Teknik Penulisan Berita

Dengan begitu banyaknya berita yang dapat diakses dan dinikmati masyarakat, bukanlah sebuah jaminan mendefinisikan sebuah berita adalah hal yang mudah. Dekan fakultas Missouri University Amerika Serikat, Earl English dan Vlarence Hach dalam bukunya Scholastic Journalism mengatakan, mendefinisikan dan memberikan batasan pada berita  merupakan hal yang tidak mudah, banyak faktor dan variabel yang harus dipertimbangkan (Assegaff dalam Mondry & Sikumbang, 2016, 143).

Walaupun demikian, bukan berarti tidak ada yang memberikan batasan tentang berita. Assegaff (dalam Mondry & Sikumbang, 2016, 143) menuliskan, “Charles A. Dana mengungkap pameo terkenal tentang berita. Dia mengatakan bila orang digigit anjing itu bukan berita tetapi bila orang menggigit anjing itu baru berita”. Intinya berita harus luar biasa sehingga menarik perhatian orang.

Assegaff (dalam Mondry & Sikumbang, 2016), mengutip batasan yang diberikan dari tokoh-tokoh lain mengenai berita sebagai berikut:

  1. M. Lyle Spencer dalam buku News Writing menyebutkan, berita merupakan kenyataan atau ide yang benar dan dapat menarik perhatian sebagian besar pembaca.
  2. Williard C. Bleyer dalam buku Newspaper Writing and Editing mengemukakan, berita adalah sesuatu yang termasa dipilih wartawan untuk dimuat di surat kabar. Alasannya karena ia dapat menarik atau mempunyai makna bagi pembaca surat kabar, atau karena ia dapat menarik pembaca-pembaca media cetak tersebut.
  3. William S. Maulsby dalam buku Geting in News menulis, berita dapat didefinisikan sebagai suatu penuturan secara benar dan tidak memihak dari fakta-fakta yang mempunyai arti penting dan baru terjadi, menarik perhatian para pembaca surat kabar yang memuat berita tersebut.
  4. Eric C. Hepwood menulis, berita adalah laporan pertama dari kejadian yang penting dan dapat menarik perhatian umum.
  5. Romli (2004) mendefinisikan berita merupakan laporan peristiwa yang memiliki nilai berita (news value)—aktual, faktual, penting, dan menarik.

Mondry dan Sikumbang (2016) menuliskan bahwa berita adalah informasi yang disusun sedemikian rupa dan disebarkan media massa dalam waktu secepatnya berupa laporan yang berdasarkan fakta kejadian dan opini yang dapat menarik perhatian masyarakat dan konsumen. Berdasarkan definisi tersebut, berikut adalah syarat sebuah berita:

  1. “Merupakan fakta, bukan karangan (fiksi) atau dibuat-buat”.
  2. “Kalaupun itu pendapat atau ide, bukanlah dari wartawan atau reporter yang menulisnya, tetapi pendapat atau ide orang lain. Itu berarti, seorang wartawan tidak boleh memasukkan opininya dalam tulisan berita”.
  3. “Informasi itu harus ditulis dengan cara yang sudah ditentukan”.
  4. “Disebar melalui media massa secepatnya”.

Unsur-unsur Nilai Berita

Berita harus dinikmati, dan menarik bagi khalayak luas. Menurut Assegaf (dalam Mondry & Sikumbang, 2016), di antara hal-hal yang dapat menjadikan sebuah berita dapat menjadi menarik yaitu:

  • Aktual (Baru/Hangat)

Sesuatu yang baru adalah hal menarik untuk dijadikan sebagai berita. Namun, sesuatu yang sudah lama juga dapat berubah sebagai hal yang baru apabila kemudian muncul update terkait dengan sesuatu tersebut.

  • Ternama (penting/tidaknya) orang yang diberitakan.

Sebuah berita seharusnya dapat menarik rasa ingin tahu dari khalayak ramai. Salah satunya adalah dengan memberitakan seseorang yang penting/terkenal yang banyak diketahui oleh masyarakat.

  • Jauh dekatnya lingkungan yang terkena berita.

Suatu berita pada umumya lebih ingin diketahui oleh masyarakat yang berada pada wilayah pemberitaan, sebagai contoh pada suatu daerah sedang mengalami bencana alam longsor. Tentu media lokal pada daerah tersebut akan memberitakan bencana alam longsor lebih intense daripada media lain yang tidak berada pada wilayah tersebut.

  • Keluarbiasaan

Sesuatu yang terjadi di luar kebiasaan juga akan mempengaruhi sebuah nilai berita. Sebagai contoh, sesuatu yang luar biasa adalah seseorang dapat mengangkat 1000 kg beras sekaligus. 

  • Akibat yang mungkin ditimbulkan berita.

Sebagai contoh, Pemerintah Jawa Tengah akan meningkatkan harga cabai, maka yang akan lebih banyak tertarik dengan berita tersebut adalah masyarakat yang tinggal di daerah Jawa Tengah dan sekitarnya saja. Namun, nilai atas berita tersebut akan berbeda jika yang berbicara adalah pejabat pemerintah pusat sebagai pihak yang mengumumkan kenaikan harga cabai sehingga seluruh masyarakat akan tertarik dengan informasi tersebut.

  • Ketegangan yang ditimbulkan

Situasi tegang dapat menjadi hal yang menarik untuk diberitakan. Sebagai contoh adalah berita terkait usaha penangkapan teroris yang sedang bersembunyi di dalam sebuah rumah yang telah dikepung oleh aparat keamanan. Situasi ini menarik diberitakan sehingga masyarakat akan merasa ingin tahu atas hasil usaha penangkapan teroris tersebut.

  • Pertentangan

Pertentangan adalah salah satu hal yang dapat membuat berita menjadi menarik. Pertentangan dapat terjadi pada beberapa berita, di antaranya berita olahraga dan berita politik. Berita olahraga biasanya menyampaikan pertentangan antara dua klub sepakbola pada pertandingan tertentu yang mana klub kedua sepak bola tersebut memiliki suporter yang banyak. Sedangkan pada berita politik contohnya adalah terdapat dua orang kandidat yang sedang bersaing untuk menjadi kepada daerah pada suatu daerah tertentu.

  • Kemajuan

Dapat terkait kedalam beberapa hal, di antaranya dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, pengobatan, ataupun keberhasilan seseorang dalam mencapai suatu prestasi.

  • Emosi yang diungkap dalam berita

Marah, benci, sayang, kasihan, simpati, dan empati adalah beberapa emosi yang ada di dalam diri manusia. Terkait hal tersebut, maka pemberitaan yang menyangkut emosi akan menjadi sebuah nilai yang terlihat pada suatu berita. Contoh berita yang akan mempengaruhi emosi sesorang adalah pembantaian anak-anak pihak oposisi di Suriah oleh pemerintah resmi Suriah. 

  • Human Interest

Berita yang terkait dengan human interest bukanlah suatu berita yang terkait dengan sesorang yang terkenal, atau yang menimbulkan emosi pada masyarakat, melainkan kepada unsur-unsur unik yang disampaikan, sehingga berita dapat menarik perhatian.


Selain unsur yang  “terlihat” dalam berita, ada unsur lain yang dapat membuat berita dapat menjadi menarik. Unsur tersebut adalah unsur yang tidak terlihat, tetapi unsur yang tidak terlihat dapat dirasakan. Mondry dan Sikumbang (2016), mengategorikan unsur tersebut sebagai berikut:

  • Akurat dan cermat.

Bila suatu berita mencantumkan data seperti angka, nama, dan pernyataan maka untuk menjadikan sebuah berita menarik data tersebut harus akurat dan cermat

  • Lengkap.

Penulis berita harus dapat menyampaikan berita secara lengkap dan utuh kepada pembaca.

  • Kronologis.

Waktu dan peristiwa berita harus jelas agar pembaca tidak bingung atas berita yang disajikan.

  • Magnitude.

Sebuah berita harus memiliki daya tarik terkait informasi yang disampaikan kepada para pembaca. Bukan berita jika tidak memiliki unsur yang menarik dari sisi informasi.

  • Seimbang

Informasi yang disampaikan kepada pembaca harus komprehensif, tidak boleh berita disampaikan dari satu pihak saja, tanpa ada pihak penyeimbang.

  • Bentuk Berita

Mondry dan Sikumbang (2016) mengemukakan, berdasarkan bentuknya berita terbagi menjadi 3, yaitu berita media cetak, media elektronik, dan media online. Berita media cetak, terutama surat kabar, meliputi spot news (berita singkat), straight news (berita langsung), stop press (berita mendadak) dan stopper (berita penutup). Berdasarkan bentuk penulisan yang kontemporer meliputi indepth reporting/depth news (berita mendalam), analysis news (berita analisa) dan berita devetorial (iklan pariwara).

Selanjutnya adalah berita media elektronik yang terdiri dari berita radio, televisi, dan online. Dalam penyajiannya berita radio terbagi ke dalam: laporan langsung, sound bite (potongan suara), baca naskah. Berita televisi dalam penyajiannya terdiri dari: laporan langsung, insert, dan baca naskah (Mondry & Sikumbang, 2016).  

Pada berita media online umumnya serupa dengan penulisan dalam media cetak, khususnya surat kabar. Namun, yang membuat berbeda adalah penyajiannya. Dalam media online pembaca akan ditampilkan sebuah judul berita untuk dipilih, ketika judul berita tersebut sudah terpilih, maka pembaca baru dapat membaca isi dari berita tersebut (Mondry & Sikumbang, 2016).

