Category Archives: Catatan Perjalanan

Aviary Hotel Bintaro Bikin Aku Jadi Bucin

Seberapa tinggi level kamu dalam menghidupi hidup? Pernah makan di restoran sendirian? Pernah nonton bioskop sendirian? Pernah menginap di hotel sendirian? Kalau kamu pernah melakukan ketiga hal tersebut, seharusnya kamu kuat menghadapi apa pun tantangan hidup.

Tentu saja aku pernah melakukan semuanya. Terbaru, aku menginap sendirian di Aviary Hotel Bintaro. Aku memang sedang ada tugas ke Bintaro, dalam rangka Seminar Hukum Keuangan Negara di kampus PKN STAN. Aku menjadi salah satu panitia di sana. Salah satu narasumbernya adalah Pak Siswo Sujanto, Ahli Keuangan Negara. Bila kamu tertarik dengan materi beliau, silakan saja klik Keuangan Negara dalam Kacamata Tata Negara.

Awalnya, agak kebingungan juga mencari hotel di Bintaro. Hotel Santika sudah penuh. Hotel yang di dekat Bintaro Plasa, Citradream, dianggap tidak representatif oleh atasanku. Bintang dua. Namun, harganya lumayan. Pilihan lain jatuh ke Aviary. Hanya saja, di berbagai aplikasi, harga Aviary sudah melebihi standar biaya yang ada. 800-900 ribu. Berbekal asumsi, kemudian kami melakukan pemesanan langsung via telepon. Bertanya, apakah berlaku harga khusus buat pemerintah.

Asumsi kami kemudian terbukti benar. Aviary memberlakukan harga khusus untuk pegawai negeri, menyesuaikan dengan standar biaya yang ada. Akhirnya, kami mendapatkan harga 718 ribu semalam di Aviary. Total, ada 7 kamar yang dipesan.

Aviary Memiliki Kualitas Hotel Bintang Empat Sesungguhnya

Itulah kesan yang kurasakan. Sejak mula check in, aku mendapatkan kesan yang positif dari kualitas bangunan dan fasilitas yang ada. Hotel ini memiliki konsep yang indah. Aviary sendiri berarti kandang burung. Memang ada kandang burung di lobi hotel. Nuansa hijau-hijau di dinding hotel juga ciamik banget.

Yang sedikit jadi catatan adalah resepsionisnya kurang tanggap terhadap informasi. Ketika pembayaran hendak dilakukan, kami menggunakan kartu kredit. Aku bertanya, apakah jika banknya berbeda, ada potongan? Ia menjawab iya, ada potongan 0,5%. Padahal, sudah ada perjanjian Pemerintah dengan Bank Indonesia, penggunaan Kartu Kredit Pemerintah (KKP) itu tidak ada potongannya. Akhirnya, kartu kreditku yang digunakan. Hiks. Meski pada saat check out, petugas lain yang lebih well-informed mengatakan memang tidak ada potongannya.

Tak Maksimal Menikmati Fasilitas yang Ada di Aviary

Sedihnya adalah, karena tugas, aku tak sempat menikmati fasilitas hotel dengan maksimal. Bayangkan saja, urusan menyiapkan souvenir, gladi, baru selesai menjelang Maghrib. Sementara hari hujan begitu deras.

Padahal, kolam renangnya indah betul. Kurasakan airnya begitu jernih dan bersih, tanpa banyak kaporit. Kolam renangnya berada di roof-top. Paling atas. Menyajikan pemandangan Bintaro yang elitis. Saat hujan reda, aku sempatkan diri nongkrong dan berfoto di atas sana.

Di sebelah kolam renang, terdapat area bermain anak. Nyempil di pojokan. Dan karena malam, saya tak berani berlama-lama di situ karena auranya sangat spooky. Tampak Aviary tidak begitu memperhatikan kuantitas mainan yang ada. Mungkin karena segmentasi pelanggan yang menginap di sini kebanyakan para pegawai kantoran yang jarang membawa keluarga.

Setelah puas mengambil gambar, saya turun ke halaman parkir. Berbincang dengan satpam. Sial betul rasanya… si satpam cerita kalau dia suka dapat voucher menginap dari hotel. Dan dia jual voucher hotel itu 200-300 ribu. Ketika kubilang, biarkan aku beli voucher dia, dijawab, sudah ada yang sering pesan. Terus apa coba maksudnya cerita ke aku?

Aku pun beralih ke samping hotel. Ada live music di sana. Namun, tak ada satu pun penontonnya. Dua lagu kudengarkan sambil galau karena betapa indahnya kalau ajak anak dan istri ke sini. Satu lagi yang dinyanyikan aku tahu judulnya. Skycraper. Demi Lovato.

Setelah itu barulah aku kembali ke kamar dan menikmati malam. Kurasakan kesan yang baik dari kualitas kamar. Kasur dan bantalnya empuk banget. Satu hal lain yang jadi pembeda adalah penyediaan air minum yang banyak. Tidak botolan, tetapi lewat wadah kaca. Hotel dengan serius memperhatikan kondisi hidrasi pengunjung hotelnya. Ini kali pertama aku menemukan yang seperti ini.

Kamar Aviary Bintaro

Bagaimana dengan sarapannya? Asli banyak banget. Bisa dilihat di videonya. Sayangnya, aku diburu waktu.

Ada kejadian lucu sebelum aku sarapan. Seminar sendiri dimulai pukul 08.30. Kupikir ya, akan berangkat setengah 8. Jadi pukul 6 lewat sedikiit, aku sempat sudah pake baju renang, bawa handuk, hendak ke kolam renang. Eh ketika di lift, aku bertemu rekanku sudah rapi memakai seragam. “Lho, Mas Pring mau ke mana? Kita kan berangkat 6.30.”

Lalu pun aku buru-buru mandi, ganti baju, menyiapkan semua barang karena segera check out. Akibatnya aku cuma sarapan pakai nasi goreng dan telor ceplok. Hiks.

Semoga suatu saat, pihak Aviary Bintaro mau kasih aku voucher khusus buat meliput di sana. Yes.

Review Hotel Salak Padjadjaran, Bogor

Sabtu (15/2), aku bersama keluargaku berkesempatan staycation di Hotel Salak Padjajaran, Bogor. Staycation tampaknya sudah menjadi hobi baru kami setelah bulan-bulan sebelumnya, kami mereview hotel-hotel dan apartemen seperti Sahira Butik Syariah Hotel, The Sahira Hotel, dan Margonda Residence 5 di Depok.

Ada satu hal yang kusadari tatkala check in di Hotel Salak Padjajaran. Ya, hotel ini tampak tak asing. Setelah kuketahui bahwa di seberang hotel ini ada Lemon Grass, restoran yang lagi ngehits di Bogor, aku teringat kenangan beberapa tahun lalu. Aku memang benar pernah ke hotel ini.

Namun, saat itu aku tidak menginap. Aku salah tempat. Aku memesan Padjadjaran Suites yang ternyata terletak di dekat The Jungle. Sedangkan Hotel Salak Padjadjaran sendiri terletak di Jalan Padjadjaran No. 23, Bogor. Padahal niatanku ya Hotel Salak Padjajaran, karena dekat dengan tujuan diklat statistika di kampus IPB (kampus pascasarjana). Aku yang keliru pesan di aplikasi.

Suasana Check In di Hotel Salak Padjadjaran

Aku datang pukul 12 lebih sedikit. Kecepatan. Kami harus menunggu kurang lebih 15-20 menit karena kamar masih disiapkan. Untungnya ruang tunggu di lobi cukup nyaman. Terdapat minuman selamat datang, es buah pala, yang sangat menyegarkan.

Di sampingnya, berdiri stan bolu bakar Bogor. Aku tertarik dan ikut mencicipi. Ternyata rasanya lumayan. Sayangnya, hanya tersisa satu varian, yakni pandan. Bolehlah buat camilan selama di kamar nanti. Harganya hanya Rp25.000.

Weekend Activities di Hotel Salak Padjadjaran

Saat menunggu kamar tersebut, aku melihat stand banner yang menginformasikan kalau di Hotel Salak Padjajaran ini ada weekend activities. Jadi, setiap akhir pekan, pihak hotel menyelenggarakan beberapa kegiatan khusus yang dirancang untuk menambah kesan pengalaman selama menginap di hotel.

Kegiatan tersebut yaitu pertama, movie time. Jadi, pihak hotel menyiapkan sebuah ruang khusus untuk menonton film seperti di bioskop. Film yang tayang adalah Spiderman. Kedua, live music. Penampilan musik ini berlangsung pada Sabtu malam di pinggir kolam renang. Ketiga, Bogor Night Seeing. Di sini kita bisa jalan-jalan keliling Bogor naik bus Uncal sambil belajar cerita sejarah Bogor. Keempat, Aqua Play. Hari Minggu pagi, anak-anak yang diajak menginap bisa ikuti permainan dengan hadiah yang beragam. Terakhir, Kedai Padjadjaran. Di samping kolam renang, pihak hotel membuka warung untuk ngopi dan makan dengan harga yang jauh lebih murah dari harga makanan di restoran hotel.

Saat kunci kamar diberikan, aku pun langsung mendaftar untuk bisa jalan-jalan keliling Bogor naik Uncal pada Sabtu malam.

Fasilitas Kamar Hotel Salak Padjadjaran

Kamar yang kupesan adalah Superior Twin. Dua kasur. Luas kamarnya kira-kira 27 meter persegi. Fasilitas kamarnya standar sih ya, sama kayak hotel-hotel berbintang lainnya. Ada dua botol air minum. Kopi, teh sachet. Dan sebuah pemanas air. Tivi dan AC berfungsi dengan baik.

Pemandangan kamar Hotel Salak Padjajaran

Kubuka tirai. Senang hatiku melihat pemandangan Gunung Salak di depan mata.

Kami pun segera bersiap-siap makan siang. Lalu berangkat menuju Kolam Renang.

Kolam renangnya berada di lantai yang sama dengan lobi. Kolam renang ini menyajikan pemandangan yang menarik berupa perumahan di lembah dengan nuansa pepohonan. Sayangnya, buat saya kolam renang ini kurang representatif. Soalnya, kedalamannya hanya mulai dari 80 cm, 1 m, dan 1,5 m. Kedalaman tersebut tidak cocok untuk anak-anak di bawah 3 tahun yang tingginya kebanyakan kurang dari 100 cm. Mereka tidak bisa menapak.

Selain itu, ada satu yang disayangkan dari kolam renang ini. Kaporitnya begitu terasa. Bikin mata perih. Jadi kesegarannya kurang terasa di kolam ini.

Belum lama kami berenang, langit makin mendung. Mula-mula gerimis sebelum hujan turun menjadi begitu deras. Kami pun kembali ke kamar.

Guna membunuh waktu, aku pun mengajak kedua anakku ke ruang bermain (kid zone) di lantai 2. Nah, aku mengapresiasi banget kid zone Hotel Salak Padjadjaran karena luas dan variasi mainannya banyak. Istriku tidak ikut karena kecapekan. Aku pun mengawasi anak-anakku sambil guling-guling di pinggiran.

Sayangnya, kondisi itu berbanding terbalik dengan gym di lantai di atasnya. Bisa dibilang gym nya apa adanya. Hasrat berolahragaku pun hilang karena suasana yang dihadirkan.

Setelah puas bermain, kami kembali ke kamar. Memesan makanan via aplikasi, keliling Bogor naik Uncal, lalu tidur. Malam begitu sejuk. Namun tanpa peluk. Pasalnya istriku dibajak kedua anakku. Mereka tidur bertiga di kasur sebelah.

Sarapan di Hotel Salak Padjadjaran

Nah, aku begitu kaget ketika sarapan. Begitu masuk ruang sarapan, aku ditanya anakku umur berapa. Kujawab 7 tahun. Ia bilang anak umur 7 tahun sudah harus bayar.

Bukan merasa dirampok, tapi hariku nggak enak karena informasi soal itu nggak tertera saat melakukan pemesanan hotel maupun ketika check in. Biasanya sih, anak yang harus bayar makanan itu ketika sudah berusia di atas 12 tahun. Nah, di Hotel Salak Padjadjaran sendiri, usia di atas 5 tahun sudah harus membayar sarapan.

Untungnya, sarapan di sini lumayan enak. Layaklah untuk ukuran Hotel Bintang 4. Keseimbangan unsur gizinya memadai. aku tentu saja mengambil nasi goreng dan berbagai buah.

Duh, aku jadi lupa diet lagi.

Air Terjun Ai Beling di Sumbawa

Namanya air terjun Ai Beling. Di Sumbawa. Air terjun Ai Beling ini meninggalkan memori tersendiri bagiku. Sebabnya, perjalanan ke air terjun ini seakan menjadi kado perpisahan dari sahabat-sahabatku di Adventurous Sumbawa.

Ai Beling
Foto Yudi Rusdian

Ya, saat itu, aku sudah akan pergi dari Sumbawa. Pengumuman kelulusan tes DIV PKN STAN mencantumkan namaku. September, aku akan memulai perkuliahan. Agustus, bakda libur Idulfitri, Farhan (yang kini menjadi ketua Adventurous Sumbawa) berinisiasi mengajakku jalan-jalan ke Ai Beling yang sudah mereka sambangi saat libur lebaran. Khusus untukku, walau setelah itu kami mengajak beberapa teman lain yang belum berkesempatan mengunjungi Ai Beling.

Ai Beling dalam bahasa Sumbawa berarti air (ai) dan bicara (beling). Disebut air yang berbicara karena suaranya terdengar hingga 5 km jauhnya.

Foto Taufik Rahman

Selain itu, ada mitos setempat yang mengatakan dulunya ada seorang gadis, anak raja, kabur karena dijodohkan dengan orang yang tidak dicintainya. Lalu dia menangis dan menangis di sebuah sungai hingga akhirnya terjun bunuh diri di ujung sungai tersebut. Hingga suatu hari, ada seseorang mendengar sebuah tangisan yang begitu jernih dan ia menemukan sebuah air terjun ini. Dipercaya Ai Beling adalah roh dari gadis tersebut.

Baca Juga: 4 Air Terjun Terindah

Air Terjun Ai Beling

Buat kamu yang kepengen ke Ai Beling, catat ya alamatnya. Air Terjun Ai Beling terletak di Dusun Kuang Amo, Desa Sempe, Brang Rea, Kecamatan Moyo Hulu, Kabupaten Sumbawa. Jika berkendara menggunakan sepeda motor dari Kota Sumbawa Besar/Bandara Sumbawa, anda akan menempuh jarak sekitar 1 jam.

Kalau dulu sih, jalannya masih ada yang kurang layak. Penuh perjuanganlah. Kalau boncengan, nggak disarankan naik motor matic. Namun, ndak tahu gimana sekarang.

Dulu juga masuknya gratis. Keberadaan air terjun ini benar-benar tersembunyi, tidak ada yang mengurus atau menjaga. Meski dari jalan yang dilalui kendaraan bermotor, kita berjalan kaki hanya sekitar 200 meter.

Foto Farhan Syadli

Namun, informasi yang terakhir kudengar, sekarang, sudah ada penjaga yang menjaga parkir kendaraaan kita. Tarifnya Rp5.000.

Pesan satu lagi, jangan sampai kunjungan kita ke air terjun ini meninggalkan sampah. Beberapa waktu lalu, aku membaca status Yudi Rusdian yang menyayangkan betapa banyak sampah ditinggalkan terselip di antara bebatuan. Ia pun memunguti sampah-sampah itu sebagai bagian dari edukasi bahwa berwisata harus sadar lingkungan. Biar keindahan yang ada terjaga selalu.

Selain itu, di air terjun ini harus hati-hati jika musim hujan. Sebab, air bah bisa tiba-tiba saja datang. Jangan sampai berwisata menjadi bencana, ya.

Japan Train Traveloka, Cara Praktis Menjelajahi Jepang

Salah satu kunci kenyamanan ketika Anda berkunjung ke Jepang adalah Japan Rail Pass dari Japan Train Traveloka. Dengan memanfaatkan layanan ini, Anda bisa menjelajahi seluruh Jepang lebih mudah dan nyaman.

Japan Rail Pass Continue reading Japan Train Traveloka, Cara Praktis Menjelajahi Jepang

Cari Apartemen Murah di Jakarta Pusat Sambil Jalan-jalan ke Museum

Sejak resmi ditempatkan di Kantor Pusat DJPb di Jakarta, September 2016 lalu, aku belum sekali pun menghabiskan akhir pekan di Car Free Day di Jakarta. Padahal, itu termasuk list wajib dikunjungi selain Monas dan berbagai museum di Jakarta.

Pasalnya, meski bekerja di Jakarta, rumahku di Kabupaten Bogor. Butuh usaha ekstra untuk bisa berangkat pagi-pagi sekali ke area sekitar Bundaran HI. Alternatifnya, harus menginap malam Minggunya.




Akhirnya, setelah lebih dari 3 tahun, 15 Maret nanti aku sudah merencanakan untuk mengikuti Car Free Day sekalian mengunjungi museum-museum yang ada di Jakarta. Sudah kupesan pula penginapan di dekat situ, sebuah apartemen Jakarta Pusat. Batavia Apartments namanya. Dekat dengan stasiun Tanah Abang. Continue reading Cari Apartemen Murah di Jakarta Pusat Sambil Jalan-jalan ke Museum