Category Archives: Catatan Perjalanan

Vihara Seribu Patung: Ksitigarbha Bodhisattva di Tanjung Pinang

Vihara Seribu Patung, itulah julukan yang diberikan kepada Vihara Ksitigarbha Bodhisattva. Letaknya hanya 14 km dari Kota Tanjungpinang ini baru saja diresmikan pada tahun 2017, dan baru-baru ini saja dibuka untuk umum, kecuali pada hari Rabu karena digunakan untuk bersembahyang.

Vihara ini dijuluki Vihara Seribu Patung karena keberadaan patung-patung di vihara tersebut. Jumlahnya sangat banyak, meski kalau dihitung jumlahnya tidak sampai 1000, hanya sekitar setengahnya.

Tanjungpinang punya komunitas Tionghoa yang luas. Pergaulan Melayu hingga Malaysia, Singapura, dll pada masa lalu membuat ada keterikatan. Vihara ini dibangun dari donasi komunitas Tionghoa tersebut, dan bahkan donatur terbesarnya berasal dari Singapura. Bahan-bahannya langsung didatangkan dari Tiongkok. Continue reading Vihara Seribu Patung: Ksitigarbha Bodhisattva di Tanjung Pinang

Masjid Ikonik di Kepulauan Riau

Saat berkunjung ke Kepulauan Riau akhir bulan lalu, guna mengikuti Festival Sastra Gunung Bintan, aku menyempatkan diri untuk berkeliling Bintan hingga Dompak. Kebudayaan Melayu begitu kental. Islam dan tradisi menyatu sehingga nampak oleh kita, di Kepri, unsur budaya dan spiritualitas tak bisa dipisahkan.

Penyatuan dua hal tersebut juga terlihat dari pembangunan masjid. Ada banyak masjid di Kepri yang begitu ikonik. Ia bukan cuma jadi tempat ibadah, tetapi juga jadi tempat wisata dan kebanggaan masyarakat Kepri. Ya, tidak hanya muslim yang datang ke masjid-masjid itu, nonmuslim juga (yang mayoritas wisatawan dari dalam dan luar negeri) turut mengagumi masjid-masjid.

Walaupun tradisi keislamannya begitu kuat, Kepri sangat toleran lho sesuai dengan budaya Melayu. Hal itu terlihat dari penyelenggaraan Festival Tahun Baru Imlek yang selalu meriah.  Acara festival ini antara lain pawai Imlek, parade busana pengantin ala tionghoa, parade dewa, parade baju adat tionghoa, atraksi dragon, barongsai, reog, kuda lumping, pentas seni, tarian tionghoa, konser artis tionghoa, drum band dan pesta kembang api. Nanti datang ya Tahun Baru Imlek 2019 ke Kepri.


Baca Juga: VIHARA SERIBU PATUNG: KSITIGARBHA BODHISATTVA DI TANJUNG PINANG


 

Continue reading Masjid Ikonik di Kepulauan Riau

Mengenal Air Terjun Oehala di Soe

Air terjun Oehala
Berenang di Oehala

Perjalanan dinas ke Kupang beberapa bulan silam meninggalkan kenangan yang berarti. Bakda perjalanan dinas ke Kanwil Perbendaharaan Provinsi NTT, aku melanjutkan perjalanan pribadi seorang diri menuju Mollo, Timor Tengah Selatan. Di sana ada seorang teman, cerpenis bernama Dicky Senda, yang pertama kutemui di residensi penulis Asean Literary Festival.

Sebenarnya ingin sekali aku mengikuti trip singkat yang ia adakan dalam tajuk desa wisata yang tengah ia galang. Ia bercerita mengenai kebudayaan orang Mollo, hutan penyihir, tomat mungil asli Mollo, jagung bose, dan puncak Fatumnasi yang tertinggi di NTT. Namun, karena alasan keterbatasan waktu (dan fisik), aku tak mampu mengikuti perjalanan itu.

Selepas dari hotel, aku tadinya ingin pergi ke terminal. Namun, malasnya menaiki bis adalah ngetem, sehingga aku memilih naik travel saja. Meski sama saja, aku harus menunggu juga. Tapi, setidaknya naik travel Avanza ini lebih nyaman.

“Nanti kalau sudah sampai Soe, bilang ya?” ujar Senda lewat pesan singkat.

Soe berjarak 110-an kilometer dari Kupang. Ibukota dari Timor Tengah Selatan ini dijuluki sebagai kota beku, karena suhu udaranya yang lebih dingin dari wilayah lain. Perjalanan ke sana begitu eksotis dengan pohon flamboyan yang baru berbunga, berganti pemandangan laut dari atas bukit, lalu ladang-ladang yang membentang dengan hewan ternak yang dilepas begitu saja, penjual jagung rebus manis yang murah meriah (10.000 dapat 6), lalu jalan berkelak-kelok menaiki bukit kembali, hutan rimba, dan jalan yang dipenuhi kupu-kupu. Semua itu dapat kita nikmati sampai kita rasakan suhu udara lebih dingin, itu tandanya kita sudah mendekati Soe.

Tak Ada Sinyal

Sesampainya di Soe, ternyata sinyal cukup susah. Setelah kepayahan menghubungi Senda, akhirnya tersambung juga dan kami bisa bertemu di depan sebuah penginapan. Seorang temannya sedang di hotel itu, baru saja mendaki dan bermalam di Fatumnasi.

Setelah menghabiskan sepiring makanan Padang (terpujilah warung Padang yang ada di mana-mana), Senda mengajakku mengunjungi air terjun Oehala. Tak jauh, katanya. Tak sampai setengah jam dari Soe.

Air terjun Oehala

Akses air terjun ini terbilang cukup mudah. Dari parkiran kendaraan, kita hanya harus turun melalui medan yang sudah disiapkan (disemen) sehingga terasa lebih mudah. Dan sungguh, pemandangan yang kusaksikan membuatku sumringah. Air terjun ini bertingkat-tingkat, dengan air yang menggoda minta diberenangi.

Indahnya Air Terjun Oehala

Berada di kaki gunug mutis, air terjun ini disebut juga air terjun tujuh tingkat karena undakannya yang ada tujuh. Oehala berasal dari bahasa Timor atau bahasa Dawan yang berarti air tempat persembahan, atau bisa juga air kedamaian.Sesuai namanya, air terjun yang berada di tengah hutan rimba ini betul-betul menawarkan kesejukan dan kedamaian. Tak ragu, aku langsung melepas baju dan berenang di air terjun ini. Sungguh segar sekali.

Air terjun Oehala
Beruntungnya lagi, pada saat ke sana, Oehala sedang sepi-sepinya. Bisa dilihat ‘kan, aku bisa berfoto sendirian dengan latar air terjun ini? Indah, bukan? Di bawahnya sebenarnya masih ada tingkat selanjutnya, namun aku sudah kadung tergoda untuk berenang, berenang dan berenang.

Aku bertanya-tanya bagaimana asal-usul Oehala, namun Senda bilang dia tidak tahu. Oehala memang terkenal dari dulu sebagai tempat beristirahat orang Soe dan sekitarnya. Aku pikir Oehala bisa menjadi magnet yang luar biasa bagi wisatawan. Sayangnya untuk fasilitas yang ada kurang memadai. Tidak ada toilet yang layak. Tempat beristirahat berupa lopo (saung khas NTT) kurang terawat. Penjual makanan dan ala-ala khas NTT pun bisa dibilang tak ada. Tapi, mungkin saja, itulah yang tetap menjaga kealamian Oehala.

Kamu tertarik buat ke sini juga? Yuk!

4 Air Terjun Paling Berkesan yang Pernah Kukunjungi

Aku paling suka air terjun. apalagi jika air terjun itu punya kolam yang bisa diberenangi di bawahnya. Tak ragu, aku akan segera membuka baju, menceburkan diri ke dalam air yang jernih dan dingin sambil sesekali khawatir juga, kalau saja ada material yang ikut jatuh bersama air dari ketinggian. Tapi, mati toh soal takdir.

Selama hidup, lebih dari sepuluh air terjun sudah kukunjungi. Masih sedikit. Indonesia memiliki banyak air terjun yang menawan. Semoga saja dapat kukunjungi satu demi satu.

Di antara air terjun yang pernah kukunjungi, aku ingin mengunjungi lagi setidaknya 4 air terjun berikut ini:

Air Terjun Mata Jitu

FB_IMG_14720998629713425
Siapa yang tak kenal Pulau Moyo? Pulau ini begitu terkenal di dunia internasional. Selebritis dunia pernah berkunjung ke sini, mulai dari (almh) Lady Diana sampai Maria Sharapova. Di pulau ini juga terdapat air tejun yang keindahannya luar biasa. Namanya Mata Jitu.

FB_IMG_14720998520656365

Disebut begitu karena semua orang yang memandangnya akan langsung terpaku menatapnya. Tak ingin menatap yang lain.

FB_IMG_14720998455502291

Dulu, sulit ke Moyo. Kita harus memesan tiket pesawat ke Lombok terlebih dahulu. Lalu menempuh perjalanan darat dan laut ke Sumbawa. Satu-satunya pesawat hanya Transnusa. Sekarang, ada banyak maskapai masuk ke Sumbawa seperti Garuda dan Wings Air. Dari Sumbawa kita naik perahu sekitar 1,5 jam untuk sampai ke Moyo.

Air Terjun Ai Beling dan Ai Putih
14096347971319847891

Di Sumbawa, “Ai” bukan berarti cinta. “Ai” (dibaca ae) berarti air. Dan “Ai” digunakan untuk penamaan air terjun. Saya berkesempatan mengunjungi dua air terjun yang cukup terkenal di Sumbawa, yakni Ai Beling dan Ai Putih.

Ai Beling terletak di Dusun Kuang Amo, Desa Sempe’, Kecamatan Moyo Hulu. Pagi itu, saya bersama kelima teman yang lain berangkat dari Sumbawa. Berjarak sekitar 30 km dari kota Sumbawa Besar atau 6 km dari desa Brangrea. Untuk menuju tempat ini, saya harus mengambil jalan raya yang menuju selatan melewati Bendungan Batu Bulan melalui Semamung.

FB_IMG_14720997047741538
Ai Beling berarti air yang berbicara. Bila musim penghujan tiba, suara gemericik air Ai Beling dapat terdengar hingga 5 km jauhnya. Saya datang pada musim kemarau, debit air tidak terlalu banyak, tetapi Ai Beling masih begitu indah. Bisa saya bayangkan bagaimana limpahan air akan memenuhi batu-batu ini. Bahkan menurut teman, Ai Beling juga dijuluki seribu air terjun karena air akan turun berlapis-lapis, tak terhitung banyaknya.

Cerita setempat mengatakan dulunya ada seorang gadis, anak raja, kabur karena dijodohkan dengan orang yang tidak dicintainya. Lalu dia menangis dan menangis di sebuah sungai hingga akhirnya terjun bunuh diri di ujung sungai tersebut. Hingga suatu hari, ada seseorang mendengar sebuah tangisan yang begitu jernih dan ia menemukan sebuah air terjun ini. Dipercaya Ai Beling adalah roh dari gadis tersebut.

14096350181161691067

Ai Beling bukanlah satu-satunya air terjun di Kuang Amo. Kebetulan hari itu di perjalanan saya bertemu teman sekomunitas Adventurous Sumbawa yang juga bekerja di Dinas Pertambangan dan Energi. Dia bersama rombongannya akan menuju Ai Putih untuk mengukur debit air dan potensi KwH. Mereka bilang mau survei apakah layak pembangkit mikro untuk dibangun di sana. Dua setengah jam masuk hutan, kita akan menemukan Ai Putih.

1409635176535964626

14096351472114054534

Curug Cibareubeuy

fb-img-14571272645245251-56da0063b17a61b226ee564e

Terletak di Subang. Yang seru adalah perjalanan menuju ke sana. Melewati Lembang, sambil googling kami kemudian memutuskan akan ke Curug Cibareubeuy. Dari jalan utama, kami berbelok ke Jalan Sari Ater. Tidak tergoda untuk mandi air panas di Sari Ater, kami meneruskan perjalanan hingga Desa Cibeusi. Motor diparkirkan di tempat penitipan. Kemudian kami berjalan kaki. Jaraknya sekitar 4 kilometer.

Aku sebenarnya agak bergidik mendengar angka 4 kilometer itu. Maklum, aku baru saja sembuh dari asma pagi itu. Malamnya saja suara tikus masih menghinggapi dadaku. Tapi, sembari meyakinkan diriku, aku pasti bisa menempuh perjalanan ini.

Ada dua jalur jalan untuk menuju Curug Cibareubeuy. Jalur pertama langsung naik ke bukit, melewati hutan. Dan jalur kedua, melewati persawahan dengan jalan meniti di pematang, meloncat dari batu ke batu. Kami memilih jalur kedua dengan alasan medan dan situasi. Musim penghujan akan membuat tanah lebih becek dan licin. Jalur yang lebih banyak mendaki akan lebih sulit dilalui. Kemudian situasi lebih aman di persawahan karena banyak petani. Kalau ada apa-apa bisa langsung bertanya ke petani ataupun meminta bantuan mereka.

fb-img-14571274440257316-56da0173e222bd1422c7eb07

Indah, bukan?