Menulis Berita

Berbagai pola penulisan berita telah diperkenalkan dan dipraktikkan oleh para penulis. Pola piramida terbalik masih dianggap yang terbaik dari pola lainnya. Pada pola piramida terbalik informasi yang paling penting ditulis di bagian awal, semakin ke bawah informasi yang disampaikan akan semakin tidak penting (Santana dalam Mondry & Sikumbang, 2016, 165).

Menurut Friedlander dan Lee (dalam Mondry & Sikumbang, 2016, 165), lead/intro atau teras berada pada awal berita dan berisi informasi yang paling penting pada sebuah berita. Lead tersebut berisi sebagian dari 5W + H (who, what, why, where, when, dan how). Namun, panjang alinea pada lead berita ada aturannya tersendiri yaitu panjang lead berita tidak boleh dari 40 kata yang terdiri dari dua atau tiga kalimat. Sisa dari 5w + H ditulis pada alinea selanjutnya, sehinggap penulisan 5W + H terpecah pada dua alinea awal. Implikasinya, pada dua alinea awal unsur 5W + H sudah terpenuhi.

Berbagai informasi dapat disampaikan dalam mengawali penulisan lead. Seperti who lead, what lead, why lead, when lead, where lead, atau how lead. Penulis dapat memilih salah satu lead ini untuk dapat dijadikan awalan pada penulisan berita. Pada kasus di Indonesia who lead atau what lead adalah lead yang paling sering dipakai untuk mengawali sebuah berita (Mondry & Sikumbang, 2016). 

Menurut Mondry dan Sikumbang (2016), strategi penulisan informasi terpenting pada sebuah berita ada pada dua alinea awal. Tujuannya adalah agar pembaca, pendengar, atau pemirsa yang sibuk tidak perlu berlama-lama untuk mengetahui pokok masalah dari suatu berita yang sedang disampaikan.

Mondry dan Sikumbang (2016) menyebutkan bahwa bagian selanjutnya setelah dua alinea awal pada sebuah berita adalah tubuh berita. Di dalam tubuh berita dilakukan penjabaran yang lebih lengkap dari lead yang telah dijabarkan sebelumnya. Tubuh berita adalah bagian terpanjang pada suatu berita.

Bagian selanjutnya adalah ekor. Ekor adalah bagian dari berita yang paling tidak penting. Karena tidak penting, dengan menghilangkan ekor berita tidak akan mengubah isi berita.  

Contoh-contoh Lead

Mondry dan Sikumbang (2016) mencontohkan lead berdasarkan 5W + H seperti berikut:

  • Who Lead yakni memulai berita dengan menggunakan penjelasan dari seseorang. Contohnya:

“Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Rikwanto mengatakan bukan hanya kasus teror Novel Baswedan yang mengalami kebuntuan dalam hal pengungkapan. Banyak kasus yang bernasib sama dengan kasus Novel, tapi hal itu terjadi bukan karena polisi tak acuh” (Santoso, 2017, 1).

  • What Lead yaitu memulai berita dengan menjelaskan sesuatu. Contohnya:

“Kampung Akuarium pernah dibongkar oleh Ahok pada April 2016 silam karena dinilai menduduki tanah negara. Kini, Gubernur Anies Baswedan mau menata ulang kampung di utara Jakarta ini” (Abdurrosyid, 2017, 1).

  • Where Lead yaitu memulai berita dengan menjelaskan suatu tempat. Contohnya:

“Di banyak negara, energi nuklir dimanfaatkan sebagai bahan baku Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Di Indonesia sendiri belum ada PLTN” (Ardhan, 2017, 1).­

  • When Lead yaitu (memulai berita dengan menjelaskan suatu waktu tertentu. Contohnya:

“Menghadapi perkonomian di masa depan, Indonesia diyakini bakal menghadapi sejumlah tantangan yang harus diatasi. Terlebih lagi, Indonesia mulai semakin dekat dengan era globalisasi ekonomi yang tak lagi bisa dihindari” (Denny, 2013, 1).

  • Why Lead yaitu memulai berita dengan menjelaskan sebab akibat dari munculnya sesuatu. Contohnya:

“Kebakaran kembali terjadi di pemukiman padat penduduk di Garut, Jawa Barat. Akibatnya, tiga unit rumah warga hangus dilalap si jago merah” (Ghani, 2017, 1).

  • How Lead yaitu memulai berita dengan menjelaskan cara untuk menggapai sesuatu. Contohnya:

“Sejatinya menarik wisatawan ke Indonesia menjadi tugas semua pihak tanpa terkecuali. Pihak travel agent pun ikut serta dan memberi masukan untuk Pemerintah” (Johanes, 2017, 1).

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *