Membaca Peci Miring, Membaca Masa Kecil Gus Dur

 

Bagaimana perasaan seorang bocah lelaki berusia 5 tahun ketika kehilangan kakek yang sangat dekat dengannya? Dan bagaimana pula, ketika belum lulus sekolah dasar, bocah itu juga kehilangan ayahnya?

Kakeknya bernama Hasyim Asy’ari. Ayahnya bernama Wahid Hasyim. Dan bocah itu bernama Abdurrahman Ad-Dakhil yang kelak lebih dikenal dengan nama Gus Dur. Perjalanan hidup serta perasaan bocah kecil itu tertuang dengan baik dalam buku Peci Miring buah karya Aguk Irawan MN.

Peci Miring membabar banyak hal semisal persahabatan Gus Dur dengan Gus Mus (Mustofa Bisri) yang dipertemukan ketika berkuliah di Al Azhar. Dalam masa itu, juga disebut Quraish Shihab yang bermain bola bersama Gus Mus dalam satu tim selama di Mesir. Bila Gus Mus beraktivitas dalam komunitas seni dan budaya, Gus Dur sudah tertarik pada iklim politik di tanah air sejak muda, dan menumpahkan analisisnya dengan menjadi jurnalis.

Sayangnya, Ad-Dakhil tak menyelesaikan kuliahnya di Al Azhar. Ia merasa bosan dengan perkuliahan yang bermetode hapalan, seperti mengulang pelajaran-pelajaran di pesantren. Ia lebih sering bolos dan menenggalamkan diri di perpustakaan, membaca kitab-kitab. Ia pun kemudian pindah ke Baghdad untuk mengobati rasa bosannya. Lulus dari Baghdad, Gud Dur muda pergi ke Eropa untuk melanjutkan pendidikan. Namun, niatnya itu terbentur administrasi. Ijazahnya tak diakui.

Perjalanannya dalam menuntut ilmu ini adalah buah dari kehidupan masa kecilnya. Ia tak ingin kalah dari ayah maupun kakeknya dalam menuntut ilmu. Perjalanannya dari sekolah ke sekolah, pesantren ke pesantren membuatnya menyadari betapa hatinya terpaut dengan ilmu. Begitu pun orang-orang di sekitarnya, yang paham bahwa Ad-Dakhil berbeda. Ia melesat jauh di depan dibandingkan teman-temannya.

Dari buku Peci Miring ini, ada beberapa hal lain yang kita ketahui dari Abdurrahman Ad-Dakhil:

  1. Ad-Dakhil begitu mencintai buku. Sesuai budaya Jawa, seorang balita dimasukkan ke dalam kurungan ayam, bersama beberapa barang. Lalu sang balita dibiarkan memilih salah satu barang. Saat itu, Ad-Dakhil memilih buku. Dan sejak sekolah dasar pula, ia sudah mahir bahasa Inggris, Arab, Belanda, dan Cina. Buku-buku bacaannya pun beragam. Hal yang menambah kecintaannya terhadap buku adalah Sang Ayah yang memiliki bacaan yang begitu banyak. Gus Dur kecil pun beruntung memiliki guru yang paham dengan minatnya. Salah satunya, Guru Bahasa Inggrisnya yang kerap memberikan bacaan. Setelah dibaca, sang guru pun mengetes hasil pembacaan Gus Dur. Ya, Gus Dur pun memiliki bakat ingatan fotografis. Dia bisa mengingat buku yang dibacanya dalam sekali baca!
  2. Ad-Dakhil dikenal jail/ usil. Ia nyeleneh dan kerap mengerjai teman-temannya. Kaca jendela rumahnya kerap pecah karenanya. Teman-teman tetangganya dibuat menangis olehnya. Sampai ketika ia ingin dihukum akibat perbuatannya, ia lari dan bersembunyi di atas pohon. Lalu jatuh. Tangannya patah. Tangannya pun tak patah sekali. Tapi, dua kali. Yang kedua karena ia keasikan tidur di sebuah dahan pohon. Lalu terjatuh.
  3. Ia seorang yang humoris. Siapa yang belum pernah membaca humor-humor Gus Dur? Kehumorisan Gus Dur sudah dimulai sejak ia muda. Bahkan teman-temannya mendaulat Gus Dur sebagai mood maker, yang bisa bikin mereka bahagia dan tertawa seberapa peliknya masalah yang mereka hadapi.
  4. Gus Dur suka nonton film. Apa yang pertama dibaca Gus Dur ketika berada di perpustakaan Al Azhar? Ialah majalah yang berisi reviu film-film Arab. Gus Dur sangat suka menonton film sejak ia berada di Yogyakarta. Ketika berada di pesantren pun, ia kerap minggat dari asrama buat nonton film.
  5. Gus Dur suka bersilaturrahim. Kenapa ia begitu dicintai banyak orang? Jawabannya karena Gus Dur bisa dekat dengan siapa saja. Ia pun kerap bersilaturrahim ke para Kiai. Diskusi-diskusi keilmuan ia lakukan bersama para Kiai yang menjadi gurunya seperti Kiai Chudori di Tegalrejo.
  6. Kalau Gus Dur tidak ada di kamarnya, tidak di perpustakaan, dan tidak nonton film, artinya ia tengah berziarah. Ia bukan hanya suka mendatangi orang hidup, ia juga suka mendatangi yang mati. Baginya, ziarah memiliki banyak hikmah. Bahkan sesampainya di Baghdad, hal pertama yang ia lakukan adalah berziarah ke makam para tokoh Islam.

Keenam hal tersebut dapat kita jumpai dalam buku Peci Miring ini yang lebih banyak menuliskan perjalanan Ad-Dakhil kecil dan remaja. Sosok tokoh bangsa yang kerap dirindukan karena jurus mabuk-nya dalam memimpin republik, meski sayang langkah-langkahnya yang visioner kerap kurang  bisa ia komunikasikan dengan baik sehingga disalahpahami oleh sebagian orang.

Satu hal lucu yang diceritakan sekilas pula di buku ini adalah pernikahannya. Ad-Dakhil lebih mencintai buku-buku ketimbang perempuan. Maka, pamannya lah yang mencarikannya jodoh. Ia sudah diminta menikah sebelum berangkat ke Mesir. Namun sayang, upaya itu masih gagal. Ketika berada di Irak, sebedeng dengan Mahfudz Ikhwan, pernikahan itu terjadi. Pernikahan jarak jauh. Akadnya diwakili oleh Mbah Bisri. Dan tak sedikit yang mengira saat menghadiri pernikahan itu, bahwa mempelai wanita dinikahi oleh Mbah Bisri.

Banyak sekali kisah menarik di dalam buku ini. Namun, satu hal yang patut dipelajari dari Gus Dur, baik suka atau tidak suka kepada beliau, yakni… kecintaannya terhadap buku. Sungguh sebuah ironi, ketika kini bangsa kita dirundung masalah literasi dan minat baca.

Oh, iya, di buku ini juga kita akan menemukan jawaban, kenapa peci yang dikenakan Gus Dur selalu sedikit miring ke kiri. 🙂

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *