikian rupa dengan baik. Bukan formalitas. Ada karya-karya sastra dari penulis dalam negeri. Ada karya-karya sastra luar negeri. Seperti di Korea, Herman Hesse pun mereka pelajari.

Di sisi lain, saya pribadi pesimis. Meski kini seolah-olah lahir generasi penulis muda setelah lahirnya Instagram dan berbagai aplikasi baca-tulis-cerita… kenyataannya ada hal yang masih sangat hancur. Apresiasi. Dalam hal ini apresiasi untuk membaca dan mengomentari karya sastra secara serius. Itu belum muncul. Kebanyakan mereka hanya ingin menulis, hanya ingin berkarya, tetapi luput membaca….

(2021)

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *