Category Archives: Catatan Perjalanan

Air Terjun Gunung Bintan dan Air Terjun Gunung Lengkuas

Kepulauan Riau memang terkenal dengan keindahan pantainya.  Namun, di sana sebenarnya juga ada dua air terjun yaitu Air Terjun Gunung Bintan dan Air Terjun Gunung Lengkuas. Jangan bayangkan kata “gunung” di sana sebagai gunung betulan. Sebetulnya keduanya adalah bukit tertinggi di provinsi tersebut.

Gunung Bintan hanya berjarak sekitar 55 km dari Kota Tanjung Pinang. Untuk mencapai puncak Gunung Bintan, kamu hanya membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam! Ya, karena ketinggian Gunung Bintan hanya sekitar 400 meter di atas permukaan laut. Di Gunung Bintan terkenal banyak durian.

Gunung Lengkuas merupakan salah satu kelurahan yang ada di kecamatan Bintan Timur. Letaknya di antara Tanjung Pinang dan Kijang Riau Sumatra Indonesia. Gunung Lengkuas memiliki ketinggian sekitar 200 mdpl.

Air Terjun Gunung Bintan

unung Lengkuas yang memiliki ketinggian sekitar 200 mdpl

Lokasi tepatnya di Kampung Bekapur dan termasuk desa Bintan Buyudi Kecamatan Teluk Bintan. Waktu tempuh yang diperlukan dari kota untuk ke area tempat wisata ini sekitar 1 jam, sedangkan untuk ke air terjun, jaraknya hanya membutuhkan jalan kaki sekitar 300 meter.

unung Lengkuas yang memiliki ketinggian sekitar 200 mdpl

Tidak lama, jalannya telah dipavin block dan menaiki tangga yang telah dibuat jalan setapaknya, paling membutuhkan waktu sekitar 15 menit. Tiket masuknya hanya Rp10.000.

Air terjun Gunung Bintan hanya memiliki ketinggian sekitar 7 meter. Kolamnya sudah ditampung sedemikian rupa sehingga ya kalau pengen berenang, bisa.

Sebagai info tambahan, jika ingin menjelajah Gunung Bintan,  di Gunung Bintan juga terdapat makam Datuk Bintan. Datuk Bintan ialah seorang tokoh masyarakat Bintan. Beberapa pengunjung kadang datang ke gunung ini untuk berziarah ke makam tersebut. Selain itu, terdengar pula ada yang mengatakan di gunung yang berketinggian 400 meter ini memiliki Goa Batu. Goa tersebut hanya dapat ditelusuri sejauh 8 meter. Sebenarnya goa tersebut panjang namun sangat disayangkan karena pada kedalaman 8 meter jalan di dalam goa mulai menyempit sehingga tak dapat dimasuki lebih dalam lagi. Karena itu dilarang untuk menyusuri lebih jauh karena dikhawatirkan atap goa tersebut rutuh.

Air Terjun Gunung Lengkuas

Air Terjun Gunung Lengkuas

Air terjun ini berasal dari Gunung Lengkuas yang memiliki ketinggian sekitar 200 mdpl sehingga debit air yang dihasilkan tidak terlalu besar. Debit airnya mengalir menuruni batuan besar yang berbentuk anak tangga setinggi 20 meter. Sumber Air Terjun Gunung Lengkuas ini berasal dari hutan yang masih asri dan sangat alami.

Kategori : Wisata Alam
Lokasi : Kecamatan Bintan Timur, Kelurahan Gunung Lengkuas, Kepulauan Riau
Jam Buka : 24 Jam
Harga Tiket Masuk : Gratis
Jarak : 1 Jam dari Pulau Bintan
Akses : Dari Pulau Bintan – Jl. Raya Tanjung Uban – Jl. Lintas Barat  –  Jl. Nusantara

Air Terjun Gunung Lengkuas

Ya, sayangnya karena waktu yang belum berpihak, perjalanan ke Kepulauan Riau lalu belum mengantarkanku ke air terjun Lengkuas. Rutenya lumayan sulit dan mengingat belum tersedia fasilitas yang memadai di tempat ini, kami urungkan  ke sini.

Kalau mau ke sini, datanglah saat musim hujan. Debit airnya akan lebih banyak dan tercipta kolam di bawah air terjun Lengkuas tersebut.

Pesona Keindahan Air Terjun Jeruk Manis di Lombok Timur

Air terjun yang pertama kali kukunjungi adalah Air Terjun Jeruk Manis di Lombok Timur. Perjalananku ke air terjun yang sering disebut air terjun Jukut ini sebenarnya tidak direncanakan. Bakda menikmati sunrise di Poto Tano, saya melanjutkan perjalanan ke Lombok Timur, dan tak menyangka akan pergi untuk menemui pesona keindahan Air Terjun Jeruk Manis itu.

Selesai menyeberangi selat Alas, aku naik ojek dan turun di Rempung. Di sana, teman karib saya, Fatih Kudus Jaelani sudah menunggu. Kudus kemudian mengajak saya ke rumah temannya yang punya kolam ikan nila. Kami pun menangkap beberapa ekor ikan sebelum menggoreng dan menyantapnya dengan lahap.

Ide untuk ke air terjun itu datang begitu saja. Aku sih memang ingin jalan-jalan. Katanya dekat dan bisa ditempuh menggunakan motor. Jadi, aku menyetujui.

Air Terjun Jeruk Manis

Air terjun jeruk manis

Air Terjun Jeruk Manis atau sering disebut dengan Air Terjun Jukut atau juga dikenal oleh penduduk lokal sebagai Aik Temer mempunyai ketinggian + 40 m dengan curah debit air yang sangat besar dan jernih.  Letaknya berada di kaki Gunung Rinjani sebelah selatan di dalam kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Rinjani.

Air terjun jeruk manis

Menurut cerita turun temurun, air terjun ini dipercaya dapat membantu menyembuhkan berbagai penyakit terutama untuk menyuburkan rambut.

Bersama Kudus dan kedua teman yang lain, kami berempat menuju Kembang Kuning dari Masbagik. Salah satu motor tampak kepayahan. Berasap. Karena harus mendaki lumayan tinggi. Tapi, alhamdulillah, 40 menit kami bermotor sampai juga di pintu masuk. Tiketnya Rp2.500,00 dan dari pintu masuk, kami masih harus berjalan kaki sejauh 1,5 km lagi.

Aku menepok jidat, badanku sudah gemuk begini, jarang berolahraga, pasti susah payah menempuh jalanan menanjak itu. Oh ya, di kawasan ini juga terdapat banyak bungalow, banyak turis asing di sini. Namanya Tetebatu. Nah kalau ada teman-teman yang mau bulan madu, kawasan Tetebatu di Kembang Kuning cocok untuk tempat mencari kedamaian dengan udaranya yang sejuk dan pemandangan yang asri.

Perjalanan ke Air Terjun Jeruk Manis

Sepanjang perjalan, kami mengobrol. Membaca puisi. Membahas puisi-puisi yang masuk Kompas, layak atau tidak. Sesekali berpapasan dengan bule, dan saling menantang, siapa yang berani mengajak bule itu ngobrol. Di sela itu, saya salut dengan pemerintah Lotim. Akses jalan aspal sangat mulus dan jalan menuju air terjun pun telah dibuat track khusus. Jalan di tengah hutan jauh dari kesan suram. Apalagi di beberapa titik ada tempat istirahat, pondokan-pondokan yang sudah berisi anak-anak pacaran.

Air terjun jeruk manis

Napas saya ngos-ngosan sebenarnya, tapi lamat terdengar suara gemericik air yang dibawa angin. Suara monyet, burung-burung. tetapi harus waspada bila saja ada ular mencegat di jalan.  Ya, sekitar 15-20 menit berjalan, akhirnya untuk pertama kalinya saya melihat air terjun dengan ketinggian seperti itu. Di sebelah saya ada seorang turis asing. Saya ajak ngomong bahasa Inggris, nggak karuan juga. Ternyata dia dari Polandia. Bahasa Inggrisnya tidak lebih bagus dari saya.

Ya, hari itu suasana air terjun cukup ramai. Itu sebenarnya kurang asik. Saya suka kesunyian. Tapi itu tak mengurangi antusiasme kami yang mulai berkeringat karena penanjakan. Serta merta kami taruh tas, membuka baju dan mandi sepuas-puasnya,

Inak Sur dan Senja di Pantai Montong

Bulan Ramadan tahun ini aku berkesempatan menyaksikan matahari terbenam sekali di Lombok. Pasalnya, aku mendapatkan penugasan di sana. Selesai bertugas, aku langsung menemui temanku yang ditempatkan di Lombok. “Yuk, kita cari tempat yang bisa lihat sunset sembari menunggu berbuka puasa,” ujarku.

Aku penasaran akan diajak ke mana. Ia bertanya preferensi makanku. Mau Jawa, makanan Cina, Barat, atau khas Lombok. Tentu saja, aku mau makanan khas Lombok.

Lima tahun sudah aku meninggalkan NTB. Meski tak asing, aku sudah lupa jalanan di Lombok. Aku pasrah mau diajak ke mana.

Pantai Montong

Ternyata aku diajak ke PANTAI MONTONG. Montong adalah kawasan pesisir yang satu lajur dengan Senggigi, Namun, Montong adalah kampung nelayannya. Arti Montong sendiri adalah gundukan karena bentuk pantainya seperti gundukan pasir, meninggi dari batas capaian ombak.

Warung Inak Sur

Kami berhenti di warung khas Lombok. Warung Inak Sur. Arti Inak dalam bahasa Sasak adalah Mama. Katanya menu khas di warung ini adalah kepiting. Namun karena aku kurang pandai makan kepiting, aku tak memesannya.


Aku memesan plecing kangkung dan ikan bakar tentunya. Sebab, kapan lagi aku makan ikan segar langsung dari nelayan. Di Jakarta, tak ada ikan sesegar itu.

Ikan KakatuaSatu ikan menarik perhatianku. Warnanya kebiruan mengilat. Aku melihatnya di acara Law of the Jungle. Ya, itu Ikan Kakatua. Kata temanku rasanya empuk benar. Dan memang rasanya lembut beneran.

Tapi aku merasa bersalah karena setelah itu aku ragu apakah ikan ini dilindungi atau tidak. Aku tidak tahu bagaimana statusnya di Indonesia, tapi di beberapa negara ikan kakatua dilindungi. Ikan Kakatua ini memakan alga dan karang mati. Dengan kata lain mereka membersihkan karang. Ini penting karena sebagian besar terumbu karang di daerah tropis ditutupi oleh alga karena tidak cukup banyak ikan kakatua.

Sambil menunggu bedug maghrib dan menu kami siap, aku pun bermain di pesisir. Karena ini kampung nelayan, pantai Montong ini ya sepi, serasa milik pribadi. Air lautnya terasa dingin sekali. Andai bawa baju ganti, pengen berenang di pantai ini.

Senja di Pantai Montong

Di kejauhan tampak Gunung Agung di Pulau Dewata. Matahari masih berada sedikit di atasnya.


Baca Juga: Menikmati Keindahan Pulau Kenawa di NTB

Romantisme Matahari Terbenam

Aku kembali teringat masa lalu. Tiga hari setelah menikah kubawa istriku ke Sumbawa. Satu hari kami transit di Lombok. Di Senggigi tepatnya. Pemandangan yang sama tersaji meski dengan sudut yang berbeda. Kami mandi di pantai ditenggelamkan langit yang berwarna oranye.

Pantai Montong

Sayangnya kali ini aku tak bersamanya. Dan banyak momen tak bersamanya saat aku berada di Sumbawa. Saat dia melanjutkan magister Fisika di ITB, aku juga sendirian dan mulailah punya hobi menunggu matahari terbenam.

Entah membawa kamera atau tidak, aku akan menunggu langit berubah warna. Syukur kalau aku sampai mendapatkan momen blue hour. Beberapa saat setelah matahari terbenam, langit akan berwarna biru gelap pekat. Itu indah sekali.

Sambil mengingat itu kupandangi matahari jatuh pelan-pelan dan alamakjang, ternyata matahari turun di balik Gunung Agung. Ah gagal melihat bulatan sempurna sang srengenge itu seperti angslup di balik cakrawala.

Ikan Bakar Inak Sur

Lalu bedug mulai berbunyi. Suara azan dikumandangkan. Menu di meja baru hendak dihidangkan. Tanpa ragu kami pun menyantap satu demi satu makanan. Ah, nikmat.

Inilah 7 Alasan Kenapa Kamu Harus ke Pantai Menganti di Kebumen

Kereta berhenti berderak. Tanpa ada pengumuman bahwa stasiun pemberhentian kali ini sudah di Stasiun Sumpiuh. Untung saja aku sudah terbangun sejak di Kroya, terjaga dan awas pada pemberhentian-pemberhentian selanjutnya. Ya, kali ini aku akan kembali menapaki tanah leluhurku di Tambak, Banyumas setelah terakhir kali “pulang” 5 tahun yang lalu (2014).

Sejumlah rencana liburan juga sudah disiapkan. Bulikku merekomendasikan pantai di Kebumen. Namanya Pantai Menganti. Katanya, itu adalah pantai terindah di Kebumen-Cilacap. Seumur-umur, setiap kali berkunjung ke kampung leluhur, Bapakku hanya mengajak ke pantai Lo Gending/Ayah. Sekali ke Pantai Jetis. Aku penasaran kalau Menganti adalah pantai terindah, seperti apa dia?


Asal Mula Nama Pantai Menganti

Asal nama Pantai Menganti lekat dengan dua kisah legenda setempat. Menceritakan persahabatan Wali Syekh Maulana Malik Ibrahim (salah satu Wali Songo) dengan Syekh Subakir. Continue reading Inilah 7 Alasan Kenapa Kamu Harus ke Pantai Menganti di Kebumen

Curug Ngumpet di Taman Nasional Halimun Gunung Salak (TNGHS), Bogor

Selesai main di Curug Batu Ampar, aku dan Waldi pun melanjutkan perjalanan. Aku baru tahu saat itu, bahwa di kawasan Taman Nasional Halimun Gunung Salak (TNGHS), Bogor itu ada banyak sekali curugnya. Waldi yang pernah ke sini duluan, pernah ke salah satu curug yang bagus banget katanya. Namanya Curug Ngumpet.

Nggak ngerti juga kenapa dinamakan demikian. Mungkin karena letaknya yang ngumpet, dari bahasa Jawa, yang berarti sembunyi. Letaknya tersembunyi di antara hutan atau tebing mungkin ya.

Curug Ngumpet

Curug Ngumpet ini juga sering disebut Curug Ngumpet 1 untuk membedakan dengan satu curug lagi. Padahal namanya sudah dibakukan menjadi Curug Kondang, meski disebut juga sebagai Curug Ngumpet 2.

Curug Ngumpet

Curug Ngumpet ini termasuk yang paling ramai saat itu (2017) karena jarak antara parkiran ke curug dekat sekali. Mungkin hanya 100-200 meter saja dengan tingkat kesulitan jalan yang rendah.

Tiket masuknya jua Rp10.000. Parkir motor Rp5.000.

Kondisi curug memang sudah sangat terawat. Kolam air di bawah curug sudah ditampung dengan bebatuan. Duduk di batu penahan itu, sebenarnya spot yang sangat bagus lho. Sayang karena ramai, ya jadi nggak bisa memfoto di sana.

Mata air terjunnya juga unik. Kalau detail akan terlihat, di atas ada dua aliran air yang menyatu ketika jatuh.  Ketinggian air terjunnya juga cukup menawan, lebih dari 20 meter.

Tunggu apalagi, cobain ke sini, kuy!

Air Terjun Cimawur di Watu Agung, Banyumas

Matahari mulai bergerak tepat ke atas kepala. Bakda perjalanan ke Curug Leses dan Curug Genawang di Candirenggo, Kebumen, aku bertanya ke Alvin, ada air terjun (curug) apalagi yang sepi di dekat sini? Alvin berkata, ada air terjun di Watu Agung, ke arah bukit di belakang rumah bulik di Tambak, Banyumas. Saat itu kami belum tahu namanya air terjun Cimawur.

Curug cimawur

Motor melaju melewati persawahan, menyeberangi rel kereta, lalu melanjutkan perjalanan ke Watu Agung. Alvin berhenti,mengisi bahan bakar sambil bertanya air terjun yang ada di Watu Agung rutenya bagaimana. Sang penjual bensin mengatakan lokasinya di atas bukit.

Bukit itu namanya Bukit Mahamaeru. Jalannya mulus sekali. Bukit itu kekinian juga. Pemandangannya memang tak ternilai selama perjalanan. Pohon-pohon pinus tinggi menjulang seperti dalam film Twilight. Di sisi jalan, jurang dengan pemandangan aliran sungai yang mengering. Semakin tinggi, semakin indah lanskap yang disajikan. Sejumlah muda-mudi tampak nongkrong di sana.

air Terjun cimawari

Sampai akhirnya kami bertemu penunjuk jalan sekadarnya. Curug Cimawur. Jalan menuju Cimawur sudah lumayan bagus untuk motor. Jalanan sudah diperkeras. Bebatuan. Jadi, hanya perlu hati-hati ketika mendaki dan menuruni jalan. Kayaknya kalau boncengan, agak susah buat motor mendakinya ya.

Setelah bertanya lagi ke warga sekitar akhirnya kami menemukan air terjun Cimawur. Nggak tahu kenapa namanya Cimawur.  Nggak kayak bahasa Jawa. Apa bukan Simawur atau Semawur gitu? Aku googling saja belum ketemu yang pernah menuliskan Cimawur.

air Terjun cimawari

Air terjun Cimawur ini nggak begitu tinggi. Paling sekitar 10 meter. Kolam di bawahnya sudah ditampung sedemikian rupa. Jadi bisa buat berenang. Lokasinya persis di belakang musholla di jalan berbatu. Pokoknya mah kalau nanti kalian mencari air terjun ini, musholla itu saja panduannya ya.

Setelah mengambil gambar, karena sudah lapar, kami pun memutuskan pulang. Sebenarnya ada rasa penasaran, melihat kontur bukit Mahameru seharusnya ada air terjun lain di sekitar sini yang mungkin lebih dahsyat. Tapi mengingat sedang musim kerang, dan ya lelah juga, kami urungkan niat itu. Nanti sudah capek-capek, kalau pun ketemu, airnya sedikit. Nggak seru kan.